icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon

MENANTU MISKIN PRESDIR (MMP)

Bab 7 MAJIKAN KEJI

Jumlah Kata:1367    |    Dirilis Pada: 15/09/2022

n mansion Tuan Hernandez. Deborah yang sedang memb

ersama dengan Sean. Senyum senang Deborah sematkan di wa

a Sean bersamanya. Mendengar hal itu tentu saja Nyonya Hernandez sangat murka. Dibanting majalah fashion yang

s dan segera menyus

ara Nyonya Hernandez dan Deborah, i

orah merangkum wajah Sean saat berdiri di hadapannya. Sepasang mata berkaca-k

Bu. Putramu sudah

pria tinggi berjas hitam yang berdiri sejajar dengan Sean."Terima kasih, Presdir. And

anan. Ah, lupakan saja semuanya, yang penting putr

an. Dia mengajak putranya untuk masuk lewat pintu belakang rumah. Tuan

rumah ini. Apakah rumah ini adalah sarang para bajingan, hah?!" Dengan langkah cepat dan tatapan nyalan

usuk itu. Bukannya membiarkan pemuda itu di dalam tahanan, Tuan Hernandez malah

ada itu kenapa selalu bersikap seperti orang yang tak mengecap pendidikan. Bahkan di belakangnya ada pengacara Ariand dan beberapa pengaw

ya Hernandez membulatkan sepasang manik birunya. Namun, dia tak perduli. Sepasan

sul pria dengan stelan jas hitam itu. Dia belum selesai bicara, tapi suaminya sudah

Kutu Busuk itu!" Suara Nyonya Hernandez menggema seisi kamar di

inya. Tak ingin melihat amarah itu, Tuan Hernandez membuka kancing kemejanya tampa pe

, dengan gerakkan cepat tangan Nyonya Hernandez menarik l

angkat bersiap untuk mencakar wajah tampan di hadapannya. Namun, tangan ke

bekerja pada kita, sudah banyak membantu keluarga ini. Deborah mengurus Xavia saa

a. Ia ingin istrinya menyadari, jika rasa bencin

na mungkin wanita miskin itu mau melakukannya! Mereka orang-orang miskin yang hanya memandang segalanya

yaman lagi di rumah ini. Aku pun sudah tak tahan dengan sifatmu itu!" Tuan Hernandez menghempaskan istrinya p

abis pikir, kenapa Tuan Hernandez selalu membela Sean dan ibunya? Apakah jangan-jangan

n-segan untuk menghabisi Deborah

ranjang, kemudian ia berjalan meninggalkan kamarnya. Di mana wan

tanya menyala merah seperti bola api yang berasal dari neraka. Nyonya Her

ah dan memalingkan wajah dari sasarannya. Deborah sedang tersenyum bersama bebe

orah. Tangan kirinya menjambak rambut sebahu wanita itu, sementara tangan kanannya

il melipat kedua tangannya di bawah dada. Dia senang melihat Deborah me

z yang ingin menghujam lehernya dengan pisau buah. Darah segar menetes s

ang sedang terjadi di sana. Keduanya segera berlari untuk memisahkan ibu mereka. Xavia

h bisa tiada karena perbuatanmu itu!" Xavia lan

busuk itu mati! Aku sa

muk seperti sedang kerasukan iblis. Manik birunya men

a ibunya meninggalkan ruang makan. Ia menoleh satu kali pada Nyonya Hernandez yang masih memutar manik matanya mengikuti

kita. Seekor anjing saja akan lari jika diusir oleh tuannya, apakah kamu masih bertahan dengan semu

iapa yang tahan diperlakukan seperti itu meski oleh tuannya sendiri. Namun, bagaimana dengan kuliah Sean jika

ni dan memulai segalanya lagi," ucap Nigel, ayah Sean. Keributan antara Nyonya Hernandez dan istrinya sudah sering terjadi se

mendapatkan makan? Aku masih kuat tinggal di sini, paling tidak sampai Sean menyelesaikan kuliahnya. Setelah itu barulah kita kem

gi men

bagus jika masih seperti ini. Namun, jika Sean sudah menyandang gelar sarjana mungkin hidup mereka akan

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
MENANTU MISKIN PRESDIR (MMP)
MENANTU MISKIN PRESDIR (MMP)
“Sean Palmer, putra sepasang pelayan di keluarga Hernandez, konglomerat kaya raya di kota San Mitero. Diam-diam Sean menyimpan perasaan cinta pada putri majikannya, Xavia Price Hernandez. Namun, ia harus mengubur cintanya karena status mereka yang jauh berbeda. Di hari pernikahannya calon suami Xavia menghilang. Keluarga Hernandez yang terhormat hampir saja mendapatkan malu. Tak disangka Tuan Hernandez meminta Sean untuk menikahi putrinya. Bagaimana kisah selanjutnya? Apa mungkin seorang pemuda miskin menjadi menantu di keluarga konglomerat? Novel keren ini hanya ditulis oleh pengarang asal Indonesia, Dewa Amour.”