icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon

Anak Milik CEO

Bab 3 Berhadapan dengan sang Devil

Jumlah Kata:1345    |    Dirilis Pada: 15/06/2023

ak untuk Regan. Aku segera duduk di s

lis huruf A, ya. Regan pinter sekal

s," ucap Regan dengan cadelnya, itu membuatku tak i

unda lapar, t

nda. Egan mau makan," uc

ngkat tubuh mungil Regan dan mendudukkannya di kursi meja

tanyanya menatap ma

annya Egan," ucapku mengambilka

mah tante Ilen, Egan nggak

makanan kepadanya. "Makan ya

Regan selama aku bekerja. Setelah keluargaku membuangku, keluarga lain merangkulku. Ya, Ironis memang. Lima tahun sudah berlalu, tetapi aku masi

makan juga?" Suara

senyum

Mau tambah lagi?" tanyaku padany

uk Regan. Regan kembali memakannya, tetapi

Bunda!" b

n berkata lagi, "Bunda halus makan yang banyak, bial Bun

emberiku seorang malaikat kecil yang mampu menguatkan hatiku. Kumohon jangan pisahkan kam

s? Apa makanannya ti

enak. Bunda hanya terharu saja

ngis ya!" Regan menghapus air mata di pipi

an Regan. Aku harus menjadi seorang w

*

mengerjakan beberapa lapora

a sudah berdiri d

re ini," ucapku masih sibu

juga menikah. Kemarin gue ketemu dengan sekretarisnya dan dia bilang semua itu. B

mbuatku muak un

gi yang bisa lo ceritakan selain bos kes

uat pindah haluan, 'kan?" ucapnya membuatku meng

? Telingaku berasa mau pecah mendengarkanmu yang terus mengoceh mengenai bo

kekeh k

anjutan hubungan lo sama dia. Lo kangen dia karena dia ada pekerjaan di

ih, Lo?,

ng, cieee!" ejeknya membuat

ru saja aku print-out dan mem

n Pak Wildan dulu," ucapku sambil bergegas meninggalk

ada izin dan segera menyerahkan dokume

saat dia memerik

rsebut. Tentu saja karena aku selalu berusaha beker

ngsung ke ruangan Pak Dave, ya!" perintah

ak?" gumamk

a langsung. Apa ada masalah?" t

tak ingin Pak Wildan me

n ini ke ruangan Pak Davero," ucapku

ika aku hendak beranjak pergi.

k-baik saja," ucapk

ntuk menuju ruangannya kemudian meremas-

a untuk melakukannya. Itu yang kuucapkan pad

i

mewah. Aku berjalan menyusuri karpet itu hingga bertemu dengan ruangan cukup l

mengangguk sebagai jawaban. "Masuklah, dia suda

nginkan pria

awan rendahan sepertiku memasuki area bos besar seperti ini. Sekarang, di sinilah aku. Terlihat berbagai piala dan penghargaan yang diraih oleh perusahaan ini di ruangan yang baru pertama k

Pak," ucapku seraya menyodorka

" jaw

misi." Aku mundur henda

ta, t

tajam ke arahku. Tatapan itu selalu membuatku membeku dan melemahkan. Dia meraih dokumen y

erlihat semakin tampan dan jauh lebih dewasa, apalagi ditambah bulu-bulu halus yang memenuhi rahangnya. Bulu matanya tetap lent

ya sambil mel

enatapnya d

baik di sini. Pantas saja manajermu itu selalu memba

kasih,"

Lima tahun sudah berla

undur beberapa langkah dan terus berjalan mundur hingga pantatku menabrak kepala sofa di belakang. Dia mengungkun

nku masih banyak," ucapku sambil berusaha ber

ai pipiku, lalu jempolnya m

ucapnya masih teru

i aku langsung mendorong tu

l

Davero yang terhormat!" pekikk

tanganku dan menarikku hingga tu

ma ini aku mencarimu, hingga seluruh kota Semarang k

cukupkah luka yang selama ini

menatapku dengan kebingungan, tetapi biar sajalah. Aku mempercepat langkah menuju memasuki lift. Tubuhku bergetar h

adinya di sana. Aku mengingat bagaimana dia menciumk

ya! Aku sanga

an untuk tetap berpijak dan tetap melangkah di h

*

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
Anak Milik CEO
Anak Milik CEO
“~Saat melihatnya kembali maka saat itu pula aku tak akan pernah melepaskannya lagi~ Seorang wanita tengah berjalan menuju lift di sebuah gedung pencakar langit. Beberapa berkas berada di dalam pelukannya. Ia menekan tombol lift dan menundukkan kepalanya sambil mengentak pelan high heels hitam yang dipakainya. Ting! Setelah menunggu cukup lama, akhirnya pintu lift terbuka lebar dan ia segera memasukinya tanpa pikir panjang. Ia menekan tombol angka sesuai lantai yang hendak ia tuju. Namun, seketika pandangannya tertuju pada seseorang. Suasana di dalam lift itu langsung terasa begitu mencengkam, seperti ada aura gelap dan menakutkan menyelimuti lift. Tentu itu bukanlah karena kehadiran hantu, tetapi makhluk yang lebih menakutkan. Wanita itu langsung menoleh ke belakangnya untuk memastikan apakah pandangannya keliru dan tatapannya beradu dengan mata abu gelap yang begitu tajam milik seseorang yang pernah ia kenal. Orang itu menyeringai kecil dengan tatapan lapar menelusuri seluruh tubuhnya, membuat sang wanita merasa sangat gugup dan ketakutan. "Se-selamat siang, Pak Davero," gumamnya dengan gugup. "Siang," jawabnya dengan suara serak. Pria tinggi nan tampan itu melangkahkan kakinya mendekati sang wanita, membuat sang wanita terperangah dan mundur perlahan. Pria yang dipanggil Davero itu tak menghentikan gerakannya. Ia terus melangkah memojokkan sang wanita hingga menyentuh dinding lift di belakangnya, ia terlihat ketakutan karena sang pria semakin merapat. "Lama tak bertemu," ucap Davero diiringi seringaian yang membuat bulu kuduk berdiri. Sang wanita tak bisa berkutik sedikit pun. Apalagi sebelah tangan pria itu menyentuh dinding tepat di samping kepala wanita cantik itu. "A-apa yang kau inginkan dariku?" tanya sang wanita dengan suara lemah, nyaris berbisik setelah mengumpulkan segenap keberaniannya. "Kau!" Seketika tubuh wanita itu menegang dan merinding karena mendengar bisikan penuh ancaman dan penekanan yang tak terbantahkan. Tanpa sadar wanita itu menahan napasnya karena rasa takut. "You're Mine!"”