5.0
Komentar
12.5K
Penayangan
36
Bab

Aretha Anjanie di jual oleh selingkuhan kekasihnya untuk membalas dendam dan hutang judinya pada seorang mafia. Namun kesialanya bertubi-tubi saat pria berhody memenjarakannya di The Black Rose Kingdom miliknya. "Pilihanmu hanya dua. Menjadi budakku seumur hidup atau menjadi wanita penghangat ranjangku?"- Evans Colliettie. "A-aku..." -Alea Anjanie Penasaran tidak? Simak terus yuk kisahnya

Bab 1 Cincin Berlian

London, Inggris.

Gardian Company, London.

Senyum manisnya terukir di wajah cantik bermata hitam, menatap cincin berlian di jemari manisnya yang baru saja kekasihnya melamarnya. Walau sebuah lamaran yang belum resmi di saksiakan oleh keluarga dan para sahabat-sahabatnya, namun rasanya dia sudah cukup bahagia.

Pelukan dan ciuman yang tak henti, hingga bibirnya yang terus mengulum senyum bahagia di wajah cantiknya. Tak hanya wanita cantik itu, namun si pria pun ikut merasa bahagia bisa mengikat wanita yang dicintainya itu meski lamaran untuk mengikat. Walau belum resmi namun cincin tersebut menandakan jika wanita bernama Alea Anjanie adalah miliknya.

Meski ketakutan melanda si pria tampan bermata abu-abu keemasan itu akan sebuah penghianatan dirinya di belakang kekasih yang sudah dua tahun ini menemaninya. Namun ia yakin Alea pasti akan memaafkan semua kesalahannya.

Alangkah bahagianya Alea biasa pergi ke Inggris untuk bertemu dengan sang kekasih tercintanya, meski keberangkatannya di warni perbebatan yang amat memusingkan dan lelehkan di mana sang sahabat Alea tidak mengizinkan dan tidak menyukai kekasihnya, Mike Shander. Sahabatnya itu selalu mengatakan kalau Mike Kekasihnya adalah pria brengsek seolah sahabatnya itu tau akan kebesukan Mike selama ini di belakangnya. Nyatanya itu tidak terbukti, atau entah belum terbukti.

Kebahagiaan ini seolah menepis jauh-jauh akan prasangka buruk tentang Mike. Hanya sebuah cincin berlian yang tersemat di jemari lentiknya mampu membuat wanita itu melupakan apa yang selama ini sudah di ingatkan oleh sahabatnya.

Alea menyadarkan wajahnya di dada bidang Mike dengan senyumanya yang masih melengkung teramat senang menatap cincin bermata satu itu melingkar di jarinya. Alea tak akan menyesal liburan kali ini di mana Jessie sahabatnya selalu ketakutan bila ia pergi ke Inggris seorang diri. Yang lebih tepatnya lagi, Alea tidak meminta izin pada Jeon kaka angkatnya di mana Jessie lah yang kini di percayai untuk menjaga Alea, ketika Jeon tidak ada di tempat.

"Apa kamu senang Bee?" tanya Mike.

Pria bertubuh alteltis bernama lengkap Mike William Shander itu adalah asli warga negera Amerika, namun Mike sudah lima belas tahun menetap di London-Inggirs untuk menenuruskan bisnis keluarganya.

"Tentu aku senang Bee. Makasih banyak," ucap Alea menatap penuh bahagia.

Dua tahun sudah hubungan jarak jauh Singapore-London, nyatanya Mike Shander kini melamar dirinya. Alea pun tidak menyangka kekasihnya itu akan secepat ini melamar dirinya. Liburan ini membuat Alea bahagia, ini terlalu indah. Di mana Alea banyak mendapatkan kabar baik ketika Alea berada di London. Sedikit lega, karena pada akhirnya ia dan Mike bisa melewati semua ini bersama-sama untuk melangkah ke arah yang serius.

"Aku akan melamarmu secara resmi di depan ayahmu dan keluargamu nanti Bee, jadi bersabaralah yah. Hanya kamu yang aku cintai di dunia ini. Tidak ada yang lain," gumam Mike seraya mengenggam jemari lentik Alea, lalu mengecup punggung tangan Alea.

Alea hanya mengangguk pelan, menatap senang. Di seberang sana, nampak seseorang yang tengah mengintip di celah kecil di mana pintu ruangan tersebut terbuka kecil. Seseorang yang tengah menatap penuh benci dan juga kedua tangan yang terkepal penuh dendam.

