/0/15746/coverorgin.jpg?v=dd951388bf1506d99ea44810f630efd4&imageMogr2/format/webp)
Tiara menarik napas dalam, udara lembap Jakarta terasa berat di dadanya. Bau knalpot dan sampah bercampur, menciptakan aroma khas ibu kota yang selalu ia benci namun kini harus ia hadapi setiap hari. Di tangannya, selembar surat peringatan berwarna merah terang terasa seperti bara api yang membakar. Tanggal jatuh tempo sudah lewat dua minggu, dan ancaman penyitaan yang tertera di sana bukan lagi isapan jempol belaka. Rumah kecil mereka, satu-satunya warisan berharga dari almarhum ayahnya, kini di ujung tanduk.
Dan yang lebih menyayat hati, ibunya, wanita rapuh yang telah berjuang keras membesarkannya sendirian, kini terancam akan "dijual" - sebuah eufemisme kejam untuk dipaksa bekerja di tempat yang tak layak, atau bahkan lebih buruk, jika mereka tak mampu melunasi utang rentenir tersebut.
Pikirannya melayang pada ibunya, Kartika. Sejak kepergian ayahnya lima tahun lalu, Kartika telah memikul beban keluarga dengan segenap kekuatannya. Dari menjahit baju tetangga hingga membuat kue pesanan, tak ada pekerjaan halal yang Kartika tolak. Namun, penyakit paru-paru yang menggerogoti tubuhnya setahun terakhir telah merenggut tenaganya. Batuk-batuk yang semakin sering, napas yang memburu hanya dengan sedikit aktivitas, semua itu adalah pengingat betapa gentingnya situasi mereka. Tiara tahu, ibunya menyimpan kekhawatiran yang sama besarnya, mungkin lebih besar, namun selalu berusaha tersenyum demi dirinya. Senyum yang kini terasa seperti topeng.
"Tiara, kenapa kamu melamun di teras?" suara serak Kartika menyentaknya dari lamunan. Ibunya berdiri di ambang pintu, bersandar pada kusen dengan napas terengah. Wajahnya pucat, lingkaran hitam di bawah matanya semakin pekat. Tiara buru-buru menyembunyikan surat itu di balik punggungnya. Ia tidak ingin menambah beban pikiran Kartika.
"Tidak apa-apa, Bu. Hanya... memikirkan pekerjaan." Tiara mencoba tersenyum, senyum yang terasa kaku di bibirnya.
Kartika mendekat, tatapan matanya yang cekung menelusuri wajah putrinya. "Ibu tahu kamu sedang memikirkan masalah ini, Nak. Jangan terlalu dipikirkan. Kita pasti menemukan jalan keluarnya." Nada suaranya penuh keyakinan, namun Tiara bisa mendengar getaran samar di baliknya. Getaran yang mengisyaratkan keputusasaan.
"Jalan keluar apa, Bu?" Tiara tak bisa menahan diri. "Utang itu semakin menumpuk. Mereka bilang, kalau besok tidak dibayar..." Suaranya tercekat. Ia tak sanggup melanjutkan kalimatnya.
Kartika memeluk putrinya erat. "Kita akan cari, Nak. Kita akan cari." Air mata mulai menetes dari mata Kartika, membasahi bahu Tiara. Ini adalah pertama kalinya Tiara melihat ibunya menangis selemah ini. Pemandangan itu bagaikan pisau yang mengiris hatinya.
Malam itu, tidur tidak mau menyambangi Tiara. Setiap kali ia mencoba memejamkan mata, wajah ibunya yang pucat dan surat ancaman itu selalu membayang. Apa yang harus ia lakukan? Semua tabungannya, hasil kerja serabutan dari menjadi pelayan kafe hingga penjaga toko kelontong, tidak cukup. Jumlahnya bahkan tak sampai sepersepuluh dari total utang. Meminjam uang dari kerabat atau teman juga bukan pilihan. Mereka semua sama-sama kesulitan, dan Tiara tak ingin merepotkan siapa pun.
