/0/22383/coverorgin.jpg?v=79aeb86db39fa6821d538a98ba331368&imageMogr2/format/webp)
Maria yang tengah membuat bubur untuk Marni sang mertua terkejut dengan kedatangan Fiko sambil menggandeng tangan seorang perempuan cantik. Tanpa rasa bersalah, Fiko memperkenalkan perempuan di sampingnya sebagai istri barunya kepada Maria. Maria hanya mematung syok tanpa bisa berucap apa-apa sampai perempuan itu mengulurkan tangannya untuk mengajak Maria berjabat tangan.
"Perkenalkan! Nama aku Sela Anastsya Arindi, istri keduanya Mas Fiko." Sela tersenyum manis ke arah Maria. " Kamu pasti Maria, istri pertamanya Mas Fiko."
Maria tidak menanggapi perempuan yang mengaku bernama Sela itu membuat Fiko menggeram marah. "Maria! Mana sopan santunmu? Cepat terima uluran tangannya Sela!" Fiko meninggikan suaranya karena merasa Maria malah melamunkan sesuatu dan bukannya dengan cepat menyambut uluran tangan Sela. Fiko tahu Maria shok, tapi tidak dengan mengabaikan Sela. Kalau Maria tahu tujuannya menikahi Sela, Fiko yakin Maria akan berterima kasih pada dirinya dan Sela.
Maria tersentak karena mendengar nada tinggi yang diucapkan Fiko padanya. Pelan, sebuah air mata lolos dari sudut matanya. Selama ini, sesalah apa pun Maria pada Fiko, Fiko tidak pernah membentak atau meninggikan suaranya dalam menegur, namun sekarang hanya demi wanita yang baru, Fiko tega membentaknya. Dia juga tidak menyangka Fiko akan menduakannya setelah 3 tahun pernikahan mereka. "Mas, ka-kamu menikah lagi?"
Hati Fiko tercubit ketika menyadari ada air mengalir dari mata Maria. Istri yang ia nikahi 3 tahun lalu itu kini meminta kejelasan dengan apa yang ia perbuat. Keinginannya untuk segera memiliki keturunan mendorongnya agar menikahi perempuan lain tanpa menceraikan Maria. "Maafkan Mas Maria. Mas sangat ingin segera memiliki anak. Karena kamu belum bisa kasih itu ke Mas, terpaksa Mas menikahi Sela."
Hati Maria sakit mendengarnya. Maria memindai penampilan Sela yang terlihat berkelas, rambut hitam bergelombang, wajah cantik, kulit mulus, serta baju dan perhiasan lainnya melekat indah di tubuhnya. Sedangkan dirinya hanya seorang ibu rumah tangga biasa yang kesehariannya berada di dapur, mengurus rumah, serta mengurus mertua yang terduduk di kursi roda.
"Fiko, kamu sudah pulang Nak." Seorang wanita paruh baya menghampiri mereka dengan menggunakan kursi roda. Dia Marni, Ibunya Fiko yang terkena setruk hingga harus duduk di kursi roda.
Dengan cepat Fiko menghampirinya untuk membantu mendorong sampai ke hadapan semua orang. Kemudian dia mengangkat Marni dan mendudukkannya di kursi makan. "Ya, Ibu. Aku membawa Sela untuk bertemu ibu dan Maria."
Seketika senyum cerah Marni terbit. Dia menatap Sela dengan binar mata yang membuat hati Maria makin sakit karena tidak pernah melihat binar itu untuk dirinya. "Ya ampun. Mantu kesayangan ibu sudah datang. Cantik banget kamu sayang."
"Terima kasih atas pujiannya, ibu." Sela tersenyum manis. “Bagaimana kabarnya Ibu?" Tanya Sela, dengan lembut Sela membawa tangan Marni dan menggemgamnya di atas paha.
Marni makin melebarkan senyumannya. Dia balik menggemgam tangan Sela erat. “Sangat baik setelah bertemu denganmu." Jawabnya lugas sambil melirikkan matanya sedikit ke arah Maria. Marni tersenyum puas karena mendapati wajah Maria yang keruh.
