Beautiful Pain

Beautiful Pain

Abigail Kusuma

5.0
Komentar
51.7K
Penayangan
71
Bab

Sejak dulu yang Audrey cintai hanyalah Xander-pria yang berhasil memorak-porandakan hatinya. Meski Audrey tahu Xander selalu bersikap dingin dan tak memedulikannya tetap saja Audrey tidak pernah berhenti mencintai Xander. Berkali-kali diabaikan dan ditolak, tetap tidak akan membuat Audrey menyerah memperjuangkan cintanya untuk Xander. Hingga suatu ketika, Audrey mendapati kenyataan di mana Xander hanya mencintai satu wanita dan itu bukanlah dirinya. Hancur. Pedih. Terluka. Tiga kata yang Audrey rasakan kala itu. Cintanya yang dalam telah terselimuti kekecewaan dan luka yang dalam. Lantas bagaimana dengan cinta Audrey? Mampukah Audrey bertahan?

Beautiful Pain Bab 1 Love Hurts

Sebuh pesta ulang tahun meriah dihadiri ribuan tamu undangan tampak begitu memukau. Dekorasi indah pesta ulang tahun itu sangat indah. Lampu kristal dan taburan bunga lily layaknya seperti berada di pesta ulang tahun putri raja. Para wartawan pun turut hadir mengabadikan moment ulang tahun sosok wanita yang sangat cantik yang sejak tadi menyambut para tamu undangan. Tak memungkiri banyak mata yang melihat sosok wanita cantik itu. Gaun berwarna gold dengan model royal gown sukses membuat sosok wanita cantik itu seperti seorang putri raja.

Skyla Audrey Russel-putri sang billionaire asal Italia itu terkenal selalu hidup dalam kemewahan. Tak tanggung-tanggung hanya demi pesta ulang tahun yang ke 23, Audrey mnegeluarkan uang jutaan dollar. Tapi apa pedulinya bagi Audrey? Uang bukanlah masalah. Bahkan hotel di mana Audrey berulang tahun saja adalah hotel mewah milik keluarga sang ibu. Ya, Audrey memang kerap dijuluki wanita yang sempurna. Tidak ada satu pun hal kekurangan yang dimiliki Audrey. Dan tak sedikit banyak yang iri pada kehidupan Audrey.

"Ma, Xander ada di mana? Kenapa sampai sekarang Xander belum juga datang? Dia ingat ulang tahunku atau tidak?" Audrey menjauh dari kerumunan para tamu undangan. Wanita itu menghampiri kedua orang tuanya yang tengah mengobrol dengan kedua orang tua Xander-tunangannya. Sejak tadi Audrey menunggu Xander datang ke pesta ulang tahunnya, tapi hingga detik ini Xander belum juga datang. Sungguh, Audrey ingin sekali tunangannya datang lebih awal tapi sayangnya Audrey harus menelan kekecewaan karena Xander tak kunjung datang.

"Audrey, sabarlah, Sayang. Pasti Xander akan segera datang." Miranda-ibu Audrey memberikan nasihat pada Audrey agar jauh lebih bisa bersabar.

"Tenanglah, Princess. Xander mungkin sedang berada di jalan." Athes-ayah Audrey mengelus pipi Audrey, menenangkan putrinya itu untuk tidak cemas terutama di saat pesta ulang tahun putri kesayangannya itu.

Audrey menghela napas kasar. Tak dipungkiri raut wajah Audrey begitu kecewa. Ini bukan pertama kali Xander datang terlambat di pesta ulang tahunnya. Bisa dikatakan setiap kali Audrey mengadakan pesta ulang tahun; maka Xander akan selalu datang terlambat. Bahkan Xander biasanya datang disaat pesta hampir berakhir. Alasannya? Jelas aja Xander akan mengatakan sibuk dengan pekerjaan. Walau weekend sekalipun, Xander akan tetap bekerja. Lagi dan lagi, Audrey harus bisa jauh bersabar menghadapi Xander. Rasa cinta yang terlalu kuat membuat Audrey seakan tak memedulikan apa pun.

"Marco di mana putra kita? Kenapa lama sekali?" Angela-ibu Xander berbicara pelan pada sang suami. Bukan hanya Audrey saja yang kesal karena Xander belum datang tapi Angela juga kesal. Padahal sebelumnya Angela sudah mengingatkan putranya itu untuk tidak datang terlambat di pesta ulang tahun Audrey.

