icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon
Bab 5
Di bathub
Jumlah Kata:1092    |    Dirilis Pada:16/07/2022

"Sabar Ren," ucap Mira sambil memegangi pundak sahabatnya tersebut.

Renata terus saja memikirkan perkataan Yuke kalau sampai dia dan kelompoknya mendapatkan nilai e bagiamana. Sia-sia sudah jerih payahnya selama setengah semester ini.

"Aarrrggg pusing sekali," kata Renata.

Tak terasa waktu pulang telah datang dengan langkah loyo Renata keluar kampus. Dia sangat tidak bersemangat karena memikirkan nasib ujian praktek yang nyaris gagal. Di sisi lain Albert yang kebetulan telah selesai meeting

memutuskan untuk menjemput Renata.

Renata yang pusing memikirkan ujian prakteknya terus melamun sehingga dia tidak sadar kalau Albert datang menjemputnya.

"Dia mau kemana?" tanya Albert pada Gibran.

"Mana saya tau Tuan," jawab Gibran.

Renata berdiri di tepi jalan menunggu angkot yang lewat, dia benar-benar tidak tau kalau Gibran telah menjemputnya.

Albert mencoba menghubungi Renata namun Renata hanya melihat ponselnya lalu memasukkan kembali ke dalam tas tanpa mengangkat panggilan yang masuk.

Gibran yang melihatnya tertawa, baru kali ini ada wanita yang mengabaikan telpon dari Tuannya.

"Kamu tunggu apa lagi Gibran, cepat mendekat," titah Albert.

Gibran mendekatkan mobil pas di depan Renata, kemudian Albert membuka jendela dan meminta Renata untuk masuk.

"Cepat masuk," titah Albert.

Tanpa berkata apa-apa Renata segera masuk dan duduk agak jauh dari Albert.

"Siapa dirimu berani mengabaikan panggilanku!" Hardik Albert.

"Saya Renata Tuan," jawab Renata dengan menundukkan kepala.

Albert memijat pelipisnya sedangkan Gibran tertawa dalam hati.

"Aku sudah tau kalau kamu Renata," sahut Albert.

"Kenapa anda masih bertanya?" tanya Renata yang kesal.

Emosi Albert sudah di ubun-ubun sungguh kesal sekali dengan Renata.

"Apa perlu saya keluar Tuan?" tanya Gibran.

"Nanti saja di kantor," jawab Albert.

Renata hanya diam, dia takut kalau Albert menganiaya dirinya lagi.

"Kenapa sih hidup aku sial begini, sudah bingung dengan ujian praktek dan kini selalu dikejar-kejar monster ini," batin Renata.

Selama perjalanan ke kantor tidak ada obrolan sama sekali antara Albert maupun Renata mereka berdua hanya diam sambil memainkan ponsel masing-masing, pikiran Renata pergi kemana-mana begitu pula dengan Albert.

"Ayo turun," kata Albert setelah mobil sudah sampai di depan loby kant

Renata segera turun dan mengekor Albert masuk ke dalam kantor.

Semua mata menatap Renata dan ini membuat Renata berlari mengejar Albert.

"Tuan," panggil Renata.

"Ada apa?" tanya Albert.

"Tunggu," jawab Renata.

Kini mereka berdua telah tiba di ruangan Albert, Renata langsung duduk saja karena lelah mengikuti langkah Albert yang lebar.

Bersamaan ponsel Renata berbunyi dan Mira yang menghubunginya.

"Iya Mir," kata Renata dalam sambungan telponnya.

"Ren, besok kita harus sudah dapat sponsor, kalau tidak nilai kita semua e," ucap Mira yang membuat Renata terdiam.

"Berdoa saja semoga ada keajaiban Mir," timpal Renata.

Renata kemudian memutuskan panggilan secara sepihak, dia yang pusing merebahkan tubuhnya di sofa panjang.

"Ya Tuhan bagaimana ini," kata Renata lalu memejamkan matanya, niat awalnya hanya memejamkan mata namun siapa sangka Renata malah tidur sungguhan.

Albert yang sedikit banyak mendengar percakapan Renata tau kalau wanitanya kini dalam masalah.

Albert segera memerintahkan Gibran untuk mencari informasi terkait kegiatan Renata di kampus.

Tak berselang lama Gibran datang dan melaporkan hasil yang dia dapat.

"Bicaralah, dia sedang tidur," titah Albert meminta Gibran untuk bicara.

