/0/4862/coverorgin.jpg?v=df56744ad021a59f2b8fd13413dbca67&imageMogr2/format/webp)
Di kehidupanku yang pertama, aku adalah putri angkat kesayangan keluarga Adhitama. Tiga kakakku yang sempurna menghujaniku dengan kasih sayang, dan Baskara, cinta pertamaku, menjanjikanku seluruh dunia.
Tapi semua itu bohong. Saat mereka membakar rumah mewah kami, mereka hanya berdiri di halaman dan melihatku terbakar hidup-hidup.
Aku bisa mendengar tawa mereka di sela-sela kobaran api.
"Dia cuma anak yatim piatu," kata mereka. "Pura-pura menyayanginya selama ini benar-benar melelahkan."
Satu-satunya orang yang berlari ke dalam api untukku adalah Gilang Adhitama—paman yang dingin dan jauh, yang kata semua orang membenciku.
Dia memelukku saat atap runtuh, berbisik, "Aku bersamamu." Dia mati untukku.
Duniaku dibangun di atas kasih sayang mereka, sebuah kebohongan yang sempurna dan mengerikan.
Sekarang, aku terbangun lagi, kembali di kantor pengacara, satu minggu sebelum kebakaran itu.
Untuk mewarisi kekayaan triliunan rupiah, surat wasiat itu mengatakan aku harus menikahi salah satu dari tiga kakakku—para pembunuhku.
Jadi, ketika pengacara menanyakan pilihanku, aku tersenyum.
"Aku memilih Gilang Adhitama."
Bab 1
Kata orang, saat kau mati, hidupmu akan berkelebat di depan mata.
Bagiku, yang kulihat adalah api.
Panasnya, asapnya, suara rumah tua yang mengerang saat dilahap hidup-hidup oleh api.
Dan wajah ketiga kakak angkatku, Baskara, Brama, dan Andra, yang menonton dari halaman.
Mereka tidak berusaha menyelamatkanku.
Mereka menunggu aku hangus menjadi abu.
Aku mengingat semuanya, setiap detailnya, saat aku duduk di kantor pengacara almarhum ayah angkatku yang steril dan sunyi.
"Nona Wijaya," kata pengacara itu, Pak Tirtayasa, dengan suara lembut. "Surat wasiat ini... sangat spesifik."
Dia membetulkan letak kacamatanya, menatap dokumen di atas meja mahoni besar di antara kami.
"Untuk mewarisi kerajaan Adhitama, seluruh asetnya, yang bernilai triliunan rupiah, Anda harus menikah."
Aku tidak mengatakan apa-apa. Aku sudah tahu bagian ini.
"Pernikahan itu harus dengan anggota keluarga Adhitama," lanjutnya, matanya penuh dengan rasa kasihan yang lembut, yang tak lagi pantas kuterima.
Dia pikir aku adalah gadis yang berduka dan bingung. Dia tidak tahu aku adalah arwah pendendam yang kembali ke raganya dengan kesempatan kedua.
"Sudahkah Anda memikirkannya, Brooklyn? Surat wasiat ini menyebutkan salah satu dari tiga kakak Anda. Baskara, Brama, atau Andra."
Kakak-kakakku. Kakak-kakak angkatku yang tampan dan penuh perhatian. Sudah jadi lelucon keluarga, bagaimana tak satu pun dari mereka yang mirip dengan ayah kami, atau bahkan satu sama lain. Sebuah fakta yang semua orang pilih untuk abaikan.
Orang-orang yang tersenyum padaku sambil merencanakan pembunuhanku.
"Sudah," kataku, suaraku mantap.
Pak Tirtayasa tersenyum kecil, penuh pengertian.
"Saya bisa membayangkannya. Media sudah memutuskan untuk Anda. Anda dan Baskara Putra sudah tak terpisahkan sejak kecil. Tampaknya itu adalah kesimpulan yang logis, dan berani saya katakan, romantis."
Aku ingat romansa itu.