"Ck! Anak itu memang benar-benar keterlaluan," geram Marco emosi.

"Marco, mungkin saja Xander terjebak macet atau mungkin ada pekerjaan penting yang tidak bisa Xander hindari," sambung Miranda yang berusaha bersikap bijak.

"Aku akan menghubungi putraku." Marco mengeluarkan ponselnya dari balik jas, lalu menghubungi nomor putranya itu. Marco tidak bisa menunggu terlalu lama. Apa yang dilakukan Xander sudah keterlaluan. Marco tidak mungkin hanya diam dalam hal seperti ini.

Saat Marco tengah menghubungi putranya; tatapannya tak sengaja mengikuti tatapan semua orang-yang teralih pada sosok pria bertubuh tinggi tegap memasuki ballroom hotel. Tampak senyuman di wajah Audrey terlukis melihat sosok pria tampan yang terbalut jas berwarna hitam. Aura dingin dan tegas begitu memesona. Sorot mata yang tegas itu selalu membuat Audrey tersihir.

"Xander!" Audrey langsung menghamburkan tubuhnya ke tubuh Xander. Sayangnya pelukan Audrey itu tak terbalas. Xander bergeming kala Audrey memeluknya.

"Kau dari mana saja, Xander? Kenapa kau baru datang sekarang?" seru Marco seraya mematikan ponselnya yang tadi tengah menghubungi putranya itu. Tatapan mata Marco menatap Xander penuh tuntutan.

"Xander, kau dari mana, Sayang? Mommy sudah memintamu untuk tidak datang terlambat. Tapi kenapa kau datang terlambat, Nak?" tegur Angela menatap putranya itu.

"Maaf, ada meeting yang tidak bisa aku hindari." Xander menjawab dengan nada dingin.

Xander Foster-tunangan Audrey itu memang terkenal sangat sibuk. Sebagai salah satu pengusaha muda ternama di Roma, Xander nyaris tak memiliki waktu untuk bersama dengan Audrey. Pria berdarah Amerika dan Italia itu memang selalu mengutamakan pekerjaannya ketimbang Audrey. Terbukti pekerjaan Xander lebih penting ketimbang ulang tahun Audrey.

"Kenapa kau selalu saja beralasan pekerjaan, Xander?" sembur Marco emosi.

"Paman Marco, aku mohon jangan memarahi Xander lagi. Terpenting Xander sudah datang, Paman. Aku mengerti kalau Xander sibuk dengan pekerjaannya, Paman," jawab Audrey pelan dan lembut meminta Marco untuk tidak lagi marah pada Xander.

Well, jika ditanya tentang cinta Audrey pada Xander; maka luasnya samudera pun kalah dengan besarnya cinta Audrey pada Xander. Meski ribuan kali Xander mengecewakan Audrey rasanya Audrey tidak akan mungkin meninggalkan Xander. Kesabaran Audrey melebihi wanita mana pun yang ada di dunia ini. Seperti saat ini meski kesal sekalipun tapi Audrey akan berusaha mengerti Xander.

"Marco, apa yang dikatakan Audrey benar. Tidak usah diperpanjang lagi. Yang penting Xander sudah datang," sambung Miranda berusaha bersikap bijak.

Marco akhirnya diam tak ingin memperpanjang masalah. Marco menyadari dia tak ingin merusak moment ulang tahun Audrey. Ditambah sejak tadi pun sorot kamera teralih ke arah Xander dan Audrey. Itu yang membuat Marco memilih untuk tak lagi mempermasalahkan Xander yang datang terlambat.

"Xander, lain kali kau harus meluangkan waktumu lebih banyak untuk Audrey. Kau boleh sibuk dengan pekerjaanmu tapi kau harus bisa membedakan mana prioritas utama," tegur Athes pada Xander.

Xander terdiam kala mendengar ucapan Athes yang menyebut-nyebut tentang 'Prioritas', ingin rasanya Xander menjawab dengan tegas ucapan Athes. Tetapi Xander menyadari jawabannya akan tetap percuma. Pada akhirnya Xander tahu dirinya akan kembali dipaksa.

"Maaf. Lain kali aku akan berusaha datang tepat waktu." Hanya kalimat itu yang bisa Xander ucapkan. Nada bicaranya tegas, dingin, dan matang.

Audrey tersenyum menatap Xander begitu lembut dan hangat. Sejak tadi wanita itu terus memeluk lengan Xander, seolah tak ingin Xander berjauhan darinya.

