icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon

Api Dendam di Masa Lalu

Bab 2 

Jumlah Kata:520    |    Dirilis Pada: 16/12/2025

fin

t dingin membanjiri seluruh tubuhku. Jantungku be

dengan wajah pucat dan tatapan koso

ndekat, memelukku erat. Tan

jauh, menatapnya den

t Natania," gumamk

terlalu stres, sayang. Itu cuma

itu menusuk

i tanganku. Tanda tangank

ela. Pemandangan kota yang ra

. Aku tahu apa

? Mengapa Nat

ara ketukan p

seorang polisi berdiri di amba

ening. "Ya, saya

ania Soerjosoemarno," kata polisi itu, men

? Jantungku be

n di mobil sebelum ledakan," lanjut

di mobil? Suasana

matanya membe

ngan Liana berge

nsel itu, lalu

kaman suara?" tany

menemukan bukt

kitarku seo

jahnya kini dipenuhi

" Liana berteriak, men

. Dia mengunci ponsel itu,

Tambunan, An

uhnya lemas. Ia m

ri terpaku, tid

Antara, Anda j

perti godam. Aku merasa selur

suara. N

a ini kubangun, semua renca

is tersedu-sedu, wajahnya kotor ol

at cantik. Dia hanya

adalah seor

pergi. Aku tidak melaw

sitektur baru. Semua it

, melihat rumah yang du

enjara. Penjara yang dibangun da

merasakan dinginnya borgo

dulu kuanggap milikku,

obil polisi yang lain. Matany

yang mendorongku m

menyalahkan orang lain. A

eninggalka

ang, menghantamku

ahnya. Wajahnya yang puc

kembali. Kembali u

Dia berhasil men

asakan dinginnya air mat

l. Aku sang

ku bisa mem

bisa kembali

menyilaukan mataku. Aku merasa

kege

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
Api Dendam di Masa Lalu
Api Dendam di Masa Lalu
“Aku ditinggalkan untuk mati di dalam mobil yang terbakar oleh suamiku sendiri. Dia lebih memilih menyelamatkan selingkuhannya, junior kerjaku. Saat aku membuka mata lagi, aku kembali ke masa lalu, dengan semua ingatan tentang pengkhianatan mereka. Di kehidupan sebelumnya, aku terperangkap di kursi penumpang, melihat Arifin, suamiku, memeluk Liana dengan senyum puas saat mobil kami meledak. Ini bukan kecelakaan. Ini adalah pembunuhan berencana yang kejam demi menguasai harta warisanku. Rasa sakit karena dikhianati jauh lebih membakar daripada api yang melahap tubuhku. Aku mati dengan hati hancur dan penuh dendam. Aku tidak mengerti mengapa takdir memberiku kesempatan kedua. Saat aku membuka mata, aku kembali ke masa kuliah, jauh sebelum tragedi itu terjadi. Arifin berdiri di hadapanku, dengan senyum polos yang sama seperti saat pertama kali kami bertemu. Tapi kali ini, aku melihat kebusukan di baliknya. Aku akan membuat mereka membayar semua penderitaanku.”
1 Bab 12 Bab 23 Bab 34 Bab 45 Bab 56 Bab 67 Bab 78 Bab 89 Bab 910 Bab 1011 Bab 1112 Bab 1213 Bab 1314 Bab 1415 Bab 1516 Bab 1617 Bab 1718 Bab 1819 Bab 1920 Bab 20