icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon

Dilamar Mantan Depan Suami

Bab 2 02 Dasar orang kampung

Jumlah Kata:1471    |    Dirilis Pada: 04/03/2024

!" jawa

anan dan permintaan mertua dan a

inuman untuk keduanya,

elajar di meja makan, masuk ke kamar. Dan dia

pun telah selesai disajikan. Nisa pun beran

iapkan! Apa Ibu ingin mak

kah sama kamu! Kerja aja lelet begitu!" Bukannya mengh

si meja makan. Tanpa basa-basi untuk mengajak menantunya makan bers

perhatikan keduanya, yang sama

yak, biar nggak nambah kalori dan bikin kolestero

an itulah yang digunakan Nisa,

u di dengar bukan dilupakan, dasar orang kampun

udah menjadi resep bagi Nisa

nyaknya!" jawaban yang sama dari Nisa unt

erikan uang Arman untuk ongkos kami pulang satu jut

elanja untuk sepuluh hari, dan jumlahnya juga tidak seberap

gkin kamu hanya dikasih uang belanja sepuluh hari sekali!

uluh hari, dan hari ini adalah hari kedelapan, jadi sisa uang belanj

kami uang 'kan? Awas saja, kamu akan aku adukan pada Arman, biar j

ya katakan adalah benar!" Nisa merasa pe

lang saja!" ucap bu

n pernah kamu memfitnah kakakku untuk menutupi kebohonganmu itu!" ucap

Mas Arman jika kamu nggak percaya!" ja

semua hinaan, yang selalu ia

Padahal hati kamu itu bus

cuma! Nanti kamu bisa ikut-ikutan bodoh!" Bu Susy menarik tanga

i masuk ke kamarnya dan menunaikan k

, Nisa pun mengambilnya. Betapa kagetnya Nisa, saat melih

elingkuh?" Nisa bicara sendiri sambil m

tersebut di tempat semula, menung

dan menghampiri ka

memanggil, dilihatnya putranya sedang menghap

sopan, sambil beranjak

nya dilanjutkan lagi!" ujar Nisa sam

apar, hehe!" jawab Ahmad sambil berjal

Beruntung, Ahmad anak yang tidak ce

kok suka bentak-bentak ya Bun?" tanya A

masalah dan masih dalam masa penyembuhan, jadi kalau bicara

sakit ya Bun?" tanya

yang, cuma tinggal pemul

mad nggak mau lih

u, membuat miris hati Nisa. Anaknya yang b

lagi ya! Belajar yang rajin? Jangan lupa kalau mau tid

sambil memasukkan suapa

angsung meninggalkan meja makan, dan

semula. Nisa membuat segelas kopi kesukaannya. Nisa duduk di

anya agar ia bisa menghasilkan uang, tiba-tiba

enalnya. Namun karena penasaran, Nisa pun

ualaikum!" Terdengar su

ang kaku. Ia seakan tak percaya jika saat ini,

" Kembali suara

..!" jawab

lian, Nis?" tanya p

mbut, dari laki-laki yang perna

aik!" Nisa menjaw

ngan kamu dan anak kita?" tanya

enyebut nama dari laki-laki yang

jawab Indra d

nak kita!" Indra sangat bahagia bisa berbicara langsun

dari Indra, Nisa ta

ra kembali memanggil "Hallo Nisa

up sambil memikirkan per

i! Dan aku mohon Nisa, sebutkan alamatmu dan aku

takan apapun, Nisa pun men

u akan segera menemui

a saat, panggil

k menyangka, jika ayah kandung dari a

tragis. Dimana ia dipaksa cerai, sehari setelah ijab

a-tiba suara handphonenya terdengar, Arman bergegas mene

elah panggilan terputus, Arman pun langsung b

ndengar suara mobil suaminya bergegas menyusul keluar dan tern

elihat jika tas kerja suamin

an tas suaminya di ruang kerj

ualaikum

nyebut nama tamu, yang ternyata

a menjawab pelan sala

Indra masih berdiri di de

!" jawab

is?" tanya Indra tersenyum

sa sambil melepaskan tanga

suk, Nis?" pinta

berdiri di pintu "Maaf, suamiku gak ada di r

bisa bicara sebentar, Nis!" un

, yang tak nampak perubahan be

ir seperti harapan orangtuamu? Jadi biarkan aku dan anakku me

embuktikan cintaku padamu!" ungkap Indra mencoba

percuma, demi menjadi anak yang

mbuang kesempatan itu, aku ha

istri orang lain, beg

menikahlah denganku!"

