icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon
Api Dendam di Masa Lalu

Api Dendam di Masa Lalu

Penulis: Ivy Lane
icon

Bab 1 

Jumlah Kata:1266    |    Dirilis Pada: 16/12/2025

lebih memilih menyelamatkan selingkuhannya, junior kerjaku. Saat aku membuka mata

si penumpang, melihat Arifin, suamiku, memeluk L

pembunuhan berencana yang kejam

i jauh lebih membakar darip

hati hancur da

engapa takdir member

diri di hadapanku, dengan senyum polos yang sama seperti saat pertama kali kami bertemu. Tapi k

a

nia

tuk mencintaimu, Arifin," kataku, suaraku s

n panas. Aku merasakan hawa pana

Api menjilat-jilat kursi, melahap dasbor yan

ku, arsitek brilian yang kucintai, baru saja

ja juniorku yang

letak lemas di pelukan Arifin. Arifin memeluknya erat, men

sampai mati, kini meninggalkanku begitu saja

tidak ada lagi rasa panik. Hanya ketenangan

mang ingin ak

ada api yang menjilat-jilat kakiku. Lebih menyakitkan da

. Pengkhianatan y

lamatkan aku!" teri

rus memeluk Liana, tatapannya ter

. Warna merah, oranye, dan

kulit dan rambutku. Bau bensin d

debar kencang, lalu melamba

kami berkelebat. Malam-malam tanpa tidur s

uo arsitek muda. Janji yang terucap di depan altar, disaksik

terasa seperti

tik. Du

menunggu ledakan ya

elopak mataku. Rasa dingin yang aneh merambat

il. Aku berdiri di sampingnya, melihat diriku

utku acak-acakan. Mataku

pi melambung tinggi, melahap ha

, Arifin masih memeluk Liana. Waj

rnah diberikannya padaku da

melayang, transpara

kemb

kat pada kalung giok itu. J

k menyelesaikan

Berpisah

tidurku yang lembut. I

tertata rapi. Maket rumah impian kami, yang dulu kubu

hargaan kami berje

cermin. Bayanganku muncul

i rasa sakit. Tidak ada lagi kesedi

ke balkon, me

Bunga mawar yang dulu selalu kuberikan p

yang sama saat dia memeluk Liana

inju. Rasa marah

i ini. Hari-hariku

yang diwariskan turun-temurun di keluargaku, yang kono

nya. Dingin.

ulis. Menulis

ang kerja. Dia sedang berbicara dengan ses

ja. Firma kita akan m

mengerutkan ke

topnya, ada foto Liana. Lia

an firma arsitektur baru.

sekadar perselingkuhan. Ini pe

sai harta warisan," suara Arifin menggema di

an. Begi

mbumbung tinggi. Aku tida

rumah impian kami jatuh dari sudut rua

perhatian Arifin. Dia me

mamnya, menatap m

ingin. Aku ingin dia merasakan se

. Aku tahu itu. Tapi aku

mendekat, melihat ke sekeli

uara. Aku bukan Natania ya

Piagam-piagam penghargaan yang dulu kami

ulemparkan

rifin berteriak, s

awab. Aku teru

erpisahan ya

nggalkan surat cera

ia menemukannya. Wa

gumamnya, membaca

keliling, mencari

epannya, menatap

" kataku, suaraku hany

Ini pasti ulahmu lagi

usi

ar. Aku bukan halusinas

a. Aku memindahkan barang-barangnya,

aku tidak akan membi

a sebagai lelucon, atau tan

ada hari

an Liana di sebuah acara

lu pernah kubeli, yang Arifin

a, tak terlihat. Mendengar b

Liana dengan erat, tepa

ri di sana, seperti han

Menunggu mom

a penghargaan, di ata

ngnya, menatapnya de

membelalak ketakutan. "

melihatku. Waj

mamnya, suara

anya menatapnya, dengan tatapan yan

eamanan! Keamanan

menangkapku. Tapi merek

dalah

iakku, suaraku bergema di seluruh rua

a menyembuny

an. "Baik! Aku akan tandatangan

ai yang kutaruh di sakunya, dan memb

annya. Kin

dih membanjiri diriku.

khir kalinya. Matanya masih d

ampai jumpa di kehidupa

aku

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
Api Dendam di Masa Lalu
Api Dendam di Masa Lalu
“Aku ditinggalkan untuk mati di dalam mobil yang terbakar oleh suamiku sendiri. Dia lebih memilih menyelamatkan selingkuhannya, junior kerjaku. Saat aku membuka mata lagi, aku kembali ke masa lalu, dengan semua ingatan tentang pengkhianatan mereka. Di kehidupan sebelumnya, aku terperangkap di kursi penumpang, melihat Arifin, suamiku, memeluk Liana dengan senyum puas saat mobil kami meledak. Ini bukan kecelakaan. Ini adalah pembunuhan berencana yang kejam demi menguasai harta warisanku. Rasa sakit karena dikhianati jauh lebih membakar daripada api yang melahap tubuhku. Aku mati dengan hati hancur dan penuh dendam. Aku tidak mengerti mengapa takdir memberiku kesempatan kedua. Saat aku membuka mata, aku kembali ke masa kuliah, jauh sebelum tragedi itu terjadi. Arifin berdiri di hadapanku, dengan senyum polos yang sama seperti saat pertama kali kami bertemu. Tapi kali ini, aku melihat kebusukan di baliknya. Aku akan membuat mereka membayar semua penderitaanku.”
1 Bab 12 Bab 23 Bab 34 Bab 45 Bab 56 Bab 67 Bab 78 Bab 89 Bab 910 Bab 1011 Bab 1112 Bab 1213 Bab 1314 Bab 1415 Bab 1516 Bab 1617 Bab 1718 Bab 1819 Bab 1920 Bab 20