/0/21154/coverorgin.jpg?v=c2835f25ab9d458a0e17f5115dd93e12&imageMogr2/format/webp)
Semenjak mamanya menikah lagi, Safa benar- benar marah sekali.
mamanya benar- benar tidak memedulikannya. Bahkan biaya sekolahnya pun, Safa harus mencari sendiri.
Kini mamanya Safa sibuk dengan suaminya baru itu hingga lupa dan tidak memperhatikan Safa dengan baik.
Bahkan Safa harus rela lebih keras dalam bekerja untuk bisa membiayai sekolahnya sendiri.
Dia hanyalah seorang penulis novel online di platform asia. Namanya belum terkenal namun dari menulis itu ia bisa membiayai sekolahnya sendiri juga membeli apapun yang ia inginkan dengan uang hasil kerja payahnya sendiri.
"Kenapa sikap mama seperti itu? Aku sungguh tidak mengira jika mama akan secepat itu berpaling dari papa," gumam Safa seraya memandangi naskah novelnya yang sudah 3 jam lamanya masih berjumlah beberapa kata itu.
Pikiran Safa sungguh berkecamuk saat ini, ia bingung dengan pikirannya sendiri.
Kini menulis novel begitu sulit sekali untuk menembus kontrak, jika hanya menulis dan mendapatkan bagi hasil, itu terlalu lama untuk Safa bisa menghasilkan uang.
Sedangkan minggu depan ia harus membayar uang iuran bulanan untuk bisa mengikuti ujian. Tidak mungkin Safa meminta mamanya.
Pasalnya mamanya sudah sesumbar jika ia tidak akan membiayai Safa selagi dia tidak bisa bersikap baik dan mengakui ayah tirinya.
Safa tidak bisa menerima secepat itu, tanah makam ayahnya masih basah, bagaimana bisa mamanya bersikap seperti itu. Bukankah itu terlihat keterlaluan.
"Bagaimana caranya bisa mendapatkan banyak uang? Kenapa semua platform menetapkan kebijakan yang sama sulitnya? Apa aku harus kerja part time?" gumam Safa yang kini dibuat hampir gila karena memikirkan bagaimana cara menghasilkan banyak uang demi bisa ikut ujian minggu depan.
Safa membuang napas gusar, memaksa dirinya untuk menulis demi mendapatkan sepeser uang dari hasilnya menulis demi bisa mengikuti ujian minggu depan.
***
Malam harinya, sekitar pukul 7 malam, Safa baru menyelesaikan tulisannya. Ya selama itu ia untuk bisa menyelesaikan satu bab.
Tapi yang sangat diacungi jempol adalah pilihan Safa ketika ia bosan menulis, yakni membaca buku bukan melakukan hal yang membuang waktu sia-sia.
Safa mengusap perutnya, terasa amat sangat lapar, pasalnya sejak pulang sekolah tadi, Safa langsung menulis hingga malam tiba ini dan belum makan apapun sejak siang tadi.
Dengan malas Safa beranjak dari kursinya, meregangkan otot-ototnya sebelum ia keluar dari kamar.
Safa memicingkan mata kebenciannya kala ia melihat mamanya sedang makan bersama dengan suami barunya.
"Lihatlah, dia jatuh cinta hingga lupa putrinya," dumel Safa seraya berjalan mendekati mereka di meja makan.
"Safa, ayo makan sayang," ajak Hunter begitu melihat Safa keluar dari kamarnya.
Leni menoleh, terlihat datar dan malas dalam kunyahannya kala melihat putri pembangkangnya keluar dari persembunyiannya.
Safa langsung duduk, sedikit berjarak dua kursi dari ayah tiri serta mamanya.
Leni yang melihat sikap Safa kurang sopan sontak langsung meletakkan sendok dan garpunya, menatap putrinya, "Bisa tolong jaga sikapmu? Bersikap baiklah. Jangan menunjukkan kebencianmu tepat di depan orangnya. Hargai dia, kelak dan selamanya, dia akan menjadi ayahmu." Safa hanya diam dan asyik dengan makanannya. Mengunyah dengan nikmat seraya mengamati ponselnya.
Leni membuang napasnya masih berusaha sabar kala ia diabaikan oleh Safa.
"Berhenti menulis, kerjalah hal lain. Itu hanya membuang waktu, dari bulan lalu sampai sekarang, mana gajimu? Kamu benar- benar menulis atau sedang bermain-main? Jangan bilang jika menulis novel hanya kedokmu untuk bermalas-malasan di dalam kamar demi bisa menonton film kesukaanmu," tuduh Leni membuat Safa mengangkat kepalanya dengan tatapan datar menatap mamanya dengan amat sangat malas.
Kunyahan Safa memelan, terlihat amat sangat malas.
"Kedok untuk bermalas-malasan? Selama Safa kelas 3 mama pernah enggak keluar biaya untuk sekolahku?" Leni langsung melengos dengan kesal.
/0/24057/coverorgin.jpg?v=fd1094b94f91e88087ae939108913a37&imageMogr2/format/webp)
/0/10520/coverorgin.jpg?v=351e0d746eebfce4f0322aa2615ab58c&imageMogr2/format/webp)
/0/3086/coverorgin.jpg?v=019d01edec20e4bcbd4d48df4b67cb0a&imageMogr2/format/webp)
/0/6796/coverorgin.jpg?v=77ceec9053e5593ed76133f01eef5393&imageMogr2/format/webp)
/0/6529/coverorgin.jpg?v=cddeb0bc243bcef36794eb78d95cc4dd&imageMogr2/format/webp)
/0/9959/coverorgin.jpg?v=e7a636a98918d8fe2356929a5f97b700&imageMogr2/format/webp)
/0/2668/coverorgin.jpg?v=c1701687d0f3dbf427f89dd7bb50d76f&imageMogr2/format/webp)
/0/22929/coverorgin.jpg?v=7210deed904b68c803a92f2cf55e913f&imageMogr2/format/webp)
/0/5325/coverorgin.jpg?v=a9836def2a9e7aa6ec6273032028da59&imageMogr2/format/webp)
/0/2923/coverorgin.jpg?v=68d2838c3ce6df5b17da8ebe41d681e7&imageMogr2/format/webp)