Login to Bakisah
icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon
Taruhan Nasib: Suamiku yang Tak Terduga

Taruhan Nasib: Suamiku yang Tak Terduga

Kerrie Christiansen

5.0
Komentar
87.1K
Penayangan
419
Bab

Kirani dipaksa menikah dengan Devon, seorang preman terkenal. Adik perempuannya mengejeknya, "Kamu hanya anak angkat. Nasibmu benar-benar sial karena menikah dengannya!" Dunia mengantisipasi kesengsaraan Kirani, tetapi kehidupan pernikahannya ternyata disambut dengan ketenangan yang tak terduga. Dia bahkan menyambar rumah mewah dalam undian! Kirani melompat ke pelukan Devon, memujinya sebagai jimat keberuntungannya. "Tidak, Kirani, kamulah yang memberiku semua keberuntungan ini," jawab Devon. Kemudian, suatu hari yang menentukan, teman masa kecil Devon mendatanginya. "Kamu tidak layak untuknya. Ambil seratus miliar ini dan tinggalkan dia!" Kirani akhirnya memahami perawakan sejati Devon, orang terkaya di planet ini. Malam harinya, gemetar karena gentar, dia membicarakan masalah perceraian dengan Devon. Namun, dengan pelukan yang mendominasi, pria itu mengatakan kepadanya, "Aku akan memberikan semua yang kumiliki. Perceraian tidak bisa dilakukan!"

Bab 1 Kabur dari Pernikahan

Meski Kirani Handaru sudah memiliki pacar, dia diharuskan menikah dengan pria lain.

Dia memilih kabur dari pernikahannya sendiri, berharap pacarnya akan membawanya pergi.

Namun, apa yang dia temukan selanjutnya akan terukir selamanya dalam ingatannya ....

Mengintip melalui pintu kamar yang sedikit terbuka, dia melihat seorang wanita tanpa pakaian, duduk di atas seorang pria, bergerak naik turun penuh semangat.

"Ngh ... Julianto, katakan padaku, apakah kamu mencintaiku atau Kirani?"

Dengan napas pendek, Julianto Suratman berkata, "Sayang, bagaimana kamu bisa membandingkan dirimu dengan dia? Aku pasti sudah meninggalkannya sejak lama jika aku tidak begitu khawatir reputasiku akan hancur."

Senyuman yang menghiasi wajah wanita itu melebar. "Tidak perlu khawatir. Begitu dia menikah dengan pria tak berguna itu malam ini, tidak ada yang bisa menghalangi kita untuk bersama."

Mata mereka terkunci dalam tatapan lembut, lalu mereka saling berpelukan ....

Wajah Kirani memucat. Dia tidak percaya dengan apa yang terjadi di hadapannya.

Pacarnya ada di ranjang meniduri adiknya!

"Brak!"

Pasangan yang sedang melakukan kegiatan ranjang itu terkejut.

Sebelum Julianto sempat menyadari apa yang terjadi, sebuah vas menghantam kepalanya.

Jamila Handaru menjerit dan menerjang untuk menghadapi Kirani. "Apa kamu sudah tidak waras?! Sudah sejak lama Julianto kehilangan minat denganmu, dan satu-satunya alasan dia tidak meninggalkanmu adalah karena rasa tanggung jawabnya! Beraninya kamu menyakitinya!"

"Urusan antara aku dan dia, kamu tidak berhak campur mulut!" balas Kirani dengan dorongan dingin dan menoleh ke arah Julianto. "Aku perlu mendengarnya dari mulutmu sendiri, Julianto. Apa kamu sudah lama bersama dengan Jamila di belakangku?"

Julianto tidak sanggup bertemu tatapannya. "Maaf, Kirani."

Jantung Kirani rasanya seperti terkoyak, rasa sakitnya begitu luar biasa hingga dia kesulitan bernapas.

Tangannya mengepal erat, kukunya menancap di telapak tangannya. "Julianto, bagaimana kamu bisa mengkhianatiku seperti ini? Apakah kamu tidak ingat siapa yang telah menafkahimu selama tiga tahun? Aku yang menemanimu saat kamu tinggal di ruang bawah tanah itu sampai kamu membeli rumah sendiri!" teriak Kirani.

Merasa bersalah, Julianto mengalihkan pandangannya, menutupi kepalanya, dan tetap diam.

