Sekretaris Sang Presdir

Sekretaris Sang Presdir

Loyce

5.0
Komentar
4.1K
Penayangan
40
Bab

Pijar bertemu dengan Elang Bamantara di saat luka hatinya masih basah karena dia baru saja dikhianati oleh kekasihnya. Mereka dipertemukan oleh keadaan yang tidak tepat. Ada sebuah rahasia di antara keduanya yang belum terselesaikan. Pertemuan itu membuat Elang merasa diuntungkan. Sedangkan bagi Pijar, pertemuannya dengan Elang adalah sebuah petaka. Sayangnya, Pijar tak bisa menghindar dan mengharuskannya berada di sisi Elang Bamantara.

Sekretaris Sang Presdir Bab 1 Part 1

"Argh, sial! Aku kesiangan!"

Pijar, wanita yang tengah tergopoh-gopoh bersiap menuju kantor itu mengumpat. Dia kesiangan, di saat hari pertama kedatangan presdir baru di kantornya. Padahal, sebagai seorang sekretaris pribadi, dia seharusnya telah tiba lebih dulu untuk mempersiapkan segala hal untuk bosnya.

"Semua ini gara-gara pria brengsek itu!" umpatnya lagi, merujuk pada mantan kekasihnya yang kemarin baru saja mengakhiri hubungan mereka.

Setahun menjalin kasih, Pijar tak tahu jika orang tua mantannya tak pernah sekalipun memberikan restu. Kemudian, alih-alih berkata jujur dan mengajak untuk berjuang bersama, pria itu bersikap pecundang dengan memilih lari dengan wanita lain yang diinginkan orangtuanya.

Sekarang, dia hanya berharap bos barunya bisa memaklumi dan memaafkan keterlambatannya kali ini.

Jam telah menunjukkan pukul 9 pagi lebih sedikit. Dengan napas yang masih tersengal karena berlarian mengejar waktu, Pijar mengatur napas dan membenahi penampilannya sebelum akhirnya memasuki ruangan besar milik sang bos.

"Permisi, Pak."

Pijar bisa melihat sosok tinggi berdiri membelakanginya dengan angkuh. Kedua tangannya dijejalkan ke dalam saku celananya, rambutnya disisir rapi ke belakang. Aura dinginnya terasa membekukan.

Ucapan Pijar seolah hanyalah angin lalu. Lelaki itu tetap pada posisinya berdiri, tampak tidak tertarik dengan kedatangan sang sekretaris pribadi. Apa yang harus dia lakukan sekarang? Lelaki itu pastilah menilai dirinya tidak kompeten karena keterlambatannya. Pijar meremas kedua tangannya, mencari ide untuk bisa menarik perhatian sang bos. Setidaknya agar dia tidak diabaikan.

Pijar melangkah dengan jantung bertalu keras. "Maaf atas keterlambatan saya. Perkenalkan, saya Pijar, sekretaris pribadi Bapak–" Lelaki itu berbalik dan menatapnya dengan dingin. Untuk beberapa saat, tubuh Pijar terpaku, kalimatnya bahkan menggantung begitu melihat sosok lelaki yang akan menjadi bosnya ini. "Elang," ujarnya lirih.

'Kenapa dia? Apa yang harus aku lakukan?'

Elang bukanlah sosok asing di hidup Pijar. Mereka pernah menghabiskan waktu yang cukup lama menjalin kasih. Sayang, karena masalah besar yang menimpa keluarganya, gadis itu menyerah dan merasa rendah diri untuk terus berada di sisi lelaki itu.

Kesalahpahaman kemudian semakin merembet, kala Elang menemukan alibi lain di balik keputusan Pijar untuk mengakhiri hubungan mereka, berbekal sebuah foto dirinya bersama seorang lelaki lain yang entah bagaimana bisa sampai di tangan lelaki itu.

Waktu itu, Pijar tidak memiliki kesempatan untuk menjelaskan. Kala itu, dia terlalu sibuk mengurus hidupnya yang seketika berubah drastis karena masalah yang tengah dihadapi. Dan rupanya, ketika kembali dipertemukan ... lelaki itu masih menaruh dendam padanya.

Berdiri di hadapan Elang bukan perkara mudah. Ada rasa takut dari trauma masa lalu yang kembali terbayang. Namun, Pijar sadar ... jika kali ini hubungan mereka hanyalah sekretaris dan atasan. Untuk itu, dia mencoba bersikap profesional.

"Pak, saya minta maaf atas keterlambatan saya. Saya ...." Pijar tidak melanjutkan ucapannya ketika lelaki itu kembali menatapnya dengan sinis dari balik singgasana.

"Keluar!" katanya dengan dingin. Suara baritonnya itu seolah mengaung di seluruh ruangan.

Wajah Pijar memerah. Delapan tahun bekerja di perusahaan ini, baru kali ini dia mendapat bentakan keras dari atasan karena keterlambatannya datang.

"Saya benar-benar minta maaf, Pak. Saya janji–"

"Kamu tidak dengar saya? Keluar!" usir lelaki itu sekali lagi.

