/0/22383/coverorgin.jpg?v=79aeb86db39fa6821d538a98ba331368&imageMogr2/format/webp)
Demi tunanganku, Galih, aku rela mengorbankan karirku sebagai koki dan menelan ludah saat ia membatalkan rencana restoran kami untuk ke-52 kalinya. Aku menoleransi semua itu, bahkan saat ia lebih mementingkan model "rapuh" bernama Davina.
Namun, saat aku demam tinggi dan sangat membutuhkannya, ia justru mengirimiku sup tom yum udang-makanan favorit Davina.
Dia bahkan tidak ingat aku alergi seafood.
Tujuh tahun pengorbanan terasa sia-sia. Aku membuang kalung pemberiannya, mengundurkan diri dari pekerjaan, dan kembali ke kampung halaman untuk memulai hidup baru sebagai pengacara, identitas asliku yang selama ini kusembunyikan.
Galih yang panik akhirnya menyusulku. Ia bahkan berlutut di depan kantor baruku, melamarku di hadapan semua orang.
Aku menatapnya dingin, lalu dengan suara lantang aku berkata, "Aku tidak akan menikahimu karena kamu membatalkan pernikahan kita 52 kali. Aku tidak akan menikahimu karena kamu melupakan alergi seafood-ku. Dan aku tidak akan menikahimu karena kamu tidak pernah setia."
Aku akan menghancurkan harga dirinya, sama seperti ia menghancurkan hatiku. Mulai sekarang, aku adalah ratu atas takdirku sendiri.
Bab 1
Amira Suwito POV:
Ketika Galih Palgunadi membatalkan rencana pembukaan restoran impian kami untuk yang ke-52 kalinya, aku tahu ada yang tidak beres. Angka lima puluh dua. Itu bukan sekadar angka, itu adalah pengingat betapa seringnya aku menelan ludah dan memaafkan. Setiap kali dia mengatakan 'nanti', hatiku terasa diremas.
Saat itu aku sedang demam tinggi. Tubuhku menggigil hebat, tenggorokanku sakit, dan kepalaku berdenyut-denyut seperti ditusuk jarum. Aku hanya ingin bersandar pada bahu Galih, mencari sedikit kekuatan di tengah kekacauan ini. Restoran yang hampir jadi, impian kami berdua, kini terasa seperti beban yang menghimpitku sendirian.
"Aku butuh kamu, Galih," kataku lirih di telepon, suaraku serak dan parau. "Aku tidak enak badan. Kita bisa menunda ini, kan?" Jeda di ujung sana terasa seperti jurang yang menganga, menelan habis sisa harapanku. "Davina butuh aku, Mir," jawabnya, suaranya terdengar jauh dan terburu-buru. "Dia baru saja pingsan di lokasi syuting. Kamu tahu dia rapuh." Aku merasa seperti tidak pernah ada di daftar prioritasnya.
Aku melihat ke sekeliling, pada dinding-dinding bata ekspos yang baru saja kami pasang dengan susah payah. Aku menatap meja-meja kayu jati yang terukir indah, hasil pilihanku sendiri. Ini adalah tempat kami, atau setidaknya, aku berpikir begitu. Tapi kini, bayangan Davina Arsyad, model pendatang baru yang selalu diklaim 'rapuh' oleh Galih, menguasai ruang ini. Keberadaannya terasa lebih nyata daripada keberadaanku sendiri.
Ayah dan Ibu menelepon, nada suara Ibu dipenuhi kekhawatiran yang tidak bisa disembunyikan. "Amira, kamu baik-baik saja, Nak?" Suara Ibu terdengar lembut tapi tegang. "Ayah dengar Galih lagi sibuk sama model itu lagi." Aku hanya bisa mengangguk, padahal mereka tidak bisa melihatku. Air mata mulai menetes, bukan karena sakit fisik yang kurasakan, tapi karena luka yang jauh lebih dalam, mengoyak-ngoyak batinku.
Selama tujuh tahun ini, aku telah mengorbankan segalanya untuk Galih. Karier koki yang cemerlang, mimpi-mimpi pribadiku yang begitu berharga, semua kukesampingkan demi mendukungnya. Aku merancang menu restoran kami, membantunya mencari investor, bahkan membersihkan studio fotografinya saat ia lelah dan tak berdaya. Tapi siapa yang melihat itu? Siapa yang menghargai semua itu? Tidak ada.
/0/30892/coverorgin.jpg?v=da461d8505888db26cd08f12daafd534&imageMogr2/format/webp)
/0/3263/coverorgin.jpg?v=da51877b94893f98820b80291b788f0a&imageMogr2/format/webp)
/0/30775/coverorgin.jpg?v=731db4b34ca54d4a4d26dda2ee411444&imageMogr2/format/webp)
/0/2969/coverorgin.jpg?v=5a035c662c8898ee5d3415573bb1b085&imageMogr2/format/webp)
/0/17923/coverorgin.jpg?v=449eb9187a70a1d7136878540e3dc684&imageMogr2/format/webp)
/0/6080/coverorgin.jpg?v=5befed44dd1a83e3b70a0dbe5ab480bc&imageMogr2/format/webp)
/0/12469/coverorgin.jpg?v=b8d7d38e4d62e91a93565f9810b22e9d&imageMogr2/format/webp)
/0/30249/coverorgin.jpg?v=9a0645046effe8b1d75fe574e30f0892&imageMogr2/format/webp)
/0/30792/coverorgin.jpg?v=35ba9ddb3aaeaf1def33f385f5c63106&imageMogr2/format/webp)
/0/31007/coverorgin.jpg?v=b28078f2d5fb57d51fe97686b8e8a53f&imageMogr2/format/webp)
/0/23837/coverorgin.jpg?v=5e106eb88649e91ce7adc941fd5e29aa&imageMogr2/format/webp)
/0/26443/coverorgin.jpg?v=3c05568e6614933eba8efe02ab9064d3&imageMogr2/format/webp)
/0/29077/coverorgin.jpg?v=7f587cedaf8876f8c365a95b8de9a5c5&imageMogr2/format/webp)
/0/22130/coverorgin.jpg?v=4cb73c6e68dba4e142f4bd06f8831d02&imageMogr2/format/webp)
/0/27207/coverorgin.jpg?v=c29c8bd79771714f581150dac71633a4&imageMogr2/format/webp)
/0/29057/coverorgin.jpg?v=fb2b6fb57b02bcb8c4d7569a9227d493&imageMogr2/format/webp)