back
Unduh aplikasi
icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon
Jerat Cinta Sang Casanova

Jerat Cinta Sang Casanova

Sinokmput

5.0
Ulasan
6.5K
Penayangan
154
Bab

Aileen tak pernah menyangka, akan mengalami nasib sial dalam satu waktu sekaligus. Di pagi hari dia kehilangan sang kekasih hati, malamnya dia harus kehilangan mahkota berharganya dengan seseorang yang tidak dikenalnya. Berniat ingin melupakan semuanya, Aileen memutuskan untuk pergi ke kota Jakarta dan mencari suasana baru. Tapi siapa sangka, dia harus bertemu lelaki gila yang tiba-tiba mengklaim dirinya sebagai aset hak milik? Lelaki itu bahkan tak segan untuk meminta pertanggungjawaban atas perbuatan yang tak pernah disengajanya! "Dasar gila, aku tak mengenalmu sedikitpun. Tapi kau sudah bersikeras menahanku di sisimu!" Aileen Maharani. "Mungkin kau tak mengenalku, Aileen. Tapi tubuhmu akan ingat, jika jari-jariku menyentuhmu lagi!" Kendrick Adelard. Lalu apa yang harus Aileen lakukan di saat dirinya bertemu dengan lelaki yang telah beruntung menikmati miliknya? Haruskah dia kabur dan lari sejauh mungkin? Atau malah menerima tawaran lelaki itu untuk menjadi wanita bayaran?

Bab 1
Jerat Cinta Sang Casanova
Pertemuan Pertama

Bunyi musik klasik menyambut langkah Aileen, ketika wanita itu memasuki ruangan outdoor ballroom hotel. Suasana romantis yang didominasi warna putih bercampur hijau terlihat begitu menyenangkan sejauh mata memandang. Meskipun begitu, wajah Aileen tampak suram, apalagi dengan gaunnya yang serba hitam.

Mata wanita itu mengedar ke segala arah, mencari sosok pengantin yang telah berhasil membuat kacau dunianya. Begitu dia menemukan mereka, dia langsung berjalan mendekat dan menyeruak dalam kerumunan.

"Selamat atas pernikahan kalian."

Tentu saja kedatangannya membuat orang-orang yang ada di dekat pengantin merasa terkejut. Mereka bahkan langsung menatap Aileen sinis, ada yang juga yang menatap penuh rasa kasihan. Sebagian dari mereka yang tak ingin ikut campur memilih pergi dari sana.

"Apa yang kau lakukan di sini? Aku tidak mengundangmu!" Pengantin wanita yang bernama Tyas itu tampak geram saat menatap Aileen. Dia bahkan langsung memeluk lengan suaminya erat dengan begitu posesif.

"Aileen." Sedangkan pengantin lelaki yang bernama Daniel tampak tercengang. Wajahnya menegang dengan sikap gugup yang tak bisa ditutupi.

"Apa kau berniat merusak pesta pernikahanku? Pergi, dasar jalang!" teriak Tyas kembali menggeram, yang membuat semua orang mengalihkan perhatian padanya.

Aileen sendiri tampak tersenyum begitu manis, meskipun tak dapat dipungkiri jika sorot matanya terlihat begitu sendu saat ini. Dia menarik tangannya kembali yang tak menerima sambutan dari pasangan pengantin di depannya.

"Aku hanya memberikan selamat pada kalian. Kalian memang terlihat sangat cocok. Penghianat memang pantas jika disandingkan dengan penggoda. Semoga pernikahan kalian langgeng, dan selalu diberikan masalah di dalamnya," ucap Aileen disertai senyum kepuasannya. Dia tak peduli pada tatapan simpati yang dilayangkan orang-orang padanya.

"Kau!" Tyas tampak menggeram, tangannya baru saja terangkat untuk melayangkan sebuah tamparan pada Aileen ketika tiba-tiba ditahan oleh Daniel. Suaminya itu bahkan menatapnya tajam, seolah memperingatkan dirinya.

