Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Dalam novel yang menggugah emosi berjudul "Gelora Hasrat sang Presdir" karya penulis VERARI, kita dibawa ke dalam kisah penuh intrik dan perubahan tak terduga. Kisah dimulai menjelang hari pernikahan Laura, saat ia hadir dalam sebuah pesta sebagai tanda perpisahan dari masa lajang diiringi oleh adik dan teman-teman wanitanya.
Keadaan menjadi genting saat Laura mabuk berat dan kehilangan kesadaran, hanya untuk kemudian tersadar di sebuah kamar hotel dengan seorang pria yang tak dikenal. Dalam keadaan panik, Laura memutuskan untuk meninggalkan kamar tersebut. Namun, setibanya di rumah, Laura dihadapkan pada konsekuensi dari tindakannya. Ayahnya telah mengetahui kejadian tersebut, dan rencana pernikahan Laura pun terancam batal, bahkan hingga diusir dari rumah.
Dengan pergolakan perasaan dan keputusasaan sebagai latar belakangnya, kini Laura harus menjawab pertanyaan sulit: bagaimana nasibnya setelah insiden tragis itu? Melalui teka-teki yang mencekam dan transformasi karakter yang mendalam, "Gelora Hasrat sang Presdir" menjanjikan pembaca sebuah cerita yang sarat dengan ketegangan dan penuh pertanyaan, sementara karya cemerlang VERARI membawa pengalaman membaca yang tak terlupakan.
Jika Anda menyukai novel roman cerita dewasa, saya merekomendasikan 6 buku mirip "Gelora Hasrat sang Presdir".

Menjelang hari pernikahannya, Laura menghadiri pesta pelepasan masa lajang bersama Adik dan teman-teman wanitanya. Laura mabuk berat dan tidak sadarkan diri. Ketika terbangun, Laura mendapati dirinya berada di sebuah kamar hotel bersama pria yang tidak dikenal. Laura bergegas meninggalkan tempat itu. Ketika Laura sampai di rumah, Ayah Laura ternyata telah mengetahui perbuatannya. Rencana pernikahan Laura dibatalkan, ia pun diusir dari rumah. Bagaimana nasib Laura setelah hari itu?

Perempuan (Laura): Laura, mendekati hari pernikahannya, hadir dalam sebuah pesta pelepasan lajang di mana ia mabuk berat dan kehilangan kesadaran. Ketika sadar kembali, ia terbangun di sebuah kamar hotel bersama seorang pria yang tak dikenal. Dihadapkan pada situasi yang membingungkan, Laura segera meninggalkan tempat tersebut. Saat tiba di rumah, ia harus menghadapi konsekuensi dari tindakannya yang diketahui oleh Ayahnya, menyebabkan pembatalan rencana pernikahannya dan akhirnya diusir dari rumah. Tantangan apa yang akan dihadapi Laura setelah peristiwa tragis tersebut?

