icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon
Bukan Mantan Istri Biasa

Bukan Mantan Istri Biasa

EVA MUNOZ

5.0
Komentar
1.6M
Penayangan
385
Bab

"Cinta itu buta!" Laura menyerahkan kehidupannya yang nyaman untuk seorang pria. Setelah menikah dengan pria itu, dia menjadi ibu rumah tangga dan mengurus semua pekerjaan rumah tangga selama tiga tahun tanpa mengeluh. Suatu hari, dia akhirnya tersadar, menyadari bahwa semua usahanya selama ini sia-sia. Suaminya, Nikolas Riyadi, selalu memperlakukannya seperti sampah karena dia mencintai wanita lain. "Cukup! Aku sudah muak membuang-buang waktu dengan pria yang berhati batu!" Dengan patah hati, dia akhirnya mengumpulkan keberaniannya dan mengajukan gugatan cerai. Berita itu segera menjadi viral di internet! Seorang wanita muda yang kaya raya baru saja bercerai? Wanita idaman! Dalam waktu singkat, banyak sekali CEO dan pria-pria muda tampan yang datang untuk mencoba memenangkan hati Laura! Nikolas tidak tahan lagi. Pada sebuah konferensi pers, dia memohon dengan mata berkaca-kaca, "Aku mencintaimu, Laura. Aku tidak bisa hidup tanpamu. Tolong kembalilah padaku." Akankah Laura akan memberinya kesempatan kedua? Baca terus untuk mengetahuinya!

Bab 1 Aku Ingin Bercerai

Saat ini larut malam. Namun, Laura Revanda merasa sangat gelisah di atas ranjang. Dia merasakan tubuh seorang pria yang menindihnya sehingga dia kesulitan bernapas. Dia bisa mendengarnya terengah-engah dan merasakan napasnya yang panas di pipinya.

Kemudian, tiba-tiba ada rasa sakit yang tajam di antara kedua kakinya. Ketika dia akhirnya menyadari apa yang sedang terjadi, matanya terbuka dengan ngeri. Dalam kegelapan, dia menyipitkan mata pada pria di atasnya itu.

"Nikolas ... apa itu kamu?"

Bau alkohol yang menyengat menyerang hidung Laura. Pria itu hanya mendengus sebagai tanggapan dan berhenti bersuara, lalu terus menggerakkan tubuhnya maju mundur.

Laura menghela napas lega setelah mengenali suara Nikolas. Pada titik ini, dia tidak bisa berbuat apa-apa selain menerima serangan ini, meskipun dia akan mengerang kesakitan di sana-sini.

Tubuh Nikolas bergerak lebih kencang dan Laura harus menggertakkan giginya untuk melewati campuran rasa sakit serta nikmat yang asing ini. Tetap saja, dia tidak bisa menahan rasa gembiranya atas kejadian yang tak terduga ini.

Mereka sudah menikah selama tiga tahun, tetapi suaminya, Nikolas Riyadi, belum pernah dan tak mau menyentuhnya.

Kakek Nikolas, Legar, telah memaksanya menikah, jadi Nikolas selalu membenci Laura dan memperlakukannya dengan dingin.

Saat ini, Laura tidak peduli apa yang membuat suaminya itu berubah pikiran. Dia menyerahkan dirinya pada Nikolas dengan amat bahagia.

Setelah dua jam, Nikolas mengeluarkan satu erangan terakhir dan terjatuh di atas tubuhnya karena kelelahan. Seberkas cahaya bulan menembus jendela, menerangi tubuhnya yang tampak seperti mahakarya sempurna.

Laura mendengarkan saat detak jantung Nikolas perlahan melambat. Semua ini rasanya tidak nyata sampai dia menduga bahwa dirinya hanya bermimpi. Jika ini benar-benar mimpi, dia tidak pernah ingin terbangun.

Dia melingkarkan lengannya di leher Nikolas. "Nikolas," panggilnya dengan penuh kasih sayang. "Nikolas, aku benar-benar ...."

Dia hendak memberitahunya bahwa dia mencintainya, tetapi dia mendengarnya bergumam dalam keadaan mabuk bahkan sebelum dia bisa mengatakannya.

"Elisa ...."

Laura membeku, merasa seperti ada seember air dingin yang baru saja ditumpahkan ke kepalanya. Hatinya sakit saat menyadari bahwa Nikolas salah mengira dia sebagai wanita lain.

Wanita yang ada di hati Nikolas adalah Elisabeth Taslim. Dia adalah cinta pertamanya. Akan tetapi, dia terpaksa tinggal di luar negeri selama ini karena Legar tidak menyetujui hubungan mereka.

Namun, Elisabeth baru saja kembali. Dia langsung mengirim pesan ke Laura, dengan maksud untuk memprovokasinya.

"Aku sudah kembali. Tak lama lagi, tidak akan ada lagi tempat untukmu di Keluarga Riyadi. Kamu mungkin menikah dengan Niko, tapi kami tumbuh bersama. Apa kamu pikir kamu bisa menggantikanku? Kamu harus tahu diri, sana pergi ke panti asuhan asalmu. Itu tempat yang cocok untukmu. Aku yakin kamu tahu betapa dia mencintaiku. Bahkan jika dia berbaring telanjang di tempat tidurmu, aku yakin pasti namaku yang dia sebut. Apa kamu mengerti, Laura? Bagi Niko, kamu hanyalah penggantiku."

