icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon

Feng Na Na

Bab 3 Pangeran Feng Lang dan Kaisar Feng Rui

Jumlah Kata:1181    |    Dirilis Pada: 06/06/2022

tu gerbang istana megah di hadapanku. Bingung dengan pertanyaannya, aku pun men

anyaku pada pengawal yang membelika

annya pada anda. Situasi yang kami hadapi

an membiarkan kita akan m

enjaga gerbang, anda harus tetap menunggu di sini saja" putusnya berjalan menghampiri penjaga

u tahu kami tidak pernah melihat yang mulia putri mahkota beranjak dewasa, hanya keluarga kerajaan d

i tanggalkan sejak ia dinyatakan meninggal dunia pagi tadi karna sebuah rencana pembunuhan dari seseorang. Hanya saja kematiannya itu dirahasiakan dengan meng

sar mengenai masalah ini" kata pengawal yang

mpan yang baru saja turun dari kudanya yang perkasa dengan pakaian zirah lengkap. Pemuda tampan itu l

ng.., anda sudah kembali" sa

apa kalian melewatkan waktu baik untuk menguburkan mei-meiku?"

Karna hal itulah mereka kembali ke istana dan membawa gadis itu -- tunjuk penjaga gerbang padaku. Melihat arah tunjuk penjag

dis lain untuk mengaku sebagai yang mulia putri mahkota agar mereka semua ti

t ini menahan mereka. Ingin rasanya mereka membeberkan keburukan - keburukan dan kelalaian yang biasa dilakukan penjaga gerbang istana seperti kadang tidur di waktu mereka jaga atau menerima suap demi melolosk

tu dengan tatapan kesal. Pangeran Feng Lang malah melangkah mendeka

e tempat terakhirmu, sayangnya aku terlambat meski aku sudah berusaha sekuat tenaga tanpa beristirahat di perjalanan dengan kondisiku yang kini teramat lelah-- jeda pangeran Feng Lang mengambil nafas lalu menghembuskanny

iri pangeran Feng Lang dan berbisik "Yang mulia pangeran, semenjak yang mulia putri mahko

-A

a terjadi?" tanya

ri dan di kuburkan bersamanya. Namun saat kami akan melakukan ritual penguburan dan hendak mengambil mayat yang mulia putri mahkota, tiba - tiba saja yang mulia putri mahkota keluar dengan cara melompat

apat di percaya?" tan

a sendiri tahu jika gadis yang bersama kami adalah yang mulia putri mahkota yang asli? Kami yang sudah mengabdi dengannya bahkan sangat tahu jika gadis yang bersama ka

mastikan jika ia adalah mei - meiku, tampaknya kita perlu bantuan yang mulia kaisar untu

an pembuktian jika ia memang mei -

*

Dalam bayanganku aku berpikir yang mulia kaisar akan selalu identik dengan pria tua usia lanjutan dengan rambut tel

bih harus sirna dengan sosok pemuda tampan yang mengenakan pakaian kebesaran seoran

ang utama. Aku dan semua orang yang kini berada di aula utama istana kerajaan Feng hanya mampu dia dan menyimak setiap penjelasan pemuda di hadapanku. Jujur saja hanya ada b

a yang mulia." jelas pange

ta "Zhen* tebak, kau membawanya kemari untuk meminta pembuktian jika dia meman

ika ia adalah mei-mei ki

mbuka bajunya" katanya den

ya lantas membelalak terkejut hingga t

apa

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
Feng Na Na
Feng Na Na
“Hal yang terakhir kuingat adalah kondisiku yang menggenaskan. Lantas bagaimana aku kembali bernafas dengan tubuh yang dibalut dengan hanfu putih yang mengingatkanku dengan pakaian tradisional zaman dulu. Melihat kondisiku yang masih bernafas, banyak pertanyaan yang muncul dalam kepalaku. Sebenarnya apa yang terjadi? Apakah saat ini aku sedang bermimpi? Tapi bagaimana bisa orang yang telah mati merasakan sakit dari guncangan hebat benda persegi yang membawaku? Bagaimana bisa aku merasakan sakit dan nyeri saat kedua pundakku menabrak kedua sisi kayu yang berada di sisi kanan dan kiriku? Bukankah orang yang telah mati tak mampu merasakan apapun? Terlalu pusing dengan pikiranan dan pertanyaan - pertanyaan yang terus bermunculan dalam kepalaku, aku lantas memilih bangun dan mendudukan diriku. Baru saja aku bangun dari tempat yang kutiduri, seketika kedua bola mataku terbelalak terkejut saat menyadari tempat yang menjadi tempat tidurku. Apa yang sebenarnya terjadi? Bagaimana bisa aku bangun dari peti mati? Apa yang sebenarnya terjadi padaku, bukankah aku telah mati di tangan tunanganku sendiri? Lantas apa ini?”