Gelora Hasrat sang Presdir 1. Pesta Lajang
"Ngh ...."
Laura Hartley mengerang pelan ketika merasakan sentuhan basah di lehernya. Deru napas seorang pria menggelitik indra pendengarannya.
‘Siapa …?’ batin Laura seiring matanya terbuka untuk mencari tahu identitas sosok di sisinya. Namun, pandangannya buyar akibat efek alkohol yang mendera.
"Ah!"
Lenguhan keras terlontar dari bibir Laura, merasakan sesuatu milik sang pria mulai mendorong dari bawah.
"Tidak ... jangan …," rintih Laura, tahu bahwa hal ini tidak boleh terjadi.
Pria itu sempat menghentikan gerakan, seolah ragu. Namun, desakan gairah yang tak tertahankan menuntutnya untuk kembali beraksi.
"Hentikan ...." Laura mendorong dada pria itu. Akan tetapi, tenaganya terlalu lemah.
Penolakan Laura membuat pria itu mengunci kedua tangannya di atas kepala.
"Maaf ... aku tidak bisa menahannya lagi." Suara berat dan dalam pria itu begitu menggoda, membuat bulu kuduk Laura meremang.
"Ahh ...." Mata Laura membesar saat inti tubuhnya menerima serangan yang begitu menyakitkan.
Manik biru indah milik gadis itu berair. 'Tidak … tidak boleh seperti ini ….'
Bulir bening mengalir menuruni wajah Laura. Dia tidak tahu siapa pria di hadapan, apakah pria itu tunangannya? Akan tetapi, pertanyaan itu tidak bisa terjawab karena otak Laura langsung kosong kala pria itu mulai memacu gerakannya.
"Ah!" erangan penuh kenikmatan tak bisa Laura tahan untuk kabur dari bibirnya. "Tidak … tidak!"
Lenguhan saling beradu dalam ruangan tersebut, terus sampai akhirnya puncak kepuasan tercapai.
Saat itu juga, sentuhan lembut diberikan sang pria pada wajah Laura, mengusap air matanya yang luruh.
"Aku …," bisikan pria itu mulai terdengar, "... akan bertanggung jawab …."
***
"Hah ... hah!"
Laura terbangun dengan napas terengah. Dia mendudukkan diri dan mengusap dahinya yang berkeringat.
'Mimpi?' batin Laura bertanya.
Namun, saat Laura menyingkap selimut yang menutup tubuhnya, matanya seketika terbelalak. Dia tidak mengenakan apa pun!
'Di mana baju–'
Belum sempat ucapan batinnya selesai, mata Laura menangkap gaun merah muda selutut miliknya teronggok di lantai. Dalamannya pun tercecer di sana-sini!
Ketika dia sibuk memerhatikan pakaiannya yang berantakan, sebuah lenguhan dalam terdengar. "Ngh …."
Tubuh Laura langsung membeku. Itu jelas bukan suaranya.
👉👉📕Klik di sini untuk membaca bab populer lainnya📖

Gelora Hasrat sang Presdir 2. Jebakan
"Beraninya kau kembali ke rumah ini setelah semua yang terjadi! Dasar anak tidak tahu malu!" maki Simon.
Makian sang ayah membuat Laura membeku, kenapa sang ayah seperti ini?
Melihat wajah Laura yang kosong, telapak tangan Simon hendak melayang sekali lagi ke wajah putrinya. Namun, Nora, adik tiri Laura, segera mencegah dengan memegang lengan sang ayah.
"Papa! Apa yang Papa lakukan? Kenapa Papa mau memukul Kak Laura, Pa?!" seru Nora dengan wajah khawatir.
Simon menepiskan tangan sang putri. "Jangan ikut campur! Papa harus memberi pelajaran pada kakak sialanmu ini!"
Gilda, istri kedua Simon dan ibu kandung Nora, yang mendengar keributan itu ikut keluar.
Melihat adegan di depan mata, dia langsung membantu putrinya menahan sang suami. "Papa, sabar, Pa! Jangan begini!"
Sementara pasangan ibu dan anak itu berusaha menahan sang ayah, badan Laura gemetaran bukan main. Firasat buruk datang menghampiri. Apakah Simon tahu perbuatannya semalam?
"Diam! Kalian tidak tahu bagaimana aku harus menanggung malu saat Keluarga Smith membatalkan pernikahan karena kebejatan perempuan ini!" bentak Simon membuat semua orang terkejut.
Laura mengangkat kepalanya. "Apa…? Kenapa …?"
Mata Simon semakin berkilat marah karena Laura tak menyadari kesalahannya. Pria itu merogoh saku celana dan melempar sejumlah lembar foto tepat di wajah Laura.
"Lihat pakai matamu sendiri!"
Laura menangkap sebagian foto tersebut. Tangannya langsung gemetaran, bersamaan dengan air mata yang semakin deras mengalir.
Gambar dirinya sedang bersama seorang pria masuk ke kamar hotel terpampang di depan mata. Pria itu memunggungi kamera, sedangkan wajah Laura terlihat sangat jelas. Posisi tubuh mereka begitu intim sehingga tak perlu dipertanyakan lagi perihal apa yang akan terjadi begitu pintu kamar hotel itu tertutup!
"Kau masih mau bertanya alasannya dengan semua bukti ini?!" geram Simon. "Asal kau tahu, asisten Noah yang datang memberikan foto-foto ini dan menyatakan niatan Noah untuk membatalkan pernikahan kalian! Noah bahkan tidak sudi melihat wajahmu!"
Sontak, kaki Laura lemas hingga dia jatuh bersimpuh di depan Simon.
👉👉📕Klik di sini untuk membaca bab populer lainnya📖