Pijar mengangguk kaku setelah itu. Dia tidak ingin mendebat lagi lelaki yang berstatus sebagai bosnya tersebut.

Dia pikir, mungkin Elang butuh sedikit waktu untuk meredakan emosiya, tapi ketika dia hampir keluar, suara bosnya kembali terdengar membuat Pijar mengeratkan rahangnya kuat. "Kamu dipecat!"

"Dipecat?" Pijar mengulang kembali perkataan bosnya.

Awalnya, Pijar berpikir rasional, tidak mungkin sang atasan mencampurkan urusan pribadi dengan pekerjaan. Namun, melihat bagaimana Elang dengan enteng mengucapkan kata-kata barusan, Pijar jadi sanksi kalau lelaki itu mampu bersikap profesional.

Alih-alih keluar dari ruangan bosnya, Pijar justru membalikkan tubuhnya menatap Elang yang kini juga tengah menatapnya.

"Apa ini ada kaitannya dengan masa lalu?" Sejujurnya, ada perasaan takut yang dia rasakan ketika menatap netra tajam Elang. Lelaki itu benar-benar terlihat muak dan begitu siap melenyapkannya hanya dari tatapan.

Sayangnya, Elang menutup mulutnya rapat-rapat. Lelaki itu tidak memberikan reaksi apa pun pada kalimat yang Pijar ucapakan selain wajahnya yang datar.

Pijar menghela napas panjang, lalu kembali berujar, "Kalau ini tentang keterlambatan saya, saya minta maaf. Saya berjanji, ini yang terakhir."

Lelaki yang dulu pernah memberikan tatapan lembut itu kini mendengus. Tatapannya kini tidak lagi memancarkan cinta, tetapi dendam yang membara.

"Saya tidak bekerja dengan pengkhianat. Selagi saya masih berbaik hati, maka pergilah. Sebelum hidupmu hancur di sini."

Wajah Pijar memerah sepenuhnya. Dari ucapan Elang, kebencian lelaki itu sepertinya sudah tidak tertolong lagi.

Kendati demikian, Pijar bukanlah perempuan yang akan merengek dengan keadaan. Kalimat hidupnya akan hancur yang dikatakan Elang justru membuat dia penasaran, apa yang akan dilakukan Elang untuk menghancurkannya?

"Saya bukan pengkhianat. Dan saya tidak pernah berkhianat." Pijar mengepalkan dua tangannya di sisi tubuh, guna menghalau emosinya yang siap meledak.

"Bahkan saya memiliki bukti kalau kamu berkhianat," ujar lelaki itu dengan dingin.

Tatapan Elang kembali mengintimidasinya. Pijar tahu, Elang mencoba mengungkit masa lalu mereka yang berakhir buruk. Namun, kini mereka berada di kantor. Hubungan mereka pun bukan lagi sekadar pasangan kekasih, melainkan bos dan sekretaris pribadi.

Untuk itu, Pijar tidak ingin terpancing. "Apa Bapak punya bukti jika saya pernah membocorkan rahasia perusahaan? Jika tidak, Bapak tidak berhak menilai saya sebagai pengkhianat!" ujarnya dengan lantang.

"Saya tidak peduli. Di mata saya, kamu tetaplah pengkhianat, dan saya berhak memutuskan kerja sama dengan pengkhianat sepertimu." Elang lalu menelepon seseorang setelah mengatakan itu.

Tak lama, seorang lelaki yang merupakan seorang manajer HRD datang. "Bapak membutuhkan sesuatu?" tanyanya pada Elang.

"Saya membutuhkan sekretaris."

Kalimat itu membuat manajer tersebut kebingungan. Lelaki itu menoleh ke arah Pijar dengan tatapan penuh tanya. "Tapi, Mbak Pijar adalah sekretaris Bapak," tegas Manajer.

"Saya membutuhkan sekretaris yang kompeten."

Pijar seketika menatap tajam ke arah Elang. Bagaimana mungkin ucapan itu keluar dari mulut Elang ketika Pijar bahkan belum menunjukkan kinerjanya di depan lelaki itu? Beruntung untuk Pijar, Manajer itu mengatakan hal yang membuat Elang menutup mulutnya dengan rahang mengerat.

"Maafkan saya, Pak. Tanpa mengurangi rasa hormat saya, Bapak tidak diizinkan mengganti sekretaris Bapak." Manajer HRD tersebut berkata lugas, seolah tidak terpengaruh oleh tatapan mengintimidasi yang diberika oleh Elang. "Pak Gema sudah mengaturnya dan mempercayakan Mbak Pijar untuk mendampingi Bapak."

'T-tunggu! Jadi, Pak Gema dan Elang... mereka....'

Manajer HRD kembali undur diri. Dalam waktu beberapa detik, tatapan Elang dan Pijar saling beradu.

Pijar dengan tatapan terkejutnya, sementara Elang dengan kilatan amarah.