"Jadi Nona Renata ada ujian praktek mencari sponsor untuk ujian tanam sayur dan buah selain itu mereka juga diminta menjual hasil tanam hasil dari tanam ini akan menjadi penilaian tersendiri, berhubung kelompok nona Renata tidak memiliki sponsor dan mereka juga menjual hasil tanam ke pasar tradisional sehingga hasil mereka dibawah standar dan mereka semua terancam nilai e termasuk nona Renata," jelas Gibran yang membuat Albert mengangguk paham.

"Besok kita ke kampus," kata Albert.

"Siap Tuan," sahut Gibran.

Waktu berjalan dengan cepat waktu pulang kantor telah datang sedangkan Renata masih saja tidur.

"Enak sekali dia," kata Albert.

Albert duduk di sofa juga sambil melihat Renata yang tidur.

"Hey." Albert menggoyang bahu Renata.

"Apa sih," sahut Renata yang enggan untuk bangun.

"Aku mau pulang apa kamu mau menginap disini?" Tapi Renata tidak bergeming.

Renata yang tidak mau bangun membuat Albert geram dia mengambil air dan memercikkannya ke wajah Renata.

Renata menggeliat dan perlahan membuka matanya.

"Apaan sih, ganggu orang tidur saja," protes Renata.

"Bangun, cepat bangun," teriak Albert

"Kenapa sih! Inikan masih subuh," kata Renata lalu beranjak.

"Aku mengajak kamu ke kantor bukan untuk tidur, enak sekali dirimu," maki Albert.

Renata membolakan matanya dia mencoba mengingat kembali benar saja dirinya tadi pulang kuliah dan dijemput Albert.

"Hehe maaf Tuan," kata Renata dengan

terkekeh.

Albert yang kesal memerintahkan Renata untuk duduk di pangkuannya.

Renata menurut saja, saat di atas pangkuan Albert, tangan Albert malah meremas pantatnya tentu ini membuat Renata sedikit tak nyaman.

"Dengar, jika maaf berguna tidak akan ada polisi," bisik Albert.

"Lalu?" tanya Renata.

"Kamu harus aku hukum," jawab Albert.

Renata menghela nafas dia mengiba pada Albert supaya tidak menghukumnya. Dia belum mandi dan belum makan jadi tidak memiliki tenaga untuk bertempur melawan rudal Albert.

Albert nampak tersenyum kali ini alasan Renata masuk di akal sehingga Albert pun melepasnya.

"Ya sudah hukuman beratnya nanti dan sekarang hukuman ringannya," bisik Albert.

Albert menaikkan dagu Renata kemudian melumat bibir Renata.

Renata juga membalasnya dia tidak ingin merusak mood Albert atau dia dihukum di kantor.

Setelah saling puas kini mereka mengambil nafas untuk mengisi paru-paru mereka dengan udara.

"Ya sudah ayo kita pulang karena aku tidak sabar untuk menghukum kamu," bisik Albert yang membuat Renata melemas.

Sesampainya di rumah Albert segera memerintahkan pelayan untuk menyiapkan makan sedangkan dia dan Renata masuk ke kamar.

"Kita akan mandi bersama," kata Albert sambil menanggalkan pakaiannya.

"Tapi tuan...." Belum sempat melanjutkan kata-katanya Albert meletakkan telunjuknya di bibir yang merupakan kode agar Renata tidak membantahnya.

"Baik Tuan," ucap Renata dengan menunduk.

Mau nggak mau, Renata menuruti kemauan Albert untuk mandi bersama.

Albert menuangkan sabun di dada Renata, perlahan dia mengusapnya dengan lembut.

"Tuan, ayo kita mandi nanti keburu dingin," kata Renata yang mulai merinding karena Albert malah memainkan dadanya.

"Mandi itu dinikmati biar bersih," sahut Albert.

Renata berdecak kesal mana ada mandi dinikmati seperti makan saja.

Tangan Albert masuk ke dalam bagian sensitif Renata dan tangan satunya meremas bagian dada sambil memelintir pucuknya.

Renata menggeliat merasakan sensasi nikmat yang Albert berikan.

"Oh Tuan," desahan merdu mulai terdengar nyaring di telinga Albert sehingga membuat Albert semakin ingin memakan Renata.

Puas memainkan bagian-bagian sensitif Renata kini Albert menuntun tangan Renata untuk memainkan bagian vitalnya juga.

Dia meletakkan sabun dan meminta Renata untuk memainkannya.

"Oh, nikmat sekali sayang," desah Albert saat Renata mulai menaik turunkan tangannya.

Puas saling bermain di area sensitif kini Albert dan Renata pindah ke bathub, airnya bergelombang saat Albert melakukan penyatuan dan airnya tumpah saat Albert mulai melajukan rudalnya maju dan mundur.