Di tengah kegelapan malam yang pekat, sebuah nama tiba-tiba terlintas di benaknya, bagai percikan api di tengah tumpukan jerami basah. Adrian Wiratama. Pria itu... pria yang dulu pernah menyatakan ketertarikannya padanya, dengan cara yang tak pernah Tiara pahami sepenuhnya. Adrian adalah putra dari pemilik jaringan hotel mewah di kota itu, seorang pria yang jauh di atas "liganya", seperti yang selalu teman-teman Tiara katakan. Mereka bertemu beberapa kali secara tidak sengaja di kafe tempat Tiara bekerja dulu. Adrian selalu sopan, selalu memberikan senyum ramah, dan entah mengapa, selalu menemukan cara untuk berbicara dengannya lebih lama dari sekadar memesan kopi. Tiara tak pernah menganggapnya serius. Baginya, Adrian hanyalah pelanggan istimewa, seorang pria dari dunia lain yang tak mungkin bersentuhan dengannya.
Namun, beberapa minggu yang lalu, saat Tiara masih bekerja di kafe, Adrian datang dan duduk di meja favoritnya. Setelah Tiara mengantar pesanannya, Adrian memanggilnya kembali.
"Tiara," suaranya lembut, namun tegas. "Saya tidak tahu harus berkata apa, tapi... saya sangat tertarik padamu. Bukan sekadar tertarik sebagai pelanggan, tapi lebih dari itu."
Tiara saat itu hanya terdiam, terkejut. Ia tak tahu harus merespons apa.
Adrian melanjutkan, "Saya tahu ini mungkin terdengar aneh, tapi saya serius. Jika suatu hari kamu membutuhkan bantuan, apa pun itu, jangan ragu untuk menghubungi saya. Saya akan melakukan apa pun yang saya bisa." Ia lalu meninggalkan kartu namanya, selembar kartu elegan dengan logo perusahaan besar yang Tiara hanya bisa impikan. Di sana tertulis nama Adrian Wiratama dan nomor ponsel pribadinya.
Saat itu, Tiara hanya menganggapnya sebagai rayuan gombal pria kaya. Ia tak pernah berpikir untuk menghubungi Adrian. Namun kini, di ambang kehancuran, janji Adrian itu terngiang-ngiang di telinganya. "Saya akan melakukan apa pun yang saya bisa."
Apakah ini gila? Meminta bantuan pada seorang pria yang hampir tidak ia kenal, seorang pria dari dunia yang berbeda? Namun, pilihan apa lagi yang ia miliki? Harga diri? Kehidupan ibunya jauh lebih berharga daripada harga dirinya yang remuk. Dengan tangan gemetar, Tiara meraih ponselnya, mencari kartu nama yang telah lama ia simpan di dompetnya, entah mengapa ia tak pernah membuangnya. Jantungnya berdebar kencang saat jari-jarinya menekan nomor yang tertera di sana.
Sambungan telepon berdering dua kali sebelum sebuah suara berat, namun ramah, menyambutnya. "Halo?"
"Adrian... Adrian Wiratama?" Suara Tiara serak, nyaris tak terdengar.
Ada jeda singkat di ujung telepon. "Ya, ini saya. Siapa ini?"
"Ini Tiara. Tiara Lestari," Tiara menyebutkan nama lengkapnya, meski ia tak yakin Adrian akan mengingatnya.
"Tiara? Astaga, Tiara! Apa kabar? Saya tidak menyangka kamu akan menelepon. Ada apa?" Ada nada antusiasme yang jelas dalam suara Adrian, seolah Tiara adalah orang yang sudah lama ia tunggu-tunggu.
Tiara menarik napas dalam, mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya. "Adrian, saya... saya butuh bantuan. Sangat butuh."
Adrian langsung sigap. "Bantuan apa? Katakan saja. Di mana kamu sekarang? Saya bisa menjemputmu."
Tiara ragu sejenak. "Saya... saya bisa menemuimu besok. Di tempat yang tidak terlalu ramai." Ia tak ingin masalahnya menjadi tontonan.
"Baiklah. Bagaimana kalau di kafe biasa kita bertemu? Jam sepuluh pagi?" Adrian terdengar memahami keraguannya.
"Baiklah," Tiara menyetujui. "Terima kasih, Adrian."
"Jangan berterima kasih dulu, Tiara. Kita belum tahu apa-apa. Sampai besok." Suara Adrian terdengar menenangkan, namun Tiara tahu, ia sedang melangkah ke dalam jurang yang tidak ia pahami.
