5.0
Komentar
779
Penayangan
31
Bab

Aluna yang sedari kecil ditinggal pergi oleh orangtuanya kemudian diadopsi oleh keluarga Dewantara. Mereka hanya memiliki satu anak lelaki Bernama Albert. Albert dan Aluna tumbuh Bersama hingga bangku SMA. Albert yang merasa bertanggung jawab sebagai kakak laki-laki berusaha menjaga Aluna baik secara fisik dan juga mental. Tanpa mereka sadari tumbuh perasaan yang tidak seharusnya mereka miliki mengingat Aluna sudah menjadi bagian dari keluarga Dewantara. Tiap hari mereka harus menahan perasaan itu sampai pada akhirnya Albert pergi dan menghilang entah kemana. Hidup Aluna begitu hampa sampai pada akhirnya ia bertemu dengan Mark. Untuk pertama kalinya setelah kehilangan mataharinya Aluna bisa merasakan kelembutan kehadiran Mark. Bersama Mark hari-hari Aluna dipenuhi dengan tawa dan bahagia bahkan mereka akan menikah. Namun di saat pernikahan itu mulai direncanakan Albert datang kembali dan memberi penjelasan kenapa ia pergi. Penjelasan yang dinantikan Aluna. dan juga kebenaran tentang Mark siapakah yang akan dipilih Aluna?

DARK LOVE Bab 1 DARK LOVE 1

Apa kau merindukannya? Ya!! aku sangat merindukannya!! Apa yang kau rindukan darinya? Aku merindukan saat bermain di bawah hujan dengannya. Kau tidak merindukannya!! Apa maksudmu? Tentu saja aku merindukannya! Tidak! Kau tidak merindukannya, kau hanya rindu apa yang pernah kau alami bersamanya, bukan dirinya. Sesuatu yang tidak pernah kau temui dan rasakan pada orang lain, kau rindu kebiasaan bersamanya. Bukan dirinya.....!!

2018

Aluna POV

Ku pejamkan kedua mataku berharap wajah itu enyah dari pikiranku, sayangnya gelap justru membuat raut itu makin nyata dimataku. Kubuka mata dan kurasakan bayangnya ada dimana-mana. Sial!! Apalagi ini? Ku tutup laptop dan mulai melempar pandangan ke luar. Menembus kaca yang menghalangiku dengan deras hujan. Kuhembuskan nafas kearah kaca yang meninggalkan jejak embun disana, sejenak kuarahkan telunjukku dan mulai mengukir sebuah nama. Detik pertama aku tersenyum mendapati sebuah nama tertulis didepanku, detik berikutnya kurasa embun sudah berpindah ke mataku. Kurasakan pipiku basah, apa café ini bocor sehingga rintik hujan jatuh dan membasahiku? Tidakkah pemilik café ini tau bahwa aku sudah susah payah berjam-jam mengaplikasikan bedak dan blush on agar aku tampak cantik hari ini?

Seorang pelayan menawarkan sapu tangan padaku, apa-apaan ini? Apa kali ini hujan yang turun dari mataku? Bagaimana dengan mascara-ku? Apakah luntur? Mau tak mau aku menerima sapu tangan itu, malu-malu aku beranjak dari tempat dudukku menuju toilet, kuharap make up-ku tidak luntur.

Kulihat wajah yang memantul di cermin, sepertinya aku mengenal wajah itu. Ya! Aku sangat mengenal wajah itu. Wajah yang lelah. Lelah menahan kerinduan yang sudah keterlaluan.

Cepat-cepat kubasuh wajah itu dengan air dari wastafel, berharap guratan kerinduan itu ikut terbawa aliran air. Nyatanya guratan itu tak mau hilang. Seakan sudah mengakar disana. Aku menyerah. Lama kupandangi wajah itu, wajahku sendiri. Entah berapa lama sampai kurasakan getaran di saku celanaku.

Klik! "Hallo?"

