/0/2471/coverorgin.jpg?v=3227eeca995c0603b7717b752a524884&imageMogr2/format/webp)
Suasana Diskotik justru semakin ramai saat menjelang malam. Di salah satu ruangan VIP, terlihat beberapa orang lelaki dan perempuan duduk berdampingan menikmati waktu malam.
Pemandangan yang berbeda tampak di tengah sofa. Isack duduk di sana ditemani dua sahabatnya.
"Kau sudah mendengar kabar tentang Chana?" ucap Kean.
"Entah, dia bahkan tidak memberiku kabar satu bulan ini." Isack menyandarkan kepala di sofa. Setiap kali membicarakan Chana, dia selalu murung.
"Hei, aku ikut sedih melihatmu seperti ini. Kau sangat tampan, kaya, rumah ... mobil kau memiliki semuanya. Kau bisa dengan mudah mendapatkan perempuan lain. Aku kalau berada di posisimu pasti sudah memanfaatkan ketampanan dan kekayaanmu dengan mengencani banyak wanita.
Kepalanya terangkat, Isack tersenyum tipis. "Tapi sayangnya aku bukan dirimu."
"Sial!"
Isack menghembuskan nafas bersamaan dengan itu kepulan asap rokok keluar dari mulut serta hidungnya.
"Isack, kau tidak turun ke bawah?" Seorang teman lagi menawarinya turun ke lantai dasar menikmati alunan musik Dj di sana. Dia adalah Tyson.
Lelaki bermata tajam dengan bulu mata yang sangat lentik itu hanya menggelengkan kepala. "Hmm, hei ... sejak kapan aku memberimu izin memanggilku hanya dengan nama kecilku?" ucapan Isack lebih seperti sebuah peringatan. Bahwa dia tak suka ada yang memanggil nama kecilnya kecuali orang-orang terpilih.
"Sory. Aku kelepasan. Mendengar hanya Chana yang memanggilmu dengan sebutan Isack, aku jadi iri. Benarkan, kean? Seingatku sejak di bangku sekolah hanya Chany yang boleh memanggilnya dengan nama kecil."
"Hal seperti itu kenapa kau pertanyakan? Bodoh!" sahut Kean.
Isack menggerakkan punggungnya maju meletakkan sisa rokok ke asbak. "Lalu, kau ingin jadi selirku?" Salah satu alisnya terangkat. "Setelah Chana, kau bisa memanggil nama kecilku setelah menjadi selir."
"Brengsek, haha ... kau pikir aku jeruk makan jeruk?"
Hahaha .... Jung Liam tertawa senang. "Aku tidak bisa lama-lama menemani kalian malam ini!"
"Kenapa, ayolah ... kita sudah lama tidak bertemu."
Ekspresi wajahnya sama sekali tak berubah baik senang maupun sedih bahkan bahagia, sepertinya Isack hanya memiliki satu topeng di wajahnya. Datar dan tak bisa bereaksi sesuai perasaannya. "Aku masih banyak pekerjaan."
Dreeet dreet!
"Kalian lihat, kelinci kecil ini sudah menghubungiku." Isack menatap layar ponselnya yang berada di atas meja kemudian mengambil ponselnya dan mengangkat panggilan itu.
Sesaat terdiam, menatap nama adik perempuannya terpampang di layar. "Hmm?" gumam Isack menyahut panggilan.
"Kak! Kau sudah gila, apa. Hah! Ayah dari tadi mencarimu. Dia sudah bilang agar kau tidak pergi ke mana-mana sampai ayah kembali ke rumah. Dasar! Kau akan tahu akibatnya kalau ayah sampai di rumah dan tidak menemukanmu di sini!"
Dengan santai dan ekspresi wajah datar, Isack menjawab tanpa beban. "Oh, sepertinya aku lupa."
"Bro, aku tinggal ke lantai dansa. Kalau kau mau kau bisa menyusul!" Kean melangkah pergi.
"Astagaa! Kau berada di club. Kalau sampai ayah tahu anak lelaki kesayangannya mengunjungi club malam ... habis sudah kau malam ini di tangannya."
"Sayang, anak bukan anak kecil lagi."
"Tapi kau keturunan keluarga Prishon! Apa kata orang jika sampai mereka melihatmu berada di club malam?"
"Hah, benar-benar ck! Baiklah Tuan Putri. Aku akan segera kembali ke rumah. Kau senang sekarang?" Isack kemudian menutup panggilan, melempar ponsel ke atas meja sembarangan.
Klatak!
"Aku harus pergi sekarang."
"Kenapa?"
