Bi
kan simfoni dari keka
u, wajan yang membakar dengan semburan api, se
dorong pintu ayun dan m
engik
as dengan lu
in meng
anganku yang melepuh di bawah kucuran air dingin. K
raya mengernyitkan hidung mencium ar
aji, tempat piring-piring daging Wa
ah seorang sous-chef. "Ta
kaviar murah dari toko ke
tu seketi
tidak sopan; itu
kah keluar dari kegel
ilang di balik seragam koki putihnya. Dia tidak terlihat seperti seorang juru ma
keanggunan tenang ya
anan dari luar ke dal
emuruh yang seolah berge
mu?" cibi
n kontak mata. "Dan rasa hormat pada seni kul
h keunguan. Dia tid
kan ponselnya
ndengar tentang
ai panggi
, wajah Cakra m
melihat tepi meja mahoni. Aku bisa melihat
inv
el A
sebuah pertemuan penting
njawab pan
edang rapat," kata Cak
mutar kamera menghadap para staf dapur. "Kokiny
kamera tepat k
an. Aku menatap lurus ke dala
angkat t
lepuh itu mustahil
a," k
u. Dia melih
kilas keterkejutan mengenali.
menatap pria-pria
mengamatinya
ndalikan wanitanya? Seorang Don y
h jalan mudah. Dia me
" kata Cakra, suaranya terdengar
melangkah mendekat ke p
Bianca!" bentaknya. "Minta maaf
etika sun
ponsel itu, rah
kepada wanita yang telah me
alian semua kupecat. Bianca, berlututlah dan mohon ampun
tersedot habi
lut
Sanjaya berlutut di hadapan
a investornya. Di depan stafnya. D
natap
uk kunikahi. Pria yang kukira bisa memban
melihat se
hat sebu
rusak. Bukan olehku
rintah ini, Bos Bask
an!" r
angguk p
ah," k
n tanganku yan
ku mengulurkan tangan untuk m
ambar po
emutus pa
menjad
. "Apa yang kaup
ataku, suar
suara seorang
yahku tepat sebelum dia menandata
i pin
/0/36658/coverbig.jpg?v=c61eba4cc6f8d7340b7ac4db2ed4a77b&imageMogr2/format/webp)