icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon

Penipuan Lima Tahun, Pembalasan Seumur Hidup

Bab 5 

Jumlah Kata:522    |    Dirilis Pada: 29/10/2025

a. Saat aku sedang mengemas ko

ana?" tanyanya, ada ki

lah," aku berbohong dengan lancar. "Hanya unt

ang dengan ayahku, yang berdiri di ambang pintu. Perjalanan

kanku secangkir "teh herbal penenan

nyaris tak terdeteksi dari obat tidur yang dicampurka

ngkir itu. Aku menatapnya, lalu pada aya

yesap teh itu. Lalu sekali lagi. Aku meminum setengah cangkir, perutku men

ke dahiku. "Aku merasa sedikit... pusing.

peduliannya adalah sebuah fiksi yang semp

akku untuk n

linya. Orang tuaku. Orang-orang yang

luar begitu saja sebelum aku bisa menahannya. "Atas apa

Ada kilatan sesuatu di mata mereka-rasa

ayahku, suaranya sedikit t

. Aku tidak mendesak. Aku ha

ngunci pintu, berlutut di depan toilet, dan memaksa diriku untuk muntah, tubuhku kejang

ya akting, tap

an ke ruang tamu, di mana sebuah kotak kado yang terbungkus elegan di

urir prioritas. Instruksinya tepat: kirim paket ke Restoran Starlight di dalam Dun

aku melihat mereka. Bram, Kiara, Leo, dan orang tuaku, tertawa saat mereka berjalan melewati pintu masuk se

n dari Dewi. "Pesawat lepas la

giaan palsu mereka yang sempurna. Aku tidak merasakan apa-apa. Tidak ad

ata ponselku, dan menjatuhkannya ke sel

taman hiburan yang gemerlap dan berjalan menuju banda

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
Penipuan Lima Tahun, Pembalasan Seumur Hidup
Penipuan Lima Tahun, Pembalasan Seumur Hidup
“Aku adalah Alina Wijaya, pewaris tunggal keluarga Wijaya yang telah lama hilang, akhirnya kembali ke rumah setelah masa kecilku kuhabiskan di panti asuhan. Orang tuaku memujaku, suamiku menyayangiku, dan wanita yang mencoba menghancurkan hidupku, Kiara Anindita, dikurung di fasilitas rehabilitasi mental. Aku aman. Aku dicintai. Di hari ulang tahunku, aku memutuskan untuk memberi kejutan pada suamiku, Bram, di kantornya. Tapi dia tidak ada di sana. Aku menemukannya di sebuah galeri seni pribadi di seberang kota. Dia bersama Kiara. Dia tidak berada di fasilitas rehabilitasi. Dia tampak bersinar, tertawa saat berdiri di samping suamiku dan putra mereka yang berusia lima tahun. Aku mengintip dari balik kaca saat Bram menciumnya, sebuah gestur mesra yang familier, yang baru pagi tadi ia lakukan padaku. Aku merayap mendekat dan tak sengaja mendengar percakapan mereka. Permintaan ulang tahunku untuk pergi ke Dunia Fantasi ditolak karena dia sudah menjanjikan seluruh taman hiburan itu untuk putra mereka-yang hari ulang tahunnya sama denganku. "Dia begitu bersyukur punya keluarga, dia akan percaya apa pun yang kita katakan," kata Bram, suaranya dipenuhi kekejaman yang membuat napasku tercekat. "Hampir menyedihkan." Seluruh realitasku-orang tua penyayang yang mendanai kehidupan rahasia ini, suamiku yang setia-ternyata adalah kebohongan selama lima tahun. Aku hanyalah orang bodoh yang mereka pajang di atas panggung. Ponselku bergetar. Sebuah pesan dari Bram, dikirim saat dia sedang berdiri bersama keluarga aslinya. "Baru selesai rapat. Capek banget. Aku kangen kamu." Kebohongan santai itu adalah pukulan telak terakhir. Mereka pikir aku adalah anak yatim piatu menyedihkan dan penurut yang bisa mereka kendalikan. Mereka akan segera tahu betapa salahnya mereka.”
1 Bab 12 Bab 23 Bab 34 Bab 45 Bab 56 Bab 67 Bab 78 Bab 89 Bab 910 Bab 10