Akibat Bebas Bergaul

Akibat Bebas Bergaul

Petualang

5.0
Komentar
70.4K
Penayangan
48
Bab

Khusus Dewasa

Bab 1 Balada Reggie

Perkenalkan Namaku Reggie, biasa dpanggilnya Egi. Dulu aku ini anak baik-baik. Paling bandel cuma nonton bokep. Pacaran ga berani ga ada nyali. Main game kesukaanku. Tapi hobiku sebenarnya adalah belajar.

Aneh gak? Itulah yang sebenarnya. Sampai pada kisah ini, pada waktu aku telah lulus SMA waktu umur 18 tahun.

Kisah ini bermula ketika aku hendak daftar ulang kuliah di salah satu universitas kota Bandung. Karena aku masih belum berpengalaman pergi-pergi sendirian dan karena Mama Papaku sibuk, mereka meminta Pamanku yang mengantar aku. Pas nya lagi, ternyata Pamanku memang sedang berada disana di kota B, sedang bertugas untuk LSM besar tempat dia bernaung.

Karena berbagai hal, sesampainya aku di kota B hari sudah gelap. Aku menelpon Pamanku untuk meminta jemputan di terminal. Rencananya aku menginap di kosan Pamanku saja, besok baru mendaftar ulangnya.

Kami bertemu di sebuah warung di terminal, rupanya ia sudah semenjak sore menunggu disitu. Ia tidak sendirian pula. Ada gadis yang menarik mata pria disebelahnya. Pamanku mengenalkanku padanya.

Tangan lentik gadis cantik itu mengulur padaku.

"Reggie...," kataku kaku.

Perempuan berkulit putih dengan rambut hitam lurus sebahu itu tersenyum ramah, ia tidak menyebutkan namanya.

"Ini temen Mamang, Gi....' kata Pamanku. "Evi namanya... Tante Evi lah kalo kamu manggilnya"

"Ih... masa Tante... emang aku udah tua..." ia tersenyum. "Panggilnya Teteh aja....' sambungnya lagi.

Aku mengangguk mengiyakan saja. Dalam hati aku masih bingung, siapakah dia ini? Apa Pamanku punya istri lagi? menjijikan... bi Nur istri Paman Cahya yang sah kemana. pikirku.

Tapi tak mau kupikirkan lagi. Ditawari makan aku langsung memesan soto. Bodo amat ah, aku tak mau campuri urusan, kataku dalam hati sambil makan.

Setelah aku makan, pamanku berbisik padaku.

"Mana ada ga titipan si Papa buat Mamang?"

Aku termenung dulu, mengingat ingat.

"Oh, iya lupa Egi...."

Aku mengeluarkan amplop dari tasku. Pamanku merebut begitu saja. Dibukanya isinya, ia menghitung. Lalu setengah diberikannya pada Evi.

"Nih, itu sama ongkosnya ya sekalian?"

Teh Evi tersenyum mengangguk.

"Makasih," jawabnya.

Aku melihat setidaknya 500 ribu dipegang perempuan itu lalu masuk kedalam saku celana jeannya, sementara sisanya 500 ribu masuk ke kantung saku seragam LSM milik pamanku.

"Hayu Gi... kita cao...," sahut Pamanku bersemangat.

Didalam mobil sedan butut tahun jebot milik pamanku mereka mengobrol seru didepan. Aku menghabiskan waktu dengan melihat-lihat sekitar, mencoba mengingat-ingat jalan yang kami lalui. Biar hafal nanti kalau kesini sendirian.

"Oh... jadi ini teh anak dokter Linda...' Teh Evi menoleh padaku.

'Iyaah...." jawab pamanku.

Aku mengangguk ramah.

"Kenapa emangnya?" tanya Mang Cahya.

"Gapapa, hihi ganteng... hahahaha...." Teh Evi tertawa sambil menutup mulutnya.

"Mirip Mamangnya ya?"

"Ih... ini mah mirip Mamanya atuh putih... si Akang mah mirip Papanya... item hahaha."

"Iiya kan memang Kakak saya."

