back
Unduh aplikasi
icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon
My Beautiful Bride

My Beautiful Bride

pinnacullata

4.4
Ulasan
30K
Penayangan
101
Bab

Ethan Daniel—CEO kasar yang selalu bersikap dingin karena trauma masa kecilnya. Percintaan sangat jauh dari kehidupannya, maka saat sang kakek mengingatkan perihal gadis masa kecil sekaligus tunangannya. Dia sama sekali tidak peduli dan terkesan sangat cuek. Tapi saat bertemu dengan Anna—wanita sederhana yang sama sekali bukan tipenya, entah kenapa Ethan merasa ada sesuatu yang berbeda, gadis itu sama sekali tidak tertarik dengan ketampanannya, atau kekayaannya. Anna malah menolak pertunangan mereka. Hal itu semakin membuat Ethan penasaran karena selama ini, tidak ada yang bisa menolak pesona, kekayaan dan tahtanya. Dapatkah Ethan mendapatkan Anna, bagaimana saat sudah mengecap kebahagiaan, trauma masa kecilnya kembali menguar. Mampukah Anna menyembuhkannya?

Bab 1
Anna Federica

Mata Anna tidak percaya akan apa yang sedang terjadi di hadapannya. Pada awalnya dia berpikir kakek tua itu bercanda saat dia menolak permintaannya, namun ternyata dia serius. Opa tua itu terjatuh miring sambil terus memegangi dadanya kesakitan.

Hati Anna mencelos, ketakutan, bagaimana jika dia yang harus bertanggung jawab? Rasa panik menyusup ke hatinya, opa Jacob mengangkat tangannya berusaha berbicara tapi lidahnya kelu, sehingga Anna tidak bisa mengerti apa yang dia katakan.

Pada awalnya, Anna tidak mengerti mengapa mamanya yang pelit sampai memberikan uang agar dia naik taksi, untuk bertemu kakek tua ini. Tapi, setelah tahu, Anna benar-benar berharap dia tidak datang, karena tiba-tiba Anna sudah bertunangan dengan seorang Ethan Samuel, cucu kakek itu.

Kini Anna menjadi merasa bertanggung jawab sebab karena penolakannya tadi, kakek tua ini terkena serangan jantung, Anna dengan panik menemani opa Jacob ke rumah sakit.

Begitu sampai rumah sakit, opa segera diperiksa. Kakek tua itu ditempeli berbagai alat di badannya. Pemandangan yang mengerikan, Anna tak sampai hati melihatnya, tanpa dia sadari air matanya ikut terjatuh karena ketakutan.

Dokter mengatakan hasil pengecekan awal kondisi jantung Opa tidak bagus, dan ditemukan penyumbatan. Hati Anna kembali mencelos, semua ini pasti karena penolakannya tadi.

Anna memandang kakek tua itu dengan sedih. Pria berjas itu mengurus segala sesuatunya tapi ternyata tindakan harus dilakukan dengan tanda tangan dari keluarga, opa Jacob mengangguk lemah saat mendengarnya.

"Tolong... telepon cu..cu Opa..." serunya susah payah, dia mengambil handphone dari saku celananya.

Anna menerima telepon opa itu dengan perasaan campur aduk, menelepon cucunya berarti dia menelepon calon suaminya? Tapi pandangan kakek tua itu terus memohon kepadanya. Dia menunjuk ke angka 1 dengan lemah. Anna segera menekan nomor 1 dan terdengar suara jawabannya dengan suara mengejek

"Apa lagi kakek tua?" tanya Ethan separuh bercanda, dia baru saja menyelesaikan pekerjaannya, dan hendak pulang Sepanjang hari ini Ethan menghindari telepon opanya, karena tahu pasti opanya akan menyuruh dia datang bertemu calon istrinya. Tapi kali ini sebaiknya dia mengangkat agar besok kakeknya tak lagi mengganggunya.

"Kamu cucunya kan? Segera kemari kami membutuhkan tanda tanganmu!" Dengan penuh emosi Anna menjawab.

Pasti ini Pria ini yang dari tadi ditelepon oleh pria berjas hitam tadi, tapi selalu gagal. Ternyata cucunya sendiri tidak peduli kalau kakeknya sedang sakit, Anna seketika mendengus kesal.

