icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon

Terlambat Menyesal: Kepergian Istri yang Tak Diinginkan

Bab 4 

Jumlah Kata:479    |    Dirilis Pada: Hari ini17:45

itu suny

lampu. Aku berjalan lurus ke kama

tidak melep

tut ke dada demi mempertahankan

at tidur tanpa air, memb

an membiarkan kegelap

impikan

kku kembali ke sepu

t itu Dante belum menjadi Don. Dia hanya

-buku jarinya lecet serta robek akib

o roti, hembusan napas kami menge

rsih bertabur stroberi. Terlihat seperti

n wajahku ke k

erti salju," bisi

pandangannya dar

unya dan menghitung uang

a tida

tu memukulnya, dan aku

engannya dengan cepat

bohongku, memaksakan senyum cer

g duduk di tangga darurat ber

uiku. Wajahnya penuh lebam baru. T

memegang s

itu. Atau setidaknya,

satu sisi. Dia telah bekerja tiga giliran k

utriku,"

angga, hingga itu m

mengabaikan rasa dingin. Rasanya

terbaik yang

gis di da

na aku tahu apa y

harus membunuh anak lelaki manis

ngejutkanku hi

ku ber

. Tubuhku terasa berat bagai tim

at itu di nakas, tidak repot-re

erak karena kantuk dan ras

ya serak dan kasar, meleny

mana?" t

at tidur," s

jam delapa

elah,

n. Aku terhanyut kembali ke alam mimpi, t

u. Toko

..." b

ya, nada suar

, mataku terpejam perl

pa

kesadaranku memudar. "Yan

ku ke atas bantal. Aku kembali jatuh ke da

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
Terlambat Menyesal: Kepergian Istri yang Tak Diinginkan
Terlambat Menyesal: Kepergian Istri yang Tak Diinginkan
“Sepuluh tahun lalu, aku menghancurkan hati Dante dan membuangnya demi menyelamatkan nyawanya dari peluru ayahku. Kini, dia telah menjadi seorang Don Mafia yang berkuasa dan menikahiku hanya untuk membalas dendam. Dia mengira aku hanyalah wanita matre yang kembali padanya karena harta. Untuk menyiksaku, dia sengaja memamerkan wanita simpanannya setiap hari dan membekukan semua rekening bankku hingga aku tak punya sepeser pun. Dia tidak tahu bahwa aku sedang sekarat akibat penyakit mematikan. Saat tubuhku makin kurus kering dan hancur, aku terpaksa memohon uang padanya hanya untuk membeli obat pereda nyeri di pasar gelap. Namun, dia justru membiarkan simpanannya menghinaku, bahkan memberikan satu-satunya boneka peninggalan mendiang ibuku kepada wanita itu hingga hancur berkeping-keping di lantai. Saat aku batuk darah dan ambruk di hadapannya, dia hanya menatapku dengan tatapan jijik. "Berhentilah bersandiwara demi simpati, kau menyedihkan." Dia mengira darah yang menetes dari hidung dan mulutku hanyalah trik murahan untuk mendapatkan perhatiannya. Dia terus menghukumku dengan kebenciannya, tidak pernah tahu bahwa aku telah mencintainya dalam diam selama sepuluh tahun dan merelakan hidupku hancur demi dirinya. Hingga akhirnya, saat aku terbaring kritis di rumah sakit, sahabatku melemparkan surat 'Jangan Resusitasi' ke wajahnya dan membongkar semua kebenaran masa lalu. Melihat kerangka tubuhku di balik seprai putih, pria kejam itu hancur, berlutut gemetar dan menangis memohon agar aku tidak meninggalkannya. Tapi semuanya sudah terlambat, aku menepis tangannya dan perlahan memejamkan mata, siap untuk tidur panjang tanpa pernah terbangun lagi.”