Mereka membicarakan Papaku yang kakaknya Mang Cahya. Papaku juga Dokter sama dengan Mamaku. Pada saat itu Papaku menjabat sebagai Kepala di RSUD di kota kami.

"Si Mama teh orang Tionghoa bukan A Egi?" tanya Teh Evi.

"Iya setengah...." jawabku, "Dari si Kakek yang Tionghoa mah, nenek asli urang sunda...."

"Ooooh sama atuh yah sama Teteh.... Teteh juga kan Papa Teteh orang Tionghoa...."

"Cuma beda nasiib..." sela Pamanku.

"Hahaha...." kami semua tertawa bersama.

"Ko Teteh bisa kenal sama Mama saya. emang orang mana aslinya?" tanyaku penasaran.

Teteh dan Pamanku tertawa.

"Iya sama... orang sana juga Egi... tadi baru datang juga pake bis... cuma dia mah sore, kalo kamu janjina sore, datang-datang udah Isya.... huuuh..." jawab Pamanku.

Aku cengengesan, Teh Evi tertawa, kini tak lagi sambil menutup mulutnya. Ia membalik untuk melihat wajahku. Dimatanya terlihat pula senyumnya padaku.

Dia cantik, pake kaos u can see ketat, dimasukin kedalam celana jean yang menampilkan lekuk pantat, membentuk bodi ramping, ukuran dadanya pas. Rambutnya digerai sebahu lebih dikit. pakai poni untuk tirai wajahnya. 'Haduuuh... lumayan buat bahan coli nih....' kataku dalam hati.

'Dimana Pamanku yang begajulan bisa menemukan perempuan seperti ini', pikirku

Mobil memasuki pelataran sebuah cafe yang didekorasi dengan batang bambu.

"Mau kemana kita Mang?" tanyaku.

"Sebentar Gi ketemu temen... cuma sebentar... kamu makan lagi atuh.... atau nyanyi-nyanyi karaoke tuh sambil nunggu, si Evi seneng tah nyanyi... kalo ke kosan dulu jauh Gi muter...."

Aku sedang tak tertarik untuk bernyanyi, padahal aku ini vokalis band kacangan, aku lelah sebenernya pengen tidur. Tapi malas untuk protes sama Mang Cahya.

Aku memilih memisah menjauh dari meja mereka. Segera saja teman-teman pamanku berdatangan. Mereka memesan minuman beralkohol dan kacang-kacangan. Mereka mulai mengambil mic dan bernyanyi. Aku memesan kopi susu, dan mengambil hapeku mengabari orang tuaku bahwa aku sudah samapai dan bertemu Mang Cahya, kubalasi pesan-pesan kawan-kawanku pada hapeku.

Malam semakin larut, pesta di meja pamanku sudah mulai berkurang. Kini tinggal Teh Evi yang sedang bernyanyi. Pamanku yang sudah setengah teler tengah berbisik-bisik dengan rekannya. Ia kelihatannya sudah lupa kalau aku sekarang ini ikut bersamanya. Teh Evi melirik ke arahku, kelihatannya kasihan dengan keadaanku yang kelihatan bosan, ia mengangkat 1 botol bir yang masih penuh bermaksud menawarkan padaku.

Ternyata efek bir sebotol itu lumayan buatku. Aku terlelap di mejaku. Bukan tak sadarkan diri. Cuma hawa alkohol memang berhasil menambah kantukku. Pamanku membangunkanku ketika mereka semua bersiap untuk bubar. Di mobil aku lanjut tidur. Sesampai di kosanpun aku langsung menggoler tiduran lagi diatas karpet, aku memilih diatas karpet karena kulihat kasur cuma ada satu.

Aku terbangun sesaat di gelap malam, terganggu oleh suara yang konstan berulang, aku sayup mendengar suara kain bergesek berulang-ulang suara pria yang sedang ngos-ngosan, dan suara perempuan yang sedang merintih seperti menahan sakit. Mataku mencari-cari, masih buram karena belum terbiasa dengan gelapnya ruangan.

