“Di hari ulang tahunku yang kedua puluh dua, aku menggenggam masa depanku di tanganku: sebuah beasiswa bergengsi ke ITB, yang kubayar dengan seluruh tabungan hidupku. Tapi kedua kakakku memutuskan bahwa masa depan itu adalah milik adik angkat kami, Vanya. Mereka mengambil setiap sen yang kumiliki untuk membayar operasi plastik "darurat" untuknya. Saat aku memprotes, mereka menyebutku egois dan kejam. "Kalau kau tidak bisa berbelas kasih," cibir Danu, kakakku, "lebih baik kau pergi dari sini." Mereka lebih memilih air mata buaya seorang pembohong daripada mimpi adik kandung mereka sendiri. Beberapa hari kemudian, saat mereka sedang menikmati liburan mewah ke Bali yang selalu mereka janjikan padaku, aku melihat foto-fotonya. Vanya, berseri-seri tanpa bekas luka, tersenyum di antara kedua kakakku yang memujanya. Masa depanku telah ditukar dengan operasi hidung dan liburan ke pantai. Saat itulah telepon datang. Sebuah proyek penelitian medis rahasia selama lima belas tahun. Tanpa kontak dengan dunia luar. Hukuman seumur hidup bagi sebagian orang, tapi bagiku, itu adalah tali penyelamat. Aku mengemasi satu tas, meninggalkan bukti kebohongan Vanya di atas meja agar kakak-kakakku bisa menemukannya, dan pergi untuk selamanya.”