/0/27674/coverorgin.jpg?v=81ab1c0773e46226f8541a8af4ac8005&imageMogr2/format/webp)
"Ada apa, Rey?" tanya Devan pada sekertaris pribadinya yang bernama Reyhan. Saat Reyhan menghentikan mobilnya secara mendadak.
Devan Adiwiya Tama baru saja bertemu dengan klien, ia naik mobil hitam dan disopiri oleh sekertaris pribadinya. Mereka lewat jalanan yang sangat sepi. Tiba-tiba dari persimpangan jalan sepi itu, datang seorang gadis yang berlari tanpa memperhatikan jalan.
Suara rem dan benturan terdengar secara bersamaan. Karena tepat saat itu, tubuh gadis itu terserempet mobil yang Reyhan kendarai. Gadis itu tak lain adalah Sania Pertiwi.
Karena duduknya di bagian belakang. Jadi, Devan tidak melihat apa yang terjadi di depan sana.
"Maaf Tuan, ada yang lewat tiba-tiba," jelas Reyhan, yang langsung mematikan kendaraan yang dikemudikannya.
"Terus kamu tabrak?" tanya Devan dengan mata melebar.
"Saya tidak sengaja, Tuan!" kilah Reyhan membela diri.
"Astaga, Rey! Cepat keluar dan lihat!"
Reyhan mengangguk dan segera keluar dari dalam mobil.
"Bisa-bisanya dia menabrak orang. Matanya itu dimana? Apa di dengkul. Seharusnya dia itu waspada saat berkendara. Ini malah orang lewat ditabrak."
Devan menggerutu sendiri di dalam mobil. Tubuhnya sangat lelah, dia ingin segera pulang dan istirahat. Tapi apa, di perjalanan malah menabrak orang.
"Nona, Anda tidak apa-apa?" tanya Reyhan yang sudah berada di sisi Sania.
Wanita itu menunduk sambil meringis merasakan nyeri. Bagian sikunya berdarah tak hanya itu, kakinya juga sakit.
"Aku tidak apa-apa," ucap Sania pelan.
"Apa Anda bisa berdiri?" tanya Reyhan.
"Mm," wanita itu mengangguk. Lantas mencoba untuk bangkit. Namun, belum juga bisa berdiri dengan sempurna.
Tiba-tiba ....
"Itu dia!" seru seseorang dari arah datangnya Sania tadi. Kedatangan orang-orang itu, seketika saja membuat Sania panik.
Reyhan menoleh ke arah sumber suara. Tiga pria berpakaian hitam sedang berjalan ke arah mereka. Jika dilihat dari pakaiannya. Mereka seperti bodyguard.
"Tuan, tolong aku! Mereka orang-orang jahat. Mereka mau menculik ku."
Sania mendekati Reyhan dan meminta perlindungan. Wajahnya terlihat ketakutan, Reyhan bisa melihatnya dengan jelas.
"Hei! Serahkan wanita itu pada kami!" seru salah satu dari ketiga orang itu dengan nada garang.
Reyhan menatap ketiga orang itu dengan wajah datar. Terkesan tidak peduli dan acuh.
"Siapa kalian? Kenapa aku harus menyerahkan wanita ini pada kalian?" tanya Reyhan dengan dingin.
"Siapa kami, itu bukan urusan kalian. Wanita itu sumber uang kami. Jadi, serahkan wanita itu kepada kami. Sekarang juga!"
Lelaki itu bicara dengan nada arogan, menyuruh Reyhan untuk menyerahkan Sania kepada mereka. Namun, Reyhan tidak mengindahkannya sama sekali.
"Rey! Ada apa lagi? Kenapa kau lama sekali? Dan itu ... siapa mereka?"
Tiba-tiba Devan keluar dan bertanya pada Reyhan. Lelaki itu sudah berdiri dengan berkacak pinggang di pinggir mobil. Karena merasa kesal menunggu Reyhan yang tak kunjung kembali. Ditambah ada beberapa pria tak dikenal menghampiri.
Tak hanya itu, Devan juga melihat wanita yang bersembunyi di belakang Reyhan, sedang ketakutan. Wajahnya terlihat pucat pasi. Pakaiannya terlihat lusuh.
"Mereka sepertinya penculik gadis untuk rumah mucikari, Tuan."
"Apa?"
Mendengar penjelasan Reyhan, Devan terlihat terkejut. Mulutnya sampai terbuka lebar tanpa sadar. Saking terkejutnya. Sementara ketiga orang yang menginginkan Sania, nampak saling lirik dengan temannya.
"Jadi, wanita itu lari dari mereka bertiga?" tanya Devan.