Setelah jelas barulah aku melihat tubuh pamanku yang telanjang tengah menindih tubuh Teh Evi yang bersuara lirih. Tidak terlihat seluruh tubuh bawahnya, karena terhalang pantat paman yang aktif naik turun memompa. Mata Teh Evi terpejam, ia kelihatan berusaha menahan suaranya sepelan mungkin. Desahannya terdngar, 'aang....

Seumur hidupku baru dua kali memergoki orang sedang bersetubuh, kedua orangtuaku sewaktu aku kecil, sekarang pamanku dan Teh Evi yang entah siapanya. Kejadiannya hampir sama, terbangun seperti ini.

"Aw... aw," Tiba-tiba Teh Evi mengaduh. Aku buru-buru menutup mataku lagi.

"Aduh jangan neken ke situ atuh Kang, kena tulang ih... sakit...."

"Oh, iya maaf...."

Pompaan itu kembali terdengar. Aku mengintip lagi. Kini kulihat Teh Evi tak lagi memejamkan mata, tak lagi mendesah kenikmatan, wajahnya bolak balik menatap ke arah sana sini. Ia seperti sedang melayani pamanku saja, menunggu selesai.

Tiba-tiba pandangan matanya beradu dengan intipan mataku. Aku terkejut, sontak kututup buru-buru. Teh Evi kelihatannya masih memperhatikanku untuk memastikan

"Kang... eh eh Kang... itu Egi bangun kali....?"

Pamanku berhenti sejenak, ia berpaling menatap ke arahku. Aku tegang, berusaha sebaiknya di luar kemampuanku berakting pura-pura tidur. 'Mampus... jangan sampe ketawan....' Nafasku kuatur semirip orang yang tidur. Sampai kukeluarkan sedikit suara kerongkongan orang tidur.

Terdengar kembali suara kain bergesekan, walau perlahan. Lagi enak kayaknya si Paman, tanggung kalau mau lepas.

"Bukan ah... tidur dia sih... ngga.... ga apa-apa...."

Pamanku melanjut ijut lagi Teh Evi, lebih semangat kedngrannya sekarang. Suara plak plak kulit beradu pun terdengar.

"Aaaach...." Teh Evi menjerit kecil. Akupun penasaran, kubuka lagi mataku.

Pamanku menahan badannya dengan tangannya, hentakan pada tubuh bawahnya jadi lebih kencang. Plak plak.... Teh Evi memejamkan kembali matanya. Kedua tangnnya ada di dada Mang Cahya.

"Sssshhh... aaah... jangan keluar di dalam," seru Teh Evi.

"Iiyaaa aaaaaaarghh...." Pamanku mencabut kontolnya pas ketika spermanya muncrat di perut Teh Evi.

"Aaaaaaargh... ah hah hah hah...."

Teh Evi memperhatikan tiap crotnya yang keluar. Tak terlalu banyak seperti yang di film bokep. Cepat ia mengambil celana pendek pamanku dan mengelapnya seketika. Sempat ia melirik ke arahku. Pandangan kami beradu lagi sekilas. Terkejut lagi aku, otomatis pula kututup matak. u.

"Aaahh..." Pamanku terdengar menggelesoh ke sebelah Teh Evi.

Deg! Inilah kesempatanku melihat memeknya. Sebelum ditutup yang punya. Aku membuka mataku lagi.

'Wew...! Kusaksikan Teh Evi menutupi tubuhnya dan memeknya yang ditumbuhi bulu hitam itu perlahan dengan selimut. Aku terpana. Selimut itu terus ditariknya sampai dada yang masih memakai u can see tadi. Kutangkap matanya menatap kepadaku, bibirnya agak mengulum senyum. Aku langsung terkena sihir, terutama si tititku yang perjaka, si titit tegang luarbiasa.

Tapi ku tak berani apa-apa, setidaknya harus menunggu mandi pagi agar bisa kucolikan ketegangan ini.

Pamanku langsung mengorok. Teh Evi beranjak duduk sambil berselimut rapat. Aku membalikan badanku. Akupun berusaha tidur.

