icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon

Anak Tersisih

Bab 7 Tugas Di Kampung

Jumlah Kata:1200    |    Dirilis Pada: 07/04/2022

ota. Mereka memintaku untuk bekerja di sana. Sebelum mengambil keputusan, aku terbiasa untu

ah sakit ini?" Mama nampak ber

ut bibirnya ke atas. Ah, senyuman itu tak

a boleh nga

bange

ke Tante Alena buat kerja di sana, soalnya beliau sedang m

embuka cabang berarti aku ak

eratan, y

ggak ko

eh bertanya satu

itu

gin jadi dokt

orang dengan bida

a saat ini. Menjadi seorang dokter adalah tugas mulia, Sayang. Jika tujuan kamu untuk mencari u

it paham dengan apa y

an tanpa bertanya kesiapan kamu." Ah, mama. Sungguh aku

arena dengan bekerja di Tante Alena, Rully jadi terdid

ersedia?" tanya

n jika sudah waktunya. Yang jelas, tugasku sekarang adalah mengabdi pada rumah sakit Tante Alena dan membantu masyara

ma bangga sama kamu," uc

h karena sudah mau menerima Rully di keluarga ini." Suasana menjadi

y saja yan

k, lantas aku berjalan

u dengan antusias. Wanita paruh baya berkacamata inilah yan

papa kamu m

, Tante Sayang," sambutku

lupa ia mencubit pipiku. Memang kebiasaan beliau dari duk

sementara aku pamit untuk membuatkan beliau minum. Setelah usai, aku menyajikannya dan ikut berg

ng ataupun kota, seorang dokter harus siap bertugas di manapun diperintahkan. Namun, saat beliau menyebutkan nama tempat itu, hatiku cemas. Bagaimana bisa takdi

sedang papa, dia hanya tersenyum. Dari air mukanya aku tahu jika beliau sedang menyembunyikan kesedihan. Seb

di dunia dan akhirat. Juga berkali-kali mengingatk

Tante Alena mengklakson. Aku berpamitan dan pergi

ngga mempunyai orangtua seperti mereka, yang selalu sabar dan berkata baik di saat aku melakukan kesal

*

ju. Jika saja Tante Alena tak mempunyai hubungan apapun den

ghapus raut bahagia dari wajah mereka. Oleh sebab itu aku m

n cemas. Aku berharap, ibu dan bapak sudah pindah dari sana. Dengan sep

apa? Koq kelihat

u gak apa-

lanan ini, ya? Bawa santai, Rully. Kamu bis

ni saja," jawabku pada wanit

kali ini akan memakan waktu tiga

n izin untuk beristirahat. Sebenarnya, itu hanya alasan saja,

ermenung, memikirkan langkah apa yang harus kuambil selanjutnya. Ibu, bapak, adikku. A

mereka. Sebegini mengenaskan kah nasibku? Berusaha berdamai denga

yang berarti di antara kami. Kurasa Tante Alena mengerti dengan apa y

ngatannya masih sanggup menyapa kulit. Kulirik jam yang melingkar di tangan, waktu sudah menunjukkan pukul sebelas p

batasan antara jalan desa dan kota telah nampak di depan mata. Di gapura itu pul

u kerap membuatku tergelincir. Kini, yang ada hanya barisan gedun

ah sampai

ran udah s

u ketua kampung di

an juga membawa tas. Lalu turun d

Ibu Alena," sa

ling kasak-kusuk membicarakan kedatangan kami. Jantungku berdegup kencang, saking kencangnya seperti hendak melompat saat aku melihat wanita yang dulu t

*

cont

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka