Tipu Muslihat Suami Jahat

Tipu Muslihat Suami Jahat

Erma Wang

5.0
Komentar
2.3K
Penayangan
17
Bab

Berumah tangga merupakan bagian dari perjalanan hidup yang sangat panjang. Pernikahan bak berlayar dengan sebuah kapal yang terombang-ambing di lautan. Peran nahkoda sangat penting untuk menjaga kapalnya agar tetap berlayar. Namun bagaimana jika Nendra yang berperan sebagai nahkoda justru ternyata menginginkan kapalnya tenggelam?

Tipu Muslihat Suami Jahat Bab 1 Sang ipar

"Kakak mau kamu dan Adhis bercerai. Mau sampai kapan kamu berumah tangga dan tidak punya anak, Nendra!" begitulah suara teriakan dari dalam rumah megah milik Adhisty yang terdengar nyaring di telinganya. Bak disambar petir di siang bolong, Adhisty Charity yang baru saja pulang dari supermarket itu tidak sengaja mendengar percakapan Aswan Ganendra- suaminya, dan Trimega-kakak iparnya.

Dari balik pintu utama rumahnya, Adhisty menguping sebanyak yang ia bisa, tetapi semakin lama, semakin banyak hinaan yang terdengar di telinganya hingga Adhisty memutuskan untuk pergi menuju sebuah kedai kopi di dekat rumahnya.

Adhisty kembali memasuki mobilnya dan melajukan kuda besi itu menuju kedai kopi Dandelion. Di sana lah ia bisa dengan tenang menjernihkan pikirannya. Masih terdengar jelas perkataan dari iparnya tadi, sebuah perintah bercerai yang begitu mudah diucapkan iparnya itu membuatnya sangat muak. Adhisty merasa selama enam tahun pernikahannya, keluarga Nendra terlalu ikut campur dengan rumah tangga mereka hanya karena pernikahan mereka belum diberikan keturunan hingga saat ini.

Di kedai kopi, Adhisty memesan secangkir coklat hangat dan beberapa potong kue untuk membantu memulihkan tenaga dan mentalnya yang hancur siang ini. Tidak hanya kali ini Adhisty disakiti oleh keluarga Nendra, cacian dan hinaan sering sekali ia dengar, baik secara langsung maupun tidak. Bahkan adik Nendra pun sering mengolok-olok Adhis. Tania berdalih jika sebuah rumah tangga tidak diberikan keturunan, maka mereka sudah gagal sebagai pasangan suami istri.

Adhisty tidak habis pikir dengan isi kepala orang-orang semacam Mega, Tania, juga keluarga Nendra yang lainnya. Adhisty sudah berusaha menjadi seorang istri yang penurut, seorang ipar yang baik, juga seorang menantu yang sangat menghormati mertuanya. Padahal, untuk uang sekolah Arga-anak Mega, semuanya ditanggung oleh Adhisty. Sungguh tidak tahu malu.

Secangkir coklat hangat dan sepiring kue pun diantar oleh pelayan. Ya, bicara tentang secangkir coklat hangat, Adhisty kembali mengingat kejadian dua tahun lalu, sembari menyeruput coklatnya, bayangan kelam tentang dirinya dengan coklat melintas di otaknya.

Dua tahun yang lalu, ketika Mega dan Tania berkunjung ke rumah Adhisty, mereka meminta dibuatkan coklat hangat, lalu Adhisty menurutinya. Adhisty kembali dari dapur membawa dua cangkir coklat hangat dan beberapa camilan untuk mereka, Tania segera menyeruput coklat hangat yang disuguhkan oleh Adhis, tetapi Tania justru menyemburkan coklat hangat itu dari mulutnya dan mengenai baju putih Adhis. "Duh, Kak. Ini terlalu panas!" teriak Tania. Mendengar adiknya marah karena kepanasan, Mega langsung meraih satu cangkir coklatnya dan memasukannya ke mulut Adhis dengan paksa. "Kak, cukup," lirih Adhis.

Batinnya menangis, Adhis merasa harga dirinya sangat terluka pada saat itu. Tania dan Mega merasa tidak puas karena merasa diperlakukan dengan buruk oleh Adhis, mereka berpikir bahwa Adhis sangat sengaja ingin menjahati mereka. Padahal, ketika Mega menyumpali mulutnya dengan coklat tadi, terasa hangat di mulut Adhis, tidak ada panas sedikitpun.

Mega dan Tania berkeliling di rumah Adhis, langkah mereka tertuju ke sebuah dapur yang cukup mewah. Mega meraih kursi dan menaikinya untuk membuka kitchen set yang begitu tinggi, ia melihat dan memilah bahan apa yang akan dibawa pulang ke rumahnya nanti. Lama mencari, matanya tertuju kepada sebungkus bubuk coklat dan bahan-bahan kue, tak lupa pandangannya tidak luput dari beberapa bungkus mi instan. "Kakak minta coklat bubuk itu dan sekardus mi instan dong, Dhis. Coklat bubuknya yang baru ya jangan yang sudah kamu pakai," ucap Mega.

"Tapi Kak, mi yang di kitchen set kan tidak ada sekardus, lalu bubuk coklatnya hanya sisa itu saja," ucapnya.

"Yang di kitchen set ya emang nggak sekardus, tapi di gudang kan kamu banyak simpan stok makanan, sudah kasih Kakak saja, di rumah Kakak ada Arga yang makan, katanya sayang sama keponakan? Bubuk coklatnya ya terpaksa Kakak bawa yang bekas kamu aja."

Mega selalu berdalih tentang Arga jika ingin meminta sesuatu dari Adhis. Mendengar nama Arga, Adhisty selalu luluh, bagaimana tidak? Setiap kali melihat Arga, Adhisty selalu teringat akan dirinya di masa SMA. Ia tahu betul bagaimana pedihnya kehilangan kasih sayang dari orang tua, meskipun saat itu usianya sudah remaja tetapi tetap saja dunianya seakan runtuh. Bedanya, orang tua Adhis mengalami kecelakaan dan meninggal ketika dirinya masih SMA, sedangkan Arga, ayahnya adalah seorang pemabuk, penjudi, dan pemarah. Sehingga jarang sekali Arga mendapat kedamaian di rumahnya, setiap hari hanya melihat orang tuanya bertengkar.

Tidak cukup kakak iparnya yang meminta, Tania yang sudah hilang dari dapur itu rupanya berada di lantai dua rumah Adhis, tepatnya di kamar Adhis, memang sangat tidak sopan untuk seorang mahasiswi seperti Tania yang seharusnya mengerti adab dalam bertamu.

Tania berteriak dari lantai atas, tetapi tidak terdengar jawaban apapun dari Adhis. Tania merasa kesal lalu membuka lemari dan mengacak-acak baju yang sudah tersusun rapi di lemari kakak iparnya itu.

Setelah mengambil beberapa baju milik Adhisty, Tania kembali menuju lantai satu dan menemui kakaknya yang tengah duduk di sofa ruang tengah sambil menonton serial drama korea di layar yang berukuran 29 inchi.

"Kak Adhis kemana, Kak?" tanyanya.

"Dia lagi Kakak suruh ke gudang ambil sekardus mi, lagian rumah sebesar ini dan tinggal cuma berdua aja ngapain stok makanan banyak-banyak," celetuk Mega mengundang tawa Tania.

"Iya, lagian di rumah ini juga nggak ada anak kecil, siapa yang mau habisin makanan sebanyak itu coba?" sambung Tania.

Adhisty rupanya sudah kembali dari gudang dan tidak sengaja mendengar percakapan dari iparnya. Namun, Adhisty berusaha tetap tenang dan sabar untuk menghadapi mereka. Adhisty membawakan sekardus mi itu di hadapan Mega, Mega tersenyum puas dan mengambilnya dengan kasar, "Nah gitu dong! Jadi ipar itu harus berguna," ucapnya.

Adhis hanya bisa menghela napas, kali ini mata Adhis tertuju kepada sebuah tumpukan baju yang berada di atas sofa, menyadari itu adalah bajunya, Adhis lalu menanyakan hal itu kepada mereka, "Kenapa bajuku ada di sini?" tanyanya.

"Itu aku yang keluarin, Kak. Lagian baju sebanyak itu emang Kakak pake semua? mending kasih aku aja, Kak," kali ini giliran Tania yang berbicara.

"Tapi kan Kakak masih mau pake baju itu, Dek." Jawaban dari Adhis barsuan tentu saja membuat Tania merasa tidak senang.

"Halah, lagian baju butut kaya gini banyak kok Kak di pasar, pelit banget sih jadi kakak ipar, pantesan aja nggak punya anak, sama saudara aja pelit gimana sama anaknya nanti?" Tania lalu berpura-pura menutup mulutnya. Adhisty hanya terdiam dan tidak bisa berkata apa-apa lagi.

Melihat suasana yang sudah tidak nyaman, Adhisty memilih pergi menuju kamarnya, begitu tiba di kamar, ia terkejut ketika melihat baju yang berserakan di lantai maupun di kasur. Ingin sekali rasanya berteriak, tetapi ia tidak enak karena iparnya masih ada di rumahnya. Tiba-tiba, suara teriakan terdengar dari lantai bawah, rupanya Mega berteriak meminta Adhis untuk memesankan layanan mobil online untuk mengantar mereka pulang. Dengan senang hati, Adhis langsung turun menuju lantai satu dan memesankan mobil untuk iparnya pulang.

"Astaga! ingatanku terlalu jauh," monolog Adhisty yang baru saja menghabiskan coklat hangat dan kuenya. Mengingat kembali perlakuan mereka kepadanya membuat Adhis mengindikkan bahunya ngeri.

Alasan dirinya tidak bisa memiliki anaklah yang membuat keluarga Nendra berbuat sesuka hati. Adhis tiba-tiba memikirkan hal gila untuk menyelamatkan rumah tangganya, "Apa aku harus meminta Mas nendra menikah lagi?" gumamnya.

Adhis bergegas untuk segera pulang begitu pikiran gila itu menghantuinya. Ketika membuka pintu kedai kopi, seorang gadis yang baru saja memasuki kedai kopi terlihat sangat anggun dan begitu memikat perhatian Adhisty. "Tuhan, secepat itukah doaku dijawab olehMu?" gumamnya.

