/0/13690/coverorgin.jpg?v=34d407bff7def1b62c3b6d9da1a2d824&imageMogr2/format/webp)
Jari-jemari panjang milik seorang laki-laki berkaos putih tersebut mengetuk-ngetuk meja. Bibirnya bergumam rendah mengikuti iringan musik yang terputar pada ponsel. Retina itu beberapa kali memejam, menikmati merdunya lagu yang tengah menggema di kamar tamu.
Tidak ada yang tahu, tetapi inilah kebiasaan sosok Kenzo Bratadikara. Menyendiri di ruang sepi—kamar tanpa penerangan—dengan hanya berteman satu judul lagu kepunyaan boyband negeri ginseng. Tak ada cahaya di tempat ini, kecuali lampu belajar. Itupun terkadang redup sendiri.
Kenzo mendesah pelan. Ketukan pintu di luar sana membuatnya beranjak dari duduk. Lekas membuka, didapatinya perempuan berpakaian santai tengah membawa secarik kertas. Laki-laki tersebut mengambilnya.
"Lagu bertema depresi yang kuketik hampir dua jam. Aku sudah memberikannya padamu. Tawarkan pada agensimu dan jika suka, aku ingin segera ditransfer," ujarnya.
Ia Cashew Alesha, perempuan yang mendadak dijodohkan dengan Kenzo karena janji orang tua mereka untuk menikahkan anak-anaknya ketika sudah dewasa. Hubungan itu tak berjalan baik, Kenzo dan Alesha masih pisah ranjang juga jarang saling sapa.
Perempuan itu berbalik badan hendak pergi, tetapi lengan Kenzo menahannya. "Aku akan memberi ini pada Mr. Zeon sekarang."
"Terserahmu, aku tidak peduli. Kunci pintunya dari luar dan pastikan tak ada jendela yang terbuka. Aku ingin istirahat tanpa gangguan," katanya.
Kenzo melenggang keluar sebelum Alesha. Jika saja ia orang jahat, maka kapan pun laki-laki tersebut bisa membawa pulang perempuan lain sekedar untuk memenuhi hasratnya. Mau bagaimanapun, Kenzo itu normal yang butuh diperhatikan oleh lawan jenis.
Tancap gas melewati jalan raya. Seolah lupa bahwa ia kini berstatus sebagai suami yang meninggalkan tanggung jawab kala mati malam ini, Kenzo menambah kecepatan mesin. Ia tak benar-benar ke rumah CEO perusahaan Entertainment yang menaunginya.
Kendaraan beroda empat itu berhenti di kawasan yang selama ini tak pernah Kenzo injak. Club, area pelampiasan emosi teman-temannya kala mereka frustasi menghadapi haters atau tekanan dari agensi. Kini, Kenzo pun berniat ikut bergaul di dalamnya.
Kedatangan laki-laki itu disambut heboh oleh keempat orang di pojok ruangan. Ia bahkan dituntun untuk duduk pada tengah-tengah sofa dengan dua orang mengapitnya.
Kenzo tak berekspresi lebih. Laki-laki itu hanya menurut kemudian melepas cekalan sahabat-sahabatnya. Ia memilih mengeluarkan ponsel. Berpura-pura menyibukkan diri.
"Ada masalah apa ke sini?" tanya Yondan.
Kenzo geleng kepala. "Di rumah sepi, aku tak bisa tidur."
"Hanya itu?" Young Jae, laki-laki kelahiran negara Korea itu tertawa kecil. "Let's party tonight, Bro!!!"
Seruan tersebut membuat mereka berempat mengangkat gelas masing-masing. Sementara Kenzo yang masih kaku, diberi sodoran satu mug berisi cairan bening oleh Niko. Tatapan penuh yakin dadi mereka yang perlahan meskipun ragu menjadikan Kenzo tak bisa menolak.
"Coba sekali saja, Kenzo. Lupakan beban kita sejenak. Besok pagi, bergelutlah dengan pekerjaan dan tugas kampus lagi. Kita perlu bersenang-senang," bisik Reon.