Jamila tertawa mengejek. "Kamu benar-benar berpikir dia akan merangkak kembali padamu setelah mendengar itu?"

Kirani tersenyum dengan tenang. "Untuk apa aku menginginkan dia kembali padaku? Dia hanyalah seorang pria tak berguna yang bergantung pada wanita untuk hidup. Aku seharusnya berterima kasih padamu karena telah membawanya bersamamu."

Komentar ini membuat marah Jamila.

Apakah Kirani menyindir bahwa dia ditakdirkan bersama seorang pria tak berguna?

Merasa marah, Jamila menggertakkan gigi. "Kamu akan menyesali ini, Ibu pasti sudah menyadari bahwa kamu tidak hadir di pernikahan itu."

Ekspresi Kirani berubah.

Sejak awal, dia tidak pernah menginginkan pernikahan ini.

Pria itu ingin menikahi Jamila, putri asli Keluarga Handaru. Sebaliknya, Kirani hanyalah anak angkat yang dibawa ke Keluarga Handaru bersama ibunya.

Sore tadi, Mayang Hanafi, ibu Jamila, mengundangnya untuk minum teh. Setelah satu cangkir, Kirani jatuh pingsan.

Saat terbangun, dia mendapati dirinya mengenakan gaun pengantin, duduk di kamar yang didekorasi untuk malam pertama.

Mayang memberitahunya melalui pintu bahwa dia akan menikah menggantikan Jamila, menepati janji pernikahan yang dibuat oleh kedua keluarga.

Tentu saja Kirani menolak.

Pengantin pria dikabarkan adalah pria yang telah melakukan banyak hal jahat. Jamila sendiri sempat menolaknya hingga mencoba bunuh diri.

Kirani juga tidak bersedia menerima pernikahan itu.

Putus asa, dia memberanikan diri kabur melalui jendela, tetapi tidak menyangka ....

Dibutakan dengan amarah dan keputusasaan, dia mencengkeram gaun pengantin itu erat-erat dan mengatupkan gigi.

Kirani berkata, "Kalian tidak akan mendapatkan apa yang kalian inginkan."

Setelah mengucapkan ini, dia berbalik dan pergi.

Jamila tidak mengejarnya. Sebaliknya, dia memberi tahu orang tuanya tentang kunjungan Kirani.

Di Dale, merupakan sesuatu yang mudah bagi Keluarga Handaru untuk melacak keberadaan seseorang.

Kirani terus berlari dan tidak berhenti.

Sepertinya ada pengejar di setiap belokan yang dia ambil.

"Bruk!" Dia tersandung batu di pinggir jalan, jatuh ke tanah.

"Berhenti di sana!" Sekelompok pria kuat yang membawa pentungan listrik mengejarnya.

Kirani bertekad untuk tidak diseret kembali.

Menggertakkan gigi dengan keras, dia memaksa dirinya kembali berdiri dan lanjut berlari.

Satu jam kemudian, Kirani berlindung di sebuah gudang, tersengal-sengal.

Dia berhasil mencapai area pinggiran kota. Tentunya para pengejarnya tidak dapat menemukannya di sini, kan?

Saat dia naik ke lantai dua, dia menggunakan energi terakhirnya mengambil barang-barang untuk memblokir pintu.

Akhirnya, dia membiarkan dirinya beristirahat sejenak untuk mengatur napas.

Namun, kelegaannya hanya bertahan sesaat ketika dia mendengar suara-suara di kegelapan.

Mungkinkah itu suara hewan?

Tidak, ternyata jauh lebih buruk, tidak salah lagi dia mendengar suara langkah kaki.

"Tap, tap ...."

Gema sepatu bot kulit menyentuh lantai memecah kesunyian malam.

Kirani ketakutan setengah mati.

Mulutnya berkedut di luar kendalinya, dan suaranya bergetar saat dia berbicara. "Apakah kamu ... tinggal di sini? Aku tidak bermaksud menerobos masuk, aku akan pergi ...."

Akan tetapi, saat dia bangun, sebuah tangan besar menangkapnya dari belakang.

Sebuah pisau tajam menyentuh lehernya yang lembut.

Kirani begitu ketakutan sehingga dia hampir tidak sanggup membuka mulut dan berbicara.

Suara dingin seorang pria menanyainya dari atas.

"Siapa yang mengirimmu ke sini?"

Lanjutkan Membaca

Buku serupa

Bab
Baca Sekarang
Unduh Buku