"Mau sampai kapan kamu mengurung diri di toilet?"

Kujauhkan layar ponselku untuk melihat siapa yang menelponku, Krystal!

"Sebentar lagi aku keluar." Tanpa basa-basi kututup telponku, melihat sejenak wajah yang lelah itu. Ahh mascara-ku masih baik-baik saja. Make up-ku masih baik-baik saja. Hanya hatiku yang tidak baik-baik saja.

Cepat-cepat aku keluar dan bergegas kembali ke tempat dudukku, disana kudapati wanita cantik yang dengan santainya menikmati cappuccino-ku.

"Huh, lancang!"

Yang ku gertak hanya tersenyum manis.

Krystal meletakkan cangkirnya -cangkirku lebih tepatnya- menatapku dalam-dalam sembari tetap tersenyum.

"Apa sekarang toilet akan masuk list tempat favoritmu?"

"Kau ini bicara apa? Tentu saja tidak."

"Lalu kenapa kau lama sekali disana? Aku duduk disini sekitar 15 menit dan mendapati nomor meja tempat kau duduk hanya terdapat laptop dan secangkir cappuccino yang hampir dingin."

Aku tak menjawab, mengambil cangkir cappuccino-ku. Hanya menggenggam, tidak meminumnya. Kulempar pandangan yang mana hujan masih belum lelah berjatuhan. Kurasa Krystal juga melakukan hal yang sama.

Di luar ada banyak anak kecil berlarian, mereka tertawa seakan tanpa beban. Menikmati setiap tetes hujan yang berjatuhan. Aku pernah seperti mereka, bermain di bawah hujan, tidak sendirian tentu saja. Ada dia.

Kau tau apa yang paling menyenangkan dari hujan?

Tidak, apa?

Kamu!! Karena ada kamu setiap kali hujan turun.

"Hujan itu lucu yaa, terkadang dia datang sambil membawa kenangan yang tidak sepatutnya ia bangkitkan."

Aku menatap Krystal, apa maksudnya?

Krystal sadar bahwa aku menatapnya, sepasang bola mata besar miliknya berbalik menatapku, seakan mencoba memberi jawaban lewat tatapan lembutnya itu.

Kusadari bahwa Krystal adalah teman dekatku yang paling cantik, siapa yang bisa menyangkal kecantikannya? Mata bulat, hidung bangir dan bibir yang menawan, belum jika kau melihat senyumnya. Kupastikan kau akan jatuh cinta padanya. Jika tak ingat kalau kami ini sama-sama wanita, sudah kupacari dia.

"Hujan turun setiap ....."

"Sudahlah Krys!!" sergahku. -Aku paham sekarang. Sangat paham- "Kau tak perlu mengingatkannya."

"Tidak, aku tidak mengingatkannya, karena kuyakin kau tak akan pernah melupakannya."

Tatapan Krystal semakin lekat.

Aku tak menimpali perkataannya, hanya menghirup habis cappuccino-ku, benar kata Krystal, cappuccino-nya hampir dingin. Kuletakkan cangkir kopiku yang sudah tandas, bebarengan dengan pesanan Krystal yang baru datang. 3 Muffin stroberi dan secangkir kopi hitam yang kental.

Aku menatap pesanan Krystal lekat, kupandangi sekian lama sampai aku sadar bahwa aku mendengus keras.

"Kau mau kopiku?" tawar Krystal.

"Tidak terimakasih." Ujarku sopan.

"Atau mau kupesankan? Sebagai ganti cappuccino-mu yang kuminum tadi." Krystal tulus menawariku, Dia memang selalu begitu.

Aku menggelengkan kepala.

"Baiklah." -Krystal menggigit muffin-nya- "Ini enak... hmmm, nyam... hmmm."

Aku tak memberi respon apapun, mataku terbagi antara menatap hujan dan melirik kopi hitam miliknya.

"Kalau kau memang mau, aku bisa pesankan, atau kau boleh mencicipi kopiku." -Aku hanya diam- "Lagipula, bukankah kau dulu sangat menyukai kopi hitam yang kental seperti ini?" -Lagi-lagi aku diam- "Kenapa?" lanjutnya, masih menunggu jawaban dari pertanyaannya.

"Tidak apa-apa."

"Apa kau takut darah tinggimu kumat?"

"Bukan!"

"Serangan jantung?"

"Tidak."

"Lantas?"

Aku tau Krystal menunggu jawabanku, tapi mungkin aku tidak akan menjawabnya.

Memang benar, dulu aku adalah penikmat kopi hitam, tapi sekarang jangankan minum, melihatnya saja aku tak mau. Bukan karena takut serangan jantung atau darah tinggi, tapi hitamnya mengingatkanku akan warna matanya yang tak pernah bisa lagi kutemui.

Kupilih untuk memalingkan wajah demi menghindari tatapan Krystal.

"Kau tau Luna, terkadang ketika kau melihat sesuatu yang membuatmu teringat akan dia, itu bukan salah sesuatu yang kau temui, bukan pula salahmu karena mengingatnya lagi. Itu adalah kenangan yang tidak bisa kau hapus meski bertahun-tahun telah kau upayakan untuk kau tinggalkan. Tidak ada yang pernah tuntas dari memori, jangan dipaksakan. Lepaskan! Biarkan memori itu lewat, pilihanmu adalah menuruti memori itu, atau membiarkannya berlalu."

Aku menghela nafas panjang, meresapi kalimat Krystal yang panjang lebar dan memang benar, semua adalah soal pilihan, mengalahkan atau dikalahkan oleh memoriku sendiri.

Di luar masih hujan, bahkan kian deras, beberapa orang berjalan tergesa menuju tempat yang bisa dijadikan teduhan dari hantaman hujan yang jatuh tanpa ampun.

Dan kali ini bukan sekedar embun yang berpindah ke mata, tanpa kusadari butiran kristal berlelehan dari bola mataku yang sedari tadi sudah panas. Derasnya sama dengan hujan di luar sana.

"Air matamu akan runtuh sebanyak tetes-tetes cintamu ... Aluna,"

Lanjutkan Membaca

Buku serupa

Gairah Liar Ayah Mertua

Gairah Liar Ayah Mertua

Gemoy

Aku melihat di selangkangan ayah mertuaku ada yang mulai bergerak dan mengeras. Ayahku sedang mengenakan sarung saat itu. Maka sangat mudah sekali untuk terlihat jelas. Sepertinya ayahku sedang ngaceng. Entah kenapa tiba-tiba aku jadi deg-degan. Aku juga bingung apa yang harus aku lakukan. Untuk menenangkan perasaanku, maka aku mengambil air yang ada di meja. Kulihat ayah tiba-tiba langsung menaruh piringnya. Dia sadar kalo aku tahu apa yang terjadi di selangkangannya. Secara mengejutkan, sesuatu yang tak pernah aku bayangkan terjadi. Ayah langsung bangkit dan memilih duduk di pinggiran kasur. Tangannya juga tiba-tiba meraih tanganku dan membawa ke selangkangannya. Aku benar-benar tidak percaya ayah senekat dan seberani ini. Dia memberi isyarat padaku untuk menggenggam sesuatu yang ada di selangkangannya. Mungkin karena kaget atau aku juga menyimpan hasrat seksual pada ayah, tidak ada penolakan dariku terhadap kelakuan ayahku itu. Aku hanya diam saja sambil menuruti kemauan ayah. Kini aku bisa merasakan bagaimana sesungguhnya ukuran tongkol ayah. Ternyata ukurannya memang seperti yang aku bayangkan. Jauh berbeda dengan milik suamiku. tongkol ayah benar-benar berukuran besar. Baru kali ini aku memegang tongkol sebesar itu. Mungkin ukurannya seperti orang-orang bule. Mungkin karena tak ada penolakan dariku, ayah semakin memberanikan diri. Ia menyingkap sarungnya dan menyuruhku masuk ke dalam sarung itu. Astaga. Ayah semakin berani saja. Kini aku menyentuh langsung tongkol yang sering ada di fantasiku itu. Ukurannya benar-benar membuatku makin bergairah. Aku hanya melihat ke arah ayah dengan pandangan bertanya-tanya: kenapa ayah melakukan ini padaku?