Mengangguk, Kenzo mulai menyicipi minuman pahit tersebut. Tegukan pertama, ia hampir memuntahkannya karena tak tahan dengan rasa aneh itu. Namun, Niko menahan pergerakan ia. Menyuruh Kenzo untuk tutup hidung lalu meminumnya dengan segera.
Berhasil dengan satu gelas kecil, Kenzo diberi tepukan tangan ramai-ramai. Kini, tak ada lagi di antara mereka yang bersih akan alkohol. Kenzo pun tak bisa lama-lama menjadi laki-laki baik.
Bagi member lain, mungkin sudah biasa. Akan tetapi, rangsangan di tubuh Kenzo berbeda. Laki-laki itu menelengkan kepala beberapa kali karena mendadak pusing. Orang-orang di sekeliling Kenzo menatapnya dengan kernyitan dahi.
"Kenzo, ada masalah?" tanya Young Jae.
Masih dengan menggerakkan kepalanya berharap pening ini hilang, Kenzo mencengkeram erat lengan laki-laki yang baru saja memberinya pertanyaan. Kenzo limbung, pandangannya semakin memburam. Entah mengapa, kakinya seolah menyuruh ia untuk pulang.
***
Tatapan nyalang Alesha tertuju lurus pada laki-laki yang kini tengah berdiri di depan kamarnya. Kenzo terlihat tidak seperti biasanya. Pakaian itu berubah acak-acakan dengan mata beberapa kali terpejam.
"Kenzo, kau ... mabuk?" tanya Alesha ragu-ragu.
/0/4284/coverorgin.jpg?v=5296be301c9a14404d7ad2c032a48227&imageMogr2/format/webp)
/0/4737/coverorgin.jpg?v=420597b2a3c956301ff06f754ec65614&imageMogr2/format/webp)
/0/3008/coverorgin.jpg?v=8073dbe1c4a7074ffc09005198f18b7e&imageMogr2/format/webp)
/0/5804/coverorgin.jpg?v=65d19d6cc8fd19ff0990ac7a6a74b941&imageMogr2/format/webp)
/0/4606/coverorgin.jpg?v=fcdaa30493c1779385f6e6c74806c1e6&imageMogr2/format/webp)
/0/3490/coverorgin.jpg?v=b5edca869de86ef256eadbf2aab416b7&imageMogr2/format/webp)
/0/18400/coverorgin.jpg?v=221d94d5c799f9eff70399482ec117ee&imageMogr2/format/webp)
/0/19612/coverorgin.jpg?v=5187ca0f2af6e2fcadc47cb51eb7c409&imageMogr2/format/webp)
/0/4797/coverorgin.jpg?v=9ada8bfc009f12823e1fc56e8a759670&imageMogr2/format/webp)
/0/3273/coverorgin.jpg?v=6b5abea709d0f3629ef7d1641741ebf8&imageMogr2/format/webp)
/0/2667/coverorgin.jpg?v=4b4be19258c78133b27e536eca4f09be&imageMogr2/format/webp)
/0/2070/coverorgin.jpg?v=dc45a492ef789923cb302da49339326a&imageMogr2/format/webp)
/0/6146/coverorgin.jpg?v=f6a5a84f6e0530e4fc807b7b7f9e1ed6&imageMogr2/format/webp)
/0/9770/coverorgin.jpg?v=a54ddf10110982f3a0d24f4ef538b0f7&imageMogr2/format/webp)
/0/12572/coverorgin.jpg?v=0933be5bd8d4a488dd6904d47c04d8f6&imageMogr2/format/webp)
/0/15281/coverorgin.jpg?v=7efa6e7794ccbd9220ed75c6ffb5e5a8&imageMogr2/format/webp)
/0/4063/coverorgin.jpg?v=2806fd819c7a62cdb2e4ec276495cbfa&imageMogr2/format/webp)
/0/17507/coverorgin.jpg?v=65d19d6cc8fd19ff0990ac7a6a74b941&imageMogr2/format/webp)
/0/9330/coverorgin.jpg?v=c6d42347351ad4d93fd5d298c0a69ad6&imageMogr2/format/webp)