Siapa wanita ini? Pikir Ethan terkejut. "Kamu siapa?" bentaknya kasar. Ethan terkejut mengapa handphone kakeknya bisa di pegang wanita ini.

"Kakekmu ada di UGD RS Jantung Harapan Kami, segera datang!" jawabnya sedingin mungkin. Opa Jacob tersenyum lemah saat dia mematikan telepon.

"Terima kasih Anna," ujarnya lirih, wanita berambut panjang itu tersenyum sedih melihatnya, tadi opa tampak sehat, tetapi dalam sekejap tiba-tiba dia terbaring tak berdaya disini, perasaan bersalah Anna semakin merajalela, Anna tidak mengerti mengapa dia tiba-tiba merasa dekat dengan kakek ini.

Ethan terkejut teleponnya dimatikan begitu saja, ini mungkin akal-akalan opanya, tidak mungkin dia sakit! Kemarin dia tidak kenapa-kenapa, tapi perasaannya tidak enak, maka dia segera mengarahkan mobilnya ke rumah sakit itu.

Saat dia datang, Daniel, sekretaris opanya langsung memberikan penjelasan akan status opanya. Anna melirik sebentar ke arah pria tinggi itu, gaya pria itu menyebalkan, dia terlihat angkuh dan sombong.

Anna tapi tak mau ambil pusing, dia masih ada disini karena merasa bersalah kepada opa, mungkin seharusnya Anna menolak pertunangannya dengan lebih halus.

"Hmm." Ethan mendekati kaki tempat tidur opa Jacob sambil mencoba menatap wajah Anna, Daniel juga sudah menceritakan kalau wanita ini adalah calon istrinya, wanita ini pintar sekali berakting, sampai menangis untuk orang asing? pikir Ethan dalam hati. Anna sengaja tidak menoleh, dia tersinggung dipanggil seperti itu, Anna terus menatap wajah opa yang pucat.

"Ehem!" Ethan kembali mengeraskan suaranya, mengapa wanita ini tidak mau menatapnya? Dengan kesal akhirnya Anna segera menatap ke pria yang benar-benar tidak sopan ini dengan kesal.

Wajahnya yang mungil dibingkai dengan rambutnya yang tebal kecoklatan, hidungnya tinggi dengan bibir mungil merah muda, namun yang membuat Ethan terpesona adalah matanya yang bulat coklat muda, bola mata itu menatapnya dengan tajam. Tanpa sadar Ethan menahan napasnya karena terkejut.

"Ya, ada yang bisa saya bantu?" tanya Anna memandangnya sinis.

Ethan kembali berkonsentrasi, dia tersenyum miring sambil mendekati Anna,

"Saya yang bisa bantu anda bukan kebalikannya!" Bola mata wanita itu membulat kaget dengan jawabannya.

"Siapa kamu, kenapa kamu sok sibuk disini!" tanya lagi melangkah lebih mendekati Anna yang segera mundur menjauhinya, tubuhnya yang menjulang tinggi itu langsung terasa mendominasi Anna.

"Ethan... kamu sudah datang?" tanya opa Jacob yang terbangun karena mendengar suara keras Ethan, dia menahan tangan pria itu. Opa berusaha untuk bangkit dari tidur tapi tidak bisa.

"Sudahlah Opa nggak usah bangkit dulu, opa kenapa sih?" tanya Ethan itu dengan khawatir.

Opa? jangan-jangan ini yang bernama Ethan yang opa Jacob ceritakan tadi? Anna bertanya-tanya dalam hati, dia langsung ingin menjauhi mereka berdua, tapi dia malah terperangkap di antara tubuh Ethan, tembok dan tempat tidur Opa.

"Ethan, ini calon istrimu Anna, cantik kan?" seru opa Jacob tersenyum lemah.

Anna dan Ethan terpaksa saling menatap. Ethan menatap Anna dengan mata menyipit merendahkan sedangkan Anna menatapnya dengan jijik.

"Oh ini yang Opa bangga-banggakan? biasa aja tuh, nggak cantik-cantik amat!" ujarnya seakan-akan Anna tidak ada disini.