Hal ini membuat Aileen merasa senang. Sebelum dia berbalik pergi, dia sempat melambai pada pasangan pengantin tersebut dengan senyum sinis yang begitu mengejek. Wanita itu berjalan melenggang, meninggalkan pesta pernikahan yang terasa memuakkan baginya.

Tak ada yang tahu, apa yang sedang dirasakannya saat ini. Tepat ketika dia sampai di parkiran dan masuk ke dalam mobil, tangisnya menjadi pecah. Aileen mengeluarkan semua kesedihannya dengan tangisan yang begitu menyayat hati. Dia benar-benar terlihat rapuh, tidak seperti tadi yang penuh percaya diri seolah harga dirinya tak bisa diinjak-injak.

"Kau memang sialan, Daniel. Kalian memang sialan!" raung Aileen sambil memukul-mukul setir mobilnya meluapkan amarah.

Entah sudah berapa lama dia melampiaskan semuanya dalam tangisan, dia baru sadar jika hari mulai beranjak malam ketika dia mulai merasa tenang. Berkali-kali Aileen mengatur napasnya, agar dadanya tak merasa sesak. Dan setelah dia berhasil, dia mulai melajukan mobilnya pergi dari hotel bintang tiga yang menjadi saksi bisu pernikahan kekasih hatinya.

Bukannya pulang ke rumah, Aileen memutuskan melajukan mobilnya menuju Klub terkenal di kotanya. Wanita yang begitu frustasi karena sakit hati itu, ingin melampiaskan semuanya dengan alkohol. Dia berharap, dengan mabuk, semua masalahnya bisa teratasi.

Lampu berkerlap-kerlip menyambutnya ketika dia masuk ke dalam. Aileen harus sedikit menyerngit, ketika suara musik yang keras membuat telinganya menjadi sakit. Meskipun begitu, Aileen berusaha membaur. Dia mulai terlihat beradaptasi dan memilih tempat duduk di dekat bartender.

"Aku ingin wine," pinta Aileen sedikit berteriak saat berbicara pada salah seorang pelayan di sana.

Tak lama kemudian, pesanannya siap. Aileen dengan kesendiriannya menikmati minuman yang berwarna merah tersebut. Meskipun rasanya sedikit pahit dan panas di tenggorokan, Aileen tak peduli lagi. Yang dia inginkan hanya mabuk saat ini.

"Hai, apa kau sendirian?"

Namun siapa sangka, seorang lelaki tiba-tiba datang mendekatinya dan ingin berkenalan dengannya. Aileen yang merasa suntuk, akhirnya menanggapi lelaki tersebut.

"Ya," jawabnya singkat mencoba tersenyum untuk bersikap sopan.

"Boleh aku duduk di sini menemanimu?" tanya lelaki itu lagi.

"Tentu." Lagi-lagi, Aileen menjawabnya dengan singkat. Dia yang tak terbiasa berkenalan dengan orang baru membuat suasana sedikit canggung.

"Siapa namamu?"

Untung saja, lelaki itu mempunyai topik pembicaraan yang membuat Aileen merasa nyaman. Dia mulai tersenyum saat berkata, "Aku Aileen, kau sendiri, siapa namamu?"

"Panggil saja aku Thom," jawab lelaki yang baru saja berkenalan dengan Aileen tersebut.

Mereka tampak berbincang akrab, meskipun baru saja mengenal. Thom orang yang banyak bicara, yang membuat Aileen tak merasa canggung. Di sela-sela pembicaraan mereka, Aileen tetap meminum alkoholnya dan tetap memutuskan untuk ingin mabuk malam ini.

Namun, siapa sangka jika orang yang baru saja dikenalnya tersebut mempunyai niat jahat padanya?

Tanpa sepengetahuan Aileen, Thom memasukkan sebuah obat perangsang pada minuman Aileen.

Hal ini membuat Aileen merasakan aneh dalam tubuhnya. Entah kenapa dirinya merasa begitu gerah, dan ingin sekali membuka bajunya. Sikapnya juga terlihat aneh, seperti menginginkan sebuah sentuhan.

