Login to Bakisah
icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon
Ditakdirkan untuk Pria Terkaya di Dunia

Ditakdirkan untuk Pria Terkaya di Dunia

Denna Luna

5.0
Komentar
116K
Penayangan
350
Bab

Pada hari Livia mengetahui bahwa dia hamil, dia memergoki tunangannya berselingkuh. Tunangannya yang tanpa belas kasihan dan simpanannya itu hampir membunuhnya. Livia melarikan diri demi nyawanya. Ketika dia kembali ke kampung halamannya lima tahun kemudian, dia kebetulan menyelamatkan nyawa seorang anak laki-laki. Ayah anak laki-laki itu ternyata adalah orang terkaya di dunia. Semuanya berubah untuk Livia sejak saat itu. Pria itu tidak membiarkannya mengalami ketidaknyamanan. Ketika mantan tunangannya menindasnya, pria tersebut menghancurkan keluarga bajingan itu dan juga menyewa seluruh pulau hanya untuk memberi Livia istirahat dari semua drama. Sang pria juga memberi pelajaran pada ayah Livia yang penuh kebencian. Pria itu menghancurkan semua musuhnya bahkan sebelum dia bertanya. Ketika saudari Livia yang keji melemparkan dirinya ke arahnya, pria itu menunjukkan buku nikah dan berkata, "Aku sudah menikah dengan bahagia dan istriku jauh lebih cantik daripada kamu!" Livia kaget. "Kapan kita pernah menikah? Setahuku, aku masih lajang." Dengan senyum jahat, dia berkata, "Sayang, kita sudah menikah selama lima tahun. Bukankah sudah waktunya kita punya anak lagi bersama?" Livia menganga. Apa sih yang pria ini bicarakan?

Bab 1 Kehamilan dan Pengkhianatan Pacar

"Kamu hamil."

Kata-kata tak terduga yang keluar dari mulut sang dokter membuat Livia Parsaulian tertegun. Dia mengira mual di pagi hari yang dia rasakan ini adalah akibat dari salah makan.

Melihat ekspresi kaget di wajah Livia, dokter melanjutkan, "Sangat penting untuk memutuskan apakah kamu ingin melanjutkan kehamilan ini. Jika tidak, ada pilihan lain seperti aborsi."

Sambil menenangkan diri, Livia menjawab, "Aku ingin vitamin untuk ibu hamil."

Dengan pil yang diresepkan di tangan, dia meninggalkan rumah sakit, sementara pikirannya melayang kembali ke malam yang berapi-api sebulan yang lalu. Kenangan akan pelukan kuat pacarnya, tubuh yang hangat, dan dorongan yang kuat berputar-putar di benaknya, membuat pipinya memerah.

Bayi kejutan ini mungkin tidak direncanakan, tetapi ini adalah bukti cintanya pada pacarnya, Ilham Lazuardi. Livia sudah bertekad bulat untuk mempertahankan bayinya.

Saat pulang ke rumah dan membuka pintu kamar tidurnya, Livia disambut dengan suara erangan.

"Oh ... Kakak Ipar. Kamu hebat sekali."

Kengerian seketika mencengkeram dirinya. Dia menyerbu masuk ke dalam kamar, dan suaranya bergetar tak percaya. "Kalian ... apa yang sedang kalian lakukan?"

Ilham yang tertangkap basah segera menarik selimut unuk menutupi dirinya dan wanita misterius itu.

Hati Livia hancur saat dia mengenali wanita itu.

Wanita itu adalah adik perempuannya sendiri, Adelina Parsaulian.

Adelina pernah hilang saat masih kecil dan kemudian ditemukan. Sejak saat itu, keluarganya hampir selalu memanjakannya secara berlebihan setelah dia kembali. Semua yang dimiliki Livia adalah barang bekas dari Adelina. Namun, melihat adiknya merebut pacarnya? Itu bagaikan sebuah tikaman yang tidak pernah Livia duga sebelumnya.

"Tunggu, Kakak, biar kujelaskan," ucap Adelina dengan suara bergetar. "Jangan salah paham. Hanya saja ... aku terlalu menyukai Kak Ilham. Aku tidak bisa menahan diri. Jika kamu ingin marah pada seseorang, marahlah padaku!"