"Athes, lebih baik kita umumkan sekarang saja. Xander sudah ada di sini," sambung Angela tak sabar.

Athes menganggukan kepalanya menyetujui ucapan Angela. Lantas Athes menatap para tamu undangan sekaligus para wartawan yang sejak tadi tidak henti menyorotkan kamera ke arahnya.

"Para tamu undangan, terima kasih sudah hadir dalam pesta ulang tahun putriku. Aku ingin memberikan kabar bahagia pada kalian. Tepatnya dua minggu lagi putriku akan menikah dengan Xander Foster." Athes berucap dengan suara tegas dan lantang.

Suara tepuk tangan riuh terdengar kala mendengar ucapan Athes. Tampak semua keluarga turut bahagia. Terutama Audrey yang semakin memeluk lengan Xander. Audrey memancarkan wajah yang begitu bahagia. Namun, sayangnya tidak dengan Xander. Sejak di mana Athes mengumumkan pernikahannya dan Audrey; raut wajah Xander pun berubah. Sorot mata Xander menajam menahan amarah.

"Aku harus pergi." Xander melepaskan tangan Audrey yang tengah memeluk lengannya itu. Pria itu langsung melangkah pergi dari ballroom hotel. Audrey terkejut kala Xander pergi. Pun Athes, Miranda, Marco, dan Angela juga terkejut melihat Xander yang pergi begitu saja tanpa mengatakan sepatah kata pun.

"Xander, tunggu aku." Audrey berlari menyusul Xander. Awalnya Marco ingin juga menyusul tapi Angela menahan. Begitu pun dengan Athes yang ingin menemui Xander tapi Miranda menahan. Baik Angela dan Miranda ingin Xander dan Audrey berbicara berdua demi kelangsungan hubungan mereka.

"Xander!" Audrey berhasil menangkap lengan Xander kala pria itu menuju belakang hotel. Tempat di mana tak ada satu pun wartawan ataupun tamu undangan. Sepertinya Xander memang sengaja ingin jauh dari kerumunan.

Xander mengembiskan napas kasar. Pria itu bergeming memunggungi Audrey. Detik selanjutnya, Xander membalikan badannya menatap Audrey dengan tatapan dingin dan tajam.

"Kenapa ayahmu mengumumkan kalau dua minggu lagi kita menikah, hah? Bukankah aku sudah bilang padamu kalau aku belum mau menikah?" seru Xander meninggikan suaranya.

Audrey terdiam melihat amarah Xander. Audrey tahu sejak dulu Xander belum mau untuk diajak menikah. Padahal dirinya dan Xander sudah bertunangan tujuh tahun lamanya. Tapi sampai sekarang Xander menginginkan pernikahan mereka.

"Xander, aku tidak tahu. Selama ini bukannya Papaku dan Paman Marco akan mengatur tentang hubungan kita?" ucap Audrey pelan. Sungguh, Audrey sama sekali tidak tahu tentang pernikahan yang diadakan dua minggu lagi. Selama ini Audrey menunggu sampai Xander siap untuk menikah. Tapi sepertinya ayahnya dan ayah Xander-lah yang mengatur semua ini. Bisa dikatakan sejak di mana Audrey dan Xander dijodohkan, hubungan mereka memang kerap atas campur tangan kedua orang tua mereka. Tentu Audrey hanya menurut karena memang Audrey mencintai Xander tapi lain halnya dengan Xander yang selalu berontak jika diatur oleh keluarga.

Xander tersenyum sinis mendengar ucapan Audrey. "Sampai kapan kau hanya diam saja ketika diatur-atur, Audrey! Kau bukan lagi remaja! Usaimu sudah 23 tahun, Audrey! Harusnya kau bisa mengambil sikap! Jangan selalu mau diatur oleh keluargamu!" serunya menahan geraman emosi yang terbendung dalam diri.

Mata Audrey berkaca-kaca menatap Xander yang begitu marah. "Aku mau diatur karena aku mencintaimu, Xander. Aku terlalu mencintaimu. Aku ingin selalu ada di dekatmu. Kita juga sudah tujuh tahun bertunangan. Bukankah itu sudah waktu yang lama? Apa lagi yang membuatmu ragu, Xander?" tanyanya lirih.