Penggantinya?

Laura adalah wanita yang dipilih Legar untuk menjadi istri Nikolas! Dia bukan pengganti siapa-siapa.

Lamunannya buyar saat dia mendengar suara Nikolas. Suaminya itu masih menggumamkan nama wanita lain.

Ejekan Elisabeth terdengar berulang kali di benak Laura. Dilihat dari situasi saat ini, dia tidak bisa terus menipu dirinya sendiri. Dia harus menghadapi kenyataan bahwa Nikolas tidak mencintainya dan tidak akan pernah mencintainya.

Matanya berkaca-kaca, sementara tangannya mengepal. Laura gemetar karena rasa sedih dan amarah yang menjalar di sekujur tubuhnya.

Dia menurut dan tunduk pada Nikolas selama ini. Dia bahkan berhenti bekerja agar bisa mengabdikan dirinya untuk menjadi istri yang baik dan merawat suaminya.

Laura mengalami pelecehan dan penghinaan di tangan keluarga suaminya yang angkuh dan merendahkan. Ibu mertua dan adik iparnya tidak berusaha menyembunyikan rasa jijik mereka terhadap latar belakangnya yang miskin. Mereka bahkan berusaha keras untuk mempersulit hidupnya.

Laura tidak ingin merepotkan Nikolas dengan masalah ini. Mungkin dia tidak akan menganggap serius mereka, jadi Laura hanya menelan kesedihannya dan terus bertahan.

Dia rela merendahkan harga dirinya demi memenangkan hati Nikolas, tetapi sepertinya usahanya tidak cukup. Kenapa pria itu harus menginjak-injak hatinya dan melucuti martabat serta harga dirinya yang tersisa?

Sisa malam ini terasa seperti berabad-abad lamanya. Kedua mata Laura tetap terbuka lebar dan rasa kantuk tak juga mendatanginya.

Keesokan paginya, Nikolas terbangun oleh cahaya menyilaukan yang masuk melalui jendela.

Dia menggosok pelipisnya dan membuka matanya untuk melihat Laura yang sedang duduk di depan meja rias dengan punggung menghadapnya.

Kenangan malam sebelumnya tiba-tiba muncul di benaknya dan tubuhnya menjadi dingin saat menyadari apa yang telah dia lakukan. Dia menatap Laura, sementara bibirnya melengkung menjadi seringai.

Meskipun Laura tidak menghadapnya, dia bisa merasakan amarah yang memancar dari tubuh Nikolas.

Dia tetap tenang dan terus memoleskan krim pelembab di wajahnya. Detik berikutnya, pergelangan tangannya dicengkeram erat-erat dan dia ditarik berdiri dengan paksa.

Wadah berisi krim itu terlepas dari tangannya dan pecah di lantai, menumpahkan isinya.

Laura mengangkat kepalanya dan memelototi Nikolas. Tak peduli betapa marahnya dia, tetap saja dia tidak bisa menahan kepedihan di hatinya ketika dia melihat mata Nikolas.

"Apa kamu pikir kamu bisa memaksaku untuk mengakuimu dengan membiusku agar aku tidur bersamamu?" Jari-jarinya di pergelangan tangannya semakin erat saat dia mengucapkan kata-kata itu. Dia tampak sangat menakutkan.

Akan tetapi, tunggu ... membiusnya?

Laura hanya tersenyum pahit. "Apa kamu menganggapku sebagai tipe wanita yang akan menggunakan metode licik seperti itu?"

Nikolas mendengus dengan jijik. "Kamu sudah memanipulasi kakekku untuk memercayaimu agar kamu bisa menikah denganku. Jadi, berhenti bertingkah seolah kamu gadis lugu. Aku tidak akan percaya. Seorang oportunis tak tahu malu sepertimu tidak akan pernah bisa dibandingkan dengan Elisa!"

Seorang oportunis? Menipu kakeknya?

Jadi, selama ini itulah yang dipikirkan Nikolas tentangnya.

Jika dia ingin membiusnya, dia pasti sudah melakukannya sejak lama. Untuk apa dia menunggu sampai sekarang dan menderita penindasan dari ibu mertua dan adik iparnya selama tiga tahun? Nikolas sama sekali tidak mengenalnya.

Laura sekarang menyadari betapa konyol dirinya di masa lalu. Dia telah melakukan semua hal demi menyenangkan dan mendapatkan perhatian pria itu, bahkan untuk sesaat saja.

Jika Nikolas menganggapnya seperti ini, dia tidak perlu tinggal di sini bersamanya lebih lama lagi.

Laura menggertakkan giginya dan melepaskan cengkeraman Nikolas. Lalu, dia mengangkat dagunya dan berbicara dengan suara penuh tekad.

"Nikolas, aku ingin bercerai."

Lanjutkan Membaca

Buku serupa

Bab
Baca Sekarang
Unduh Buku