icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon

Pembalasan Dendamnya, Hidupnya yang Hancur

Bab 5 

Jumlah Kata:375    |    Dirilis Pada: 29/10/2025

itis seorang penyidik forensik, mengambil alih. "Amanda,

ngkat kepalanya, m

dokter? Ada diagnosis? Resep?" tanyaku, seran

dak ingin ada yang tahu. Dia malu. Dia bilang.

Dia juara nasional! Dia dapat beasiswa penuh ke UI! Dia akan pergi ke Ol

yang mempengaruhimu, Amanda? Siapa yang membuatmu mengatakan ini? A

ata mengalir di wajahnya. "Tidak a

engeluarkan selembar kertas terlipat. Sebua

n ini untukku," isaknya

ngkatnya

berh

ihat tulisan tangan Bima yang berantakan

Tekanannya terlalu berat. Katakan pada ibuku aku mencinta

k satu saat yang menakutkan dan men

sehingga aku tidak melihat rasa sakitnya? Apakah aku ibu yang buruk? Pe

memegang ala

ka dan kebingunganku, mataku

ni terla

ita tentang seekor beruang kecil yang membawa bulan di punggungnya karena takut gelap. Kami telah membacanya bersama seribu kali. Itu a

dalah sinyal. Dia dalam ma

rah. Dia berter

ikkan teriakannya minta tol

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
Pembalasan Dendamnya, Hidupnya yang Hancur
Pembalasan Dendamnya, Hidupnya yang Hancur
“Anakku tewas. Laporan resmi menyebutnya bunuh diri, overdosis narkoba. Tapi aku tahu itu bohong. Aku seorang Penyidik Forensik, dan aku sendiri yang memeriksa jasadnya. Semua bukti jelas-jelas menunjukkan pembunuhan. Aku mengajukan banding, tujuh kali, setiap kali dengan bukti yang tak terbantahkan. Setiap kali, Kepala Kejaksaan Budi Santoso menutup pintu di depan wajahku, menganggap kesedihanku sebagai delusi. Sistem yang telah kulayani selama dua puluh tahun kini melindungi seorang pembunuh. Jadi, aku mengambil hukum ke tanganku sendiri. Aku menculik putri Kepala Kejaksaan, Dinda Santoso, dan menyiarkan tuntutanku ke seluruh dunia. Untuk setiap kesempatan yang dia sia-siakan, aku akan menggunakan alat forensik padanya, membuatnya cacat permanen. Dunia menonton dengan ngeri, saat aku menstaples lengannya, lalu mengauternya, menggambar garis-garis merah tipis di kulitnya dengan pisau bedah. Mantan mentorku, Dr. Gunawan, dan pacar anakku, Amanda, didatangkan untuk meyakinkanku, untuk menggambarkan anakku sebagai pemuda depresi, untuk menunjukkan surat bunuh diri palsu. Sejenak, hatiku goyah, rasa sakit menjadi "ibu yang buruk" nyaris menghancurkanku. Tapi kemudian aku melihatnya-sebuah pesan tersembunyi di "surat bunuh diri" itu, sebuah kode rahasia dari buku masa kecil favoritnya. Dia tidak menyerah; dia berteriak minta tolong. Mereka telah memutarbalikkan permohonannya menjadi kebohongan. Kesedihanku sirna, digantikan oleh tekad yang tak tergoyahkan. "Aku tidak menerima surat ini," kataku, menekan pena kauter ke kaki Dinda saat tim Bareskrim menyerbu masuk.”
1 Bab 12 Bab 23 Bab 34 Bab 45 Bab 56 Bab 67 Bab 78 Bab 89 Bab 910 Bab 10