icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon

Istriku Bukan Selingkuhanku

Bab 2 Penyakit Ibundaku

Jumlah Kata:2411    |    Dirilis Pada: 13/11/2022

am

asukan mobilnya pada garasi, aku langsung ke kamar

Dina, mengharuskan aku menikahi gadis yang tidak aku cintai. Walaupun dia seorang gadis yang canti

papun. Hanya saja, kasih sayangnya, pada tante Ririn membuat ia mengikuti apa yang menjadi

u, aku katakan padanya, kalau aku tidak akan menyentuhnya. Aku juga bercerita pad

Dina selalu tahu ketika Ajeng datang ke kota. Karena aku s

ng Ajeng," ucapku padanya, untuk me

enyum, lalu dina menyambangi ucapan k

lu aku berkata padanya, "Dina, ada hal yang harus a

penuh tanya. Lalu kembali aku mengatak

ibunda, mengenai apa yang sebenarnya telah k

ku. Dan saat ini kami saling berha

ang sakit dan bagaimana mungkin aku harus melukai hatinya ya

u yang sangat berhati-hati jika harus berurusan dengan bundaku. Hanya aku p

uargaku yang tahu dan saksi dari pernikahanku dengan Ajeng, dikampung ha

adi antara bunda dan ayah. Dan semua itu karena

tanya. Oleh karena itu, aku akan bertekad mempertahan

ngku. Kala itu aku baru kelas tiga sekolah dasar. Aku yang waktu itu tidak

memohon maaf pada eyang kakungku. Sedangkan ayahku waktu itu hanya b

sebagai penyebab dari wafatnya eyang putri. Akhirnya ayah menebus rasa bersa

hari ayah selalu menyempatkan diri kesekolah untuk bisa berbicara dan mengajak ak

gga akhirnya dimasa sekolah menengah pertama, ketika eyang kakungku s

dari kota. Karena keuletan dan kejujurannya, ayah disenangi keluarga bunda. Walaupun ia

r dengan keluarga bunda. Sampai akhirnya, ayah di wisuda dan mendap

ka saling jatuh cinta dan berjanji akan menikah ketika ayah sudah bisa mencapai gelar

da perusahaan tempat ayah bekerja. Karena ayah merasa penghasilan dan jabatannya telah pantas u

n menghina ayah dengan kata-kata yang kasar. Seketika harapan ayah untuk mempersunting

pergi dari rumah untuk menikah dengan ayah. Setelah kejadian itu, bunda

penyebab dari wafatnya eyang putriku. Sebagai rasa bersalah, maka bu

kehilangan eyang kakung seper

auh, ketika harus mendeng

-temannya. Tetapi baru saja Dina melangkah menuju

, sandiwara kita yang sudah sepuluh tahun i

a terduduk lesu di pinggir tempat tidurnya, karena sela

rus kita lakukan, Bra

tatapan tajam. Dan untuk pertama kalinya aku melihat, alis tebal Di

sejujurnya pada bunda dan ma

yang menjadi pendapatku. Dan ia men

Bagaimana mungkin aku membuka aib diriku yang selama ini aku tutupi?" Isak ta

rnya diisi dengan tangisan Dina. Dan aku yang tidak bisa melihat seo

Dina masih terlihat menangis di pinggir tempat tidur kamar kami. Ada sebersit rasa kasihan

ng aku hanya mencintai Ajengku. Dilema bagi diriku saat ini adalah, harus mengatakan yang sesungguh tel

ah. Teringat beberapa tahun yang silam. Ketika kami sama-sama memakai baju abu-abu. Di

nyak wanita tergila-gila padaku. Tetapi menurut pandanganku saat itu. Ajeng yang tidak pernah merespon ketika

ng membuat aku sangat kepicut dengan Ajeng yang memp

adian ketika aku dan ajeng j

i saja dulu, karena ia ing

al itu, Tetapi karena rasa penasaranku dan ras

dengan kepribadian dan keluwesannya sebagai seorang rem

sama pamannya. Karena ayahnya telah wafat ketika dirinya masih kecil. Aku i

kan banyak hal dirumah itu. Waktu itu sore h

ke bioskop. Sewaktu aku kesana, Ajeng sedang menyapu. Setelah itu aku lihat ia

gu, aku mandi dulu yaa," ucap Aj

r lebih dari tiga puluh menit, aku ditemani oleh pamannya. Dar

lam perjalanan Ajeng terlihat canggung. Dia hanya

yang berhubungan dengan ha-hal yang waktu itu sedang tra

n membeli tiket untuk menonton dan membeli beb

yakin kalau dia pun mencintai aku, maka aku beranikan diri umtuk menganden

rang, mungkin saja akan terlihat warna dari

i untuk tetap mengengam tangan Ajeng. Sedangkan Ajen

emana sampai sampai aku tidak tahu jalan ceritanya. Aku ters

han jiwaku. Terlalu sulit melihat celah

isi baik dan santunnya Ajeng, ketika ak

tuk kedua kalinya. Setelah Dina menangis dan aku terdiam di kamar kami. Tidak ada yang bisa kami