"Kau tidak dengar apa yang dikatakan adikku tadi? Aku tidak ada waktu akhir-akhir ini, gadisku terus menggangguku dari tadi!" Isack merapikan jas yang berantakan, kemudian mengambil ponsel dari atas meja. Setelahnya melangkah menuju pintu.
"Aku jadi penasaran seperti apa rupanya, bisa sampai membuat Isack tunduk hanya dengan satu perintah," gumam Kean merujuk pada adik perempuannya Isack
~♤~
"Kak, kau sudah sampai mana?" Suara Sofia terdengar melengking dari ujung ponsel. "Pesawat ayah sudah mendarat dan dia dalam perjalanan menuju ke rumah, cepatlah kembali." Bella tak bisa tenang sebelum kakaknya sampai di rumah.
"Aku sedang di jalan, seharusnya pertemuan ini tidak terlalu penting ... kalian membuang waktuku saja!" ucap Isack, tengah sibuk menyetir mobil dalam perjalanan pulang ke rumah setelah mendapat panggilan dari adiknya.
"Please, jangan buat ayah marah lagi kali ini, Kak ... aku tak bisa melihat ayah terus-terusan memukulmu. Jangan buat kesalahan lagi aku mohon!"
Isack menghela nafas panjang, dadanya dibuat menghangat dengan kekhawatiran Sofia. "Aku mengerti, Sayang. Aku akan segera sampai, oke. Aku tutup teleponnya."
~♤~
Setelah memarkirkan mobilnya, Isack masuk melewati pintu belakang, di sana dia langsung disambut oleh Sofia yang sudah siap dengan kemeja dan jasnya yang bersih di tangan.
"Cepat ganti pakaianmu, Kak. Ayah sudah berada di ruang keluarga. Dia baru saja tiba dan aku bilang padanya kalau kau sedang bersiap-siap." Jas dan kemeja yang masih bersih bertengger di lengannya sementara Isack sedang sibuk melepas kemeja lalu memberikannya kepada Sofia kemudian menggantinya dengan yang baru.
"Haruskah aku memberimu hadiah kali ini?" Isack merasa terbantu karena memiliki adik perempuan yang sangat peduli dan perhatian padanya.
/0/25398/coverorgin.jpg?v=4bd1df5a711a566c9b22935296a5c8ac&imageMogr2/format/webp)
/0/10526/coverorgin.jpg?v=9471a0dfddb2aab3707bc11266eed41b&imageMogr2/format/webp)
/0/12737/coverorgin.jpg?v=47c887ad192be9faebf19ea232c9b11d&imageMogr2/format/webp)
/0/26152/coverorgin.jpg?v=f26362a8ed9523afaac31945b76f61f6&imageMogr2/format/webp)
/0/14126/coverorgin.jpg?v=963c5609ae381918b2bdde934ae4e5ed&imageMogr2/format/webp)
/0/16737/coverorgin.jpg?v=9e81b26d3b8d0e34fef68d540fe003ec&imageMogr2/format/webp)
/0/24611/coverorgin.jpg?v=ec8a20c274b82dd9df63cf3f627d9889&imageMogr2/format/webp)
/0/9312/coverorgin.jpg?v=21d9bc4ea5347318d4e102094147b4c7&imageMogr2/format/webp)
/0/4237/coverorgin.jpg?v=d5c82edae8e3ddb94afa88c3aac83db7&imageMogr2/format/webp)
/0/24238/coverorgin.jpg?v=55837c16f8c8fb055cc3a1dd5c34a1b7&imageMogr2/format/webp)
/0/8507/coverorgin.jpg?v=47c5cad4298ef62c045d02d9ea6946d5&imageMogr2/format/webp)
/0/4036/coverorgin.jpg?v=473a27fc43596af9b2a65155816e42d9&imageMogr2/format/webp)
/0/23523/coverorgin.jpg?v=d78b52dcff17c3f3d6d6d0a8cea41a47&imageMogr2/format/webp)
/0/16118/coverorgin.jpg?v=61df76f0c80f4df0e0ee298af4a6a102&imageMogr2/format/webp)
/0/3517/coverorgin.jpg?v=3462e1a574e19158fc2fcdcee6e93998&imageMogr2/format/webp)
/0/27986/coverorgin.jpg?v=9eba3a339aec35f2ef31734d7b87a830&imageMogr2/format/webp)
/0/6414/coverorgin.jpg?v=4ac4d21ae461a9e2086025a31bc1aae9&imageMogr2/format/webp)
/0/6559/coverorgin.jpg?v=45d6c5c69d9d87862b83435260019af8&imageMogr2/format/webp)
/0/5461/coverorgin.jpg?v=3ac303780a237094524cb6ff4f1c3c17&imageMogr2/format/webp)