"Iya, Tuan. Mereka ingin menjual saya," sela Sania dengan suara terbata.
Devan sangat geram mendengar jawaban Sania. Lelaki itu lantas menatap garang ke arah ketiga laki-laki yang mengejar Sania.
"Kalian bertiga, cepat pergi dari sini. Jika tidak, aku akan menghubungi polisi. Untuk membekuk kalian bertiga!" ancam Devan dengan tegas.
Mendengar kata polisi, ketiganya terlihat gusar. Tak ingin berurusan dengan hukum, akhirnya mereka bertiga memilih pergi dari sana. Sania merasa lega melihat kepergian ketiga orang itu.
"Terimakasih atas bantuannya, Tuan," ucap Sania dengan tulus.
"Sama-sama, Nona."
Sania tersenyum sekilas, setelah itu tiba-tiba Sania merasa pandangan matanya buram. Kepalanya juga terasa pening. Dan setelah itu semua terasa gelap. Sania limbung, Reyhan segera menangkap tubuhnya.
"Tuan, dia pingsan. Ini bagaimana?" seru Reyhan.
"Ck, menyusahkan orang saja. Bawa dia ke mobil," titah Devan.
***
Pertemuannya yang tak sengaja dengan Sania, Devan gunakan untuk menjerat Sania dalam sebuah perjanjian dan memanfaatkan Sania untuk kepentingannya.
Sementara Sania yang tak tahu harus kemana. Pekerjaan pun tak punya, terpaksa menerima perjanjian yang Devan tawarkan.
Pernikahan, sesuatu yang sakral dilakukan oleh pasangan. Harus Sania perankan bersama dengan Devan. Laki-laki yang menolongnya dari kejaran para penculik, yang ingin menculiknya.
Singkat cerita, Sania dan Devan pun menikah. Setelah acara janji suci pernikahan selesai. Devan menyuruh Reyhan untuk mengantarkan Sania ke sebuah hotel lebih dulu. Sementara Devan sedang ada sedikit urusan.
"Nona, gunakanlah pakaian dinas yang sudah disediakan untuk menyenangkan Tuan Devan malam ini," ucap Reyhan. Mereka kini sudah sampai di hotel. Reyhan mengantarkan Sania sampai di unit kamar yang sudah di reservasi.
"Pakaian dinas?" ulang Sania dengan heran.
/0/16630/coverorgin.jpg?v=af4949d7071372674c01b7daf4fa5b8a&imageMogr2/format/webp)
/0/14844/coverorgin.jpg?v=b49be0aeb166fecb6592de297e32c6a6&imageMogr2/format/webp)
/0/3566/coverorgin.jpg?v=20250122112958&imageMogr2/format/webp)
/0/30656/coverorgin.jpg?v=50b49b3db607a2457893308935337fa5&imageMogr2/format/webp)
/0/14035/coverorgin.jpg?v=6df71ef5961f8965f39eac320dc8ffbd&imageMogr2/format/webp)
/0/4968/coverorgin.jpg?v=cb76e5b35230efd9aa46694c99914157&imageMogr2/format/webp)
/0/3576/coverorgin.jpg?v=79bd0c4fd1e86ba1bc67090a59109612&imageMogr2/format/webp)
/0/3936/coverorgin.jpg?v=e3236347ae04f00ccb2874ec63d5379e&imageMogr2/format/webp)
/0/4018/coverorgin.jpg?v=75ebe4a84c4bd048562a22b8412670d3&imageMogr2/format/webp)
/0/3577/coverorgin.jpg?v=9a10b40436f7abf9f3b857b8ccdd06e1&imageMogr2/format/webp)
/0/18318/coverorgin.jpg?v=61ea63f2eead9255a5b8aea2dcc3793e&imageMogr2/format/webp)
/0/5575/coverorgin.jpg?v=fc1b12f1b88558f4d5c99de4fc26d905&imageMogr2/format/webp)
/0/5134/coverorgin.jpg?v=e4a5e42f64bc6c2ddd68a5a988c91550&imageMogr2/format/webp)
/0/7407/coverorgin.jpg?v=811d87897bffc09e9a8d754c592829bc&imageMogr2/format/webp)
/0/12071/coverorgin.jpg?v=ea52ecc16eceed74de503a6d06454ddc&imageMogr2/format/webp)
/0/12866/coverorgin.jpg?v=fdaf1540e18d535e1b557aba64423218&imageMogr2/format/webp)
/0/2958/coverorgin.jpg?v=20250120143218&imageMogr2/format/webp)
/0/20183/coverorgin.jpg?v=20241030112355&imageMogr2/format/webp)