/0/14679/coverorgin.jpg?v=c768c147056d564c34be55b532e7bb5e&imageMogr2/format/webp)
"Kalian masih belum dapat kabar baik, ya? Padahal sudah lima tahun, lho."
Suara Bu Elsa terdengar ringan-nyaris seperti basa-basi, tapi ucapannya menancap tepat di dada Zahra.
Zahra menelan ludah, mencoba mempertahankan senyumnya.
"Iya, Ma. Kami masih berusaha..." jawabnya pelan.
Belum sempat suasana reda, Ferlin, adik ipar Zahra, menyambar, nada geli terdengar jelas.
"Di keluarga kita sih nggak ada yang susah punya anak. Aku aja, begitu nikah langsung hamil. Mungkin Ferdi juga, kalau nggak dicegah, istrinya udah hamil juga tuh."
Zahra meremas jemarinya di pangkuan. Napasnya mulai terasa berat, tapi ia tetap berusaha tenang. Ruang tamu yang harusnya terasa hangat, kini berubah menjadi medan tekanan. Sunyi tapi menyesakkan.
"Iya, mungkin kamu perlu diperiksa lebih lanjut, Ra," Bu Elsa menambahkan, sambil tertawa kecil. Tatapannya tajam tapi terselubung manis. "Siapa tahu ada yang perlu diperbaiki."
Zahra melirik ke arah Fadlan. Harapannya sederhana: suaminya membela. Tapi Fadlan sibuk mengobrol dengan Pak Arya, pura-pura tidak mendengar. Seolah dirinya tak sedang duduk di tengah serangan pasif-agresif.
Dengan napas tertahan, Zahra tetap tersenyum. Tapi kali ini, senyumnya getir.
"Kami sudah periksa, Ma. Dan hasilnya... yang perlu lebih berusaha sebenarnya Mas Fadlan."
Ruangan langsung senyap beberapa detik. Bu Elsa terkekeh, tapi wajahnya tampak terganggu.
"Ah, masa? Dokter bisa salah, lho. Fadlan itu sehat dari kecil. Nggak pernah sakit parah."
"Iya, Ma, tapi yang diperiksa bukan soal itu," jawab Zahra tenang namun tegas. "Dokter bilang, kualitas benih juga pengaruh besar pada peluang kehamilan."
Ferlin menyela dengan tawa kering, mencoba mencairkan suasana.
"Mungkin Mas Fadlan cuma kurang makan yang sehat dan bergizi aja, kali..."
Dan lalu hening. Hening yang berat dan tajam.
Bu Elsa dan Ferlin saling melirik. Fadlan, yang tadi masih santai menyeruput teh, tiba-tiba terbatuk kecil.
Tatapannya mengarah ke Zahra-tatapan peringatan. Tapi Zahra sudah muak. Sudah terlalu lama ia menanggung semua komentar dan tekanan sendiri.
Zahra tak bergeming. Kali ini, biarlah suaminya ikut merasa sedikit saja apa yang ia rasakan.
Pak Arya akhirnya ikut bicara, suaranya tenang tapi tegas.
"Ma, jodoh, pati, dan anak itu rezeki dari Allah. Kita nggak bisa terlalu jauh ikut campur. Yang penting usaha dan tawakal."
"Iya, Yah. Tapi Mama kan cuma nyaranin Zahra untuk usaha lebih keras lagi," Bu Elsa bersikeras, nada suaranya mulai naik sedikit.
Pak Arya tetap kalem.
"Ayah percaya Zahra dan Fadlan sudah berusaha keras. Kalau Allah belum izinkan, ya kita tinggal bersabar, Ma."
Tiba-tiba, pintu depan terbuka. Bude Anin, kakak Pak Arya, masuk begitu saja.
"Lho, kok tegang gini? Lagi ngomongin apa?" tanyanya sambil duduk santai di samping Bu Elsa, adik iparnya.
"Ini lho, ngomongin Zahra dan Fadlan yang belum juga dikasih momongan," sahut Bu Elsa, dengan tawa yang dipaksakan.
Bude Anin tertawa lebar.
"Kenapa nggak bilang dari awal? Di kampung sebelah ada Gus Bokis. Banyak yang berhasil. Ada yang divonis mandul aja bisa langsung hamil, lho."
Zahra menoleh ke Fadlan, berharap kali ini ia akan menolak dengan tegas. Tapi seperti biasa, Fadlan diam. Pandangannya kosong, seolah semua ini bukan urusannya.
Akhirnya, Zahra bicara. Suaranya tenang tapi tajam.
"Maaf, Bude. Saya dan Mas Fadlan lebih memilih pengobatan medis. Kami sudah tahu apa yang perlu dilakukan."
Bude Anin mencibir pelan.
"Jangan sombong, Neng. Usaha itu bisa lewat mana aja. Rezeki itu perlu dikejar, gak bisa nunggu datang sambil duduk termangu. Kalau diam aja itu sama aja dengan menolak rizki. Nanti kalau udah lewat baru nyesel."
/0/10508/coverorgin.jpg?v=7c9895434e5354b939ff2e09fa8ee2c0&imageMogr2/format/webp)
/0/5256/coverorgin.jpg?v=cd9bcf34ef3337cb75413c3204092042&imageMogr2/format/webp)
/0/28798/coverorgin.jpg?v=67d3ad0ef3557e114b53624e6ea3af9e&imageMogr2/format/webp)
/0/20791/coverorgin.jpg?v=e65667aa7d62f9ca14b86f6ae32ad138&imageMogr2/format/webp)
/0/20321/coverorgin.jpg?v=ed3fb17a24e381e949c987b0b912dfc7&imageMogr2/format/webp)
/0/28850/coverorgin.jpg?v=c044d87a36f3978e83e8fae57c8c527a&imageMogr2/format/webp)
/0/2314/coverorgin.jpg?v=83d6a252aa475c96b561cd00597ad4c5&imageMogr2/format/webp)
/0/2398/coverorgin.jpg?v=0b2b1c54e4252520e4b43f1d7776df14&imageMogr2/format/webp)
/0/3456/coverorgin.jpg?v=de716839bd98a0fdefee9093bf308d00&imageMogr2/format/webp)
/0/4027/coverorgin.jpg?v=54ca138eca4dd4c2dd32806ddd744bd8&imageMogr2/format/webp)
/0/20517/coverorgin.jpg?v=a2c14ecbe5fb5f7f825daf0e34b0b72b&imageMogr2/format/webp)
/0/27358/coverorgin.jpg?v=4e2ef4064683e928e19066049c3ea9d7&imageMogr2/format/webp)
/0/16754/coverorgin.jpg?v=d4db72e404c10eee92f590cbd35a266b&imageMogr2/format/webp)
/0/22567/coverorgin.jpg?v=7c92bcb6385ea72a8db1d758256db4ae&imageMogr2/format/webp)
/0/5359/coverorgin.jpg?v=31dc0782c37317ab6efea0d844053c45&imageMogr2/format/webp)
/0/15445/coverorgin.jpg?v=9237c6edf1bfb2243d6db3d85f70d75f&imageMogr2/format/webp)
/0/19206/coverorgin.jpg?v=73b6aa1e2c1c449e7b4a460ba003c584&imageMogr2/format/webp)