"Plak!"

Tanpa pikir panjang, tangan Livia menampar pipi Adelina.

Adelina terlihat sangat terkejut. Sambil memegang pipinya yang memerah, dia merintih, "Kakak, lampiaskan saja padaku sesukamu. Tapi tolong, jangan lakukan itu pada Kak Ilham."

Melihat Adelina yang lemah, keinginan Ilham untuk melindunginya langsung muncul. Dia memeluknya dengan lembut.

"Livia, dia itu adikmu. Bisa-bisanya kamu menamparnya seperti ini? Apa yang terjadi di antara kami, itu hanya kejadian satu kali."

Perut Livia bergejolak, dan dia memuntahkan isi perutnya ke sepatu Ilham.

Ekspresi Ilham menjadi muram dalam sekejap.

Setelah mendapatkan kembali ketenangannya, Livia berseru, "Jangan pura-pura tidak bersalah, Ilham! Apakah dengan menyebutnya 'kejadian satu kali', kesalahanmu jadi berkurang? Aku mencurahkan tahun-tahun terbaik di masa mudaku untukmu, dan kamu mengesampingkan cinta itu!"

Ilham tidak bisa berkata-kata.

Namun Adelina langsung menimpali, "Kakak, tenanglah. Kamu selalu menahan diri, sementara pria punya kebutuhan yang harus dipenuhi. Aku hanya mencoba membantu kalian, oke? Aku berjanji tidak akan menghalangi kalian berdua. Aku akan pergi."

Adelina bergerak untuk pergi, tetapi dia melihat secarik kertas yang terjatuh dari saku Livia. Dia memungutnya, dan setelah membacanya, dia menyerahkannya pada Ilham dengan ekspresi terkejut.

Livia memusatkan pandangannya pada Ilham, memperhatikan reaksinya.

Tak disangka, Ilham justru dikuasai oleh amarah.

"Livia! Bagaimana bisa kamu menuduhku? Bayi siapa yang kamu kandung? Bayi orang asing?"

Livia merasa dunianya runtuh.

"Ilham, aku tidak akan pernah melakukan itu! Ingatkah kamu pada malam tanggal 9 di Hotel Kristal bulan lalu? Atau kamu sudah lupa?"

"Itu konyol! Saat itu aku sedang berada di luar negeri untuk bekerja!" Ilham meraung.

Dia marah karena membayangkan orang lain yang menikmati malam pertama Livia.

Rasa bingung berputar-putar di kepala Livia. Apakah Ilham menipunya? Kemudian dia tersadar, Adelina telah menyuruhnya pergi ke hotel malam itu.

"Ternyata kamu!"

Melihat sorot mata Adelina yang penuh kepuasan, Livia langsung tersadar. Dia telah dipermainkan. Dengan penuh amarah, dia menerjang Adelina, siap untuk menghajarnya. Namun Ilham lebih cepat darinya. Dia bergerak di antara mereka, lalu mendorong Livia ke samping.

Livia menabrak lemari di dekatnya, dan rasa sakit yang menusuk merayapi perutnya. Rsaa sakit itu disusul dengan perasaan yang intens dan memilukan.

Dengan usia kehamilannya yang masih sangat dini, ini adalah waktu yang sangat rentan.

Noda merah perlahan-lahan muncul.

Livia mulai ketakutan dan berteriak, "Tolong, antar aku ke rumah sakit!"

Namun alih-alih mengulurkan bantuan, Ilham hanya menatapnya dengan dingin. Dengan gigi terkatup, dia berkata, "Mungkin ini yang terbaik, Livia. Jika kamu menggugurkan kandunganmu, aku mungkin akan berpikir untuk tetap menikahimu."

Kekejamannya membuat Livia terkejut.

Saat keputusasaan melanda dirinya, Livia dapat merasakan hubungannya dengan bayi dalam perutnya semakin menjauh. Dengan panik, dia berlari keluar rumah. Tiba-tiba saja, lampu mobil menyorot ke arahnya. Rasa sakit yang luar biasa menghantam Livia, dan kemudian semuanya menjadi gelap.

Lanjutkan Membaca

Buku serupa

Bab
Baca Sekarang
Unduh Buku