icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon

Lentera Rindu

Bab 5 Telah Hilangkah Empati Dunia

Jumlah Kata:1256    |    Dirilis Pada: 08/04/2022

a coba menghayati gaung tangis tersebut, ianya laksana lembing api yang menerobos jauh

pertanda buruk," gumam Bary

res

Rima, saat tengah bermenung di depan pintu gub

ka hanya mitos atau apa, tetapi konon burung tersebut tengah memberi kabar, bahwa akan ada seseorang

tara mereka yang akan pergi lebih dulu. Bary berpikir, andai sug

kan umur kami, aamiin,

a sempat diri merenung di bagian belakang gubu

m, Kak! Kenapa

" sambut Rima. "Ad

l menyodorkan kresek berisi

pulang oleh Bary. Padahal, daun bayam tersebut jelas-jelas

h satu lengannya, kemudian meraih tas kresek yang Bary sodo

bayinya, Rima beringsut ke bagian belakang gubuk. Di situ, ia duduk tepat di dep

t pisau dan bayam dari tangan Bary

idak ca

Saya masih bisa kalau hanya

annya. Bary benar-benar letih di sepanjang hari ini. Akan teta

i menguca. "Kakak mau minta tolong lagi

y. Bukan hanya tangan, tetapi bibir Rima pun juga

t, ya?" Bary tidak bisa l

ya belum makan sa

ak punya pilihan. Jika bukan pada Bary, pada siapa lagi, Rim

Kak?" sa

, mungkin inilah yang bikin anak ini menangis terus. Mungkin dia

t Bary. "Tapi Kak, saya

tnya dengan satu senyum kecil. Karena apa

uang kakak, padahal tadi kaka

ngnya, Kak?

il mengarahkan wajah ke kantung kain hitam yang

gkus, sama beras satu liter. Susu putih, ya! Pergilah! Pulang na

mlah uang dari kantung kain hitam yang

ke dalam gumbang air di kamar mandi sana. "Tidak usah

Sekalian," balas Ba

gubuk. Berlantaikan bumi, bertiangkan tajakan kayu bulat seukuran lengan orang dewasa. Keempat sudutnya be

ah dari ufuk barat sana, menyapa pucuk-pucuk pepohonan dengan salam damainya. Sedangkan di bumi, tinggallah piasnya

sekitar satu kilometer dari gubuk mereka. Warung milik Haji Ghofur, sang juragan kayu olahan, dan pengus

berapa puluh meter membelakangi gubuk, barulah Bary tersadar ternyata

en kosong, akhirnya tiba juga Bary di halaman warung terbesar yang ada desa ini. Desa yang di

k, Bary memanggil

langsung ke dalam warung karena tempo hari, beberapa minggu setelah mere

a Bary disuruh membayar harga tiga bungkus mi instan ya

?" Zahirah, anak tunggal Pak H

a ribuan dua bungkus," sahut Bary sembari menyodorkan uang sen

is yang tempo hari sering me

ya tunggu di sini

bentar, ya!" balas Zahi

rahlah bersekolah di SMP Negeri yang sama, di kecamatan sana. Waktu itu, Bary hanya sempat duduk di k

alam situ." Zahirah sud

yambut satu tas kresek hitam berisi b

au bapak tirinya si Rima, sud

ini, sontak menjeda langkah. "Belum, baru tau

waktu dia menghadapi sakaratul mautnya, dia berteriak-teriak macam Kambing yang mau disemb*lih. Mulutn

nya juga itu orang tua,

ang menghamili Rima, selanjutnya kesalahannya dilimpahkan pada Bary, ce

a ngobrol di dalam!" Zahirah

-buru mau singgah ambil air dulu. Permisi! Ass

rah. "Jangan-jangan suara burung Koa tadi malam mengabarkan kematian Kaerul? Kaerul mening

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
Lentera Rindu
Lentera Rindu
“"Kenapa kamu tidak mau tidur dengan saya, padahal sekarang saya sudah resmi menjadi istri kamu? Apakah kamu tidak mencintai saya?" Rima, gadis 18 tahun itu bertanya dengan nada yang sangat terukur. Bary, remaja pria yang lebih muda tiga tahun dari Rima, menjawab, "Maaf, saya tidak bisa." Bary menolak keinginan Rima yang notabene adalah istrinya. Kenapa? Temukan jawabannya dalam kisah 'Lentera Rindu' ini. Dear insan, kelak, rindu itu akan menjelma syair tanpa kata, yang duduk bersebelahan dengan kesunyian batinmu. Lalu, ia akan memaksa untuk disandingkan dengan bintang-bintang di langit-langit ingatanmu. 'Pabila ia menjelma jelaga, engkau butuh LENTERA agar RINDU tersebut tetap ada dan sederhana. Ketahuilah, mayapada ini fana, kitalah yang baka. Yang sementara pertemuan, kerinduan dalam rengkuhan batinlah yang abadi. *** Pict by Canva (free)”
1 Bab 1 Muasal Dera2 Bab 2 Perjuangan si Miskin3 Bab 3 Demi Rima4 Bab 4 Lingkaran Kehidupan5 Bab 5 Telah Hilangkah Empati Dunia6 Bab 6 Gamang7 Bab 7 Menutupi8 Bab 8 Adik Kamu 9 Bab 9 Tukasan Hajjah Maemunah10 Bab 10 Wangi Bunga Melati11 Bab 11 Tidur Panjang12 Bab 12 Tersisihkan13 Bab 13 Tuhan, Kenapa Kau Ambil Kakakku 14 Bab 14 Tunggu Kami di Surga15 Bab 15 Hamparan Kerinduan16 Bab 16 Melepas Karma 17 Bab 17 Jualan Daun Jati18 Bab 18 Dipukuli di Pasar19 Bab 19 Golo20 Bab 20 Bertemu Rima21 Bab 21 Sungai Laabalano22 Bab 22 Bertarung Melawan Buaya23 Bab 23 Karma Bersama Siapa 24 Bab 24 Kedatangan Wanita Asing25 Bab 25 Veronica26 Bab 26 Lentik Jemari Vero27 Bab 27 Keluarga Vero28 Bab 28 Bairam Chia29 Bab 29 Maafkan Dia, Kak30 Bab 30 Hadiah atau Halusinasi 31 Bab 31 Selamat Jalan Imam Palsu32 Bab 32 Putih-Putih Ampas Kelapa33 Bab 33 Untuk Apa Lagi Maaf 34 Bab 34 Vero dan Hampa