Skandal anak Sekolah

Skandal anak Sekolah

ArenLucu

5.0
Komentar
863
Penayangan
21
Bab

Rani, terjebak dalam kebimbangannya sendiri. Ketika menghadapi lika-liku indahnya masa SMA, dia malah terlelap dengan nafsu pubertasnya. Tanpa sadar melakukan hal di luar batas, bersama Alan, cinta pandang pertamanya. Ketika semua sudah terjadi. Rani mendapatkan satu hal yang menghantam jiwanya? "Lan! Garis dua!" Apa yang harus Rani lakukan pada kehamilannya? Dia masih anak sekolah?

Skandal anak Sekolah Bab 1 PROLOG

Hari ini.

Siswa kelas X di SMK Satu Nusa mulai memasuki awal sekolah baru pada jenjang tingkatan yang lebih tinggi.

Disinilah, katanya 'Masa Putih Abu-Abu itu adalah masa yang paling indah bagi semua alumni pelajar yang ada.' Tidak munafik, semua anak yang belum menjadi murid 'SMK/SMA' penasaran apakah rumor itu benar kenyataannya.

🌹🌹🌹

Bakhtiar Alan Albilal.

Yap! Rani ingat nama itu. Rani? Dia adalah pelaku utama dari cerita sakral yang ada di judul ini.

Entahlah, Rani juga tidak mengerti. Apakah itu yang dinamakan pubertas? Bisa-bisanya, Rani terus teringat akan cowok itu. Cowok teman sekelas PLS ( Pengenalan Lingkungan Sekolah ).

"Eh, Ran! Lo baru dateng?" tanya Kalista -- teman sebangku Rani-- begitu melihat Rani datang.

Rani duduk ke kursinya, lalu meletakkan tas ke meja. "Iya, Ta. Gue baru dateng. Tadi angkotnya agak lelet di jalan gara-gara sepi. Nggak tau deh, hari ini gue kesiangan sampe ketinggalan rombongan biasanya."

Kalista ber 'Oh' ria. "Untung aja lo nggak sampe bates Bel."

Kriiiing !

"Ad... duh.. kaget gue astaga, baru aja disebut," ringis Kalista.

Rani terkikik, "Yang sabar, Ta. Speakernya pas ada di atas kita."

"Pengen gue ledakin jadinya," cicit Kalista kesal.

"Selamat Pagi!"

Mendadak keramaian yang tadi merebak di area 'Kelas D' menjadi tenang. Pangeran Bima Pratama. Itulah nama yang tertera di nametag cowok berbadan tinggi yang tiba-tiba saja memasuki kelas setelah bel berbunyi.

"Kalian pasti sudah kenal saya, kan?" tanya Pangeran.

"SUDAH, KAK!"

"Si-" perkataan Pangeran terpotong.

Tok tok tok !

Seisi kelas langsung menoleh ke pintu. Terdapat satu siswa dan satu siswi yang berdiri dengan tampang lempeng disana.

"Permisi, Kak. Maaf telat," kata cowok itu.

Rani menghela napas. Itu Alan. Bakhtiar Alan Albilal. Cowok yang tiba-tiba membuat Rani terbayang-bayang hanya sejak kali pertama mereka bertemu. Tetapi ... bisa-bisanya Alan terlambat di hari pembinaan seperti ini?

Tak ayal, suasana kelas sepi seketika. Pangeran yang tadinya menoleh ke pintu, kini kembali menoleh ke hadapan isi kelas.

"Tadi sampai mana?" tanya Pangeran. Dia tidak menghiraukan kedatangan siswa dan siswi itu.

Seisi kelas masih ragu untuk menjawab. Karena memang, keadaannya secanggung itu.

"Ditanya ya di jawab dong!" tegas Pangeran.

Spontan ada satu murid yang angkat tangan sambil berdiri.

"Apa?" tanya Pangeran.

"Saya mau jawab pertanyaan, Kakak!" jawabnya.

"Pertanyaan apa?"

"Tadi ... Kakak nanya 'sampai mana', kan?"

Pangeran mengangguk.

"Itu .... Kak! Kita sampai di .. Kakak nanya 'kalian tau nggak saya siapa?'. Begitu," jawab siswa itu.

Pangeran menghela napasnya. "Nama lo siapa?"

"Saya Taufiq, Kak!"

"Oke! Lanjut. Lo duduk lagi aja. Jadi-"

"Permisi, Kak. Saya masih ada disini!" ucap Alan sekali lagi.

Pangeran mendengkus dengan cukup keras. Kali ini dia memutar badan untuk melangkah menghampiri dua murid yang sedang telat itu.

Satu kelas hanya kembali menyimak apa yang akan terjadi. Pangeran terlalu menyeramkan untuk dibicarakan.

"Lo siapa? Seenaknya banget jam segini baru dateng, sekolah nenek lo?" tanya Pangeran sedikit kasar.

"Saya Bakhtiar Alan Albilal, Kak! Nama saya ada di daftar pembinaan siswa baru di 'Kelas D'," jawab Alan se-sopan mungkin.

"Kalau gue coret mau nggak?"

"Jangan, Kak! Maaf, saya salah," ucap Alan.

"Lo sadar, ngaku gih! Lo salah apa?" tanya Pangeran lagi.

Lanjutkan Membaca

Buku serupa

Gairah Liar Ayah Mertua

Gairah Liar Ayah Mertua

Gemoy

Aku melihat di selangkangan ayah mertuaku ada yang mulai bergerak dan mengeras. Ayahku sedang mengenakan sarung saat itu. Maka sangat mudah sekali untuk terlihat jelas. Sepertinya ayahku sedang ngaceng. Entah kenapa tiba-tiba aku jadi deg-degan. Aku juga bingung apa yang harus aku lakukan. Untuk menenangkan perasaanku, maka aku mengambil air yang ada di meja. Kulihat ayah tiba-tiba langsung menaruh piringnya. Dia sadar kalo aku tahu apa yang terjadi di selangkangannya. Secara mengejutkan, sesuatu yang tak pernah aku bayangkan terjadi. Ayah langsung bangkit dan memilih duduk di pinggiran kasur. Tangannya juga tiba-tiba meraih tanganku dan membawa ke selangkangannya. Aku benar-benar tidak percaya ayah senekat dan seberani ini. Dia memberi isyarat padaku untuk menggenggam sesuatu yang ada di selangkangannya. Mungkin karena kaget atau aku juga menyimpan hasrat seksual pada ayah, tidak ada penolakan dariku terhadap kelakuan ayahku itu. Aku hanya diam saja sambil menuruti kemauan ayah. Kini aku bisa merasakan bagaimana sesungguhnya ukuran tongkol ayah. Ternyata ukurannya memang seperti yang aku bayangkan. Jauh berbeda dengan milik suamiku. tongkol ayah benar-benar berukuran besar. Baru kali ini aku memegang tongkol sebesar itu. Mungkin ukurannya seperti orang-orang bule. Mungkin karena tak ada penolakan dariku, ayah semakin memberanikan diri. Ia menyingkap sarungnya dan menyuruhku masuk ke dalam sarung itu. Astaga. Ayah semakin berani saja. Kini aku menyentuh langsung tongkol yang sering ada di fantasiku itu. Ukurannya benar-benar membuatku makin bergairah. Aku hanya melihat ke arah ayah dengan pandangan bertanya-tanya: kenapa ayah melakukan ini padaku?

Bab
Baca Sekarang
Unduh Buku