Aku ingat ciuman lembut dan kebohongan manisnya. Aku ingat mengucapkan "Saya bersedia" di kehidupanku yang lalu, percaya bahwa dialah masa depanku.
Aku juga ingat dia menggenggam tangan wanita lain, tangan Keira, saat dia memberitahunya bahwa kematianku akhirnya akan membuat mereka kaya.
"Tidak," kataku, kata itu terdengar tajam dan dingin di ruangan yang sunyi.
Senyum Pak Tirtayasa memudar.
"Tidak?"
"Aku tidak akan menikahi Baskara Putra."
Dia mengerjap, terkejut. "Ah. Baiklah, kalau begitu mungkin Brama? Dia pemuda yang mapan. Atau Andra? Dia selalu sangat... perhatian padamu."
Dia berusaha membantu, mencoba membimbing gadis yatim piatu yang malang ini ke pilihan yang tepat.
"Aku juga tidak akan menikahi Brama Wijoyo atau Andra Prawira."
Keterkejutan di wajahnya berubah menjadi kebingungan yang tulus. Dia mencondongkan tubuh ke depan, suaranya merendah.
"Brooklyn, kita harus jelas. Surat wasiat ini mutlak. Jika Anda tidak memilih salah satu dari mereka, seluruh kekayaan Adhitama akan dilikuidasi dan disumbangkan ke berbagai badan amal. Anda tidak akan mendapatkan apa-apa."
"Aku mengerti syaratnya," kataku, memotongnya dengan tenang.
Aku menatap lurus ke matanya.
/0/29107/coverorgin.jpg?v=0a091751938cae92afff12c3b593e4fd&imageMogr2/format/webp)
/0/16463/coverorgin.jpg?v=83f6dd3af71ea3068b6d2868bc1debf9&imageMogr2/format/webp)
/0/13537/coverorgin.jpg?v=aef3cbdd20395134974fd5b636a25238&imageMogr2/format/webp)
/0/23544/coverorgin.jpg?v=a06ed9995a7154eadda89eead620367c&imageMogr2/format/webp)
/0/12872/coverorgin.jpg?v=79c2e0f0b09adda1f567f6b9841f5bf8&imageMogr2/format/webp)
/0/22929/coverorgin.jpg?v=7210deed904b68c803a92f2cf55e913f&imageMogr2/format/webp)
/0/5941/coverorgin.jpg?v=0f18c60b915e229bc0dcc0f1e6e45480&imageMogr2/format/webp)
/0/13100/coverorgin.jpg?v=afe254af17e871e6088cf43bee5fc044&imageMogr2/format/webp)
/0/6677/coverorgin.jpg?v=11f7b2dbd634945e4fe9a13f3394e04f&imageMogr2/format/webp)
/0/8087/coverorgin.jpg?v=faa19975baa30f4733946dbf4efdaedf&imageMogr2/format/webp)
/0/21580/coverorgin.jpg?v=af0cab4eb45e24ae39aefd5785fd410f&imageMogr2/format/webp)
/0/6503/coverorgin.jpg?v=afda2728b97c81c32c6edc17c36624a5&imageMogr2/format/webp)
/0/12958/coverorgin.jpg?v=df000eef1180bfb9c3f5e6c3d9f48a7f&imageMogr2/format/webp)
/0/17793/coverorgin.jpg?v=19b7910aa91f26057a6eb35324491ccc&imageMogr2/format/webp)
/0/2469/coverorgin.jpg?v=18e495f9a2ec00b237382af67bd7b075&imageMogr2/format/webp)
/0/19240/coverorgin.jpg?v=4679fe267bf6e8987784fa5d0f19f87c&imageMogr2/format/webp)
/0/30216/coverorgin.jpg?v=ce8a760e55a193f7e3b71672332814fe&imageMogr2/format/webp)
/0/5473/coverorgin.jpg?v=7d7f596c03bc4022435fb342953ea158&imageMogr2/format/webp)