/0/18224/coverorgin.jpg?v=6407d22bed06b7597b674955c72f4946&imageMogr2/format/webp)
"Sebentar lagi aku akan tahu, apa yang sebenarnya Mas Reza sembunyikan dariku selama ini. Ya Allah semoga dugaan burukku nggak benar."
Dengan rasa penasaran, Nazwa terus menatapi mobil suaminya yang dia iringi dengan taksi pesanannya. Jantungnya berdegup kencang sejak tadi. Di tengah kegelisahannya dia masih berusaha berpikir positif tentang kecurigaannya terhadap suaminya.
"Apa pun itu semoga aku siap menerimanya Ya Allah." Nazwa meremas jemarinya. Pikiran buruk terus berkelabat di kepala. Namun, dia juga berusaha terus menepisnya. Sayang, sepertinya pikiran buruknya yang benar karena dia melihat mobil suaminya justru memasuki pelataran hotel mewah.
"Kok Mas Reza ke hotel? Bukannya tadi izin ke rumah sakit. Ya Allah Mas Reza udah bohong sama aku." Pikiran buruk Nazwa menjadi.
Nazwa meminta si supir berhenti agak jauh di seberang jalan hotel. Lalu dia turun seorang diri, dan membuntuti suaminya dengan berjalan kaki. Wanita berpakaian syar'i itu terus mengiringi langkah suaminya yang memasuki hotel dari kejauhan.
Dan dia terkejut tatkala melihat seorang perempuan yang tidak asing tiba-tiba muncul, menyambut kedatangan suaminya dengan memeluk pria itu. Suaminya balas memeluk wanita itu dan menciumi keningnya.
Nazwa seketika terhuyung. Kakinya mendadak lemas hingga rasanya tak kuat menopang tubuhnya berdiri. Dadanya mendadak nyilu seakan ditikam ribuan sembilu. Namun, dia masih berusaha untuk bisa berdiri. Kakinya begitu berat melangkah, mengiringi dua sejoli itu diam-diam.
Ya Allah ini terlalu menyakitkan untuk menjadi nyata. Nazwa berharap ini mimpi, tapi ini nyata.
Walau sakit, Nazwa masih diam memperhatikan kemesraan itu sampai dua sejoli itu berhenti di depan kamar. Perempuan itu tengah membuka pintu, sedangkan tangan Reza terus merangkul pundaknya yang terekspos sambil menciumi kepalanya berkali-kali.
"Astagfirullahal'adzim, Mas!" Nazwa sudah tidak tahan lagi melihatnya. Tanpa sadar dia berteriak parau. Air mata sontak meleleh di pipi. Kedua pasangan yang sibuk bermesraan itu sontak menoleh dengan raut wajah terkejut luar biasa.
Reza melotot tak percaya. "Nazwa! Nazwa kenapa kamu bisa ada--"
"Ternyata kamu selingkuh sama dia?!" Nazwa menunjuk perempuan tidak asing itu yang kini terlihat panik. "Aku bener-bener nggak nyangka!" Nazwa menggeleng. "Aku kecewa sama kamu!" Nazwa lalu berbalik badan dan berlari menyusuri lorong hotel secepat yang dia bisa.
Reza lantas mengejarnya dan mengabaikan perempuan itu. "Nazwa, tunggu aku! Aku bisa jelasin!"
Reza tidak menyangka, Nazwa bisa mendapatinya bersama perempuan lain seperti ini. Situasinya benar-benar tidak tepat. Pikiran buruk mulai menyerang kepala. Reza sungguh tidak ingin Nazwa terluka.
Mereka berlarian sampai ke pelataran hotel. Di tengah pelataran, Reza berhasil memegang tangan Nazwa yang langsung ditepis oleh si empunya.
"Jangan sentuh aku!" Mereka berdiri berhadap-hadapan. Nazwa menatap tajam suaminya yang memasang tampang merasa bersalah.
/0/15510/coverorgin.jpg?v=dc3cc79b18515863a006a3df9c4993fa&imageMogr2/format/webp)
/0/28878/coverorgin.jpg?v=a969b1e9dc17b555b7e5fd97c40029a3&imageMogr2/format/webp)