/0/34553/coverorgin.jpg?v=39c4b6f4f1b1a55df95aa2f63eedbf7a&imageMogr2/format/webp)
Jessica berjalan dengan cepat menyusuri ruang tamu rumahnya. Heels-nya terdengar nyaring mengetuk-ngetuk lantai marmer. Kemarahan terlukis jelas di raut wajahnya. Bu Windi dan Arnold sedang sarapan bersama ketika Jessica masuk ke ruang makan yang jendela-jendela besarnya menghadap ke kolam renang. Cahaya matahari pagi menghangatkan suasana di ruang makan itu. Namun suasana itu tidak bertahan lama.
Plak! Jessica menampar pipi Arnold dengan keras tanpa mengatakan apa pun.
"Jessica!" pekik Bu Windi terkejut. "Apa yang merasukimu?"
"Mama tanya saja dia! Setan mana yang membuatnya terus berjudi?" jawab Jessica sambil menunjuk muka Arnold. Kedua matanya yang biasanya terlihat indah kini mendelik ke arah kakaknya.
"Kalian keluar semua!" Bu Windi memerintah Mbak Lala dan Mbok Sum yang baru saja tergopoh-gopoh masuk ke ruang makan karena mendengar suara Bu Windi dan Jessica yang begitu keras. "Tutup pintunya dan jangan ada yang menguping!" hardik Bu Windi.
Dengan cepat Mbak Lala dan Mbok Sum undur diri dari ruangan yang hawanya tiba-tiba mencekam itu. Setelah mereka pergi, Bu Windi menatap tajam ke arah Jessica, anak bungsunya yang selalu dia banggakan kecantikan dan kecerdasannya.
"Kesalahan apapun yang Arnold lakukan, kamu tidak boleh menamparnya! Dia itu kakakmu!"
"Dia nggak pantas menjadi kakakku!"
"Jessica!" pekik Bu Windi. "Tarik ucapanmu! Mama tidak pernah mengajarkanmu untuk memperlakukan keluarga dengan kasar."
"Kalau dia masih menganggap kita keluarganya, dia tidak akan menjual saham perusahaan kita ke keluarga Danujaya!" ungkap Jessica dengan suara yang meninggi. Hati Jessica sakit sekali ketika pagi ini pengacara keluarganya menghubunginya dan mengatakan bahwa saham Arnold sebanyak dua puluh lima persen telah dijual kepada keluarga Danujaya.
Bu Windi terkejut dan menatap Arnold. Dia bergeming. Bibirnya sedikit menganga, tapi tidak ada satu patah kata pun yang keluar. Anak sulungnya yang selama ini digadang-gadang menjadi penerus suaminya untuk memimpin perusahaan telah menjual sahamnya ke keluarga Danujaya.
"Mama, maafin Arnold. Arnold nggak ada pilihan." Arnold segera berlutut memeluk kedua kaki ibunya.
"Omong kosong! Semua orang punya pilihan! Judi saja yang ada di otakmu! Kalau Papa masih hidup, sudah pasti namamu dicoret dari akta perusahaan!" pekik Jessica lagi. Tangannya mengepal di kedua sisi tubuhnya menahan amarah luar biasa.
"Ampun, Ma! Ampun! Arnold sudah taubat!" katanya memelas. Dia masih berlutut memeluk kedua kaki ibunya. Matanya terpejam. Dia tidak berani melihat ke arah adiknya.
Bu Windi sedikit membungkuk untuk melepaskan tangan Arnold yang melingkari pahanya. Dia bisa merasakan air mata si sulung membasahi celana sutra yang dipakainya. Dengan sedikit paksaan, tangan Arnold akhirnya mengendur. Bu Windi mundur beberapa langkah. Jari-jarinya merapikan celananya yang sedikit kusut dan basah oleh air mata Arnold.
"Sudah terlalu sering kamu mengatakan hal yang sama. Katanya kamu sudah kapok main judi, ternyata selama ini kamu masih melakukannya sembunyi-sembunyi. Kamu bohong sama Mama." Bu Windi melihat Arnold yang masih berlutut dan sesekali menyeka air mata dari pipinya.
"Apa dosa Mama di masa lalu sehingga kamu jadi begini, Arnold?"
