sex, love and friends

sex, love and friends

ayican22

5.0
Komentar
11.9K
Penayangan
34
Bab

Alma adalah gadis ayu yang hanya tinggal berdua dengan ayahnya, sejak kematian ibunya hidup dia tak berwarna sama sekali, ayahnya yang sibuk bekerja membuat alma tidak tahu apa yang harus dia lakukan dan kerjakan. namun tiba-tiba panji datang membawa banyak warna di hidup alma. panji yang memang ingin menghibur alma tak tahu jika hubungannya makin hari makin berkembang kearah hubungan sepasang kekasih namun sayang panji sudah mempunyai pacar yang telah di pacari selama 1 tahun lamanya. alma dan panji adalah teman masa SD namun baru kembali menjadi teman setelah kepergian ibu alma. panji yang melihat alma tanpa warna membuatnya iba hingga mencoba masuk dan menghiburnya namun perasaan panji dan alma semakin hari semakin menjadi mereka selalu menghabiskan waktu bersama atas nama TEMAN. yang mungkin orang lain tidak menyadari hubungan yang sudah terlewat batas yang telah mereka jalin. namun alma sangat dilema, dia lebih dulu mencintai gaga ketimbang lainnya. banyak hal yang sudah alma lewati dengan gaga. jika alam boleh memilih dia ingin bersama gaga. namun kesalahan yang alma perbuat dapatkah di maafkan oleh gaga. persahabatan yang sangat lucu. saat cinta dan sex berkaitan. apakah alma akan melanjutkan hubungan tersembunyi dengan panji? atau memilih gaga dan melupakan panji? keduanya mempunyai andil besar dalam hidup alma. mari tunggu keputusan yang akan alma ambil semoga itu hal yang tepat.

Bab 1 Jika Aku Menahan Diri

Perkenalkan, aku Salma Putri Edelweiss, putri pertama dan satu satunya dari ayah dan ibuku, ayahku pekerja keras, saking kerasnya dia tidak pernah berada dirumah, bahkan sampai dimana hari kematian ibuku. dia tidak sama sekali datang. kecewa dan marah, namun beginilah hubungan aku dan kedua orang tuaku, tidak pernah bisa disebut sebagai keluarga yang utuh. aku berusaha menjadi yang paling hebat diantara yang lain, mencoba mendapatkan apapun dengan segala usaha yang aku lakukan. aku mandiri dari kecil, meski masih sedikit bergantung pada ibuku.

sejak kecil aku memang tinggal berdua dengan ibuku, ayahku hanya sesekali saja pulang. itupun kurasa seperti orang asing bagi kami. meski aku tahu prihal ayahku yang selalu berselingkuh, aku tetap ingin mengetahui bagaimana selingkuhannya. sampai sebesar ini, sampai sekuat ini aku tidak pernah tau keberadaan ayahku. kecuali dia yang dengan sukarela datang padaku sendiri.

malam ini memang sangat sunyi, aku yang hanya sendiri di rumah merasa sedikit terganggu dengan keheningan malam itu. fikiranku kacau yang hanya bisa ku lakukan adalah menelfon panji untuk menemaniku bermalam dirumah ku.

jarak rumah aku dan panji tidak terlalu jauh, rumahnya tepat di belakang rumahku.

orangtuanya juga mengenal aku dengan baik, orang tuaku juga mengenalnya dengan baik.

waktu menunjukan pukul 01. 30 wib aku buru buru mengiriminya pesan.

ji kerumah gue sebentar, penting lo bilang nyokap lo kerumah siapa kek ga usah bilang kerumah gue. bokap gue ga ada dirumah juga soalnya.

Meski ayahku, memang tidak pernah ada dirumah.

aku mengirim pesan itu ke panji, handphoneku masih ku peggang berharap secepat kilat dia membalasnya.

"ngapain gue kerumah lo tengah malem gini. jawab panji"

"Gue takut"

panji tidak membalas pesanku, namun tidak lama ada sms masuk dari panji katanya dia sudah ada di depan rumahku.

aku langsung membuka pintu rumahku dan buru-buru menyuruh panji masuk kerumah ku.

"lo kenapa?" tanya panji tanpa basa basi

"hah" kataku kaget

"iya lo nyuruh gue kesini karena lo pengen?"

"kaga bego gue sendirian dan gue takut"

"lo udah biasa sendirian dirumah ga mungkin lo takut?" katanya

"trus menurut lo gue lagi pengen?" tanyaku

"iya lo mau kan, gue ga berani ngapa2in lo ma" katanya

"oke"

"tapi gue bisa kasih lo kissing, lo bisa kissing kan?"

"hah?"

panji mencium bibirku, aku mengikuti iramanya, tidak begitu buruk bahkan lebih hebat dari dugaan ku.

dia berhenti, aku pun berhenti.

"Ternyata gue pengen lebih, gimana dong?" Tanyanya

"Ya terserah" jawabku

panji kembali mencium bibirku, dia lebih agresif dari sebelumnya.

panji kembali berhenti dan aku terdiam lagi.

