/0/24661/coverorgin.jpg?v=629f8f88baba399a125ab8ef389ce989&imageMogr2/format/webp)
Dalam keremangan malam, tampak mobil yang melaju di jalanan yang berbelok-belok. Di dalam mobil ada Ayu, wanita cantik berusia tiga puluh tahun bersama Dicky suami barunya yang lebih muda tiga tahun darinya. Dengan masih mengenakan pakaian pengantin, mereka berdua di mobil berencana pergi bulan madu. Dicky menyetir mobil, di samping Ayu yang auranya semakin terpancar memakai kebaya putih lengkap dengan riasan mahkota, siger, dan melati di kepalanya. Mereka tampak bahagia.
“Akhirnya aku bisa nikahin kamu, Ayu,” ucap Dicky.
“Alhamdulillah. Aku juga senang Allah ngasih aku jodoh lagi. Semoga bulan madu kita ini jadi bulan madu yang indah,” sahut Ayu.
Dicky termenung sesaat memikirkan sesuatu. Ayu melirik Dicky bingung.
“Kenapa, Mas? Kok melamun? Mikirin apa sih?”
Dicky tersenyum seraya membelai lembut pipi Ayu. “Dulu banyak yang bilang aku bisa kena musibah kalo nikah sama kamu. Bisa cepet mati kayak suami kamu dulu.” Dicky tertawa meremehkan, “buktinya mana? Nih, aku udah nikah sama kamu, tapi masih sehat! Ha ha ha ....”
Mobil Dicky belok ke tikungan dan pada saat yang sama muncul mobil truk!
Ayu langsung panik. “Awas!”
Sayang Dicky tidak mampu merespons dengan cepat. Di dalam mobil sepasang pengantin baru itu berteriak histeris.
“Arrrrgh!”
Dicky membanting setir, belok kiri, tapi karena kecepatan tinggi susah dikendalikan hingga menabrak pohon besar. BRAKKK! Keluar asap dari mobil Dicky. Tubuh Dicky kejang-kejang menahan sakit, lalu akhirnya terkulai sudah tidak bernyawa dalam keadaan berlumuran darah.
Ayu menggerak-gerakkan tubuh Dicky sambil menangis histeris.
“Mas Dicky! Bangun, Mas! Jangan pergi tinggalin aku, Mas! Kita baru aja menikah. Kamu udah janji nggak akan ninggalin aku, Mas! Mas Dicky!”
Tangisan Ayu pecah.
Warga sekitar berdatangan untuk menolong Ayu dan almarhum Dicky. Saat jenazah Dicky akan dipindahkan ke mobil ambulans, Ayu malah berusaha menahan tubuh Dicky dengan emosional.
“Mau ke mana kalian bawa suamiku? Jangan bawa suamiku! Jangan!” Ayu menempis tangan warga yang mau mengangkat tubuh Dicky.
“Sabar, Mbak. Istighfar. Suami Mbak udah meninggal,” ujar salah satu warga.
“Iya, Mbak. Biar jenazahnya diurus dulu. Yang sabar, Mbak. Ikhlasin ya. Kasihan suami Mbak,” ujar warga yang lain.
“Nggak! Jangan!” Ayu terus berteriak frustrasi. Siger dan riasan melati di kepalanya jatuh berantakan. Ayu menangis tersedu-sedu menyaksikan jenazah lelaki yang baru menikahinya itu dibawa pergi.
Kenapa Dicky harus meninggal juga? Kenapa suami ketiganya juga harus meninggal?
***
SATU TAHUN KEMUDIAN
Pagi itu di sebuah masjid, Ayu sudah bersiap untuk melangsungkan ijab qabul di depan penghulu dengan calon suami barunya, yaitu Hendry berusia dua puluh tujuh tahun. Di dekat Ayu ada Vano, adik Ayu. Para tamu undangan memperhatikan Ayu. Ada beberapa ibu-ibu membicarakan Ayu.
“Itu pengantin wanitanya kan janda, tapi masih kayak perawan ting-ting, ya,” ujar Bu Iroh penuh rasa penasaran memperhatikan Ayu dari atas ke bawah.
“Iya, katanya udah janda tiga kali, tapi kok masih cantik dan awet muda, ya?” Bu Hera balik bertanya sambil mencibir sinis melihat Ayu.
Ela, adik kandung Hendry yang ada di dekat situ diam-diam menguping pembicaraan ibu-ibu itu. Wajahnya tampak kesal dan malu. Namun pembicaraan tentang Ayu masih berlanjut di antara ibu-ibu karena menjadi topik yang seru selama beberapa dekade.
“Emang ibu-ibu nggak tahu, ya? Dia bisa awet muda gitu kan karena pake tumbal. Suaminya yang dijadiin tumbal,” kata Bu Rosa.
Ibu-ibu langsung heboh. Ada menggeleng tidak percaya melihat Ayu, ada yang ketakutan, dan ada yang terus berbisik-bisik melanjutkan cerita. Ketika Pak RT berdehem sambil melirik ke arah ibu-ibu itu, baru mereka berhenti bergosip.
Sementara Ela jadi curiga pada Ayu dan semakin kesal.
Diam-diam ibu-ibu masih kasak-kusuk saat Hendry menyalami penghulu, mengucap Ijab qabul.
/0/3117/coverorgin.jpg?v=1bab22c76b32ae4e44d865c4488693e0&imageMogr2/format/webp)
/0/4256/coverorgin.jpg?v=6922ff35ae44b5a1a5f6b52f14d9708f&imageMogr2/format/webp)
/0/5033/coverorgin.jpg?v=a741d661627049a6d956306e260cf547&imageMogr2/format/webp)
/0/2522/coverorgin.jpg?v=c57f067db9703ace32e4ff367652c29f&imageMogr2/format/webp)
/0/10030/coverorgin.jpg?v=7d626d4bacf243fa4bda6ef6525fd8a2&imageMogr2/format/webp)
/0/21571/coverorgin.jpg?v=cba1e5ef1cfc84bae149fdb0540b3382&imageMogr2/format/webp)
/0/13412/coverorgin.jpg?v=90793e6ae660efccbae06b0a3b59ddb4&imageMogr2/format/webp)
/0/27564/coverorgin.jpg?v=3752b09432dc83c7a1b46451d40c4bbd&imageMogr2/format/webp)
/0/13744/coverorgin.jpg?v=9b98406bedb7a8807ec09c446dfbd917&imageMogr2/format/webp)
/0/13960/coverorgin.jpg?v=993c2468b64bb5debbf8651bdb4dc393&imageMogr2/format/webp)
/0/4847/coverorgin.jpg?v=dd3116c0aa640dfd499afed5dd0fb31a&imageMogr2/format/webp)
/0/5178/coverorgin.jpg?v=6fd273e8e40b17837ea192b6b46808f1&imageMogr2/format/webp)
/0/18528/coverorgin.jpg?v=6dbcaeef844d9f6775eb28702466e39f&imageMogr2/format/webp)
/0/16151/coverorgin.jpg?v=a220e864e5dbf64d96768e682ffbbf09&imageMogr2/format/webp)
/0/26631/coverorgin.jpg?v=c549dea41c684d47cdbdd32e59ffe740&imageMogr2/format/webp)
/0/12434/coverorgin.jpg?v=546c716be25815d3257667681f9301ab&imageMogr2/format/webp)
/0/15565/coverorgin.jpg?v=3cde752980ea4bd5c953ca89bc4cce98&imageMogr2/format/webp)