Namaku adalah NUR JANNAH Orang biasa memanggilku dengan sebutan NUR. Aku adalah orang yang pemalu, aku tinggal bersama kakak sepupuku karna aku bekerja di tempat dia tinggal.
Kakakku sudah menikah dan memiliki nama FIA dan suaminya yang bernama ANDRE. Aku memutuskan tinggal bersamanya sebenarnya bukan hanya karna bekerja,Tapi juga kabur karna ayahku yang sangat galak itu memaksaku buat menikah.
Aku belum mau menikah karna selain belum siap aku juga sangat takut. Kata kakak sepupuku menikah itu sakit saat malam pertamanya. Lagi pula aku juga belum laku.
Ayah mengancamku, kalau sampai aku dalam waktu 1 bulan ini tidak mendapatkan calon suami, maka aku akan beliau jodohkan dengan anaknya pak lurah yang gemuk, tinggi, hitam, giginya kuning dan menakutkan.
Aku kabur ke tempat kakakku fia karenanya. Aku benci anaknya pak lurah bukan karna dia jelek. Aku tipe wanita yang menyukai pria setia dan sabar.
Sedangkan dia selain jelek juga suka bergonta ganti wanita menggunakan uangnya.
Sedangkan yang kedua aku tidak suka pria yang BREWOK. Mereka menggelikan menurutku, aku lebih suka cowok yang bersih dan cool, dan di situlah masalahnya.... Calon saja belum punya!! Eh.. sok pilih pilih.
Hadeh........
"Nur..... Lihatlah! Dia menghubungiku lagi" teriak Tia sahabatku yang membuat telingaku sakit.
"Sudahlah Tia... Kau ini sudah punya kekasih, masih saja main chat dengan pria tidak jelas di luaran sana" gumamku kesal.
"Cuma chatting kan boleh, Yang penting tidak kecantol, hatiku tetap buat mas Irwan" ucapnya tersenyum.
Ya....
Dialah Tia...
Sahabatku yang sering main kerumah kakakku karna dia ngekost persis di sebelah rumah kak Fia.
Kami berdua sangat bertolak belakang.
Aku selalu bersih dalam mengerjakan setiap kebersihan rumah, karna mitosnya gadis yang belum menikah dan menyapunya tidak bersih maka suaminya akan Brewokan.
Sedangkan Tia, dia selalu menyapu sesukanya bahkan tidak bersih sama sekali. Kalau di ingatkan dia selalu membantah dengan alasan agar dapat suami Brewokan.
Dan ya....
Doanya terkabul dia mendapatkan kekasih yang brewokan hanya bagian kumisnya saja. Aku sering mentertawakannya dan mengejeknya. Tapi tetap saja aku yang kalah pada akhirnya kalau dia sampai bilang kata tidak laku padaku.
"Nur, Kok melamun sih?" tanyanya kesal.
"Eh tidak, Ya sudah lanjutkan saja percakapanmu dengan kekasih gelapmu itu, Aku hanya berharap semoga hubunganmu dan Irwan akan baik baik saja" ucapku datar.
"Tapi ada masalah Nur" ucapnya cemas.
"Kenapa?" tanyaku bingung.
"Dia adalah orang arab yang akan menetap di indonesia Nur! keluarganya sangat kaya dan dia adalah pewaris satu satunya. Semua sanak saudaranya memang tinggal di sana. Tapi dia memilih tinggal di sini dan hidup bahagia dengan mengurus cabang perusahaannya di indonesia sambil menjaga ibunya yang sedang sakit" ucap Tia pelan.
"Bagus dong! Kamu bisa berhubungan dengannya dan melihat wajahnya secara langsung" ucapku santai.
"Bodoh!! Aku sangat mencintai Irwan, Aku tidak akan meninggalkan dirinya demi pria yang ku kenal di luar sana meskipun dia kaya, aku sudah jatuh hati pada Irwanku Nur" ucapnya gelisah.
"Kalau begitu lupakan saja pria arabmu itu gadis manis" ucapku asal.
"Tidak semudah itu Nur, Kau ini!! Dia kesini selain ingin merawat ibunya, dia juga akan menemuiku kemudian melamarku" ucap Tia dengan keras.
"Apa!!! Dasar bodoh!! Makanya jangan genit jadi perempuan!! Kena batunya kan!! Sekarang temui dia dan jelaskan saja bahwa kau tidak mencintainya, Kau hanya main main saja" ucapku tidak sabar.
"Sudah aku bilang, Tidak semudah itu Nur jannah yang manis.... Dia orang kaya, Aku takut dia membawaku ke jalur hukum karna aku sudah membohonginya" ucap Tia frustasi.
/0/5728/coverorgin.jpg?v=7c3f423fc746ddf9cf76bab4e0153b63&imageMogr2/format/webp)
/0/2640/coverorgin.jpg?v=cd404ed8e307d022c965a36eb2d49305&imageMogr2/format/webp)
/0/16479/coverorgin.jpg?v=e86f6f23c39a5a1c962fd010f0c5691f&imageMogr2/format/webp)
/0/4254/coverorgin.jpg?v=d84a0741127769f3d57e79c54cb9eefb&imageMogr2/format/webp)
/0/15388/coverorgin.jpg?v=9c2ad21592d8cc357ac5c2525b6fe228&imageMogr2/format/webp)
/0/22871/coverorgin.jpg?v=c37d9dd9e105b32e822f05021ca2a2eb&imageMogr2/format/webp)
/0/21396/coverorgin.jpg?v=b7b56794c8896bd2c9b639080b3e9ef3&imageMogr2/format/webp)
/0/6192/coverorgin.jpg?v=cd1bd1ac74c80758e3c79bebbca0fb57&imageMogr2/format/webp)
/0/15630/coverorgin.jpg?v=20240328170445&imageMogr2/format/webp)
/0/17226/coverorgin.jpg?v=00e9516ea5eebaf16dc6f43b23a3a591&imageMogr2/format/webp)
/0/21426/coverorgin.jpg?v=20250117155241&imageMogr2/format/webp)
/0/19442/coverorgin.jpg?v=514b8f74f4a80f5752760ff512d8e672&imageMogr2/format/webp)
/0/2940/coverorgin.jpg?v=f401f6aae5ee1f6a413640130ec253ab&imageMogr2/format/webp)
/0/16588/coverorgin.jpg?v=b49f6384e2c8026888e74b42e5cef07b&imageMogr2/format/webp)
/0/15797/coverorgin.jpg?v=7dcd592a4c31e78245e955aed7a3b62a&imageMogr2/format/webp)
/0/21145/coverorgin.jpg?v=f92d27052d064519ff54ec8995292583&imageMogr2/format/webp)
/0/2887/coverorgin.jpg?v=7cfdcabc08475e5c5950f11a48b37091&imageMogr2/format/webp)