Fiko ikut duduk di kursi sebelah Marni, dan ikut memegang tangan Sela dengan lembut. "Terima kasih Sela. Kamu sudah buat Ibu Mas bahagia. Padahal, kamu baru saja datang di rumah ini."
Sela mengibaskan tangannya yang tak digenggam Fiko dan Marni. "Itu bukan apa-apa. Ibunya Masakan, Ibunya aku juga. Kalau ibu bahagia, aku juga ikut bahagia."
Mereka tertawa bersama melupakan seseorang yang tengah menahan sakit karena tak dianggap ada. Maria melihat mata Marni yang memandang Sela lembut. Padahal Sela baru datang hari ini, namun dia sudah bisa menarik perhatian Marni untuk menyukainya. Sedangkan dirinya yang sudah 3 tahun ini selalu merawatnya, mulai dari memberi makan, obat, memandikan, mengantar pup serta buang air kecil, tak pernah sekalipun di pandang selembut itu. Maria selalu terkena marah dengan alasan tak becus, inilah, itulah, dan berakhir mengadukannya pada Fiko.
Dalam diam, Maria meninggalkan mereka dan masuk ke kamarnya. Dia terduduk di atas ranjang dengan pandangan kosong. Tak lama pintu terbuka menampilkan Fiko yang menatapnya rumit.
"Maria, sekarang kamu bereskan semua barangmu yang ada dikamar ini."
Maria menatap heran kearah Fiko. "Kenapa Mas?"
Fiko membuang muka enggan melihat wajah Maria. "Mas dan Sela yang akan menempati kamar ini."
/0/5131/coverorgin.jpg?v=9d07b6151e8ca4bab1e0f189b9753f88&imageMogr2/format/webp)
/0/3098/coverorgin.jpg?v=b572666a44cf8421b559fc48be33c385&imageMogr2/format/webp)
/0/25607/coverorgin.jpg?v=990abaff26e653e7ecc438ced3a402d3&imageMogr2/format/webp)
/0/5258/coverorgin.jpg?v=99877193c0d67ea305742c9f6efb6d96&imageMogr2/format/webp)
/0/2881/coverorgin.jpg?v=d3bf434afc39214fa0f6865dd28c15fb&imageMogr2/format/webp)
/0/27347/coverorgin.jpg?v=92a16401adb97a1e33d2826b0187dfac&imageMogr2/format/webp)
/0/3662/coverorgin.jpg?v=a0710915f702a9c13f8ef5a52e415ef4&imageMogr2/format/webp)
/0/3798/coverorgin.jpg?v=0702451180b4f42c577d4b5554421ebe&imageMogr2/format/webp)
/0/12527/coverorgin.jpg?v=ca963095e52e158a6d9da68cf2fdd8fa&imageMogr2/format/webp)
/0/13713/coverorgin.jpg?v=a92b7d0008acd0c17b3bc1deeb0f9211&imageMogr2/format/webp)
/0/19515/coverorgin.jpg?v=441acc167bab6ef44450229ef64f8beb&imageMogr2/format/webp)
/0/20569/coverorgin.jpg?v=0bd9dae0d2fcea4a443c8ecbd4d9ccc1&imageMogr2/format/webp)
/0/31008/coverorgin.jpg?v=9f9cbbd3ae83a4ddaa68ff168a393da3&imageMogr2/format/webp)
/0/21244/coverorgin.jpg?v=7effe33cd912c7b9abbefb78c6f9da90&imageMogr2/format/webp)
/0/2646/coverorgin.jpg?v=0750096518f58d429c0eaa5c15660d31&imageMogr2/format/webp)
/0/28623/coverorgin.jpg?v=07090975edcbd0da6513b8abcabea42a&imageMogr2/format/webp)
/0/15948/coverorgin.jpg?v=a6120436d1c3402ee2b691af275f9e9b&imageMogr2/format/webp)
/0/4056/coverorgin.jpg?v=0428bcf7dca705ee25be30e0599d8620&imageMogr2/format/webp)