/0/24872/coverorgin.jpg?v=10c0a6224ddd38b7ee34c622011e7234&imageMogr2/format/webp)
*Flashback lima tahun yang lalu
Drucia Luna, gadis cantik yang baru saja merayakan kelulusan SMA, tengah bermain bersama saudara-saudaranya di halaman belakang panti asuhan. Suasana sore itu terasa begitu ceria, dengan tawa dan canda yang mengiringi permainan mereka. Namun, keceriaan itu terganggu saat pasangan suami istri yang tidak dikenal mendekat ke arah mereka.
Pasangan itu tidak datang sendiri. Mereka terlihat berjalan bersama Ibu Panti, yang wajahnya tampak serius.
"Luna..." panggil Ibu pantinya dengan suara lembut.
Luna berhenti sejenak dan menatap mereka dengan tatapan bingung. "Ibu mau bicara sebentar," ujar wanita paruh baya itu lagi.
"Ada apa, Ibu?" tanyanya Luna, matanya melirik pasangan suami istri yang tampak serius.
Ibu Panti tersenyum tipis, meski senyumnya terasa dipaksakan. "Ini Tuan dan Nyonya Kusuma. Mereka mau bicara sama kamu," jawabnya.
Luna menghela napas. Kemudian ia mengikuti ketiga orang dewasa itu yang sudah berjalan lebih dulu masuk ke dalam rumah.
Di dalam rumah, Ibu Panti sudah duduk di kursinya dengan wajah yang tampak tenang, meskipun matanya menyiratkan kekhawatiran. Pasangan suami istri itu duduk di sofa, tepat di depan Luna, menatapnya dengan penuh perhatian dan harap.
"Kami datang ke sini untuk memberikan tawaran kepadamu, Luna." Tuan Kusuma mulai membuka percakapan, sementara Nyonya Kusuma masih terdiam.
"Aku mau di adopsi?" tanya Luna dengan wajah tak suka pada Ibu pantinya.
"Dengerin dulu, Nak," sahut Ibu pantinya dengan lembut.
Luna menghela napas. Kemudian kembali menatap pasangan itu dengan wajah tak nyaman.
"Perkenalkan, saya Ardan, dan ini istri saya, Wulan." Pria itu kembali berbicara, sementara sang istri di sampingnya hanya diam, matanya tetap memandang Luna dengan penuh perhatian.
"Kami ingin menawarkan sesuatu kepadamu, Luna." Kali ini Nyonya Kusuma yang angkat bicara. "Kami sudah tujuh tahun menikah, tetapi kami belum dikaruniai anak."
Luna mendengarnya dengan wajah masam, pikirannya langsung mengarah pada kemungkinan bahwa pasangan ini datang untuk mengadopsinya.
"Aku nggak mau diadopsi. Aku sudah besar, aku masih nyaman tinggal di sini," ujar Luna dengan tegas
"Kami bukan bermaksud mengadopsi kamu, Luna," sahut Nyonya Kusuma.
"Terus?" tanya Luna dengan tatapan sinis.
"Saya ingin menawarkan kamu untuk menjadi istri kedua suami saya dan melahirkan seorang anak untuk keluarga kami," lanjut Nyonya Kusuma. "Kami akan memberi imbalan satu milyar rupiah dan merenovasi seluruh bangunan panti ini. Setelah anak itu lahir, kamu bisa bercerai dari suami saya tanpa membawa anak itu, dan kamu bisa melanjutkan hidupmu seperti biasa."
Luna terkejut. Matanya terbelalak dan mulutnya terbuka lebar. Ia menatap pasangan suami istri itu dengan tatapan tak percaya.
"Kami juga akan menjadi donatur tetap di panti ini jika kamu menerima tawarannya," tambah Tuan Kusuma dengan suara penuh harap.
Tanpa ragu sedikitpun, Luna langsung menjawab dengan lantang. "ENGGAK!"
Tuan Kusuma dan Nyonya Kusuma saling bertukar pandang, lalu menghela napas. Kemudian Tuan Kusuma kembali angkat bicara dengan nada yang lebih serius, "Pikirkan baik-baik, Luna. Kalau kamu merasa ini sangat berat, setidaknya pikirkan Ibu Panti dan adik-adikmu. Dengan uang sebanyak itu, kamu nggak akan hidup susah lagi. Adik-adikmu juga pasti terpenuhi kebutuhannya. Mereka nggak akan lagi tidur di kamar yang bocor, nggak akan kekurangan makanan, dan nggak lagi kekurangan uang jajan."
Luna terdiam. Di satu sisi, tawaran itu bisa memberikan kehidupan yang lebih baik bagi panti asuhan dan keluarganya. Namun di sisi lain, tawaran itu sangat melukai harga dirinya.
Ia cantik, muda dan berprestasi. Banyak pria lajang yang menyukainya. Bagaimana mungkin ia harus menyerahkan hidupnya kepada pria tua yang sudah beristri? Meskipun pria itu terlihat masih gagah dan tampan, Luna tetap tidak bisa menerimanya.
"Luna..." Ibu Panti hendak berbicara, namun Luna langsung menyahut dengan cepat. "Nggak mau, Bu. Aku masih kecil. Aku aja kayak anaknya mereka." Mata Luna mulai berkaca-kaca, menahan tangis yang ingin pecah.
/0/23403/coverorgin.jpg?v=26defc598d5141c2826e86cdf4da9248&imageMogr2/format/webp)
/0/18949/coverorgin.jpg?v=515c3f1a85fa5f856ca8e7b776a4c52c&imageMogr2/format/webp)
/0/8081/coverorgin.jpg?v=65a4e1417a8c0bbadf2c2c66896ae835&imageMogr2/format/webp)
/0/19448/coverorgin.jpg?v=27252d118092f1c81ce07c70f6179b22&imageMogr2/format/webp)
/0/24710/coverorgin.jpg?v=419e7815a6a1deec6566a9af79300d93&imageMogr2/format/webp)
/0/17925/coverorgin.jpg?v=2a37553989a35c87f607de3b5cd02353&imageMogr2/format/webp)
/0/5404/coverorgin.jpg?v=7aac20f355eb8efaadfd10b072259629&imageMogr2/format/webp)
/0/27351/coverorgin.jpg?v=fa5033de673ef0404ed262161a3d636a&imageMogr2/format/webp)
/0/21434/coverorgin.jpg?v=28d31df4bc3e5e1d841f634ef2a20bdb&imageMogr2/format/webp)
/0/23663/coverorgin.jpg?v=68b18edb8454d0ede7dce4ffcb7807ec&imageMogr2/format/webp)
/0/21482/coverorgin.jpg?v=3b75e807253a9ca3baa26f8d47aff8bb&imageMogr2/format/webp)
/0/6453/coverorgin.jpg?v=810212e2d3721bd6501188d5f7bfafd3&imageMogr2/format/webp)
/0/27988/coverorgin.jpg?v=d38b59b77afa43314f54e1d2c1093c17&imageMogr2/format/webp)
/0/25648/coverorgin.jpg?v=e7bc3da2e5cdd70d73b79c385d1d293b&imageMogr2/format/webp)
/0/28848/coverorgin.jpg?v=9ff5f54c52ecac9586d2d0e9bb5d3f1a&imageMogr2/format/webp)