Lanjutkan Membaca

Buku serupa

Gairah Liar Dibalik Jilbab

Gairah Liar Dibalik Jilbab

Gemoy
5.0

Kami berdua beberapa saat terdiam sejanak , lalu kulihat arman membuka lilitan handuk di tubuhnya, dan handuk itu terjatuh kelantai, sehingga kini Arman telanjang bulat di depanku. ''bu sebenarnya arman telah bosan hanya olah raga jari saja, sebelum arman berangkat ke Jakarta meninggalkan ibu, arman ingin mencicipi tubuh ibu'' ucap anakku sambil mendorong tubuhku sehingga aku terjatuh di atas tempat tidur. ''bruuugs'' aku tejatuh di atas tempat tidur. lalu arman langsung menerkam tubuhku , laksana harimau menerkam mangsanya , dan mencium bibirku. aku pun berontak , sekuat tenaga aku berusaha melepaskan pelukan arman. ''arman jangan nak.....ini ibumu sayang'' ucapku tapi arman terus mencium bibirku. jangan di lakukan ini ibu nak...'' ucapku lagi . Aku memekik ketika tangan arman meremas kedua buah payudaraku, aku pun masih Aku merasakan jemarinya menekan selangkanganku, sementara itu tongkatnya arman sudah benar-benar tegak berdiri. ''Kayanya ibu sudah terangsang yaa''? dia menggodaku, berbisik di telinga. Aku menggeleng lemah, ''tidaaak....,Aahkk...., lepaskan ibu nak..., aaahk.....ooughs....., cukup sayang lepaskan ibu ini dosa nak...'' aku memohon tapi tak sungguh-sungguh berusaha menghentikan perbuatan yang di lakukan anakku terhadapku. ''Jangan nak... ibu mohon.... Tapi tak lama kemudian tiba-tiba arman memangut bibirku,meredam suaraku dengan memangut bibir merahku, menghisap dengan perlahan membuatku kaget sekaligus terbawa syahwatku semakin meningkat. Oh Tuhan... dia mencium bibirku, menghisap mulutku begitu lembut, aku tidak pernah merasakan ini sebelumnya, Suamiku tak pernah melakukannya seenak ini, tapi dia... Aahkk... dia hanya anakku, tapi dia bisa membuatku merasa nyaman seperti ini, dan lagi............ Oohkk...oooohhkkk..... Tubuhku menggeliat! Kenapa dengan diriku ini, ciuman arman terasa begitu menyentuh, penuh perasaan dan sangat bergairah. "Aahkk... aaahhk,," Tangan itu, kumohooon jangan naik lagi, aku sudah tidak tahan lagi, Aahkk... hentikan, cairanku sudah keluar. Lidah arman anakku menari-nari, melakukan gerakan naik turun dan terkadang melingkar. Kemudian kurasakan lidahnya menyeruak masuk kedalam vaginaku, dan menari-nari di sana membuatku semakin tidak tahan. "Aaahkk... Nak....!"

TERJEBAK GAIRAH DUDA

TERJEBAK GAIRAH DUDA

bundaRey
5.0

WARNING!!!! AREA DEWASA (21+) BOCIL DILARANG MENDEKAT “Sena ... nikah, yuk.” Dahi Sena mengernyit kala mendengar ajakan nikah dari tetangga rumahnya. Dia yang masih berusia dua puluh diajak nikah oleh lelaki yang hampir kepala empat? “No way!” balas Sena sembari membalik tubuhnya dan mengibaskan rambutnya di hadapan lelaki itu. Dia segera masuk ke dalam rumah miliknya dan menutup pintu dengan sangat keras. Lelaki itu pun hanya terkikik saat melihat kekesalan Sena. Sangat menyenangkan ternyata membuat gadis itu kesal. “Sena ... Sena ... kamu kok ngegemesin banget, sih.” Setelahnya om-om itu segera masuk ke dalam rumahnya yang bersebelahan dengan milik Sena. “Dasar duda mesum. Masak ngajak nikah anak kuliah, sih? Nggak sadar umur apa, ya? Bener-bener kelakuan masih kayak ABG puber aja,” gerutu Sena saat memasuki rumahnya. Namanya Sena Aurellia Subrata, umurnya masih dua puluh tahun dan dia juga masih kuliah semester empat di salah satu universitas negeri di Jakarta. Dia tinggal sendiri di rumah itu, rumah milik bibinya yang nganggur karena sang bibi dan keluarga memilih tinggal di luar negeri, mengikuti sang suami yang ditugaskan ke Thailand. “Apa dia pikir, gadis perawan kayak gue gini, mau apa sama duda tua kayak dia? Jangan harap!” Sena mengambil buku yang ada di atas nakas, dia segera menggunakan buku itu sebagai pengganti kipas karena kebetulan kipas di rumah itu sedang rusak. Sena tinggal di sebuah perumahan kecil tipe 36 yang tiap rumah saling berdempetan. Dan sialnya, tetangga samping rumah itu adalah seorang duda mesum berusia 37 tahun. Meski wajahnya sangat menipu, karena dia terlihat sepuluh tahun lebih muda. Sena dan Tristan lebih mirip seperti kucing dan tikus jika bertemu. Bagaimana satu malam bisa merubah keduanya?

Bab
Baca Sekarang
Unduh Buku