icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon

Terlambat Menyesal: Kepergian Istri yang Tak Diinginkan

Bab 7 

Jumlah Kata:524    |    Dirilis Pada: Hari ini17:45

ari, video itu tak

n tanpa henti yang terus berdengung. Aku duduk merin

Berpura-pura Sakit Setelah Pers

s berbisa yang bergulir terlalu

ia terlihat

tkannya karena tel

So

ruk h

mencampakkannya. Sekarang set

uncul di bagian atas layar, m

ari Sindikat

menyakitkan di ba

ari-jariku menunjuk

an maaf. Itu bukan

n kasih sayang, mel

gganggunya harus berurusan denganku. Pers dilaran

itu

elingkuhan itu. Dia tidak

in propertinya diru

ma di atas ubin. Aku menyandarkan kepalaku ke porselen bak mandi yang

mbali menembus kabut

tahun ya

berbau tajam pemutih dan

duduk di meja

a seringkih burung di bal

yakit mematikan. Dokter mengatakan kemun

h kapan saja, tetapi jika aku menikah dan

bergetar. "Aku akan memberi tahu Dante.

ram tanganku. "

nap

ya, matanya terbelalak karen

a. "Dia bilang padaku tadi malam. Jika kamu

hku, membuatku membeku sampai ke tu

York. Dia jauh lebih membutuhkan aliansi itu daripada memedulikan kebahagiaanmu. Dia

s mengalir di pipiku. "Ibu, aku m

jam baja. Dia menatap tepat ke mataku. "Patahkan hatinya, Elena

ia bisa bertahan hidup cukup

takan kepadanya bahwa dia terlalu miskin un

n kencang yang mendadak. Aku ingat saat memperhatikannya berjalan pergi di b

enyelamatka

asannya, dia me

rlalu baik. Dia bertahan hidup

gadis yang menyelamatkannya, satu

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
Terlambat Menyesal: Kepergian Istri yang Tak Diinginkan
Terlambat Menyesal: Kepergian Istri yang Tak Diinginkan
“Sepuluh tahun lalu, aku menghancurkan hati Dante dan membuangnya demi menyelamatkan nyawanya dari peluru ayahku. Kini, dia telah menjadi seorang Don Mafia yang berkuasa dan menikahiku hanya untuk membalas dendam. Dia mengira aku hanyalah wanita matre yang kembali padanya karena harta. Untuk menyiksaku, dia sengaja memamerkan wanita simpanannya setiap hari dan membekukan semua rekening bankku hingga aku tak punya sepeser pun. Dia tidak tahu bahwa aku sedang sekarat akibat penyakit mematikan. Saat tubuhku makin kurus kering dan hancur, aku terpaksa memohon uang padanya hanya untuk membeli obat pereda nyeri di pasar gelap. Namun, dia justru membiarkan simpanannya menghinaku, bahkan memberikan satu-satunya boneka peninggalan mendiang ibuku kepada wanita itu hingga hancur berkeping-keping di lantai. Saat aku batuk darah dan ambruk di hadapannya, dia hanya menatapku dengan tatapan jijik. "Berhentilah bersandiwara demi simpati, kau menyedihkan." Dia mengira darah yang menetes dari hidung dan mulutku hanyalah trik murahan untuk mendapatkan perhatiannya. Dia terus menghukumku dengan kebenciannya, tidak pernah tahu bahwa aku telah mencintainya dalam diam selama sepuluh tahun dan merelakan hidupku hancur demi dirinya. Hingga akhirnya, saat aku terbaring kritis di rumah sakit, sahabatku melemparkan surat 'Jangan Resusitasi' ke wajahnya dan membongkar semua kebenaran masa lalu. Melihat kerangka tubuhku di balik seprai putih, pria kejam itu hancur, berlutut gemetar dan menangis memohon agar aku tidak meninggalkannya. Tapi semuanya sudah terlambat, aku menepis tangannya dan perlahan memejamkan mata, siap untuk tidur panjang tanpa pernah terbangun lagi.”