"Lihat saja. Aku akan menghancurkan semua kebahagian kalian! Aku tidak sudi melihat semua kebahagia ini. Aku akan menghancurkanmu Alea karena Mike Shander hanya miliki seorang!"

Seseorang itu menghela napas kasar dengan tangan yang masih terkepal. "Dan kau honey. Tunggulah pembalasaanku, karena kau sudah berani-beraninya bermain denganku!" gumamnya kembali di dalam hati.

Netranya begitu tajam menatap cincin berlian yang ada di jemari manis Alea. "Kau hanya miliki seorang honey," sambungnya menatap benci kemesraan yang kedua orang di dalam sana.

"Kamu tau Bee, aku sudah lama merencanakan hal ini!"

"Benarkah?"

Mike mengangguk pelan, membenarkan.

Tok... tok... tok...

Suara ketukan pintu terdengar.

"Ya masuk..." jawab Mike.

"Aku akan mengabarkan hal ini pada orang tuaku. Aku ingin mengabarkan kabar baik ini, kalau aku ingin menikahimu." Mike menjeda pembicaraanya saat melihat seorang wanita masuk ke dalam ruangannya.

"Sebentar yah Bee."

"Ya..."

Wanita cantik bertubuh seksi dengan rok span yang begitu pendek, berjalan mendekat. Senyuman itu terukir, meski sebenarnya wanita itu terpakas tersenyum ramah pada bos nya itu dan juga wanita cantik yang duduk di single sofa yang terlihat membalas senyumannya.

"Ada apa?"

"Maaf tuan Mike hari ini anda meeting penting dengan para pemegang saham," ucapnya yang diiringi senyuman lembut. Wanita itu menurunkan pandangannya ke bawah di mana cincin berlian itu tersemat di jemari wanita yang sudah ia ketahui kekasih bosnya.

"Baiklah, Gina. Kamu tunggu aku saja di luar. Aku akan menyusulmu."

Wanita seksi tersebut mengangguk pelan. Lalu ia berlalu pergi keluar dari ruangan bosnya. Mike berjalan menghampiri sang pujaan hati. Ia mendaratkan kecupan di kening Alea.

"Bee, aku meeting dulu yah. Tidak apa kamu menungguku di sini sebentar?"

Alea mengangguk pelan. "Mau pulang pun untuk apa? Kamu pasti bosan di rumah karena tidak melakukan apa-apa."

Alea kembali mengangguk, benar. "Kau boleh membaca buku-buku ku di sana, bila kamu jenuh karena menungguku lama."

Alea menjulurkan ibu jarinya diiringi kerlingan mata. Mike pun tersenyum menawan dan mengecup punggung tangan Alea. "Terima kasih sayang. Jangan kemana-mana tunggulah calon suamimu," ujar Mike yang membuat Alea tersenyum malu.

"Iya aku akan menunggumu. Pergi sana, jangan cemaskan aku di sini."

Mike memeluk Alea erat, ia menatap sang pujaan hati hingga Mike mendekatkan wajahnya sampai kedua hidung mancung Alea saling bertemu, lalu mengecup bibir merah muda itu sejenak. "Tunggu aku."

"Ya, bawel amat sih," gerutu Alea.

Mike pun terkekeh, meski langkahnya berat meninggalkan Alea. Namun ia harus segera keluar dari ruangannya untuk meeting bersama dengan para pemegang saham.

Dari pintu yang terbuka lebar pun Gina bisa melihat cinta Mike yang begitu besar pada wanita pujaanya itu. Mike menghembuskan napas pelan, saat Gina melihat kemesraan ia dan kekasihnya. Mike berjalan menuju ruangan meeting, di belakang sana Gina mengekor hingga ia bisa menyusul bosnya dan berjalan saling bersisian dengan Mike.

Gina pandangi ke samping, di mana bosnya nampak bahagia, wajah tampan itu berseri senang. Gina tersenyum miring, melihat tidak suka dengan bosnya itu. Bos nya adalah pria brengsek yang pandai merayu wanita, hingga wanita bodoh yang ada di dalam ruangan tersebut pun seolah termakan oleh rayuan gombalnya saja. Alea tidak tau siapa sebenarnya kekasih yang dianggung-agungkan itu.