ngat dan keyakinan atas pembica

t ini sudah banyak berkorban dan berusaha memahami atas apa yang sudah terjadi dalam keluargaku. Ja

a paruh baya yang cantik dan bersahaja. Ketika ibunda melihatku,

i luar kota Bram?" tan

ng, bunda sudah terlelap maka, Bram tidak i

rong kursi roda bunda hingga sampai ke meja makan. Bunda mengalami stroke b

, tetapi aku tidak meliha

lah semalam hingga belum b

bungan intim, sehingga ia meyangka, Dina terlambat bangun tidur k

lesai makan, bunda berbicara padaku perihal keinginannya melihat cucu yang sel

hal yang penting. Maka ketika aku, bunda, dan Dina duduk di ruang keluarga. Ak

aru mendengarnya. Sampai-sampai dia minta Dina

ng kataku," Tapi bunda...

ari Dina," ujarku pada bunda d

, membuat bunda terkejut, dan

ihat keryitan dahi bundaku

engah atas hingga Ajeng menunggu sampai aku selesai kuliah. Dan akupun bercerita pada ib

gala persiapan pernikahan sudah disiapkan tanpa seizin diriku. Namu

da, kalau ayahlah yang menjadi sak

histeris menangis dan jatuh pingsan. Aku tidak tahu harus bagaimana dengan hal ini.

g telah sepuluh tahu aku dan Dina tutupi. Tetapi aku sama sekali belum sem

Ada penyesalan, ada kesedihan, ada pula perasaan lega ketika semua k

kan harus menginap beberapa hari di Rumah Sakit. Karena dokter harus memantau penyak

da pingsan. Akupun mengatakan apa yang harusnya aku katakan. Perihal keterk

Kalau selama ini kami sering bertemu, makan bareng, memancing

tika aku ingin meninggalkan bundaku untuk istirahat, aku baru menyadari kalau bunda sudah terli

takan semua ini, karena aku merasa inilah jalan ke

dalam keadaan tertidur lelap, aku pun

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
1 Bab 1 Kereta Terakhir2 Bab 2 Penyakit Ibundaku3 Bab 3 Rahasia Yang Belum Terungkap4 Bab 4 Lorong Rumah Sakit5 Bab 5 Kehamilan Ajeng Semester Pertama6 Bab 6 Duka Ajeng7 Bab 7 Ke Kampung Halaman8 Bab 8 Keputusan Ajeng9 Bab 9 Benih Cinta Kedua10 Bab 10 Hasrat Terpendam11 Bab 11 Bagian Favorit Bram12 Bab 12 Kerinduan Ajeng13 Bab 13 Terlukanya Hati Istri14 Bab 14 Ke Puncak Asmara15 Bab 15 Hati Yang Kuat16 Bab 16 Angkara Murka17 Bab 17 Satu Hati Dua Cinta18 Bab 18 Dilema Cinta19 Bab 19 Kenikmatan Yang Mencairkan Kemarahan20 Bab 20 Kenikmatan Yang Berbeda21 Bab 21 Rahasia Hidup Dina22 Bab 22 Kembalinya Sang Ayah23 Bab 23 Pertemuan Dua Cinta24 Bab 24 Buah Hati Pembawa Restu25 Bab 25 Cemburu Istri Kedua26 Bab 26 Ketidakwarasan Dina27 Bab 27 Dilema Amarah Bram28 Bab 28 Kesempatan Kedua29 Bab 29 Hasrat Tujuh Hari30 Bab 30 Cinta Oh Cinta 31 Bab 31 Wujud Cinta Sejati32 Bab 32 Malam Pengantin33 Bab 33 Bayiku Sayang Bayiku Malang34 Bab 34 Obat Mujarab Stress35 Bab 35 Air Mata Perpisahan36 Bab 36 Hadiah Terindah Setelah Duka37 Bab 37 Menyimpan Rahasia Baru38 Bab 38 Hamparan Pagi Mengobati Luka39 Bab 39 Memancing Cinta Di Kolam Pancing40 Bab 40 Izin Untuk Sebuah Cinta41 Bab 41 Penghinaan Membuka Kejujuran42 Bab 42 Awal Sebuah Kehancuran43 Bab 43 Sepucuk Surat Pembawa Nestapa44 Bab 44 Ciuman Pertama Di Pantai Cinta45 Bab 45 Ketika Cinta Harus Memilih46 Bab 46 Ketika Dua Lelaki Berbicara47 Bab 47 Cinta Yang Tergantikan48 Bab 48 Cinta & Kenikmatan Dalam Lembaranku49 Bab 49 Kebahagiaanku dan Jalan Gelap Dini50 Bab 50 Duka Di Atas Luka51 Bab 51 Kenikmatan Cinta Teguh52 Bab 52 Bercinta Dalam Cinta53 Bab 53 Asa Yang Usai54 Bab 54 Gelombang Bahagia Dalam Cinta55 Bab 55 Akhir Sebuah Rahasia Kehidupan56 Bab 56 Akhir Pertemuan Dua Hati