Gelora Hasrat sang Presdir 3. Berita Mengejutkan
"Bisa-bisanya ayahmu berbuat seperti itu!"
Suara teriakan terdengar dari dalam sebuah kamar salah satu kediaman besar di pinggir kota.
Terlihat sosok Laura tengah duduk di sofa bersebelahan dengan sahabat baiknya, Emma Ruiz, putri dari Keluarga Ruiz.
Laura telah menceritakan semua yang terjadi kepada Emma. Alhasil, temannya itu sangat marah.
"Jelas-jelas Nora yang memaksamu pergi ke tempat itu, tapi kamu yang disalahkan sepenuhnya! Ayahmu kentara sekali pilih kasih!"
Laura diam sembari memeluk lututnya, tak sedikit pun menanggapi komentar Emma. Sebab, dia sudah tahu sang ayah dari dulu lebih menyayangi Nora dibandingkan dirinya.
Bertahun-tahun hidup bersama, ada beberapa hal yang selalu terjadi di kediaman Hartley.
Jika Laura menginginkan sesuatu, Nora pasti akan memintanya. Di saat itu, Simon pasti memaksa Laura untuk mengalah dan memberikan miliknya kepada Nora.
Jika Nora melakukan kesalahan, Laura-lah yang akan dihukum dengan alasan tidak memerhatikan dan menjaga adiknya.
Semua yang Laura miliki harus Nora dapatkan, dan semua yang Nora miliki … tidak boleh dimiliki oleh Laura. Hanya benda yang tidak Nora inginkan yang bisa menjadi milik Laura.
Karena hal-hal itu, Laura dan Nora memiliki penampilan dan sikap yang jauh berbeda. Laura sederhana dan pendiam, sedangkan Nora glamor dan keras kepala. Kalau diumpamakan, Laura terlihat seperti anak pelayan dan Nora adalah anak majikannya.
'Andai Mama masih hidup dan Papa tidak menikah lagi, apa perlakuan Papa kepadaku akan berbeda?'
Pertanyaan seperti itu seringkali melambung di benak Laura.
Callista, ibu kandung Laura dan istri pertama Simon, meninggal karena sakit keras saat Laura baru berusia tiga tahun. Walaupun samar, tapi Laura ingat bagaimana ibunya itu mewasiatkan dirinya untuk selalu menurut dan patuh kepada sang ayah. Itulah alasan Laura tak banyak menuntut kepada Simon.
Namun, saat ini!? Apa Laura bahkan tidak berhak menuntut keadilan!?
Memikirkan hal itu, Laura berakhir menjawab pertanyaannya sendiri, 'Percuma ….'
Ingin menyalahkan siapa pun juga sama saja. Nasi sudah menjadi bubur.
Kesucian Laura tak akan bisa kembali, sang ayah juga telah mengusirnya, bahkan calon suaminya sudah enggan bertemu dengannya.
Melihat kesedihan Laura yang mendalam, Emma merasa sangat prihatin. Dia memeluk Laura dan berkata, "Tidak peduli apa yang terjadi. Aku ada di sini, Lau."
Ucapan Emma membuat mata Laura sontak berair. Gadis itu pun mulai menangis sejadi-jadinya dalam pelukan teman baiknya itu.
2025-04-08

2025-04-08

2025-04-07

2025-04-07

2025-04-07

21933

10808

9018

7519

6913