"Sepertinya kau mabuk, aku akan membawamu keluar dari sini," ucap Thom menatap Aileen rumit, dan mencoba menarik wanita itu ke dalam pelukan.

Merasa ada yang tidak beres, Aileen berusaha untuk tetap sadar. Dia berusaha menolak ketika Thom mulai merangkulnya dan membawanya paksa pergi dari bar Klub tersebut.

"Aku baik-baik saja, Thom." Aileen berusaha menolak, ketika Thom terus membawanya menuju ke tempat sepi. Instingnya yang masih berfungsi meneriakkan alarm bahaya dalam kepalanya dan menginginkannya untuk lari.

Tapi tubuh Aileen yang terasa lemas membuatnya seperti tak mempunyai tenaga. Wanita itu samar-samar masih bisa melihat keadaan di sekitarnya, dan telinganya masih jelas ketika mendengar jika Thom memesan sebuah kamar.

Otak Aileen yang menyadari hal gawat akan terjadi, memaksa dirinya untuk kembali sadar. Dengan sisa tenaga yang dia miliki, Aileen berusaha menolak ketika Thom mulai menyeretnya masuk ke sebuah penginapan.

"Lepaskan aku, sialan!" umpat Aileen dengan suaranya yang melemah.

Thom terlihat terkekeh, tatapannya begitu mengejek saat melihat Aileen. "Jangan menolak, Aileen. Aku akan memberikanmu kenikmatan dunia yang tiada tara."

Kepala Aileen menggeleng beberapa kali, dia berusaha untuk tetap waras agar bisa kabur dari cengkraman Thom. Wanita itu mencoba mengelabui Thom, dengan berpura-pura tak berdaya ketika lelaki itu membawanya menuju pintu lift.

Tepat ketika mereka sampai di depan lift tersebut, Aileen mengeluarkan sisa tenaganya untuk mengantukkan kepalanya ke dahi Thom. Dia juga tak segan menginjak kaki Thom dengan high-heelsnya yang membuat pelukan lelaki itu terlepas.

Tak ingin membuang-buang waktu, Aileen dengan cepat memasuki lift tersebut. samar-samar terdengar suara Thom mengumpat sebelum pintu tersebut tertutup.

Mengandalkan kesadaran yang tersisa, Aileen mencoba berjalan sambil memegangi dinding begitu lift tersebut sampai ke lantai yang ditujunya. Dia terlihat merutuk, ketika menyadari tak ada pintu keluar di sekitarnya. Aileen hanya melihat pintu berderet yang dia yakini jika itu adalah tempat penginapan.

Suara lift berdenting membuat Aileen sadar, jika Thom sedang mengejar dirinya. Dia yang tak ingin tertangkap dan menjadi santapan liar dari orang yang tak dikenalnya, membuatnya berusaha mencari tempat persembunyian.

Tapi ternyata semua pintu yang dihampirinya terkunci. Dia juga tak mendengar sautan seseorang meskipun dia mengetuk pintunya berkali-kali.

Hal ini membuat Aileen benar-benar merasa frustasi, apalagi saat melihat angka di lift sebentar lagi sampai pada lantai yang dipijak. Dalam hatinya dia berdoa, semoga dirinya masih diberikan keselamatan dari orang jahat yang berusaha mengejarnya.

Usaha Aileen membuahkan hasil, di ruangan paling ujung, dia menemukan pintunya tidak terkunci. Wanita itu bernapas lega, tubuhnya bahkan ambruk di lantai, saat dirinya berhasil masuk dan mengunci pintu tersebut.

"Siapa kau?"

Namun betapa terkejutnya Aileen, ketika menyadari jika tempat ini tidak kosong. Dalam samar-samar remangnya ruangan tersebut, dia bisa melihat sosok lelaki yang berwajah dingin sedang menatapnya dengan tangan bertolak pinggang. Dilihat dari penampilannya, lelaki itu seperti baru saja mandi. Terlihat jelas dari handuk yang masih melilit bagian pinggang.

"Apa kau tuli? Siapa kau?" tanya lelaki itu kedua kali, yang membuatkan lamunan Aileen.