"sialan gue beneran kebawa suasana" katanya

"terus?" tanyaku lagi

"Lo mau?" tanyanya, aku mengerti maksud dari perkataannya itu.

"boleh aja, mumpung ga ada orang?" kataku

sekarang aku benar benar liar, otakku benar benar bermasalah orang yang berhadapan denganku adalah orang yang bahkan aku tahu bagaimana dia bersikap santun kepada orang tuanya, lelaki hebat yang pekerja keras di usia nya yang baru 23 tahun pencapaiannya sudah banyak dan aku kadang iri kepadanya.

"lo serius?"

"terus mau Lo gimana?"

"yaudah lepas baju lo cepetan" katanya

Tanpa pemanasan, tanpa basa basi kami hanya melakukan apa apa yang sudah kami mulai, aku hanya mengikuti alur. Selanjutnya hanya menerima segala hal yang Panji lakukan kepadaku. Aku bahkan sudah lama tidak melakukan ini, entah setan mana yang merasuki ku sehingga aku melakukan hal ini dengan seseorang yang sudah ku kenal lama, entah karena rasa kesal atau karena rasa sepi ku yang membuat aku sebodoh ini.

"maaaa" suara panji tepat ditelinga ku

"maaa" suara Panji terdengar sangat berat di telingaku

"ga usah manggil manggil, lanjutin aja" kataku

aku mengikuti permainan Panji yang agresif, tubuhku bergetar dan merasa panji berhasil membuat aku semakin bersemangat bermain dengannya

"maa, maa, maaaa" suaranya mengelitik dan aku menikmatinya.

kami bermain 2 kali, panji yang gue kenal santun ternyata seagresif ini. tubuhnya mungkin akan sering ku rindukan, ya mungkin.

"gue subuh balik ya, udah bawa sarung biar dikira abis subuhan" katanya

"otak lo emang kriminal" kataku

"memanfaatkan kesempatan, ma nanti malam main lagi yaaaa. wajib" katanya

aku hanya tersenyum, bingung apa yang harus aku lakukan, seandainya aku bisa menahan diri mungkin aku dan panji tidak akan sejauh ini.

namun malam ini adalah malam pembuka untukku dan panji semakin merajut hal tabu bersama.

tubuh Panji seperti magnet, jika hanya berdua kuasa aku bisa melakukan apapun bersamanya.

meski mencoba untuk bersikap biasa biasa saja saat mengunjungi rumahnya untuk bertemu dengan ibu panji. aku dan panji selalu mencari kesempatan untuk sekedar menggeserkan kelamin kita atau hanya sekedar berciuman.

dan hari ini aku berkunjung kerumah panji, karena aku ingin mengembalikan buku bacaan punya panji, yang telah selesai ku baca. kebetulan hari sabtu aku dan dia sedang libur. ibunya karena tahu aku sangat dekat dengan panji, mengijinkan aku memasuki kamarnya. untung saja panji anak tunggal maka saat ibunya panji pamit membeli sayuran, aku dan panji kembali melakukan hal yang sama seperti tadi malam di rumahku

panji menginginkan aku yang lebih aktif, namun aku enggan melakukannya, jadi aku menolaknya, sebab aku ingin melakukannya di ruang tamu yang kebetulan sepi, panji mengiyakan ajakan ku, padahal semalam sudah 4 kali, dan ditambah 2 kali siang ini. panji bermain lebih hebat dari sebelumnya, dia sangat hebat urusan ini aku yang tak berdaya, menikmati semua hal yang kami lakukan. kesal ku hilang sekejap, rasa sepi ku hilang seketika, panji dengan lembut mencium keningku, aku memeluk Panji dengan erat, bibir Panji mencium ku.

"sialan, gue pengen terus terusan ketemu lo" katanya

"iya samaaa, gue jadi candu sama lo" kataku

"ah kesal, kenapa harus sama lo? ma" tanyanya

"apa yang kenapa?" kataku sedikit marah

panji menghela nafas,

"andai gue ketemu lo lebih dulu, mungkib Lo jadi pacar gue" ucapnya

"gue ambil parfume dulu takut ketauan nyokap gue" sambungnya lagi

dia menyemprotkan parfumnya ke kursi

"maaa mau mau lagi?" tanya panji

"besok lagi lah, ya kali sih capek gue" kataku

"iya sih yaudah" katanya singkat

"besok gue ngampus sampe sore." balasku

"iya gue jemput lo aja nanti di kampus, kita main di mobil ya, seru kali" katanya

"jangan macem macem digerebek warga di nikahin nanti"

"kaga main cantik lah" katanya menggampankan

"Ih bege sering lo ya sama cewek lo?"

"sering sih kaga tapi pernah lah, tapi enakan sama lo sih kalau urusan gini, bikin nagih"

"apa yang enak?" tanyaku

"ga ngerti tapi daya tarik lo lebih aduhay" katanya

aku yang mendengarnya merasa risih namun tetap menerimanya karena ku fikir aku juga tertarik fisik terhadapnya.

"cewe lo ga marah nanti?"