Keesokan paginya, Tiara mengenakan pakaian terbaiknya, sebuah blus sederhana berwarna pastel dan celana jeans yang sudah agak usang. Ia mencoba tampil serapi mungkin, meski hatinya terasa seperti kain yang baru saja diremas-remas. Ia meninggalkan ibunya yang masih terlelap, setelah sebelumnya menuliskan catatan kecil bahwa ia akan pergi mencari pekerjaan tambahan. Ia tak ingin ibunya khawatir.
Kafe itu masih sama seperti terakhir kali ia melihatnya. Aroma kopi yang kuat menyambutnya di pintu masuk. Adrian sudah duduk di meja sudut, dekat jendela, menyeruput kopi sambil membaca tablet. Ia mengenakan kemeja biru muda yang rapi dan celana bahan yang mahal. Aura kemewahan dan kepercayaan diri terpancar jelas dari dirinya. Tiara merasa canggung, sangat canggung. Ia merasa seperti sebuah objek yang asing di lingkungan yang terlalu gemerlap untuknya.
Adrian mengangkat kepala saat Tiara mendekat. Senyum hangat merekah di wajahnya. "Tiara, kamu datang." Ia berdiri, menarik kursi untuk Tiara. "Duduklah. Mau pesan apa?"
"Air putih saja, terima kasih," jawab Tiara pelan, matanya menghindari tatapan Adrian. Ia tak ingin membuang-buang uang Adrian.
Setelah pelayan datang dan pergi, keheningan menyelimuti mereka. Tiara merasa tenggorokannya kering, kata-kata tercekat di lidahnya. Adrian menunggu dengan sabar, tidak mendesak. Keheningan itu justru membuatnya semakin gelisah.
"Adrian," Tiara memulai, suaranya nyaris berbisik. "Saya... saya datang ke sini karena saya benar-benar putus asa." Ia akhirnya mengangkat kepala, menatap mata Adrian yang teduh. "Rumah kami... akan disita besok. Dan ibu saya... mereka mengancam akan membawanya jika kami tidak melunasi utang." Air matanya mulai menumpuk di pelupuk mata.
Adrian mendengarkan dengan saksama, raut wajahnya berubah serius. "Berapa utangnya, Tiara?"
"Tiga puluh juta," jawab Tiara, kepalanya tertunduk lagi. Angka itu terasa begitu besar, tak terjangkau.
Tiga puluh juta. Bagi Adrian, angka itu mungkin setara dengan harga satu setelan jasnya, atau bahkan kurang. Namun bagi Tiara, itu adalah jurang tak berdasar yang mengancam menelan seluruh kehidupannya.
Adrian mengetuk-ngetuk meja dengan jari telunjuknya. "Tiga puluh juta, ya..." Ia terdiam sejenak, membuat Tiara semakin gelisah. Apakah ia akan menolak? Apakah ia akan mengatakan itu terlalu besar?
Kemudian, Adrian mengangkat kepalanya, menatap Tiara lurus di mata. "Saya bisa membantumu, Tiara."
Kata-kata itu bagaikan embun sejuk di tengah gurun. Tiara mengangkat kepalanya, tatapan penuh harap terpancar dari matanya yang sembap. "Benarkah?"
Adrian mengangguk. "Tentu saja. Tapi... ada syaratnya."
Degup jantung Tiara kembali berpacu. Ia sudah menduga ini. Tidak ada makan siang gratis di dunia ini. "Syarat apa?" tanyanya hati-hati.
Adrian menyandarkan punggungnya ke kursi, tatapannya lekat pada Tiara. "Saya akan melunasi semua utangmu, Tiara. Tidak hanya tiga puluh juta itu, tapi semua yang membebani keluargamu. Dan saya akan memastikan ibumu mendapatkan perawatan medis terbaik, sampai ia sembuh total."
Mata Tiara melebar. Itu... itu jauh lebih dari yang ia harapkan. Beban di pundaknya terasa sedikit terangkat, namun ia tahu, pasti ada harga yang harus ia bayar.
"Sebagai gantinya," lanjut Adrian, suaranya sedikit mengeras, "kamu harus menjadi wanitaku."
