Cinta Dari Masalalu

Cinta Dari Masalalu

Dimarifa Dy

5.0
Komentar
514
Penayangan
168
Bab

Kisah Datang Ratih yang menyukai teman SMAnya, Arsenna. Mereka bertemu lagi setelah 11 tahun. Mereka terhubung dalam mimpi mimpi yang tak biasa. Bagaimana kisah selanjutnya, bisakah mereka bersatu

Bab 1 Kecelakaan

Semesta ini baginya adalah kutukkan. Dia mendengar dan mengabulkan harapan yang entah. Sementara keinginan yang benar-benar, tidak dikabulkan.

Apa perjanjianya di lauhul mahfuz.

Mungkinkah, dalam perjanjian itu, aku hanya mencintai orang sekali?

Lalu selesai?

Aku tidak melewati usia, saat semua berpusat pada diriku, mengalami semua remaja alami, nonton bioskop bersama, makan berdua dan sekedar keliling kota hanya untuk temu kangen. Aku tidak mengalami berteriak-teriak senang saat teman pria menyanyikan sebuah lagu untuk gadisnya. Tidak mengalami, ketika bukuku dipinjam lalu buku itu ditulis dengan penuh pesan. Betapa hambarnya hidup seperti itu.

Dunia berputar hanya dengan Arsenna sebagai pusatnya. Selalu ke bangku pinggir jalan, seolah dia selalu ke sana dan mengejutkan.

Seolah terkutuk dalam ketidakbahagiaan seorang gadis dengan mengabaikan semua kegembiraan remajaku. Begitulah semua itu terus berjalan! Menyedihkan.

***

Itu harusnya musim panas. Tetapi matahari sering kali tidak muncul. Suasana yang menakutkan, cuaca begitu dingin dan ... sepi.

Musim pandemi baru beberapa bulan tiba di negaranya. Dia muncul di depan rumah.

"Beberapa karyawan di 'R' kan."

R kepanjangannya adalah rasionalisasi, kata yang lebih halus dari PHK.

"Aku masuk dalam daftar, meski tak punya kesalahan apa-apa." lirih.

"Nggak bisa gitu dong, kok main R aja"

Ratih hanya menatap sedih.

"Andin nggak bisa seenaknya. Itu bukan perusahaan dia. Juga bukan perusahaan keluarga. Pliss, deh." Laras setengah berteriak.

"Bukan Andin." Ratih menggeleng.

Laras diam. Selalu merasa dilema, tak bisa berpura-pura membelanya, juga tak bisa mengenyahkan perasaan, bahwa dia juga menyayangi perempuan rapuh itu.

Dear Diary

Tidak banyak yang bisa kulakukan dalam masa pandemi, kecuali menjadi salah satu makhluk rebahan dengan semua denting suara piring dan desisan minyak dari penggorengan. Atau kacaunya suara rumpian tetangga yang berteriak-teriak dari rumah mereka. Ada rasa sedih, kehilangan rutinitas yang bisa membuatku bersemangat bangun dan menyiapkan segala sesuatu.

Dalam mimpi-mimpi buruk. Aku terus bermimpi masih menjadi bagian dari ruang kantor dan mendengar beberapa gosip. Memeriksa angka-angka dan deadline dari semua laporan harian dan mingguan. Masih bersemangat memberi catatan-catatan kecil dari setiap tanggal itu, mana yang sudah mendekati deadline dan mana yang tidak.

Melihat lipatan-lipatan rapi baju yang dijadwalkan setiap hari dari tanggal satu tanggal tiga puluh. Outfit yang mesti berbeda, rapi dan terencana.

Itu terulang lagi, sekali ini aku tak bisa kembali!

Aku menangis kadang-kadang, mimpi-mimpi buruk itu begitu menyesakkan. Apa aku terlalu serakah, karena menginginkan dua hal sekaligus.

Ah, Ars. Aku rindu, apa yang harus aku lakukan.

Laras menghentikan bacaannya, menatap wajah beku di depannya. Mungkin dia tak pernah mengira akan mati semuda itu, hidupnya akan panjang dan masih banyak kesempatan. Mungkin dia pikir, masih bisa menulis mimpi-mimpinya.

Namun, meninggal tetap saja hal yang paling misterius dan tak bisa dibantah!

Laras menatap wajah pucat yang dikelilingi alat medis dari kaca kecil depan ICU. Ah, rasanya rindu dengan mata coklat yang sering penuh cahaya. Penuh cinta yang tak terkatakan.

"Rasanya sangat tidak menyenangkan," katanya sambil tertawa.

Setiap kali melihat cermin, Ratih merasa waktu telah begitu jauh berlalu. Dunia yang tua dan gersang.

Dia berbohong tentang semuanya. Menyembunyikan status dan perasaannya. Selalu berlari, dan tak jua menemukan tempat.

"Ras, apa rasanya mati?"

"Ras, pernah nggak kamu coba berbaring di bawah langit biru?"

"Ras, apa yang sedang dipikirkan Senna?"

Lanjutkan Membaca

Buku lain oleh Dimarifa Dy

Selebihnya

Buku serupa

Puncak Nafsu Ayah Mertua

Puncak Nafsu Ayah Mertua

Cerita _46
5.0

Aku masih memandangi tubuhnya yang tegap, otot-otot dadanya bergerak naik turun seiring napasnya yang berat. Kulitnya terlihat mengilat, seolah memanggil jemariku untuk menyentuh. Rasanya tubuhku bergetar hanya dengan menatapnya. Ada sesuatu yang membuatku ingin memeluk, menciumi, bahkan menggigitnya pelan. Dia mendekat tanpa suara, aura panasnya menyapu seluruh tubuhku. Kedua tangannya menyentuh pahaku, lalu perlahan membuka kakiku. Aku menahan napas. Tubuhku sudah siap bahkan sebelum dia benar-benar menyentuhku. Saat wajahnya menunduk, bibirnya mendarat di perutku, lalu turun sedikit, menggodaku, lalu kembali naik dengan gerakan menyapu lembut. Dia sampai di dadaku. Salah satu tangannya mengusap lembut bagian kiriku, sementara bibirnya mengecup yang kanan. Ciumannya perlahan, hangat, dan basah. Dia tidak terburu-buru. Lidahnya menjilat putingku dengan lingkaran kecil, membuatku menggeliat. Aku memejamkan mata, bibirku terbuka, dan desahan pelan keluar begitu saja. Jemarinya mulai memijit lembut sisi payudaraku, lalu mencubit halus bagian paling sensitif itu. Aku mendesah lebih keras. "Aku suka ini," bisiknya, lalu menyedot putingku cukup keras sampai aku mengerang. Aku mencengkeram seprai, tubuhku menegang karena kenikmatan itu begitu dalam. Setiap tarikan dan jilatan dari mulutnya terasa seperti aliran listrik yang menyebar ke seluruh tubuhku. Dia berpindah ke sisi lain, memberikan perhatian yang sama. Putingku yang basah karena air liurnya terasa lebih sensitif, dan ketika ia meniup pelan sambil menatapku dari bawah, aku tak tahan lagi. Kakiku meremas sprei, tubuhku menegang, dan aku menggigit bibirku kuat-kuat. Aku ingin menarik kepalanya, menahannya di sana, memaksanya untuk terus melakukannya. "Jangan berhenti..." bisikku dengan napas yang nyaris tak teratur. Dia hanya tertawa pelan, lalu melanjutkan, makin dalam, makin kuat, dan makin membuatku lupa dunia.

Bab
Baca Sekarang
Unduh Buku