Ya, Audrey dan Xander dijodohkan sejak mereka kecil. Harusnya tak ada lagi yang membuat Xander menjadi ragu tapi entah kenapa Xander malah terus-terusan menunda pernikahan mereka. Padahal Audrey ingin sekali segera resmi menjadi istri Xander-pria yang menjadi cinta pertamanya dan Audrey berharap Xander-lah cinta terakhirnya.

Xander kembali mengembuskan napas kasar. Emosi dalam dirinya mengumpul menjadi satu. Kemarahan pria itu terlihat begitu jelas. Sorot mata Xander semakin terhunus tajam. Bahkan pria itu tak memedulikan mata Audrey yang berkaca-kaca nyaris mengeluarkan air mata.

"Sejak awal yang menginginkan perjodohan sialan ini adalah dirimu bukan aku. Jika saja kau menghentikan perjodohan ini; maka sudah lama aku terbebas darimu." Xander berkata sarkas dan langsung melangkahkan kaki meninggalkan Audrey-yang mulai menjatuhkan air mata membasahi pipi.

***

-To Be Continued

Lanjutkan Membaca

Buku lain oleh Abigail Kusuma

Selebihnya

Buku serupa

Dari Pengantin Tercampakkan Menjadi Istri Saingannya

Dari Pengantin Tercampakkan Menjadi Istri Saingannya

Alvis Lane
5.0

Claudia dan Antonius telah saling mengenal selama dua belas tahun. Setelah tiga tahun berpacaran, tanggal pernikahan mereka telah ditetapkan. Berita tentang rencana pernikahan mereka mengguncang seluruh kota. Emosi memuncak ketika banyak wanita sangat iri padanya. Awalnya, Claudia tidak terlalu peduli dengan kebencian tersebut. Namun, ketika Antonius meninggalkannya di altar setelah menerima telepon, hatinya merasa hancur. "Dia pantas mendapatkannya!" Semua musuhnya menikmati kemalangan yang menimpanya. Berita itu menyebar dengan cepat. Suatu hari, Claudia memposting pembaruan di media sosialnya. Itu adalah foto dirinya dengan akta pernikahan yang diberi keterangan, "Panggil aku Nyonya Dreskin mulai sekarang." Di saat publik masih berusaha menyerap kejutan tersebut, Bennett-yang sudah bertahun-tahun tidak memposting di media sosial-mengunggah sebuah postingan dengan keterangan yang berbunyi, "Aku sudah menikah." Publik seketika heboh. Banyak orang menyebut Claudia sebagai wanita paling beruntung di abad ini karena berhasil menikahi Bennett. Semua orang tahu bahwa Antonius tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan rivalnya. Claudia menang pada akhirnya. Dia menikmati komentar terkejut dari musuh-musuhnya sambil tetap rendah hati. Orang-orang masih berpikir bahwa pernikahan mereka aneh. Mereka percaya bahwa itu hanyalah pernikahan formalitas. Suatu hari, seorang awak media dengan cukup berani meminta komentar Bennett tentang pernikahannya, yang dijawab pria itu dengan senyum lembut, "Menikahi Claudia adalah hal terbaik yang pernah terjadi padaku."

Membalas Penkhianatan Istriku

Membalas Penkhianatan Istriku

Juliana
5.0

"Ada apa?" tanya Thalib. "Sepertinya suamiku tahu kita selingkuh," jawab Jannah yang saat itu sudah berada di guyuran shower. "Ya bagus dong." "Bagus bagaimana? Dia tahu kita selingkuh!" "Artinya dia sudah tidak mempedulikanmu. Kalau dia tahu kita selingkuh, kenapa dia tidak memperjuangkanmu? Kenapa dia diam saja seolah-olah membiarkan istri yang dicintainya ini dimiliki oleh orang lain?" Jannah memijat kepalanya. Thalib pun mendekati perempuan itu, lalu menaikkan dagunya. Mereka berciuman di bawah guyuran shower. "Mas, kita harus mikirin masalah ini," ucap Jannah. "Tak usah khawatir. Apa yang kau inginkan selama ini akan aku beri. Apapun. Kau tak perlu memikirkan suamimu yang tidak berguna itu," kata Thalib sambil kembali memagut Jannah. Tangan kasarnya kembali meremas payudara Jannah dengan lembut. Jannah pun akhirnya terbuai birahi saat bibir Thalib mulai mengecupi leher. "Ohhh... jangan Mas ustadz...ahh...!" desah Jannah lirih. Terlambat, kaki Jannah telah dinaikkan, lalu batang besar berurat mulai menyeruak masuk lagi ke dalam liang surgawinya. Jannah tersentak lalu memeluk leher ustadz tersebut. Mereka pun berciuman sambil bergoyang di bawah guyuran shower. Sekali lagi desirah nafsu terlarang pun direngkuh dua insan ini lagi. Jannah sudah hilang pikiran, dia tak tahu lagi harus bagaimana dengan keadaan ini. Memang ada benarnya apa yang dikatakan ustadz Thalib. Kalau memang Arief mencintainya setidaknya akan memperjuangkan dirinya, bukan malah membiarkan. Arief sudah tidak mencintainya lagi. Kedua insan lain jenis ini kembali merengkuh letupan-letupan birahi, berpacu untuk bisa merengkuh tetesan-tetesan kenikmatan. Thalib memeluk erat istri orang ini dengan pinggulnya yang terus menusuk dengan kecepatan tinggi. Sungguh tidak ada yang bisa lebih memabukkan selain tubuh Jannah. Tubuh perempuan yang sudah dia idam-idamkan semenjak kuliah dulu.

