icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon

Sang Pewaris Terkaya

Bab 4 Aku Ingin Membeli Sebuah Rumah

Jumlah Kata:813    |    Dirilis Pada: 24/04/2022

, merasa bahwa keadilan a

n semua ini! Sekarang, bagaiman

ya langsung mereda saat

pelajaran, jadi dia tidak

elepon, "Terima kasih banya

rmatan bagi saya untuk

anggilan telepon d

kan selanjutnya? Kemba

on sebelumnya membanjiri pikiran Garry,

lagi tinggal di a

rani terlinta

membeli se

elah kembali memeriksa pemberitahuan yang menampi

tinggal bersama mereka berdua selama 2 tahun penuh. K

dia langsung menaiki taksi dan per

osisinya, hendak menyambutnya dengan sebuah senyuman, tapi ketika dia melihat bahwa itu hanyalah

ngat. Mereka berpengalaman dan memiliki mata yang tajam sehingga dalam sekali

rjalan mendekati Garry dan memperkenalkan diri. Garry hanya

membantu bocah malang ini. Meski dia menyadari bahwa pemuda di hadapannya merupakan

an bisikan keras pada sales yang

aku me

embali dan berjalan ke arah Garry dengan senyuman pal

a apakah Anda ingin membeli sebuah r

buah rumah," ucap Gar

ya karena terkejut, merasa penasaran apakah dia baru saja sala

rah Garry dari atas hingga k

rang mahasiswa miskin. Dia pasti semacam mahasiswa yang datang ke sini untuk melakuk

"Tuan, hanya untuk memberi tahu Anda, semua bangunan yang dijual di sini berada di tingkat perum

4 Milia

erkejut. Harga rumah

rumah yang lebih murah, seperti

keyakinannya bahwa Garry hanyalah seorang mahasiswa miskin yang datang ke kantor mereka untuk menganal

kiri. Harga rumah di sana akan jauh

pak berbinar saat melihat seorang pria paruh baya memasuki agensi propert

sebuah tas kerja di tangannya, dan memakai

yang ingin Anda beli. Sekadar memberi tahu An

langsung meraih lengan pria paruh baya itu dan menambahkan, "Saya berja

s, ba

ia paruh baya itu merasa tidak berdaya melawan sikap Caitlin yang

us. Rumah itu harus berada di sebuah lokasi yang baik dan beru

ang kami jual adalah perumahan kelas atas dan kami

a tidak sengaja melirik ke arah Garry. Pen

menyadari status mereka dan berpura-pur

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
Sang Pewaris Terkaya
Sang Pewaris Terkaya
“Sejak kecil, aku selalu hidup miskin. Setiap pulang sekolah, aku akan bertemu dengan pemandangan ayahku yang sibuk di dapur. Dari ingatanku yang paling awal, aku akan selalu ingat ayahku mengenakan seragam pabrik lamanya di rumah. Rambutnya seputih salju dan kulitnya sangat gelap. Dia biasanya merokok rokok murah dan mobil yang dikendarainya adalah Kijang tua yang benar-benar rusak. Terlepas dari semua kesulitan kami, ayahku mengabdikan dirinya ke dalam pekerjaannya selama 18 tahun dan membesarkanku dengan kemampuan terbaiknya, dan aku akhirnya tidak mengecewakannya karena aku berhasil masuk ke universitas yang sangat bagus. Karena aku berasal dari kemiskinan, aku harus bekerja paruh waktu untuk membayar biaya kuliah yang tinggi. Aku tahu teman sekelasku pasti memandang rendah diriku karena aku sangat miskin, tetapi aku melakukan yang terbaik untuk tidak membiarkan hal itu mengganggu pikiranku. Pada hari ulang tahunku yang ke-18, ayahku mengumumkan bahwa dia akan memberiku hadiah ulang tahun dan dia akan membawanya kepadaku secara langsung. Hari itu aku melihat ayahku dalam pandangan baru. Kepala putih salju ayahku yang kasar telah berubah menjadi hitam mengkilat. Dia telah mengganti pakaiannya yang compang-camping dengan setelan Givenchy yang mahal, dan dia bahkan memakai jam tangan Patek Philippe di pergelangan tangannya. Kijang tua sekarang menjadi Rolls Royce edisi terbatas. Aku menatap ayahku dengan mata bingung dan bertanya dengan suara tidak percaya, "Ayah, apakah keluarga kita benar-benar yang terkaya di dunia saat ini?" Ayahku mengeluarkan cerutu Maya Sicars senilai Rp 5.000.000.000, menyalakannya, dan meniup cincin asap. "Nak, aku tahu kamu telah banyak menderita selama 18 tahun terakhir, dan aku merasa malu karena aku tidak dapat memberikan lebih banyak untukmu. Aku ingin kamu mengambil seratus miliar ini sebagai uang saku terlebih dahulu. Kamu dapat memintaku lebih banyak nanti jika itu tidak cukup!”