"Ampun, Ma. Arnold benar-benar menyesal. Ini terakhir kali, Arnold janji!"
Bu Windi tidak menanggapi pernyataan Arnold. Dia sudah muak dengan janji-janji palsu anaknya itu. "Mama sudah nggak percaya lagi sama kamu, Arnold. Kamu benar-benar sudah mengecewakan Mama dan almarhum Papa."
Tak lagi menghiraukan Arnold yang masih menangis seperti anak kecil, Bu Windi berjalan ke arah Jessica. "Minta Pak Eric dan Bu Maria ke kantor besok pagi jam delapan. Mama mau mengadakan rapat umum pemegang saham."
"Baik, Ma," jawab Jessica singkat. Dia segera menelepon pengacara dan notaris yang biasa melayani perusahaan keluarganya. Setelah selesai menelepon, dia melihat ke arah kakaknya yang masih berlutut dan menangis. Kemarahannya yang meledak-ledak tadi tiba-tiba surut. Dia iba melihat kakaknya yang usianya hanya terpaut dua tahun darinya itu. Kakaknya tampak seperti anak kecil. Tidak sedikit pun menampilkan sikap sebagai selayaknya laki-laki yang berusia dua puluh delapan tahun.
"Berhentilah menangis. Jangan sampai Mbak Lala dan Mbok Sum melihatmu dalam keadaan memalukan seperti ini," kata Jessica sambil menarik lengan kakaknya, memaksanya untuk berdiri.
"Aku sudah menghancurkan semuanya, Jess. Sudah nggak ada gunanya aku hidup," kata Arnold dengan suara lirih.
/0/17216/coverorgin.jpg?v=8de1de39814150b2a34ec36544991dd7&imageMogr2/format/webp)
/0/21489/coverorgin.jpg?v=5f70302b2dcf36ccf19dbe01bcfc7c20&imageMogr2/format/webp)
/0/16858/coverorgin.jpg?v=55e57d0c3fbbbe72391c0a97e4415700&imageMogr2/format/webp)
/0/17164/coverorgin.jpg?v=5399f2d9a3016cf695306f21f6d38fe9&imageMogr2/format/webp)
/0/23335/coverorgin.jpg?v=449cea810c5ef59b88cedb2b49dc88c2&imageMogr2/format/webp)
/0/12930/coverorgin.jpg?v=f1d178d85c4e24b2cfcbcc8d6f43c9ae&imageMogr2/format/webp)
/0/20947/coverorgin.jpg?v=ab10417d839e86efa38945687e702b18&imageMogr2/format/webp)
/0/16366/coverorgin.jpg?v=ed3cd92b48b52b04968e892b3c1dc209&imageMogr2/format/webp)
/0/12548/coverorgin.jpg?v=f72bc751994afe48ccd7108bf84b4770&imageMogr2/format/webp)
/0/2967/coverorgin.jpg?v=29286c02197e8a269c74c66c8aecc6b0&imageMogr2/format/webp)
/0/25067/coverorgin.jpg?v=1b7f87a99d0625a0fdd3f3dbfad7a5a7&imageMogr2/format/webp)
/0/16988/coverorgin.jpg?v=fb6f5bc71b71ba673fd22385c858c968&imageMogr2/format/webp)
/0/13486/coverorgin.jpg?v=4d70dc5d84d0c7c298ee2d95678721f2&imageMogr2/format/webp)
/0/21274/coverorgin.jpg?v=b5a78bea3486434c9bfc6ada44e45cb7&imageMogr2/format/webp)
/0/16209/coverorgin.jpg?v=017c1c2925cd3f053d59f75228074638&imageMogr2/format/webp)
/0/17498/coverorgin.jpg?v=5fb9d6d830e6c50bd50b88398b43e9c0&imageMogr2/format/webp)
/0/12640/coverorgin.jpg?v=8024324c160775a0222b462be3b0b130&imageMogr2/format/webp)
/0/2865/coverorgin.jpg?v=148b7c0297ea539ab197a845457d933d&imageMogr2/format/webp)
/0/6595/coverorgin.jpg?v=36080175ef3c9e6d890c9db59d2148c9&imageMogr2/format/webp)