Bab
Baca Sekarang
Unduh Buku
DARK LOVE DARK LOVE fadeliu Romantis
“Aluna yang sedari kecil ditinggal pergi oleh orangtuanya kemudian diadopsi oleh keluarga Dewantara. Mereka hanya memiliki satu anak lelaki Bernama Albert. Albert dan Aluna tumbuh Bersama hingga bangku SMA. Albert yang merasa bertanggung jawab sebagai kakak laki-laki berusaha menjaga Aluna baik secara fisik dan juga mental. Tanpa mereka sadari tumbuh perasaan yang tidak seharusnya mereka miliki mengingat Aluna sudah menjadi bagian dari keluarga Dewantara. Tiap hari mereka harus menahan perasaan itu sampai pada akhirnya Albert pergi dan menghilang entah kemana. Hidup Aluna begitu hampa sampai pada akhirnya ia bertemu dengan Mark. Untuk pertama kalinya setelah kehilangan mataharinya Aluna bisa merasakan kelembutan kehadiran Mark. Bersama Mark hari-hari Aluna dipenuhi dengan tawa dan bahagia bahkan mereka akan menikah. Namun di saat pernikahan itu mulai direncanakan Albert datang kembali dan memberi penjelasan kenapa ia pergi. Penjelasan yang dinantikan Aluna. dan juga kebenaran tentang Mark siapakah yang akan dipilih Aluna?”
1

Bab 1 DARK LOVE 1

03/06/2025

2

Bab 2 DARK LOVE 2

03/06/2025

3

Bab 3 DARK LOVE 3

03/06/2025

4

Bab 4 DARK LOVE 4

03/06/2025

5

Bab 5 DARK LOVE 5

03/06/2025

6

Bab 6 DARK LOVE 6

03/06/2025

7

Bab 7 DARK LOVE 7

03/06/2025

8

Bab 8 DARK LOVE 8

03/06/2025

9

Bab 9 DARK LOVE 9

03/06/2025

10

Bab 10 DARK LOVE 10

03/06/2025

11

Bab 11 DARK LOVE 11

03/06/2025

12

Bab 12 DARK LOVE 12

03/06/2025

13

Bab 13 DARK LOVE 13

03/06/2025

14

Bab 14 DARK LOVE 14

03/06/2025

15

Bab 15 DARK LOVE 15

03/06/2025

16

Bab 16 DARK LOVE 16

28/06/2025

17

Bab 17 DARK LOVE 17

29/06/2025

18

Bab 18 DARK LOVE 18

01/07/2025

19

Bab 19 DARK LOVE 19

02/07/2025

20

Bab 20 DARK LOVE 20

03/07/2025

21

Bab 21 DARK LOVE 21

04/07/2025

22

Bab 22 DARK LOVE 22

05/07/2025

23

Bab 23 DARK LOVE 23

06/07/2025

24

Bab 24 DARK LOVE 24

07/07/2025

25

Bab 25 DARK LOVE 25

08/07/2025

26

Bab 26 DARK LOVE 26

10/07/2025

27

Bab 27 DARK LOVE 27

11/07/2025

28

Bab 28 DARK LOVE 28

12/07/2025

29

Bab 29 DARK LOVE 29

13/07/2025

30

Bab 30 DARK LOVE 30

14/07/2025

31

Bab 31 DARK LOVE 31

18/07/2025