Hanya sebuah cincin berlian, yang di sogokan untuk wanita itu seraya mengikat si wanita dengan bosnya tanpa tau di belakang sana akan kebaisaan yang di lakukan oleh pria yang dicintainya itu. Pria itu sudah menghianati cintanya. Cinta Alea.

Gina tau, semua kebusukan yang sudah di lakukan oleh Mike Shander selama ini, termasuk perselingkuhannya dengan wanita lain.

Lirikan matanya yang tajam membuat Mike risih. Ia mendengus kesal, pada wanita yang berjalan di sisinya. Dia sahabat dekatnya yang bekerja menjadi sekretarisnya. Mike tau, kalau Gina pasti sudah mengetahui tentang lamarannya dengan kekasihnya itu.

Tapi itu bukannya urusan Gina kan?

Mau ia melamar Alea atau menikahi Alea. Itu bukan urusan Gina kan?

Lalu kenaap dengan wanita di sampingnya itu yang memperlihatkan raut wajah yang tak begitu suka pada Alea dan juga padanya? Apa lagi melihat dirinya selama ini bahagia?"

Oke, Mike tau kalau Gina tentunya mengetahui semua kebusukannya selama ini. Tapi cintanya yang begitu besar pada Alea tidaklah main-main, meski di belakang Alea dia berselingkuh. Cincin yang tersemat di jemari lenitik Alea pun bukan rayun gombalnya, melainkan cincin tersebut bukti keseriusan ia pada Alea. Mike ingin menjadikan Alea istri satu-satunya Mike Shander, Nyonya Shander.

Mike lelah dengan semua kebrengsekannya. Ia butuh kehidupan yang sesungguhnya, berkomitmen dengan wanita yang dicintainya, menikah dan memiliki keluarga kecil.

"Ada apa denganmu?" tanya Mike tanpa menoleh ke samping di mana Gina berada.

"Apa pedulinya kau padaku?"

Mike mendengus jengah. "Cincin berlianya bagus. Sudah di pastiakan nilai dan harganya pasti amat fantasis," sindir Gina pada bosnya itu.

Mike hanya terdiam, berjalan luruh. "Lalu apa yang sudah kau berikan pada wanita jalangmu itu? Wanita yang selama ini, setiap malamnya selalu menghangatkan ranjangmu?"

Mike menghentikan langkahnya, diiringi helaan lirih. Ia menarik sudut bibirnya ke samping menatap penuh benci pada Gina yang masih berjalan lebih dulu. "Kenapa berhenti? Ruangan meetinga ada di sana?" tunjuk Gina sembari membalikan badannya.

"Maksudmu apa berkata seperti itu hmm?"

"Tidak ada. Kenapa?"

Lagi-lagi Mike menghembuskan napas. "Apa kau tau. Cincin berlian itu tidak ada apa-apa dengan apa yang sudah aku berikan pada jalangku!"

Mike menjeda kalimatnya, seraya menatap Gina. "Apa mau aku sebutkan, apa saja yang sudah aku berikan pada wanita penghangat ranjangku selama ini? Bahkan sebuah cincin berlian itu tidak ada apa-apanya dengan semua kemewahan yang telah aku berikan pada jalangku!"

Mike memasukan kedua tanganya ke dalam saku celana katunya, berjalan mendekat Gina, mata elangnya seraya ingin membunuh hidup-hidup wanita yang sok ikut campur urusananya.

"Apa wanita jalang itu menginginkan cincin berlian juga?" tanya Mike, namun sorotan matanya yang tajam terus menatap Gina tampa menoleh ke lain arah, hanya terfokus pada Gina seorang.

"Maybe..."

"Maka sampaikankanlah pada jalangku itu. Dia bisa membeli cincin berlian sendiri tanpa harus meminta padaku! Uang yang aku berikan padanya lebih dari cukup untuk membeli berlian! Seharusnya jalangku itu, cerdas memakai uangku bukan malah menghabiskan uangku di meja judi!"

Mike melanjutkan kembali jalanya tanpa mempedulikan Gina di belakangnya. "Tapi aku dengar kau sudah membatasi uang di atm nya?"

"Cih! Segitu aku masih memberikan uang kepada wanita jalang itu! Di mana setiap harinya ia menjual tubuhnya padaku! Bukannya semua itu demi uang?" jawab Mike tanpa membalikan badan.

