/0/34555/coverorgin.jpg?v=931548167e1d2a03524e8b53b292b313&imageMogr2/format/webp)
Udara di kamar tidur utama penthouse di 5th Avenue selalu dingin, diatur oleh sistem pengatur iklim yang seolah menyaring oksigen dari atmosfer bersama dengan debu. Itu adalah dingin yang steril, jenis dingin yang meresap ke sumsum tulang dan enggan pergi.
Baskara Adiputra Wijaya melangkah melewati pintu ganda. Dia tidak membantingnya, tetapi bunyi klik berat dari kait yang terkunci terdengar seperti tembakan dalam keheningan. Dia tampak lelah. Ada bayangan di bawah matanya yang tidak bisa disembunyikan oleh perawatan kulit mahal sekalipun, dan simpul dasi sutranya sudah longgar, menggantung miring seperti tali gantungan yang gagal menjalankan tugasnya.
Kirana Anindita Pranata duduk di tepi ranjang ukuran king. Dia sedang membaca buku bersampul keras, posturnya sempurna, punggungnya tegak. Dia tidak mendongak saat Baskara masuk. Dia membalik halaman, kertasnya bergesekan dengan ujung jarinya.
Baskara Adiputra berjalan ke nakas. Dia memegang amplop cokelat tebal di tangannya. Dia melemparkannya ke permukaan mahoni yang dipoles. Amplop itu meluncur di atas kayu dengan desisan kering dan membentur punggung tangan Kirana.
Dia berhenti membaca. Dia tidak tersentak. Dia tidak melompat. Dia hanya menandai halamannya dengan pita sutra dan menutup buku itu, meletakkannya di atas selimut. Lalu, dia mendongak.
Matanya tenang. Tidak ada ketakutan di dalamnya, tidak ada pemujaan, dan mungkin yang paling mengganggu bagi Baskara Adiputra, tidak ada rasa ingin tahu. Rasanya seperti melihat ke cermin yang menolak untuk menunjukkan pantulan.
"Aku ingin berpisah," kata Baskara Adiputra. Suaranya serak, parau karena rapat dewan seharian dan frustrasi yang terpendam. "Berujung pada perceraian."
Kirana menatapnya. Dia berkedip sekali, perlahan.
"Baiklah," katanya.
Kata itu menggantung di udara di antara mereka, sederhana dan sangat ringan. Baskara Adiputra mengerutkan kening. Dia mengharapkan air mata. Dia mengharapkan Kirana melemparkan dirinya ke kakinya, mengingatkannya akan janji-janji mereka, memohon kesempatan lain. Dia telah mempersiapkan diri untuk histeria. Dia tidak mempersiapkan diri untuk ketidakpedulian.
"Jasmine Puspita Sari sudah kembali ke New York," tambahnya, memutar pisau yang dia kira sudah tertancap di dada Kirana. "Dia membutuhkanku."
Kirana mengangguk. Dia meraih amplop itu. Gerakannya luwes, tepat. Dia melilitkan tali di sekitar kancing amplop dan membukanya.
"Aku sudah menduganya," katanya, suaranya mantap. "Apakah ini proposalnya?"
Baskara Adiputra mengawasinya, seberkas kejengkelan menyala di dadanya. Mengapa dia tidak bereaksi? Selama dua tahun, dia telah memainkan peran sebagai istri yang penuh kasih, selalu menunggunya, selalu tersenyum, selalu berusaha menyenangkan Baskara. Sekarang, ketika dia menghancurkan hidup mereka bersama, dia tampak seperti sedang meninjau daftar belanjaan.
"Pengacaraku menyusun lembar persyaratan pagi ini," kata Baskara Adiputra, melonggarkan dasinya lebih jauh dan melemparkannya ke kursi. "Ini adalah perjanjian perpisahan yang mengikat. Ini menguraikan pembekuan aset dan penyelesaian awal. Ini murah hati. Lebih dari yang pantas kau dapatkan, mengingat dari mana kau berasal."
Kirana mengabaikan sindiran itu. Dia mengeluarkan dokumen-dokumen itu. Matanya memindai halaman-halaman itu, tidak membaca setiap kata, tetapi mencari angka-angka tertentu. Dia mencari intinya.
Dia berhenti di halaman empat. Dia mengambil pena emas dari nakas. Dia mengetuk ujung pena ke kertas, suara berirama, hampa yang seolah bergema di ruangan besar itu.
Ketuk. Ketuk. Ketuk.
"Batas tunjangan terlalu rendah," katanya.
Baskara Adiputra tertawa pendek, tidak percaya. "Tentu saja. Selalu tentang uang bagimu."
Kirana mendongak menatapnya, dan sesaat, sudut mulutnya sedikit terangkat. Itu bukan senyuman. Itu adalah transaksi bisnis.
/0/34556/coverorgin.jpg?v=6b89a380f9a03b5ac531bf0ee7bd4ca6&imageMogr2/format/webp)
/0/4023/coverorgin.jpg?v=3b7b407dbda72bf48056115c9971ec78&imageMogr2/format/webp)
/0/2430/coverorgin.jpg?v=e353dc5146b63e5655e8e2db2ce9267e&imageMogr2/format/webp)
/0/6251/coverorgin.jpg?v=95475b5bb5e62a6ede1cdc661ffbcd76&imageMogr2/format/webp)
/0/2422/coverorgin.jpg?v=c83a8546a26814221803f9f1aad1082a&imageMogr2/format/webp)
/0/3767/coverorgin.jpg?v=e122681d29ba31b9ab1160fc720c919a&imageMogr2/format/webp)
/0/29624/coverorgin.jpg?v=f4b49d72034c00807fb6c6fb558fd1e1&imageMogr2/format/webp)
/0/26855/coverorgin.jpg?v=1b6f21b41e9d584d6d1cd0b206e3972e&imageMogr2/format/webp)
/0/18263/coverorgin.jpg?v=720de119bd06960062dad4d071c92481&imageMogr2/format/webp)
/0/3163/coverorgin.jpg?v=d1017b5fca450bb6d309b0068faa215d&imageMogr2/format/webp)
/0/4257/coverorgin.jpg?v=31d7f13fba6fb9e3c214d4f8a9e34d2f&imageMogr2/format/webp)
/0/27693/coverorgin.jpg?v=e2f84f3599fbcdd647ee2cff4ce0cd7e&imageMogr2/format/webp)
/0/16974/coverorgin.jpg?v=f16ae03040c779910f8e415b6fff9d51&imageMogr2/format/webp)
/0/4573/coverorgin.jpg?v=a2a9ac200b82b6010d584c071bdc2c3b&imageMogr2/format/webp)
/0/3399/coverorgin.jpg?v=e61b43a3fab04088051795b9ff6c4430&imageMogr2/format/webp)
/0/4599/coverorgin.jpg?v=1390a900c498ce0f9bbe603ecbcfa4e8&imageMogr2/format/webp)
/0/27632/coverorgin.jpg?v=f911ab9340371c587ec951e13f6a3a65&imageMogr2/format/webp)