icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon
Cinta Terlarang, Murka Sang Wali

Cinta Terlarang, Murka Sang Wali

Penulis: Calv Momose
icon

Bab 1 

Jumlah Kata:1086    |    Dirilis Pada: 30/10/2025

Bima Wijaya. Setelah keluargaku hancur, dia membawak

belas, aku mengumpulkan semua keberan

lihat sebelumnya. Dia menyapu kue ulang tahunku ke l

kisan yang telah kukerjakan selama

mudian, dia membawa pu

bintangnya yang paling terang, telah lenyap. Satu dekade cintaku

ndungiku telah menjadi ora

nesia di tanganku. Aku harus pergi. Aku harus menc

on dan meneka

"Aku sudah memutuskan. Aku ingi

a

Bima Wijaya dimulai dengan Anya men

candid yang diam

ah majalah finansial tergeletak di pangkuannya. Dia menatap Anya

elapan hingga delapan belas tahun, pria

kesedihannya, seluruh dunian

memadamkan matahari itu

u menjad

bersih, tidak men

eletakkan ponselnya dan mengambil segelas

gin itu meluncur ke tenggorokannya, tetapi ti

i dan menekan nomor yang su

rsambung. Suara lembut

ny

sedikit serak. "Aku sudah d

raan yang tak terselubung. "Itu luar biasa! Anya, selam

ya

emutuskan? Kamu aka

cengkeramannya pada telepon menge

i tempat ini. Dia ingin mela

aranya. Dia menghela napas pelan. "Apakah i

terus tinggal di rumahnya sebagai anak perwaliannya, tidak sekarang. Rasanya tidak

yang bera

telepon. "Anya-ku yang malang. Pasti berat bagimu selama ini, tinggal di rumah itu

kembali normal. Kamu tidak perlu bergantung

katanya membuat

menahan air m

a menatap dirinya di cermin

puluh tahun penuh mencintai seorang pria

arus

ari hatinya, sepotong demi sepot

jalan keluar dari kamarnya. Lampu di

asih b

n mendekat, mencengkeram surat pene

ngah terbuka. Melalui celah itu

embut pada profilnya yang tajam, menggarisbawahi wajah yang begitu tampan hingga tampak tidak nyata. Sepasang kacamata ber

rganya hancur. Ketika orang tuanya bercerai dan ibunya meninggalkan negara itu, ayahnya, di titik

anpa hubun

-diam dia cintai s

a pelan, suaranya

a sedikit berkerut saa

ingin dan se

berbicara ketika teleponnya di meja berd

hat ID penelepon. Kelembutan yang belum pe

a, suaranya ren

annya, Cla

entang biayanya." Dia mendengarkan orang di seberang sana, sudut mulutnya melengkun

pintu, tangan dan kaki

tangannya terasa seb

a bulan yang lalu. Dia telah mengumpulkan semua keberaniannya untuk memb

is muda mengikuti punggung seo

ah penga

arahan yang belum pern

diah dari meja, kue

tanya merah karena marah. "Ka

ta tidak punya hubungan darah! Ayahku mempercayaimu! Dan caramu selalu mem

. "Tidak bisakah kamu membedakan antara kasih sayang ke

n merobek lukisannya, "Rah

belakang, meninggalkannya sendirian di

, dengan hati-hati menempelkannya kembali. Tapi

itu, dia bel

kup baik, selama dia masuk ke al

ulusannya, dia membawa

engan senyuman. "Anya,

ulah di

ar-benar sud

membara selama sepuluh tahun terak

menjadi orang yang

geluarkannya

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
Cinta Terlarang, Murka Sang Wali
Cinta Terlarang, Murka Sang Wali
“Selama sepuluh tahun, aku diam-diam mencintai waliku, Bima Wijaya. Setelah keluargaku hancur, dia membawaku masuk dan membesarkanku. Dia adalah seluruh duniaku. Pada hari ulang tahunku yang kedelapan belas, aku mengumpulkan semua keberanianku untuk menyatakan cintaku padanya. Tapi reaksinya adalah kemarahan yang belum pernah kulihat sebelumnya. Dia menyapu kue ulang tahunku ke lantai dan meraung, "Kamu sudah gila? Aku ini WALImu!" Dia kemudian tanpa ampun merobek lukisan yang telah kukerjakan selama setahun-pengakuanku-menjadi serpihan. Hanya beberapa hari kemudian, dia membawa pulang tunangannya, Clara. Pria yang telah berjanji untuk menungguku dewasa, yang memanggilku bintangnya yang paling terang, telah lenyap. Satu dekade cintaku yang putus asa dan membara hanya berhasil membakar diriku sendiri. Orang yang seharusnya melindungiku telah menjadi orang yang paling menyakitiku. Aku menatap surat penerimaan dari Universitas Indonesia di tanganku. Aku harus pergi. Aku harus mencabutnya dari hatiku, tidak peduli betapa sakitnya. Kuambil telepon dan menekan nomor ayahku. "Ayah," kataku, suaraku serak, "Aku sudah memutuskan. Aku ingin ikut dengan Ayah di Jakarta."”
1 Bab 12 Bab 23 Bab 34 Bab 45 Bab 56 Bab 67 Bab 78 Bab 89 Bab 910 Bab 1011 Bab 1112 Bab 1213 Bab 1314 Bab 1415 Bab 1516 Bab 1617 Bab 1718 Bab 1819 Bab 1920 Bab 2021 Bab 2122 Bab 2223 Bab 2324 Bab 2425 Bab 2526 Bab 2627 Bab 2728 Bab 2829 Bab 2930 Bab 30