Wanita itu menggelengkan kepalanya cepat, seolah berusaha untuk tetap waras padahal jantungnya berpacu cepat saat ini. Apalagi saat melihat betapa seksinya lelaki di depannya yang membuat pikirannya menjadi liar.

"Sssttt ... jangan berisik! Kau harus menolongku," ucap Aileen dengan suara yang sudah tercekat. Dia menatap lelaki di depannya lekat dengan jari yang menempel pada bibirnya.

"Apa kau maling?" tanya lelaki itu dengan mata yang memicing.

Belum sempat Aileen menjawab, dia mendengar pintu diketuk dengan keras. Hal ini membuatnya menjadi panik, yang membuatnya semakin meringkuk di balik pintu.

Seolah menyadari ada yang tidak beres, lelaki yang menjadi penghuni ruangan itu menatap Aileen dengan lekat. Dahinya berkerut saat melihat Aileen yang memejamkan mata dengan gelengan kepala pelan.

"Tolong aku." Suara Aileen yang bercicit pelan akhirnya membuat lelaki itu merasa bersimpati. Dia akhirnya bersedia menolong wanita yang baru saja memasuki ruangannya tiba-tiba tersebut.

"Bukankah sudah kubilang untuk memberikan waktu privasi padaku, kenapa kau menggangguku?" keluh lelaki itu ketika dia membuka pintu. Dia menatap lelaki pelayan di depannya dengan sangat kesal.

"Maafkan saya, Tuan Kendrick, saya hanya ingin memastikan sesuatu. Apakah ... apakah ada seorang wanita di ruangan Anda?" tanya pelayan tersebut dengan nada yang begitu gugup. Dia terlihat panik saat harus berhadapan dengan pemilik Klub dan Hostel Permata ini.

"Tidak ada!" jawab Kendrick tegas, masih dengan sikap yang kesal. Wajahnya bahkan terlihat dingin saat menatap salah satu karyawannya tersebut.

"Kalau begitu, saya pamit undur diri dulu, Tuan," ucap pelayan tersebut dengan menundukkan kepala.

Kendrick tak menjawab, meskipun begitu dia tetap mengangguk dan menatap pelayan tersebut sampai menghilang di balik lift. Dalam hatinya dia bertanya-tanya, masalah apa yang terjadi pada wanita di sebelahnya yang membuat seseorang mencarinya?

Tak ingin merasa penasaran, Kendrick langsung menutup pintunya kembali dan tak lupa menguncinya. Dia berniat bertanya langsung pada wanita itu, tentang apa yang sebenarnya terjadi. Tapi betapa terkejutnya Kendrick, ketika mendapati wanita yang baru saja masuk ke ruangannya itu tiba-tiba melepas pakaiannya.

"Hei, apa yang kau lakukan? Apa kau gila?" Kendrick bahkan sampai membentak, karena saking terkejutnya dia.

"Tolong aku!" pinta wanita tersebut.

Namun, Kendrick seperti merasa ada sesuatu yang salah. Ketika dia mendekati wanita itu, dia melihat jika wajah wanita itu memerah. Bahkan napas wanita itu terlihat menderu dengan tubuh yang tak bisa diam.

"Apa kau baik-baik saja?" tanya Kendrick yang akhirnya memberanikan diri menyentuh dahi wanita itu.

Namun siapa yang sangka, karena hal ini, wanita itu menjadi agresif. Kendrick dibuat mematung ketika dirinya tiba-tiba dicium dengan rakus. Awalnya, Kendrick berusaha menolak. Tapi sentuhan-sentuhan yang diberikan wanita itu membuatnya terbuai sehingga hilang akal dan malah menyambut permainan tersebut.

Malam mendung dengan sedikit cahaya bulan itu menjadi saksi, bagaimana dua insan yang tak saling mengenal saling beradu dalam desahan dan kenikmatan. Saling menjerit mencurahkan kepuasan duniawi, hingga raga melayang bagai di angan-angan.

Buku serupa
Unduh Buku