"Katakanlah kepadanya berhentilah berjudi, sebelum aku tarik semua fasilitas yang sudah aku berikan kepadanya!" tegas Mike tanpa menghiraukan lagi apa yang di bicarakan Gina.

"Kau mengancamnya?"

Tangan Gina mengepal erat. Kedua netranya menatap tajam pada punggung tegap Mike yang mengacuhkan dirinya.

"Jika kau mengancamnya seperti itu. Apa kau tidak takut kalau dia akan memberitahukan semua rahasiamu kepada Alea? Siapa sebenarnya dirimu dan hubunganmu dengan jalang itu?"

Mike memberhentikan langkah kakinya kembali, cukup bosan Mike berdebat dengan sekretarisnya itu. Ia menghela napas dengan menoleh ke belakang di mana Gina masih menatapnya.

Mike berbalik badan berjalan kembali menghampiri sekretarisnya, Gina.

"Jika dia memberitahukan semuanya pada Alea. Aku sendiri yang akan membunuhnya dengan tanganku. Jadi jangan macam-macam kepadaku apa lagi mengancamku!"

Mike memhembuskan nafas dengan sorotan matanya yang tajam ingin sekali ia membunuhnya detik ini juga.

'Kau jangan main-main denganku wanita jalang, tugasmu hanya untuk menghangatkanku di ranjang bukan mengacamku! Wanita jalang tetaplah wanita jalang. Jangan berpikir dia akan menjadi Nyonya Shander karena gelar itu tidak pantas di dapatkan!

'Gelar Nyonya Shander hanya untuk wanita berhati baik, seperti Alea Anjanie,' gumam Mike di dalam hati kembali melanjutkan jalannya menuju ruang meeting yang selalu terhalang oleh sekertarinya yang banyak menanyakan hal pribadi ini.

Lanjutkan Membaca

Buku serupa

Puncak Nafsu Ayah Mertua

Puncak Nafsu Ayah Mertua

Cerita _46
5.0

Aku masih memandangi tubuhnya yang tegap, otot-otot dadanya bergerak naik turun seiring napasnya yang berat. Kulitnya terlihat mengilat, seolah memanggil jemariku untuk menyentuh. Rasanya tubuhku bergetar hanya dengan menatapnya. Ada sesuatu yang membuatku ingin memeluk, menciumi, bahkan menggigitnya pelan. Dia mendekat tanpa suara, aura panasnya menyapu seluruh tubuhku. Kedua tangannya menyentuh pahaku, lalu perlahan membuka kakiku. Aku menahan napas. Tubuhku sudah siap bahkan sebelum dia benar-benar menyentuhku. Saat wajahnya menunduk, bibirnya mendarat di perutku, lalu turun sedikit, menggodaku, lalu kembali naik dengan gerakan menyapu lembut. Dia sampai di dadaku. Salah satu tangannya mengusap lembut bagian kiriku, sementara bibirnya mengecup yang kanan. Ciumannya perlahan, hangat, dan basah. Dia tidak terburu-buru. Lidahnya menjilat putingku dengan lingkaran kecil, membuatku menggeliat. Aku memejamkan mata, bibirku terbuka, dan desahan pelan keluar begitu saja. Jemarinya mulai memijit lembut sisi payudaraku, lalu mencubit halus bagian paling sensitif itu. Aku mendesah lebih keras. "Aku suka ini," bisiknya, lalu menyedot putingku cukup keras sampai aku mengerang. Aku mencengkeram seprai, tubuhku menegang karena kenikmatan itu begitu dalam. Setiap tarikan dan jilatan dari mulutnya terasa seperti aliran listrik yang menyebar ke seluruh tubuhku. Dia berpindah ke sisi lain, memberikan perhatian yang sama. Putingku yang basah karena air liurnya terasa lebih sensitif, dan ketika ia meniup pelan sambil menatapku dari bawah, aku tak tahan lagi. Kakiku meremas sprei, tubuhku menegang, dan aku menggigit bibirku kuat-kuat. Aku ingin menarik kepalanya, menahannya di sana, memaksanya untuk terus melakukannya. "Jangan berhenti..." bisikku dengan napas yang nyaris tak teratur. Dia hanya tertawa pelan, lalu melanjutkan, makin dalam, makin kuat, dan makin membuatku lupa dunia.