Sebelum tertidur kudengar Teh Evi pergi kekamar mandi cukup lama.

Udara dingin menerpa wajahku. Aku masih bisa bertahan, tapi kemudian suara bising mobil sedan butut dan bau knalpot membangunkanku. Setelah sepenuhnya sadar, barulah aku tahu, pamanku sudah berada dalam mobil hendak memacunya pergi. Kulihat Teh Evi berdiri dekat jendela mobil berbicara dengan pamanku.

Aku duduk kebingungan menatap Teh Evi yang masuk kembali ke kamar sambil menutup pintu.

"Apa A, hehe udah bangun?" tanyanya duduk diatas kasur sambil menyulut sebatang rokok.

"Itu si Mamang dipanggil ketua Kota Bandung, disuruhnya mah kemarin setelah dari café itu. Tapi malah ketiduran dianya...."

Ia duduk mencari-cari sesuatu. Mataku pun ikut mencari. Sama-sama kami tertumbuk pada sesuatu, celana dalam perempuan Teh Evi. Ditariknya kain kecil berenda tersebut kedalam selimutnya. Ia tiduran sebentar sambil berusaha memakainya, masih didalam selimut rapat.

"Eh maaf ya A, pakai ini dulu... hihi males mau ke kamar mandi...."

Barulah disitu aku ingat kejadian semalam. Terbayang kembali keseruannya. Kontolku bergerak sedikt demi sedikit.

'Aduh.... aku coliin dulu aja apa ya?' pikirku dalam hati.

"Mau ngopi A?" tanya Teh Evi.

Ia kini setengah menelungkup menghadapku, bertumpu pada siku sambil merokok.

"Teteh mau?"

"Eh, malah balik nanya, Teteh bikin satu gelas untuk berdua aja ya?"

Aku mengangguk. Ia berdiri mengikatkan selimut pada pinggangnya, diatasnya ia tetap memakai U can see, tapi tanpa beha kulihat.

^*^

Lanjutkan Membaca

Buku lain oleh Petualang

Selebihnya

Buku serupa

MENIKAH DENGAN SULTAN

MENIKAH DENGAN SULTAN

Evie Yuzuma
5.0

“Nay! rempeyek kacang apaan kayak gini? Aku ‘kan bilang mau pakai kacang tanah, bukan kacang hijau!” pekik Natasya. Dia membanting bungkusan rempeyek yang sudah Rinai siapkan untuknya. Natasya berniat membawanya ke rumah calon mertuanya dan mengatakan jika itu adalah rempeyek buatannya. “Maaf, Sya! Bahan-bahannya habis kemarin. Aku uangnya kurang, Sya! Uang yang kamu kasih, sudah aku pakai buat berobat ibu. Ibu lagi sakit,” getar suara Rinai sambil membungkuk hendak memungut plastik yang dilempar kakak tirinya itu. Namun kaki Natasya membuat pergerakannya terhenti. Dia menginjak-injak plastik rempeyek itu hingga hancur. *** “Aku mau beli semuanya!” ucap lelaki itu lagi. “T—tapi, Bang … yang ini pada rusak!” ucap Rinai canggung. “Meskipun bentuknya hancur, rasanya masih sama ‘kan? Jadi aku beli semuanya! Kebetulan lagi ada kelebihan rizki,” ucap lelaki itu kembali meyakinkan. “Makasih, Bang! Maaf aku terima! Soalnya aku lagi butuh banget uang buat biaya Ibu berobat!” ucap Rinai sambil memasukkan rempeyek hancur itu ke dalam plastik juga. “Aku suka perempuan yang menyayangi ibunya! Anggap saja ini rejeki ibumu!” ucap lelaki itu yang bahkan Rinai sendiri belum mengetahui siapa namanya. Wira dan Rinai dipertemukan secara tidak sengaja, ketika lelaki keturunan konglomerat itu tengah memeriksa sendiri ke lapangan tentang kecurigaan kecurangan terhadap project pembangunan property komersil di salah satu daerah kumuh. Tak sengaja dia melihat seoarng gadis manis yang setiap hari berjualan rempeyek, mengais rupiah demi memenuhi kebutuhannya dan sang ibu. Mereka mulai dekat ketika Rinai menghadapi masalah dengan Tasya---saudara tirinya yang seringkali menghina dan membullynya. Masa lalu orang tua mereka, membuat Rinai harus merasakan akibatnya. Harum---ibunda Rinai pernah hadir menjadi orang ketiga dalam pernikahan orang tua Tasya. Tasya ingin menghancurkan Rinai, dia bahkan meminta Rendi yang menanangani project pembangunan property komersil tersebut, untuk segera menggusur bangunan sederhana tempat tinggal Rinai. Dia tak tahu jika lelaki yang menyamar sebagai pemulung itu adalah bos dari perusahaan tempat kekasihnya bekerja. Wira dan Rinai perlahan dekat. Rinai menerima Wira karena tak tahu latar belakang lelaki itu sebenarnya. Hingga pada saatnya Wira membuka jati diri, Rinai benar-benar gamang dan memilih pergi. Dia merasa tak percaya diri harus bersanding dengan orang sesempurna Wira. Wira sudah frustasi kehilangan jejak kekasih hatinya. Namun tanpa disangka, takdir justru membawanya mendekat. Rinai yang pergi ke kota, rupanya bekerja menjadi ART di rumah Wira. Bagaimanakah kisah keduanya? Akankah Rinai kembali melarikan diri ketika tahu jika majikannya adalah orang tua Wira?

