/0/21152/coverorgin.jpg?v=86ee881b396773f7dc78621d24c81df4&imageMogr2/format/webp)
Raya terbangun dengan perasaan aneh yang menjalar di sekujur tubuhnya. Kepalanya berdenyut, berat seperti baru saja dihantam oleh gelombang kenangan yang bukan miliknya. Saat matanya terbuka, ia disambut dengan langit-langit kamar yang asing. Warna merah marun mendominasi ruangan, dengan hiasan kristal menggantung di sudut-sudutnya. Jelas, ini bukan kamar kos sederhana yang biasa ia tempati.
Panik mulai merayap. Ia meraba-raba tubuhnya, namun yang ia temukan adalah tubuh yang terasa berbeda. Lebih kecil, lebih rapuh. Wajahnya tersentuh, dan kulitnya terasa halus seperti porselen. Di meja rias, ia melihat bayangan seorang gadis dengan rambut hitam panjang yang menjuntai lembut, wajahnya tirus, namun tatapan mata itu... dingin. Itu bukan dirinya.
"Selina?" suara asing memanggil dari balik pintu.
Raya terkesiap. Ia bahkan belum sempat memahami apa yang terjadi, tapi tubuhnya secara refleks bangkit. Saat ia membuka pintu, seorang pelayan dengan seragam hitam-hitam berdiri dengan kepala tertunduk.
"Nona, sarapan sudah disiapkan di ruang makan. Ayah dan Ibu menunggu Anda," ucapnya sopan.
Raya menelan ludah. Otaknya berputar cepat, mencoba mengingat apa yang terjadi sebelum ini. Ia ingat membaca sebuah novel tadi malam, novel yang ia benci setengah mati. Dalam cerita itu, tokoh antagonis bernama Selina adalah orang yang paling dibenci. Selina selalu menyiksa saudara angkatnya, Sierra, dengan berbagai cara. Namun, semuanya berubah ketika fakta bahwa Selina adalah anak yang tertukar terungkap. Selina akhirnya dibuang oleh keluarganya, hidup miskin, dan dihancurkan oleh tokoh utama pria yang ia cintai.
Dan sekarang... dia ada di dalam tubuh Selina?
***
Ruang makan itu lebih menyerupai aula istana. Meja panjang yang penuh dengan hidangan mewah membuat Raya semakin gugup. Di ujung meja, seorang pria paruh baya dengan wajah keras menatapnya dengan dingin. Itu pasti ayah Selina, Darius Adrian, pria yang di novel digambarkan sebagai sosok otoriter tanpa belas kasih.
"Selina, kau terlambat," ucapnya singkat, suaranya mengandung nada ancaman.
Raya menunduk, merasa jantungnya berdetak dua kali lebih cepat. Ia mencoba mengingat bagaimana karakter Selina biasa bertindak. Jika sesuai dengan cerita, Selina adalah gadis arogan yang selalu melawan aturan. Tapi Raya tidak punya keberanian untuk berperan seperti itu.
"Maaf, Ayah," jawabnya pelan, membuat seluruh ruangan hening.
/0/22413/coverorgin.jpg?v=00549ec948e0cfada35cc5e5a2f14436&imageMogr2/format/webp)
/0/10177/coverorgin.jpg?v=e90b3dadb454117c2ce37347c9487463&imageMogr2/format/webp)
/0/14859/coverorgin.jpg?v=37d288ddeea71a43a1bcacb32d34fef6&imageMogr2/format/webp)
/0/19052/coverorgin.jpg?v=20d20ac0c20bddc983ba0a595dacb305&imageMogr2/format/webp)
/0/4318/coverorgin.jpg?v=a16a7f280a121aa972c6f257b844ac5a&imageMogr2/format/webp)
/0/16258/coverorgin.jpg?v=7d03e8c868292722ba2e6392be6dbf8a&imageMogr2/format/webp)
/0/19315/coverorgin.jpg?v=1dbd347670cb3efe93492a8db385e9c5&imageMogr2/format/webp)
/0/21439/coverorgin.jpg?v=34fe76f7c3b6c89a5af84a8e8cda66af&imageMogr2/format/webp)
/0/16064/coverorgin.jpg?v=4e9d8eb5b180ddd8b9edfd662ecef4f9&imageMogr2/format/webp)
/0/6492/coverorgin.jpg?v=4cc7c7dc9bd4738c9b4f30b0849b2100&imageMogr2/format/webp)
/0/23632/coverorgin.jpg?v=3fb3baaf4ff0ba49123aa2f609ec1354&imageMogr2/format/webp)
/0/27378/coverorgin.jpg?v=1a1a84f9f9876692cd0f9e93745463c7&imageMogr2/format/webp)
/0/4406/coverorgin.jpg?v=58c06b9e512d4cbaa7ff6f716c071fa7&imageMogr2/format/webp)
/0/18416/coverorgin.jpg?v=d0f75179b592122a3b9ae1b844a4c2d0&imageMogr2/format/webp)
/0/21862/coverorgin.jpg?v=a88c5225604ec327987d04c83aae65b5&imageMogr2/format/webp)
/0/3570/coverorgin.jpg?v=d5742184555360c3885488556c45dfc7&imageMogr2/format/webp)
/0/8828/coverorgin.jpg?v=9f0cb9a48303b3fe771a93609807e46a&imageMogr2/format/webp)
/0/6523/coverorgin.jpg?v=8e0004fc35f893d47a86f931aafe544d&imageMogr2/format/webp)