Kesempatan Kedua dengan Sang Miliarder

Kesempatan Kedua dengan Sang Miliarder

Cris Pollalis
5.0

Raina terlibat dengan seorang tokoh besar ketika dia mabuk suatu malam. Dia membutuhkan bantuan Felix sementara pria itu tertarik pada kecantikan mudanya. Dengan demikian, apa yang seharusnya menjadi hubungan satu malam berkembang menjadi sesuatu yang serius. Semuanya baik-baik saja sampai Raina menemukan bahwa hati Felix adalah milik wanita lain. Ketika cinta pertama Felix kembali, pria itu berhenti pulang, meninggalkan Raina sendirian selama beberapa malam. Dia bertahan dengan itu sampai dia menerima cek dan catatan perpisahan suatu hari. Bertentangan dengan bagaimana Felix mengharapkan dia bereaksi, Raina memiliki senyum di wajahnya saat dia mengucapkan selamat tinggal padanya. "Hubungan kita menyenangkan selama berlangsung, Felix. Semoga kita tidak pernah bertemu lagi. Semoga hidupmu menyenangkan." Namun, seperti sudah ditakdirkan, mereka bertemu lagi. Kali ini, Raina memiliki pria lain di sisinya. Mata Felix terbakar cemburu. Dia berkata, "Bagaimana kamu bisa melanjutkan? Kukira kamu hanya mencintaiku!" "Kata kunci, kukira!" Rena mengibaskan rambut ke belakang dan membalas, "Ada banyak pria di dunia ini, Felix. Selain itu, kamulah yang meminta putus. Sekarang, jika kamu ingin berkencan denganku, kamu harus mengantri." Keesokan harinya, Raina menerima peringatan dana masuk dalam jumlah yang besar dan sebuah cincin berlian. Felix muncul lagi, berlutut dengan satu kaki, dan berkata, "Bolehkah aku memotong antrean, Raina? Aku masih menginginkanmu."

Membalas Penkhianatan Istriku

Membalas Penkhianatan Istriku

Juliana
5.0

"Ada apa?" tanya Thalib. "Sepertinya suamiku tahu kita selingkuh," jawab Jannah yang saat itu sudah berada di guyuran shower. "Ya bagus dong." "Bagus bagaimana? Dia tahu kita selingkuh!" "Artinya dia sudah tidak mempedulikanmu. Kalau dia tahu kita selingkuh, kenapa dia tidak memperjuangkanmu? Kenapa dia diam saja seolah-olah membiarkan istri yang dicintainya ini dimiliki oleh orang lain?" Jannah memijat kepalanya. Thalib pun mendekati perempuan itu, lalu menaikkan dagunya. Mereka berciuman di bawah guyuran shower. "Mas, kita harus mikirin masalah ini," ucap Jannah. "Tak usah khawatir. Apa yang kau inginkan selama ini akan aku beri. Apapun. Kau tak perlu memikirkan suamimu yang tidak berguna itu," kata Thalib sambil kembali memagut Jannah. Tangan kasarnya kembali meremas payudara Jannah dengan lembut. Jannah pun akhirnya terbuai birahi saat bibir Thalib mulai mengecupi leher. "Ohhh... jangan Mas ustadz...ahh...!" desah Jannah lirih. Terlambat, kaki Jannah telah dinaikkan, lalu batang besar berurat mulai menyeruak masuk lagi ke dalam liang surgawinya. Jannah tersentak lalu memeluk leher ustadz tersebut. Mereka pun berciuman sambil bergoyang di bawah guyuran shower. Sekali lagi desirah nafsu terlarang pun direngkuh dua insan ini lagi. Jannah sudah hilang pikiran, dia tak tahu lagi harus bagaimana dengan keadaan ini. Memang ada benarnya apa yang dikatakan ustadz Thalib. Kalau memang Arief mencintainya setidaknya akan memperjuangkan dirinya, bukan malah membiarkan. Arief sudah tidak mencintainya lagi. Kedua insan lain jenis ini kembali merengkuh letupan-letupan birahi, berpacu untuk bisa merengkuh tetesan-tetesan kenikmatan. Thalib memeluk erat istri orang ini dengan pinggulnya yang terus menusuk dengan kecepatan tinggi. Sungguh tidak ada yang bisa lebih memabukkan selain tubuh Jannah. Tubuh perempuan yang sudah dia idam-idamkan semenjak kuliah dulu.

Bab
Baca Sekarang
Unduh Buku