Napas Tiara tercekat. Dunia di sekelilingnya seolah berhenti berputar. Menjadi wanitanya? Apa maksudnya itu? Menjadi kekasih? Atau... lebih dari itu? Otaknya berputar cepat, mencoba mencerna makna di balik kata-kata Adrian. Apakah ini berarti ia harus... menyerahkan dirinya? Harga dirinya, kehormatannya, demi keselamatan ibunya?
"Apa... apa maksudmu 'menjadi wanitaku'?" Tiara memberanikan diri bertanya, suaranya nyaris tak terdengar.
Adrian tersenyum tipis, senyum yang tidak sampai ke matanya. "Maksudnya, kamu akan tinggal bersamaku. Aku akan menyediakan semuanya untukmu. Pakaian, makanan, tempat tinggal yang nyaman. Kamu tidak perlu lagi bekerja keras atau mengkhawatirkan apa pun. Kamu hanya perlu menemaniku, kapan pun aku menginginkannya."
Tiara merasakan darahnya berdesir dingin. Penjelasannya gamblang. Ia bukan diminta menjadi istri, bukan kekasih dalam arti romantis, melainkan... seorang wanita simpanan. Sebuah kesepakatan gelap, barter antara kebebasan ibunya dan harga dirinya.
"Tapi... Adrian, aku tidak mencintaimu," Tiara berbisik, air mata kembali menggenang.
Adrian mengedikkan bahu. "Cinta itu bisa tumbuh, Tiara. Atau, mungkin tidak. Bagiku, itu tidak penting. Yang penting, kamu bersedia. Kamu akan mendapatkan semua yang kamu butuhkan, dan ibumu akan aman. Hidupmu akan jauh lebih baik daripada sekarang. Pikirkan ibumu, Tiara. Pikirkan kesehatannya."
/0/26152/coverorgin.jpg?v=f26362a8ed9523afaac31945b76f61f6&imageMogr2/format/webp)
/0/14126/coverorgin.jpg?v=963c5609ae381918b2bdde934ae4e5ed&imageMogr2/format/webp)
/0/6559/coverorgin.jpg?v=45d6c5c69d9d87862b83435260019af8&imageMogr2/format/webp)
/0/19051/coverorgin.jpg?v=e67300697797524500dadbc4d1e1b62a&imageMogr2/format/webp)
/0/24347/coverorgin.jpg?v=666de77ca3973db3eb04724e57c20e17&imageMogr2/format/webp)
/0/17562/coverorgin.jpg?v=fd6917b8813600f0f03233640180efbf&imageMogr2/format/webp)
/0/28732/coverorgin.jpg?v=e8a0b4534d7994c926bb454fbf8339ea&imageMogr2/format/webp)
/0/24250/coverorgin.jpg?v=f742b725ae599210d293d306a214d2f0&imageMogr2/format/webp)
/0/17878/coverorgin.jpg?v=1a1e91ae2d6693eebb5ac59d07d8724f&imageMogr2/format/webp)
/0/25398/coverorgin.jpg?v=4bd1df5a711a566c9b22935296a5c8ac&imageMogr2/format/webp)
/0/10526/coverorgin.jpg?v=9471a0dfddb2aab3707bc11266eed41b&imageMogr2/format/webp)
/0/4454/coverorgin.jpg?v=ed5ebcf6d3a160941f315a46bdde27bf&imageMogr2/format/webp)
/0/14868/coverorgin.jpg?v=ed691902cab62c9f9016d20bc582a957&imageMogr2/format/webp)
/0/12753/coverorgin.jpg?v=30f189ccce34b86d3dfb76da73c6e95f&imageMogr2/format/webp)
/0/16737/coverorgin.jpg?v=9e81b26d3b8d0e34fef68d540fe003ec&imageMogr2/format/webp)
/0/25071/coverorgin.jpg?v=aa12c1375dc8065192499ce7e9cc8b8b&imageMogr2/format/webp)
/0/9312/coverorgin.jpg?v=21d9bc4ea5347318d4e102094147b4c7&imageMogr2/format/webp)
/0/4237/coverorgin.jpg?v=d5c82edae8e3ddb94afa88c3aac83db7&imageMogr2/format/webp)