Bab
Baca Sekarang
Unduh Buku
Beautiful Pain Beautiful Pain Abigail Kusuma Romantis
“Sejak dulu yang Audrey cintai hanyalah Xander-pria yang berhasil memorak-porandakan hatinya. Meski Audrey tahu Xander selalu bersikap dingin dan tak memedulikannya tetap saja Audrey tidak pernah berhenti mencintai Xander. Berkali-kali diabaikan dan ditolak, tetap tidak akan membuat Audrey menyerah memperjuangkan cintanya untuk Xander. Hingga suatu ketika, Audrey mendapati kenyataan di mana Xander hanya mencintai satu wanita dan itu bukanlah dirinya. Hancur. Pedih. Terluka. Tiga kata yang Audrey rasakan kala itu. Cintanya yang dalam telah terselimuti kekecewaan dan luka yang dalam. Lantas bagaimana dengan cinta Audrey? Mampukah Audrey bertahan?”
1

Bab 1 Love Hurts

11/07/2022

2

Bab 2 Drunk

11/07/2022

3

Bab 3 Unwanted Arranged Marriage

11/07/2022

4

Bab 4 Unwanted Arranged Marriage II

11/07/2022

5

Bab 5 Warm Hug

11/07/2022

6

Bab 6 Information

11/07/2022

7

Bab 7 Never Loved You

11/07/2022

8

Bab 8 It's a Wedding Day

11/07/2022

9

Bab 9 Touch Me, please!

11/07/2022

10

Bab 10 Always Missing Her

11/07/2022

11

Bab 11 Always Missing Her II

12/07/2022

12

Bab 12 I Found You

12/07/2022

13

Bab 13 Suspicion

12/07/2022

14

Bab 14 Think Positively

13/07/2022

15

Bab 15 Dylan's Arrival

13/07/2022

16

Bab 16 Sweet Punishment

13/07/2022

17

Bab 17 Can't Lose You

13/07/2022

18

Bab 18 Can't Lose You II

13/07/2022

19

Bab 19 Incident at The Party

13/07/2022

20

Bab 20 Incident at The Party II

13/07/2022

21

Bab 21 Desire

14/07/2022

22

Bab 22 Broken Heart

14/07/2022

23

Bab 23 Audrey's Decision

14/07/2022

24

Bab 24 Audrey's Decision II

14/07/2022

25

Bab 25 Birth Control Pills I

14/07/2022

26

Bab 26 Birth Control Pills II

15/07/2022

27

Bab 27 Xander's Selfishness

16/07/2022

28

Bab 28 Xander's Selfishness II

18/07/2022

29

Bab 29 Jealousy

19/07/2022

30

Bab 30 Last Kiss

20/07/2022

31

Bab 31 The Divorce Trial

21/07/2022

32

Bab 32 The Divorce trial II

23/07/2022

33

Bab 33 Don't be Selfish!

24/07/2022

34

Bab 34 New Beginning

25/07/2022

35

Bab 35 Xander's Help

26/07/2022

36

Bab 36 Love hurts

28/07/2022

37

Bab 37 Chad's Information

31/07/2022

38

Bab 38 Foster Family

03/08/2022

39

Bab 39 Dinner

03/08/2022

40

Bab 40 You're Driving Me Crazy!

03/08/2022