Anna mendengus kesal, menanggapi pria itu hanya akan membuang-buang waktunya. Sepertinya keputusannya tadi, tepat. Berada dengannya selama lima menit saja emosi Anna sudah melonjak drastis apalagi kalau jika Anna menikah dengannya?

Tiba-tiba datang suster berwajah ramah, dan dia memecahkan pandangan mereka berdua.

"Permisi, kakek kita echo dulu ya," seru suster tersenyum, mulai membuka kunci tempat tidur opa Jacob. Anna segera berdiri dan mengikuti kemana opa Jacob dibawa. Ethan semakin curiga dengan wanita itu.

"Buat apa anda ikut!" seru Ethan protes mengejar Anna dari belakang, Anna menatapnya dengan kesal.

"Aku mau lihat apakah Opa akan baik-baik saja, aku nggak percaya sama kamu!" jawabnya lalu meninggalkan Ethan mengepalkan tangannya dengan kesal karena ejekan Anna.

Dokter mulai menjelaskan, Ethan mencatat di kepalanya semua proses yang akan dilakukan, sedangkan Anna tidak mengerti sama sekali yang dijelaskan, sekeras mungkin dia mencoba.

"Jadi sebaiknya kita melakukan operasi, pertama kita balon lalu kita akan ring," kata dokter menatap Anna dan Ethan bergantian.

Anna menatap Ethan ingin bertanya, tapi segera mengurungkan niatnya, itu pasti akan memberikan pria itu amunisi untuk kembali merendahkanya

"Baik kita jadwalkan saja dok secepat mungkin lebih baik," jawab Ethan langsung.

"Baik, tapi karena Opa harus puasa, kita harus cari jadwal yang pas dengan dokter jantung yang ada, Opa akan baik-baik saja, tapi tinggal di rumah sakit dulu ya," ucap dokter tersenyum menenangkan Anna yang masih panik, raut wajahnya mulai tenang tapi Ethan semakin curiga kepada Anna, wanita matrealistis ini semakin menempel saja, pikirnya dalam hati.

"Yuk kita masuk ruangan yuk, Opa?" ajak suster dengan ramah mendorong kembali tempat tidur Opa Jacob.

"Kamu kenapa sih?" tanya Ethan langsung menarik tangan Anna ketika dia kembali mengekor tempat tidur opa.

"Apanya yang kenapa?" tanya Anna sambil mencoba melepaskan tangannya, rasa sakit menjalar dari tarikan tangan Ethan yang kasar.

"Kenapa kamu sok peduli!" jawabnya, bola mata yang hitam pekat menatap Anna dengan marah.

"Aku emang peduli, bukannya sok peduli! memangnya kamu yang sok sibuk terus sampai tak peduli kakeknya masuk rumah sakit!" dengan kesal Anna melepaskan pegangan tangannya di lengannya, seenaknya saja berani memegangi tanganku, pikirnya sambil berlari mengikuti opa Jacob. Entah kenapa semakin Ethan melarangnya melihat Opa Jacob, semakin dia ingin melawan Ethan.

Di kamar perawatan, opa sudah lebih tenang, pipinya sudah kembali merah. Anna mulai bernapas lega.

"Maafkan Ethan, dia memang kasar, tapi aslinya dia baik, kamu mau kan jadi istrinya? Ethan terlalu kesepian, dia hanya butuh teman, dan Opa tahu kamu teman yang paling cocok untuknya." Opa kembali membujuk Anna.

Pria tua itu pantang menyerah, dia tahu waktunya tak banyak, mereka harus segera bersama. Dia sungguh berharap mereka dapat bersatu.

"Opa bicaranya nanti saja ya," Anna mencari alasan untuk menunda, setelah melihat Ethan, dia semakin yakin untuk menolak perjodohan ini, pria tua itu menggeleng.

"Opamu ini kaya, sangat kaya, Anna. Kamu sudah ada dalam warisan kakek, jika kamu menikah dengan Ethan." Opa Jacob menggunakan kartu terakhirnya, siapa yang dapat menolak hartaku? Tapi dulu neneknya Anna juga menolaknya walau dia banyak uang. Bisakah Anna tergoda dengan harta warisannya? Opa menatap Anna dengan penuh harap.

Unduh Buku