icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon

Kafan Hitam

Bab 3 2. Santri

Jumlah Kata:1080    |    Dirilis Pada: 06/04/2022

di mulai gelisah. Saat ini, mereka tengah duduk di sebuah pos ronda yang terletak tak jauh da

u lagi merangkak di kulit. Meski begitu, kopi yang terhidang belu

uar rumah sejak dia menemukan jasad Mba

ingin mencicipi kopi. Ia merasa segan untuk menyeruputnya di saat seperti ini,

ren ke desa?" tanya Pak Harun yang sejak tadi duduk di sudut pos

ya orang yang meninggal adalah Mbah Atim yang misterius seperti kemati

sore, pria itu sudah berselimut sarung. "Lalu siapa

Pria itu memandang langit-langit pos ronda yang dipenuhi sarang lab

Sebenarnya, ia hanya ditunjuk untuk menggantikan tugas sang bapak yang sakit. Kalau saja bisa me

kesedihan hampir berbulan-bulan, membuat hidupnya hambar hingga sekarang. Ia belum mau men

ihat istri dan anaknya tengah tersenyum dan melambaikan tangan. Berkali-kali pula Aep menggeleng hingga akh

tua yang kini jadi perbincangan seisi desa. Mbah Atim menatap dingin padanya. Aep dengan cepat me

, Aep?" tanya Pak Yayat s

, Ep." Pak Har

ya mendarat di pos ronda. Pria itu dengan cepat menggosok mata, berkali-k

e tengah jalan atuh?" Pak Yay

ketabrak mobil, E

dannya juga terasa pegal dan ingin muntah secara bersamaan. "Saya

p. Tak ada lagi yang berbicara setelah itu s

yang duduk di kursi depan, "kami s

um saat mendengar kata pesantren. Syukurlah Ustaz Rojali berhasil membawa bantu

mengikuti dari belakang. Jenazah Mbah Atim segera diturunkan dari ambulans saat tiba di

ntri lantas membawa

Rojali memberanikan diri bertanya, "

awab santri yang me

gak jauh dengan masjid. Entah mengapa ia merasa ada kejanggalan da

ingat perkataan Aep tadi. Ia jadi ragu, apakah ia harus menceritakan kalau ia juga melihat bayangan Mbah

*

tetap di rumah, mengunci pintu rapat-rapat. Biasanya, selepas waktu magrib, anak-anak akan ramai mengaji bersama Rojali d

ra ayam di bawah kolong rumah, nyanyian serangga yang bertengger di dahan pohon, pekik kodok sawah y

pos ronda karena kendaraan itu tiba-tiba mogok. Helaan napasnya terdengar berat sei

n. Beberapa kali ia menggosok tangan, lalu menempelkanny

tan tinggi. Menyadari hal itu, Rojali tiba-tiba berdiri. Mobil polisi dan ambulans itu pasti baru saja mengantar jenazah Mb

li hidup. Sebelum ia melahap jalanan desa, ia sempat menoleh ke arah dua mobil tadi pergi. Syukurlah ia tak terlambat. M

apati keheningan seperti saat pertengahan malam. Cimenyan ikut menyuguhkan pemandangan serupa. Tak ada aktivitas

belakang bangunan, peralatan pemandian jenazah masih di tempat semula. Bersamaan dengan moto

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
Kafan Hitam
Kafan Hitam
“Desa Ciboeh digegerkan dengan penemuan jasad Mbah Atim dalam kondisi tanpa kepala. Setelah kematian penjaga makam tersebut, kejadian-kejadian di luar nalar mulai menghantui kehidupan warga desa. Rojali, pemuda 26 tahun lulusan pesantren di kabupaten, berusaha menyibak tabir misteri di balik kematian Mbah Atim. Namun, semakin jauh melangkah, semakin dekat pula pemuda itu dengan fakta dan realita yang tersembunyi di balik peristiwa hilangnya salah satu warga lima tahun lalu, kelompok misterius bernama Kalong Hideung, juga pada jalan takdirnya sendiri. "Silaing butuh bantuan kaula (kamu butuh bantuan saya)?"”