"Saya telah memberikan kamu pilihan untuk pergi. Sekarang, lihatlah ... seberapa kuat kamu akan bertahan di neraka yang akan saya ciptakan, Pijar Kemuning!"

***

Lanjutkan Membaca

Buku serupa

Kesempatan Kedua dengan Sang Miliarder

Kesempatan Kedua dengan Sang Miliarder

Cris Pollalis
5.0

Raina terlibat dengan seorang tokoh besar ketika dia mabuk suatu malam. Dia membutuhkan bantuan Felix sementara pria itu tertarik pada kecantikan mudanya. Dengan demikian, apa yang seharusnya menjadi hubungan satu malam berkembang menjadi sesuatu yang serius. Semuanya baik-baik saja sampai Raina menemukan bahwa hati Felix adalah milik wanita lain. Ketika cinta pertama Felix kembali, pria itu berhenti pulang, meninggalkan Raina sendirian selama beberapa malam. Dia bertahan dengan itu sampai dia menerima cek dan catatan perpisahan suatu hari. Bertentangan dengan bagaimana Felix mengharapkan dia bereaksi, Raina memiliki senyum di wajahnya saat dia mengucapkan selamat tinggal padanya. "Hubungan kita menyenangkan selama berlangsung, Felix. Semoga kita tidak pernah bertemu lagi. Semoga hidupmu menyenangkan." Namun, seperti sudah ditakdirkan, mereka bertemu lagi. Kali ini, Raina memiliki pria lain di sisinya. Mata Felix terbakar cemburu. Dia berkata, "Bagaimana kamu bisa melanjutkan? Kukira kamu hanya mencintaiku!" "Kata kunci, kukira!" Rena mengibaskan rambut ke belakang dan membalas, "Ada banyak pria di dunia ini, Felix. Selain itu, kamulah yang meminta putus. Sekarang, jika kamu ingin berkencan denganku, kamu harus mengantri." Keesokan harinya, Raina menerima peringatan dana masuk dalam jumlah yang besar dan sebuah cincin berlian. Felix muncul lagi, berlutut dengan satu kaki, dan berkata, "Bolehkah aku memotong antrean, Raina? Aku masih menginginkanmu."

Bab
Baca Sekarang
Unduh Buku
Sekretaris Sang Presdir Sekretaris Sang Presdir Loyce Romantis
ā€œPijar bertemu dengan Elang Bamantara di saat luka hatinya masih basah karena dia baru saja dikhianati oleh kekasihnya. Mereka dipertemukan oleh keadaan yang tidak tepat. Ada sebuah rahasia di antara keduanya yang belum terselesaikan. Pertemuan itu membuat Elang merasa diuntungkan. Sedangkan bagi Pijar, pertemuannya dengan Elang adalah sebuah petaka. Sayangnya, Pijar tak bisa menghindar dan mengharuskannya berada di sisi Elang Bamantara.ā€
1

Bab 1 Part 1

18/03/2025

2

Bab 2 Part 2

18/03/2025

3

Bab 3 Part 3

18/03/2025

4

Bab 4 Part 4

18/03/2025

5

Bab 5 Part 5

18/03/2025

6

Bab 6 Part 6

18/03/2025

7

Bab 7 Part 7

18/03/2025

8

Bab 8 Part 8

18/03/2025

9

Bab 9 Part 9

18/03/2025

10

Bab 10 Part 10

18/03/2025

11

Bab 11 Part 11

18/03/2025

12

Bab 12 Part 12

18/03/2025

13

Bab 13 Part 13

18/03/2025

14

Bab 14 Part 14

18/03/2025

15

Bab 15 Part 15

18/03/2025

16

Bab 16 Part 16

18/03/2025

17

Bab 17 Part 17

18/03/2025

18

Bab 18 Part 18

18/03/2025

19

Bab 19 Part 19

18/03/2025

20

Bab 20 Part 20

18/03/2025

21

Bab 21 Part 21

18/03/2025

22

Bab 22 Part 22

18/03/2025

23

Bab 23 Part 23

18/03/2025

24

Bab 24 Part 24

18/03/2025

25

Bab 25 Part 25

18/03/2025

26

Bab 26 Part 26

18/03/2025

27

Bab 27 Part 27

18/03/2025

28

Bab 28 Part 28

18/03/2025

29

Bab 29 Part 29

18/03/2025

30

Bab 30 Part 30

18/03/2025

31

Bab 31 Part 31. Demi Tuhan

17/05/2025

32

Bab 32 Part 32. Tidak Mengenali

17/05/2025

33

Bab 33 Part 33. Menyerah

17/05/2025

34

Bab 34 Part 34. Ketakutan

17/05/2025

35

Bab 35 Part 35. Trauma

17/05/2025

36

Bab 36 Part 36. Menemukan

17/05/2025

37

Bab 37 Part 37. Resign

17/05/2025

38

Bab 38 Part 38. Situasi yang Sulit

17/05/2025

39

Bab 39 Part 39. Rencana Buruk

17/05/2025

40

Bab 40 Part 40. Ego Setinggi Langit

17/05/2025