"urusan gampang" katanya

"oke besok main lagi, lebih lama ya, harus lebih oke biar sama sama enak" katanya lagi

"nanti lo suka beneran sama gue"

"kagaaaa deh, jangan sampe jatuh cinta, hubungan kita sebatas ini aja" katanya

"oke berarti nanti balik ngampus cek in aja di hotel main sampe malem" kataku

"yaudah gue yang boking nanti,"

"Oke" kataku

Kami mengakhiri obrolan malam itu, tidur dengan alarem yang ku pasang agar panji pulang subuh nanti.

Lanjutkan Membaca

Buku serupa

Gairah Liar Ayah Mertua

Gairah Liar Ayah Mertua

Gemoy
5.0

Aku melihat di selangkangan ayah mertuaku ada yang mulai bergerak dan mengeras. Ayahku sedang mengenakan sarung saat itu. Maka sangat mudah sekali untuk terlihat jelas. Sepertinya ayahku sedang ngaceng. Entah kenapa tiba-tiba aku jadi deg-degan. Aku juga bingung apa yang harus aku lakukan. Untuk menenangkan perasaanku, maka aku mengambil air yang ada di meja. Kulihat ayah tiba-tiba langsung menaruh piringnya. Dia sadar kalo aku tahu apa yang terjadi di selangkangannya. Secara mengejutkan, sesuatu yang tak pernah aku bayangkan terjadi. Ayah langsung bangkit dan memilih duduk di pinggiran kasur. Tangannya juga tiba-tiba meraih tanganku dan membawa ke selangkangannya. Aku benar-benar tidak percaya ayah senekat dan seberani ini. Dia memberi isyarat padaku untuk menggenggam sesuatu yang ada di selangkangannya. Mungkin karena kaget atau aku juga menyimpan hasrat seksual pada ayah, tidak ada penolakan dariku terhadap kelakuan ayahku itu. Aku hanya diam saja sambil menuruti kemauan ayah. Kini aku bisa merasakan bagaimana sesungguhnya ukuran tongkol ayah. Ternyata ukurannya memang seperti yang aku bayangkan. Jauh berbeda dengan milik suamiku. tongkol ayah benar-benar berukuran besar. Baru kali ini aku memegang tongkol sebesar itu. Mungkin ukurannya seperti orang-orang bule. Mungkin karena tak ada penolakan dariku, ayah semakin memberanikan diri. Ia menyingkap sarungnya dan menyuruhku masuk ke dalam sarung itu. Astaga. Ayah semakin berani saja. Kini aku menyentuh langsung tongkol yang sering ada di fantasiku itu. Ukurannya benar-benar membuatku makin bergairah. Aku hanya melihat ke arah ayah dengan pandangan bertanya-tanya: kenapa ayah melakukan ini padaku?

Puncak Nafsu Ayah Mertua

Puncak Nafsu Ayah Mertua

Cerita _46
5.0

Aku masih memandangi tubuhnya yang tegap, otot-otot dadanya bergerak naik turun seiring napasnya yang berat. Kulitnya terlihat mengilat, seolah memanggil jemariku untuk menyentuh. Rasanya tubuhku bergetar hanya dengan menatapnya. Ada sesuatu yang membuatku ingin memeluk, menciumi, bahkan menggigitnya pelan. Dia mendekat tanpa suara, aura panasnya menyapu seluruh tubuhku. Kedua tangannya menyentuh pahaku, lalu perlahan membuka kakiku. Aku menahan napas. Tubuhku sudah siap bahkan sebelum dia benar-benar menyentuhku. Saat wajahnya menunduk, bibirnya mendarat di perutku, lalu turun sedikit, menggodaku, lalu kembali naik dengan gerakan menyapu lembut. Dia sampai di dadaku. Salah satu tangannya mengusap lembut bagian kiriku, sementara bibirnya mengecup yang kanan. Ciumannya perlahan, hangat, dan basah. Dia tidak terburu-buru. Lidahnya menjilat putingku dengan lingkaran kecil, membuatku menggeliat. Aku memejamkan mata, bibirku terbuka, dan desahan pelan keluar begitu saja. Jemarinya mulai memijit lembut sisi payudaraku, lalu mencubit halus bagian paling sensitif itu. Aku mendesah lebih keras. "Aku suka ini," bisiknya, lalu menyedot putingku cukup keras sampai aku mengerang. Aku mencengkeram seprai, tubuhku menegang karena kenikmatan itu begitu dalam. Setiap tarikan dan jilatan dari mulutnya terasa seperti aliran listrik yang menyebar ke seluruh tubuhku. Dia berpindah ke sisi lain, memberikan perhatian yang sama. Putingku yang basah karena air liurnya terasa lebih sensitif, dan ketika ia meniup pelan sambil menatapku dari bawah, aku tak tahan lagi. Kakiku meremas sprei, tubuhku menegang, dan aku menggigit bibirku kuat-kuat. Aku ingin menarik kepalanya, menahannya di sana, memaksanya untuk terus melakukannya. "Jangan berhenti..." bisikku dengan napas yang nyaris tak teratur. Dia hanya tertawa pelan, lalu melanjutkan, makin dalam, makin kuat, dan makin membuatku lupa dunia.

Bab
Baca Sekarang
Unduh Buku