Puncak Nafsu Ayah Mertua

Puncak Nafsu Ayah Mertua

Cerita _46
5.0

Aku masih memandangi tubuhnya yang tegap, otot-otot dadanya bergerak naik turun seiring napasnya yang berat. Kulitnya terlihat mengilat, seolah memanggil jemariku untuk menyentuh. Rasanya tubuhku bergetar hanya dengan menatapnya. Ada sesuatu yang membuatku ingin memeluk, menciumi, bahkan menggigitnya pelan. Dia mendekat tanpa suara, aura panasnya menyapu seluruh tubuhku. Kedua tangannya menyentuh pahaku, lalu perlahan membuka kakiku. Aku menahan napas. Tubuhku sudah siap bahkan sebelum dia benar-benar menyentuhku. Saat wajahnya menunduk, bibirnya mendarat di perutku, lalu turun sedikit, menggodaku, lalu kembali naik dengan gerakan menyapu lembut. Dia sampai di dadaku. Salah satu tangannya mengusap lembut bagian kiriku, sementara bibirnya mengecup yang kanan. Ciumannya perlahan, hangat, dan basah. Dia tidak terburu-buru. Lidahnya menjilat putingku dengan lingkaran kecil, membuatku menggeliat. Aku memejamkan mata, bibirku terbuka, dan desahan pelan keluar begitu saja. Jemarinya mulai memijit lembut sisi payudaraku, lalu mencubit halus bagian paling sensitif itu. Aku mendesah lebih keras. "Aku suka ini," bisiknya, lalu menyedot putingku cukup keras sampai aku mengerang. Aku mencengkeram seprai, tubuhku menegang karena kenikmatan itu begitu dalam. Setiap tarikan dan jilatan dari mulutnya terasa seperti aliran listrik yang menyebar ke seluruh tubuhku. Dia berpindah ke sisi lain, memberikan perhatian yang sama. Putingku yang basah karena air liurnya terasa lebih sensitif, dan ketika ia meniup pelan sambil menatapku dari bawah, aku tak tahan lagi. Kakiku meremas sprei, tubuhku menegang, dan aku menggigit bibirku kuat-kuat. Aku ingin menarik kepalanya, menahannya di sana, memaksanya untuk terus melakukannya. "Jangan berhenti..." bisikku dengan napas yang nyaris tak teratur. Dia hanya tertawa pelan, lalu melanjutkan, makin dalam, makin kuat, dan makin membuatku lupa dunia.

Bab
Baca Sekarang
Unduh Buku