Suara-suara desahan menggema di seluruh ruangan kamar mandi bahkan Renata ikut menjerit merasakan sensasi nikmat yang Albert berikan.

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
1 Bab 1 Dijual 2 Bab 2 Sudah kotor3 Bab 3 Bertemu Rian4 Bab 4 Belajar dari internet5 Bab 5 Di bathub 6 Bab 6 Tidak ingin ada bekas wanita lain 7 Bab 7 Membantu tapi tidak gratis 8 Bab 8 Cemburu 9 Bab 9 Hukuman keji10 Bab 10 Segera kembali 11 Bab 11 Pulang 12 Bab 12 Rindu 13 Bab 13 Albert ke kampus 14 Bab 14 Di hukum lagi 15 Bab 15 Kemarahan Rian16 Bab 16 Amarah Albert17 Bab 17 Siksaan Albert 18 Bab 18 Maafkan aku 19 Bab 19 Mira tau20 Bab 20 Hubungan terlarang Monica dan Rian 21 Bab 21 Nikmat luar biasa 22 Bab 22 Aku sakit tuan 23 Bab 23 Mobil bergoyang 24 Bab 24 Hamil 25 Bab 25 Memuaskan kamu 26 Bab 26 Diperbudak Rian 27 Bab 27 Lupa datang makan malam 28 Bab 28 Bertahan sakit pergi tak bisa 29 Bab 29 Datang bulan 30 Bab 30 Membawa rindu 31 Bab 31 Renata cemburu 32 Bab 32 Tinggal bersama 33 Bab 33 Vera vs Renata34 Bab 34 Hukuman lagi 35 Bab 35 Berantem 36 Bab 36 Nonton film panas37 Bab 37 Kedatangan mama Albert 38 Bab 38 Meninggal dalam perut 39 Bab 39 Digantikan Daniel40 Bab 40 Takut kehilangan41 Bab 41 Jatuh cinta lagi dan lagi 42 Bab 42 Seujung kuku43 Bab 43 Tekanan mama Albert44 Bab 44 Please jangan ragukan aku 45 Bab 45 Obat tidur 46 Bab 46 Sikap posesif Albert 47 Bab 47 Steven sangat bijak 48 Bab 48 Tidur lagi!49 Bab 49 Hukuman buat Renata50 Bab 50 Sulit berjalan51 Bab 51 Dibully52 Bab 52 Semua heran53 Bab 53 Tidur lagi!54 Bab 54 Kelakuan busuk Monica 55 Bab 55 Drama mie instan 56 Bab 56 Renata tidak enak 57 Bab 57 Siasat melawan Monica 58 Bab 58 Apa rencana Albert59 Bab 59 Jebakan balik 60 Bab 60 Ingin bertukar posisi 61 Bab 61 Kelicikan Monica 62 Bab 62 Kisah Renata yang diklaim Monica 63 Bab 63 Anda egois sekali 64 Bab 64 Kena jebakan Gibran 65 Bab 65 langsung minta jatah 66 Bab 66 Tak bisa bila tanpa kamu 67 Bab 67 Serangan fajar 68 Bab 68 ke pesta 69 Bab 69 Mengulang kesalahan yang sama 70 Bab 70 Kalung insial A71 Bab 71 Cemburu 72 Bab 72 Pergantian CEO lagi.73 Bab 73 Siasat mama Albert dan Monica 74 Bab 74 Santorini75 Bab 75 Dijebak76 Bab 76 Kelicikan mama Albert 77 Bab 77 Kelicikan Albert 78 Bab 78 Menemui mama Albert79 Bab 79 Ingin mengakhiri 80 Bab 80 Sidang 81 Bab 81 Selangkah lebih maju 82 Bab 82 Jatuh cinta lagi dan lagi 83 Bab 83 Anda kenapa 84 Bab 84 Tidak ada pertemanan dengan lawan jenis85 Bab 85 Terlanjur kecewa86 Bab 86 Dijebak 87 Bab 87 Aku mohon David 88 Bab 88 Dirawat 89 Bab 89 Menjenguk di RSJ90 Bab 90 Selalu enak enak 91 Bab 91 Cara memisahkan Albert dan Renata.92 Bab 92 Mengikuti Renata ke pesta93 Bab 93 Diculik mama sendiri94 Bab 94 Mau nggak mau harus menurut95 Bab 95 Bertemu Monica 96 Bab 96 Naluri keibuan yang mati 97 Bab 97 Menculik Renata98 Bab 98 Terkejut dengan pelayan yang datang 99 Bab 99 Melepas rindu 100 Bab 100 Tunangan