gilir, yang bisa kalian perebutkan saat merasa mampu,

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
Dilamar Mantan Depan Suami
Dilamar Mantan Depan Suami
“"Aku hanya membelikan ahmad tempat pensil, Mas!" Nisa berusaha menjelaskan alasannya. "Alah ... memangnya nggak bisa apa pakai kantong plastik?" tanya Arman tajam. "Ingat Nisa! Jika ada uang lebih dari belanja, lebih baik kamu tabung! Agar saat kamu perlu sesuatu bisa kamu gunakan, nggak semata mata mengemis pada suami, paham!" "Iya Mas!" Nisa hanya menarik napas pelan. Lagi-lagi Nisa harus menahan kesal dengan segala perintah dan aturan yang diberikan. "Oh ya Nisa, jika nanti Ibu atau Bella datang, jangan lupa kamu layani dengan baik?" ujar Arman. "Aku nggak mau mereka ngadu tentang kamu, yang tak menghormati Ibuku!" ucap Arman lagi tanpa beban. "Ya Mas, tapi selama ini aku itu, sudah berusaha untuk selalu menghormati Ibumu, dan menuruti setiap perkataannya, lho! Aku juga selalu berlaku baik pada Adikmu kok!" jawab Nisa. "Kalau suami ngomong itu didengar Nisa bukan dibantah! Buktikan dong, jika kamu itu istri yang baik di mata keluargaku." Arman pun lantas berlalu begitu saja dengan raut wajah masam. "Iya Mas," jawab Nisa dengan suara lembut. "Bunda..Ahmad lapar!" Seorang anak laki laki berusia enam tahun berjalan menghampiri Nisa. "Ma'afin Bunda ya sayang, Bunda sampai lupa anak tampan Bunda belum makan siang! Ikut Bunda ke dapur yuk!" Nisa pun berjalan ke dapur sambil menggiring putranya. Saat sampai di dapur, kata yang tak pantas kembali terdengar keluar dari mulut suaminya. "Anak kecil itu nggak perlu makan makanan yang enak-enak, masa' sebagai Ibu, kamu nggak paham! Di usia mereka, hanya perlu gizi dan protein untuk pertumbuhannya, jadi biasakan saja anakmu itu makan sama tahu atau tempe." Setelah berkata, Arman pun berlalu masuk ke kamar. "Ya Allah! Ampuni hamba jika terlalu sering mengeluh dan mengadu! Hamba mohon, lunakkanlah hati suami hamba, dan buatlah ia menerima anak hamba, seperti janjinya saat ingin menikahi hamba dulu!" hanya do'a yang terucap dalam hati Nisa sambil menyiapkan nasi putranya. Ikuti kisahnya, dan mohon dukungannya dengan komentar yang membangun 🙏”
1 Bab 1 01 Istri yang baik di mata Ibu2 Bab 2 02 Dasar orang kampung 3 Bab 3 03 Nisa adalah istriku4 Bab 4 04 Aku gak punya selingkuhan5 Bab 5 Ceraikan aku Mas6 Bab 6 06 Siapa dia Mas7 Bab 7 Istri saya hamil8 Bab 8 Maksudnya apa, Mas9 Bab 9 Mama gak sudi punya cucu10 Bab 10 Perempuan itu gak cantik11 Bab 11 Kamu gila, ya 12 Bab 12 Nisa, mau kemana 13 Bab 13 Bunda kenapa, Yah 14 Bab 14 Wanita itu akan tersingkir15 Bab 15 Ijinkan aku pergi16 Bab 16 Dia memang menantu Mama17 Bab 17 Kamu pikir, aku bodoh18 Bab 18 Kamu bukan lagi istriku 19 Bab 19 Memang sepantasnya jadi gembel20 Bab 20 Dasar laki-laki 21 Bab 21 Aku udah ditalak22 Bab 22 Nggak mau menikah lagi23 Bab 23 Tak semudah itu24 Bab 24 Aku mencintanya25 Bab 25 Terimakasih26 Bab 26 Lebih brengsek siapa27 Bab 27 Siapa situ28 Bab 28 Saya juga suaminya29 Bab 29 Sudah tak tertolong30 Bab 30 Ijinkan aku menebus kesalahanku31 Bab 31 Jangan meminta aku untuk pergi32 Bab 32 Nama saya Indra33 Bab 33 Aku akan terus ganggu kamu34 Bab 34 Saya maunya Mas Indra35 Bab 35 Kira-kira siapa, 36 Bab 36 Jadi begini kelakuan kamu37 Bab 37 Tinggal di rumah Indra38 Bab 38 Aku belum siap39 Bab 39 Ayah Ahmad ada dua40 Bab 40 Maaf aku gak bisa41 Bab 41 Kau akan jadi milikku42 Bab 42 Malam panas di hotel43 Bab 43 Ma'afin Bunda44 Bab 44 Semua karena Indra45 Bab 45 Dia masih virgin46 Bab 46 Jangan mau kalah47 Bab 47 Apa aku harus hamil48 Bab 48 Pergi ke pengadilan agama49 Bab 49 Aku ingin mengakhiri pernikahan ini50 Bab 50 Aku kebagian jatah51 Bab 51 Kata-katamu gak pantas